<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?><rss version="2.0">
    <channel>
        
        <title></title>
        
        <link>https://www.halomedan.com/</link>
        <description>Halo Medan | Berani Tampil Beda</description>
        <lastBuildDate>Wed, 13 May 2026 04:26:23 +0700+0700</lastBuildDate>
        <language>id-ID</language>

            <item>
            <guid isPermaLink="false">Kemnaker Uji 2.100 Calon Ahli K3 Umum Batch 2 untuk Perkuat Budaya Keselamatan Kerja</guid>
            <pubDate>Wed, 13 May 2026 00:43:00 +0700+0700</pubDate>
            <title><![CDATA[Kemnaker Uji 2.100 Calon Ahli K3 Umum Batch 2 untuk Perkuat Budaya Keselamatan Kerja]]></title>
            <description><![CDATA[Jakarta &mdash Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menggelar Evaluasi Pembinaan dan Sertifikasi Ahli K3 Umum Batch 2 yang diikuti 2.100 ]]></description>
            <content><![CDATA[Jakarta &mdash; Kementerian Ketenagakerjaan (<a href="https://www.halomedan.com/tag/kemnaker/" target="_blank">Kemnaker</a>) menggelar Evaluasi Pembinaan dan Sertifikasi Ahli K3 Umum Batch 2 yang diikuti 2.100 peserta dari berbagai daerah di Indonesia pada 12&ndash;13 Mei 2026. Kegiatan yang diselenggarakan bersama Perusahaan Jasa Keselamatan dan Kesehatan Kerja (PJK3) ini menjadi langkah strategis <a href="https://www.halomedan.com/tag/kemnaker/" target="_blank">Kemnaker</a> untuk memperkuat kompetensi calon Ahli K3 dalam mendorong budaya kerja yang aman, sehat, dan produktif di tempat kerja.<br><br>Evaluasi dilaksanakan secara serentak di berbagai wilayah di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, dan Makassar, sebagai bagian dari upaya memperluas penguatan kompetensi K3 di dunia kerja.<br><br>Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli menegaskan bahwa penguatan kompetensi Ahli K3 menjadi bagian penting dalam mendukung transformasi dunia kerja yang semakin dinamis dan berisiko tinggi. Menurutnya, keberadaan 2.100 calon Ahli K3 Umum ini merupakan investasi penting dalam memperkuat ekosistem ketenagakerjaan nasional.<br><br>&quot;<a href="https://www.halomedan.com/tag/kemnaker/" target="_blank">Kemnaker</a> terus mendorong agar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) tidak hanya dipahami sebagai kepatuhan terhadap regulasi, tetapi menjadi budaya kerja yang melekat di setiap tempat kerja. Karena itu, kualitas Ahli K3 harus dipastikan sejak proses pembinaan dan sertifikasi,&quot; ujar Yassierli.<br><br>Direktur Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Binwasnaker dan K3), Ismail Pakaya, mengatakan evaluasi tersebut merupakan tahapan penting untuk memastikan calon Ahli K3 Umum memiliki kompetensi yang memadai dalam memahami dan menerapkan norma K3 di tempat kerja.<br><br>&quot;Kegiatan evaluasi ini bukan sekadar proses administratif, melainkan instrumen penting untuk memastikan calon Ahli K3 benar-benar memahami norma dan prinsip K3, sehingga mampu menjalankan perannya secara profesional dalam menciptakan budaya kerja yang aman, sehat, dan produktif,&quot; kata Ismail melalui siaran pers Biro Humas <a href="https://www.halomedan.com/tag/kemnaker/" target="_blank">Kemnaker</a>, Selasa (12/5/2026).<br><br>Adapun materi yang diujikan pada kegiatan ini meliputi dasar-dasar K3, pengawasan norma keselamatan kerja mekanik, pesawat uap dan bejana tekan, pesawat angkat dan angkut, keselamatan kerja listrik, penanggulangan kebakaran, keselamatan konstruksi bangunan, lingkungan kerja, Sistem Manajemen K3 (SMK3), serta manajemen risiko.<br><br>Menurut Ismail, evaluasi tersebut merupakan tahapan wajib sebelum peserta memperoleh sertifikasi dan penunjukan sebagai Ahli K3 Umum sesuai ketentuan <a href="https://www.halomedan.com/tag/kemnaker/" target="_blank">Kemnaker</a>.<br><br>&quot;Kami berharap para calon Ahli K3 Umum yang lulus evaluasi dapat menjadi agen perubahan budaya K3 di tempat kerja, mampu mengidentifikasi potensi bahaya, melakukan upaya pencegahan kecelakaan kerja, serta mendorong penerapan SMK3 secara efektif di perusahaan masing-masing,&quot; ujarnya.r]]></content>
