Minggu, 10 Mei 2026

Kekebalan Jangka Panjang Dipertanyakan, Antibodi COVID-19 Tak Bertahan Lama

Administrator
Jumat, 19 Juni 2020 08:01 WIB
Kekebalan Jangka Panjang Dipertanyakan, Antibodi COVID-19 Tak Bertahan Lama

JAKARTA, Halomedan.co

Penelitian tentang antibodi yang dilakukan oleh ilmuwan di Cina dan Amerika menyebut manusia mungkin tidak mengembangkan antibodi atau kekebalan virus Corona COVID-19.

Kesimpulan mereka didasarkan pada studi yang melihat apakah tenaga kesehatan di rumah sakit di Wuhan yang secara langsung terpapar Corona dari pasien yang terinfeksi mengembangkan antibodi COVID-19. Setidaknya telah ada lebih dari 23 ribu sampel virus yang diuji pada tahap tertentu tapi hanya 4 persen yang mengembangkan antibodi.

“Orang-orang mungkin tidak akan menghasilkan antibodi pelindung jangka panjang pada virus (COVID-19) ini,” tulis peneliti dalam makalah yang dipublikasikan di situs pracetak medRxiv.org dikutip dari South China Morning Post.

Diketuai oleh Wang Xinhuan dari Rumah Sakit Zhongnan Universitas Wuhan dan para ilmuwan dari University of Texas di Galveston, studi ini melihat sampel dari pekerja perawatan kesehatan dan staf rumah sakit. Mereka menemukan hanya 4 persen tenaga kesehatan dan 4,6 persen staf rumah sakit yang memiliki antibodi.

“Mereka yang terinfeksi bisa saja melawan virus dengan sistem kekebalan mereka sendiri,” sebutnya.

Banyak upaya yang dilakukan untuk memerangi pandemi ini salah satunya dengan asumsi bahwa antibodi akan melindungi orang yang telah terpapar dari infeksi ulang. Namun penelitian di Wuhan menunjukkan tidak semua orang yang terinfeksi memproduksi antibodi atau memilikinya dalam waktu lama.

Antibodi adalah molekul yang dihasilkan oleh sistem kekebalan untuk mengikat protein lonjakan virus dan menghentikannya dari menginfeksi sel. Beberapa antibodi seperti immunoglobulin G, atau IgG, dapat bertahan untuk waktu yang lama, seperti yang ditemukan pada pasien pernapasan akut (SARS) 12 tahun setelah mereka terinfeksi.

Dijelaskan bahwa pasien yang terkonfirmasi COVID-19 dan menunjukkan gejala cenderung menghasilkan antibodi lebih banyak. Tim juga menyebut bahwa lebih dari 10 persen orang dalam penelitian mereka mungkin kehilangan perlindungan antibodi dalam waktu kurang lebih sebulan.

Berdasarkan penelitian ini, mereka mengatakan tes antibodi mungkin tidak cukup untuk mengetahui apakah seseorang telah terinfeksi, dan keberadaan antibodi seperti IgG mungkin belum tentu memberikan kekebalan nantinya.

“Gagasan sertifikat kekebalan COVID-19 bagi pasien Corona yang sembuh sangat tidak valid,” tegasnya.(red)



Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Administrator
SHARE:
Berita Terkait
Belajar dari Sungai Shanghai: Mimpi yang Belum Selesai untuk Jakarta

Belajar dari Sungai Shanghai: Mimpi yang Belum Selesai untuk Jakarta

KORSA Apresiasi Majelis Hakim PN Semarang, Putusan Bebas Babay Faridz Wajdi Dinilai Tegakkan Keadilan Substantif

KORSA Apresiasi Majelis Hakim PN Semarang, Putusan Bebas Babay Faridz Wajdi Dinilai Tegakkan Keadilan Substantif

Kuasa Hukum Sebut Tak Ada Bukti Aliran Dana, PK Kasus APD Sumut Masuki Babak Krusial

Kuasa Hukum Sebut Tak Ada Bukti Aliran Dana, PK Kasus APD Sumut Masuki Babak Krusial

Kajati Sumut Dituding Ogah Jumpa Wartawan, Audensi dan Minta Informasi Forwaka Sumut Ditolak

Kajati Sumut Dituding Ogah Jumpa Wartawan, Audensi dan Minta Informasi Forwaka Sumut Ditolak

S Alias Nino dan Na Oknum Agent Penyalur TKI Ilegal Dilaporkan ke Polda Sumut

S Alias Nino dan Na Oknum Agent Penyalur TKI Ilegal Dilaporkan ke Polda Sumut

KJRI Shanghai dan Diplomasi Pengetahuan untuk Indonesia

KJRI Shanghai dan Diplomasi Pengetahuan untuk Indonesia

Komentar
Berita Terbaru