            <enclosure url="https://cdn.halomedan.com/uploads/images/2026/05/_9103_Kemnaker-Uji-2-100-Calon-Ahli-K3-Umum-Batch-2-untuk-Perkuat-Budaya-Keselamatan-Kerja.png" type="image/png" length="0"/>
            <link>https://www.halomedan.com/news/65699/kemnaker-uji-2100-calon-ahli-k3-umum-batch-2-untuk-perkuat-budaya-keselamatan-kerja/</link>
            <author><![CDATA[admin]]></author>
        </item>
            <item>
            <guid isPermaLink="false">Festival Layang-Layang Piala Gubernur Dibuka, Bobby Nasution Ingin Jadi Daya Tarik Wisata Sumut</guid>
            <pubDate>Wed, 13 May 2026 00:17:00 +0700+0700</pubDate>
            <title><![CDATA[Festival Layang-Layang Piala Gubernur Dibuka, Bobby Nasution Ingin Jadi Daya Tarik Wisata Sumut]]></title>
            <description><![CDATA[DELISERDANG &ampndash Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Bobby Afif Nasution membuka Festival LayangLayang Piala Gubernur Sumut, di Sir]]></description>
            <content><![CDATA[DELISERDANG &ndash; Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Bobby Afif Nasution membuka <a href="https://www.halomedan.com/tag/festival/" target="_blank">Festival</a> Layang-Layang Piala Gubernur Sumut, di Sirkuit Dinas Kepemudaan dan Keolahragaan Sumut, Sabtu (9/5/2026). Bobby berharap festival tersebut ke depan tidak hanya menjadi ajang olahraga masyarakat, tetapi juga mampu mendongkrak sektor pariwisata Sumut.<br><br>Menurut Bobby, pelaksanaan festival layang-layang di masa mendatang dapat dipusatkan di destinasi wisata unggulan, agar sekaligus menjadi sarana promosi daerah.<br><br>"Kalau bisa tahun depan festival layang-layang digelar di tempat yang bisa dijual pariwisatanya. Jadi bukan hanya kegiatan layang-layangnya, tetapi juga tempat wisata di Sumut yang bisa kita promosikan," ujar Bobby Nasution.<br><br><a href="https://www.halomedan.com/tag/festival/" target="_blank">Festival</a> Layang-Layang Piala Gubernur Sumut berlangsung selama dua hari, 9-10 Mei 2026, dan diikuti lebih dari 1.000 peserta dari berbagai daerah. Bobby mengapresiasi tingginya antusiasme masyarakat terhadap kegiatan tersebut.<br><br>"Saya apresiasi kegiatan festival layang-layang ini. Pesertanya lebih dari seribu orang, dan ini sangat menarik di tengah era digitalisasi sekarang," katanya.</p><br></p>.<img src="https://cdn.halomedan.com/uploads/images/2026/05/9fc3d7152ba9336a670e36d0ed79bc43_GUBERNUR HADIRI FESTIVAL LAYANG-LAYANG  (6).jpg.jpeg"><br><br>Bobby juga menilai permainan tradisional perlu terus dilestarikan karena mampu membangun kreativitas anak-anak. Menurutnya, permainan seperti layang-layang memiliki nilai edukasi dan sosial yang penting di tengah dominasi penggunaan gawai.<br><br>"Sekarang ini kadang terbalik. Dulu anak-anak disuruh masuk rumah, sekarang malah disuruh keluar rumah, jangan terus bermain handphone atau game. Permainan tradisional seperti layang-layang, patok lele, dan lainnya perlu kembali digalakkan," ucap Bobby.<br><br>Sementara itu, Ketua Umum Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Sumut M Daffasya Adnan Sinik mengatakan festival layang-layang tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan menuju Road to Forprovsu 2026.<br><br>"Road to Forprovsu 2026 merupakan festival olahraga masyarakat yang nantinya akan dihadiri lebih dari 10 ribu orang pada Oktober 2026," katanya.<br><br>Turut hadir pada kegiatan tersebut Kepala Dinas Kepemudaan dan Keolahragaan Sumut Mahfullah Pratama, Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sumut Yuda Pratiwi Setiawan, serta para pelajar yang menjadi peserta maupun penonton festival. r<br></p>]]></content>
            <enclosure url="https://cdn.halomedan.com/uploads/images/2026/05/_8285_Festival-Layang-Layang-Piala-Gubernur-Dibuka--Bobby-Nasution-Ingin-Jadi-Daya-Tarik-Wisata-Sumut.png" type="image/png" length="0"/>
            <link>https://www.halomedan.com/kota/65698/festival-layanglayang-piala-gubernur-dibuka-bobby-nasution-ingin-jadi-daya-tarik-wisata-sumut/</link>
            <author><![CDATA[admin]]></author>
        </item>
            <item>
            <guid isPermaLink="false">SINUWUN AMANGKURAT IV</guid>
            <pubDate>Tue, 12 May 2026 20:49:00 +0700+0700</pubDate>
            <title><![CDATA[SINUWUN AMANGKURAT IV]]></title>
            <description><![CDATA[ halomedan.com SINUWUNAMANGKURAT IVA. Raja TersohorPewaris tahta raja Mataram tampil agung dan anggun. Lambang kejayaan Mataram terjadi pad]]></description>
            <content><![CDATA[ <b><a href="https://www.halomedan.com">halomedan.com</a></b> -SINUWUN<br>AMANGKURAT IV<br><br>A. <br>Raja Tersohor<br><br>Pewaris tahta raja Mataram tampil agung dan anggun. Lambang kejayaan Mataram terjadi pada masa pemerintahan Amangkurat Jawi. Trah Amangkurat Jawi merupakan dinasti yang sukses gemilang. Dinasti Karaton Surakarta Hadiningrat, Kasultanan Yogyakarta dan  Mangkunegaran keturunan langsung Sri Susuhunan Amangkurat Jawi. <br>Kanjeng <a href="https://www.halomedan.com/tag/sinuwun/" target="_blank">Sinuwun</a> Amangkurat IV<br>lahir pada hari Senin Wage, tanggal 18 Syawal 1091 Hijrah atau 11 Nopember 1680 Masehi. <br><br>Adapun Sunan Amangkurat IV surut ing kasedan jati pada hari Setu Wage, 17 Rumah 1138 Hijrah atau tanggal 20 April 1726 Masehi.<br><br>Kanjeng <a href="https://www.halomedan.com/tag/sinuwun/" target="_blank">Sinuwun</a> Amangkurat Jawi atau Amangkurat IV. <br>Raja besar yang menurunkan para penguasa Jawa. Silsilah  Sri Amangkurat IV telah dijelaskan secara urut patut. Dinasti Mataram yang selalu basuki lestari. Masa silam yang cemerlang. Keterangan rinci mudah dipahami. Adapun Bratadiningrat (1990) meriwayatkan silsilah Sunan Amangkurat IV atau <a href="https://www.halomedan.com/tag/sinuwun/" target="_blank">Sinuwun</a> Amangkurat Jawi. <br>Kutipan dalam bahasa Jawa secara lengkap adalah sebagai berikut : Sampeyan Dalem Ingkang <a href="https://www.halomedan.com/tag/sinuwun/" target="_blank">Sinuwun</a>  Kanjeng Susuhunan Prabu Amangkurat Jawa Senopati Ing Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panata Gama Kalifatullah Ingkang Kaping IV Ing Nagari Kartasura Hadiningrat 1719-1726. <br><br>Putra Dalem Sampeyan Dalem Ingkang <a href="https://www.halomedan.com/tag/sinuwun/" target="_blank">Sinuwun</a>  Paku Buwana I miyos saking Prameswari Dalem Kanjeng Ratu Mas Balitar atau GKR Paku Buwana putrinipun  Tumenggung Balitar. Asma timur Bandara Raden Mas Gusti Suryoputro.<br>Nlesih salsilahipun Sampeyan Dalem Ingkang <a href="https://www.halomedan.com/tag/sinuwun/" target="_blank">Sinuwun</a> Prabu Amangkurat Jawa Saking Ibu dalem Ratu Balitar atau GKR Paku Buwana garwa prameswari trah Bupati Madiun. <br><br>Urutan Sri Susuhunan Amangkurat IV yakni:<br>1.	Ingkang <a href="https://www.halomedan.com/tag/sinuwun/" target="_blank">Sinuwun</a>  Kanjeng Sultan Demak Bintara III, peputra.<br>2.	Kanjeng Panembahan Mas ing Madiun, peputra.<br>3.	GKR  Retno Dumilah, Prameswari Dalem Sampeyan Dalem Ingkang <a href="https://www.halomedan.com/tag/sinuwun/" target="_blank">Sinuwun</a>  Panembahan Senopati ing Ngalaga, peputra.<br>4.	Panembahan Juminah ing Madiun, peputra.<br>5.	Pangeran Adipati Balitar, peputra.<br>6.	Ki Tumenggung Balitar, peputra.<br>7.	 Ratu Mas Balitar atau GKR Paku Buwana, Prameswari dalam sampeyan dalam Ingkang <a href="https://www.halomedan.com/tag/sinuwun/" target="_blank">Sinuwun</a>  Paku Buwana I ing Kartasura, peputra.<br>8.	Sampeyan Dalem Ingkang <a href="https://www.halomedan.com/tag/sinuwun/" target="_blank">Sinuwun</a>  Prabu Amangkurat Jawa ing Kartasura. <br><br>BRM Gusti Suryoputro lajeng jejuluk Sri Susuhunan Amangkurat Jawi. <br>Prameswari Dalem GKR Kencana, putrinipun  Tumenggung Tirtokusumo Bupati Kudus. <br><br>Putra -Putri Dalem sedaya :<br>1.	GPH Mangkunegara Kartasura<br>2.	GRAy. Suroloyo ing Brebes.<br>3.	GRAy. Wirodigdo<br>4.	GPH Hangabehi<br>5.	G.P.H. Pamot<br><br>6.	GPH Diponegara.<br>7.	GPH Danupoyo<br>8.	Sampeyan Dalem Ingkang <a href="https://www.halomedan.com/tag/sinuwun/" target="_blank">Sinuwun</a>  Paku Buwana II utawi BRMG Probosuyoso.<br>9.	G.P.H. Hadinegara<br>10.	GKR Maduretno, garwa KPH Hindronoto<br><br>11.	GRAj. Kacihin,<br>12.	GPH Hadiwijoyo seda ing Kaliabu<br>13.	GRM Subronto, seda timur<br>14.	GPH Mangkubumi, jumeneng Sultan Hamengku Buwono ing Ngayogyakarta. miyos saking RAy Setyowati.<br><br>15.	G.P.H. Buminoto. <br>16.	Sultan Dandun Matengsari. <br>17.	G.R.Ay. Megatsari<br>18.	GRAy. Puruboyo<br>19.	GRAy Pakuningrat, garwa Adipati Sampang<br>20.	GPH Cakranegara.<br><br>21.	GPH Selarong<br>22.	GPH Prangwadono<br>23.	GRAy Suryowinoto, garwa Bupati Demak.<br>24.	GPH Panular<br>25.	GPH Mangkukusumo. <br>26.	G.R.M Timur<br>27.	GRAy. Sujonopuro. <br>28.	GPH Dipowinoto<br>29.	GRAy. Adipati Danurejo I. <br><br>Bupati Banyumas kelak diangkat sebagai Patih Ngayogyakarta dengan gelar Patih Danureja. Badan eksekutif kerajaan Mataram dibina oleh Sri Susuhunan Amangkurat IV. Raja yang menjadi pelopor modernitas. <br><br>Kanjeng <a href="https://www.halomedan.com/tag/sinuwun/" target="_blank">Sinuwun</a>  Susuhunan Prabu Amangkurat Jawa Senapati Ingalaga Ngabdur Rahman Sayidin Panata Gama Kalifatullah ing Kartasura jumeneng nata kala ing taun 1719 dumugi ing taun 1726. Apeputra 42, urut sepuh kados ing ngandhap punika:<br><br>1.	Raden Mas Sura, peparab Raden Mas Landhe, kapatedhakaken dhateng Kapurbayan, lajeng dipun elih nama Raden Mas Damar, kakramakaken angsal putri Kablitaran nama Raden Ajeng Gilang.<br><br>Nalika teksihipun Ingkang Eyang kaparingan nama Pangeran Arya, sareng wonten ing Mataram lajeng jinunjung dening ingkang rama marasepuh, nama Pangeran Arya Mangkunagara, ingkang rama Raden Mas Said Suryakusuma. Nama Pangeran Mangkunegara, karan Mangkunegara Sambernyawa. Ndherek ingkang rama Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Mangkubumi, inggih Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengku Buwana I ing Ngayogyakarta, kapundhut mantu angsal kanjeng Ratu Bendara.<br><br>2.	Raden Ajeng Dewi, peparab Raden Ajeng Sobrah nama Raden Ayu Tumenggung Suralaya ing Brebes.<br>3.	Raden Ayu Pambayun, <br>4.	Raden Ajeng Aminah, peparab Raden Ayu Supadmi, nama Raden Ajeng Supat krama angsal Raden Tumenggung Pringgalaya, dados patih nama Raden Ayu Adipati Pringgalaya, karan Raden Ayu Ageng. <br>5.	Raden Mas Sandeya, jinunjung dening ingkang rayi Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II, nama Pangeran Hangabehi.<br><br>6.	Putri wiyos. <br>7.	Raden Mas Suraya, jinunjung dening ingkang rayi Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II nama Pangeran Arya Pamot.<br><br>8.	Raden Mas Kali, jinunjung dening ingkang rayi Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II, nama Pangeran Arya Dipanagara.<br>9.	Raden Mas Budiman, jejuluk Raden Mas Regu, jinunjung dening ingkang rayi Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II nama Pangeran Arya Danupaya, krama putri Dipasantan, kapanggih nak- sanak.<br><br>10.	Gusti Raden Mas Sandi, ngalih nama Gusti Raden Mas Prabayasa, nama Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangkunagara. Jumeneng nata tahun 1726 jejuluk Kanjeng Susuhunan Paku Buwana Senapati Ingalaga Ngabdurrahman Sayidin Panata Gama ingkang kaping II ing Kartasura.<br>Lajeng pindah ing Ngadipala Wedhi engser, inggih Sala wecaning Nujum Kyai Tumenggung Hanggawangsa Sidik Jayabaya, inggih Kyai Surawijaya, inggih Kyai Tumenggung Arungbinang I Bupati Ageng Sewu. <br><br>11.	Raden Mas Saoya, <br>12.	Raden Mas Surasa, jinunjung dening ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II, nama Pangeran Arya Mangkubumi. <br>13.	Raden Mas Utara, jinunjung dening ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II nama Pangeran Arya Dipanagara, krama angsal putri ing Kapurbayan nama Raden Ajeng Jemblem. <br>14.	Raden Ayu Siti Sundari, peparab Raden Ayu Kedhaton, nama Kanjeng Ratu Maduretna, krama angsal Pangeran Cakraningrat ing Madura ingkang seda mukti. <br>15.	Raden Ajeng Sanyata, <br><br>16.	Raden Ajeng Brangti, krama angsal Raden Sukrama, putranipun Tumenggung Mangkuyuda II, Bagus Lembung Bupati Kedu patutan saking putra dalem Tegal Arum Raden Ayu Kleting Biru, Raden Sukrama kaganjar nama Raden Tumenggung Mangkupraja ing Kedu. <br>17.	Raden Mas Subandar, peparab Raden Mas Lindu. <br>18.	Raden Mas Subekti, jinunjung dening ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II, nama Pangeran Arya Pamot, ngalih nama Pangeran Arya Adiwijaya, seda wonten ing Kaliabu tanah Kedu, ndherek ingkang rayi babadhe Kanjeng Sultan Kabanaran Ngayogyakarta.<br> Garwanipun Pangeran Arya Adiwijaya punika putri saking Natayudan, Wadana Bumija<br>19.	Raden Mas Subrangta, jinunjung dening ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II nama Pangeran Arya Blater.<br>20.	Raden Mas Sakti, peparab Raden Mas Asih, peparab malih Raden Mas Bumi, jinunjung dening ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II nama Pangeran Arya Buminata, garwanipun putra saking Kabaletaran nama Raden Ajeng Tambangleg.<br><br>21.	Raden Mas Sujana, jinunjung dening ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II, nama Pangeran Arya Mangkubumi, saged ngunduraken kramanipun Paridan Martapura, kaganjar siti Sokawati 3000 karya, kajunjung nama Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Mangkubumi Senapati Ingalaga.<br>Gadhuhan siti Sokawati 3000 karya wau kapundhut wangsul. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Mangkubumi lajeng madeg padhawa  nama Pangeran Adipati Sokawati, jumenengipun nata wonten ing Kabanaran nama Kanjeng Sultan Hamengku Buwana Senapati Ingalaga Ngabdurrahman Sayidin Panata Gama Kalifatullah ing Ngayogyakarta, jumeneng saking karsa pribadi. <br>Jumenengan nata dening Kanjeng putri saking Madiun nama Raden Ajeng Manik.<br>22.	Raden Mas Kadhaton, jinunjung dening ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II, nama Pangeran Arya Buminata. Sareng nama Kanjeng Sultan Dhandhun Martengsari, lajeng nama Panembahan Bintara. Garwa putri saking Dipasanan, sadherekipun.<br>23.	Raden Mas Pamade, jinunjung dening ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II nama Kanjeng Arya Mantaram, sareng Pangeran Arya Buminata, Pangeran Arya Mantaram lajeng nggentosi nama Pangeran Arya Buminata.<br>24.	Raden Ajeng Tajem, krama angsal Raden Wiratmeja, keponakanipun Adipati Pathi Raden Wiratmeja kaparingan nama Pangeran Arya Purbaya. <br>25.	Raden Ajeng Sutari, peparab Raden Ajeng Inten, krama angsal Raden Demang Urawan, ingkang kaparingan nama Pangeran Arya Purbaya. <br><br>26.	Raden Ajeng Semi, nama Raden Ayu Pakuningrat ing Sampang. <br>27.	Raden Mas Surata, jinunjung dening ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II, nama Pangeran Rangga. Dipun elih ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana, nama Pangeran Arya Purbaya, ngalih nama malih Pangeran Arya Cakranegara.<br>28.	Raden Mas Yadi, jinunjung dening Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II, nama Pangeran Arya Cakranegara.<br>29.	 Raden Mas Langkir, jinunjung dening ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II, nama Pangeran Arya Prangwadana.<br>30.	Raden Ajeng Sriganten, peparab Raden Ajeng Humik, katrimakaken wiji ing Demak, nama Raden Harmaya, kaparingan nama Raden Tumenggung Surawi nata ing Demak, Raden Ayu Humik lajeng nama Raden Ayu Surawinata.<br><br>31.	Raden Mas Genter, jinunjung dening ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II, nama Pangeran Arya Panular.<br>32.	Raden Mas Pater, jinunjung dening ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II, nama Pangeran Arya Mangkukusuma.<br>33.	Raden Mas Sunaka, jinunjung dening ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II, nama Pangeran Arya Singasari, sareng ndherek ingkang raka Kanjeng Sultan, lajeng kaparingan nama Pangeran Prabu Jaka.<br>34.	Raden Ajeng Marganten, ngalih nama Raden Ajeng Jumanten, nama Raden Ayu Megatsari Ngarang Ulu ingkang mbok ayu Raden Ajeng Tajem.<br>35.	Putri surut. <br><br>36.	Raden Ajeng Yadah, nama Raden Ayu Jagapura, embanipun Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom.<br>37.	Raden Mas Darman, kagadhuhaken dhateng kurawan, jinunjung dening ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II, nama Pangeran Arya Dipasanta.<br>38.	Raden Ajeng Rembe, kaparingan nama Raden Arya Sujanapura. Raden Ajeng Rembe lajeng nama Raden Ayu Sujanapura. <br>Raden Ayu Sujanapura palakrama kaliyan Raden Tumenggung Yudanagara Adipati Banyumas.<br> Sareng Kanjeng Susuhunan Hamengku Buwana jumeneng nata wonten ing Ngayojakarta, Raden Tumenggung Yudanagara kaangkat dados Patih Ngayojakarta nama Raden Adipati Danureja I.<br>39.	Raden Ajeng Resmiyah,<br>40.	Raden Ajeng Masiyah. <br><br>41.	Raden Ajeng Wartah,<br>42.	Kakung surut. <br>Amangkurat IV adalah ayah Paku Buwana II, Hamengku Buwana I dan kakek Mangkunegara I.<br>Dengan demikian, beliau telah menurunkan tiga dinasti besar kerajaan Jawa.  GPH Mangkunegara ing Kartasura, peputra RM Sahid, jumeneng Mangkunegara I Sambernyawa ing Surakarta. GPH Mangkubumi jumeneng Sultan Hamengku Buwana I ing Ngayogyakarta Hadiningrat. Jaman jumenengan Sampeyan Dalem Ingkang <a href="https://www.halomedan.com/tag/sinuwun/" target="_blank">Sinuwun</a>  Kanjeng Susuhunan Paku Buwana III. Raja yang terkenal sebagai juru perdamaian dunia. <br><br>B. 	<br>Dari Kudus sampai Pesisir<br><br>Kejayaan Mataram atas peran daerah Kudus dan pesisir. <br>Pernikahan Amangkurat IV dengan Ratu Kencana membawa kejayaan Mataram. Atas modal Bupati Tirtokusumo, berdiri pabrik rokok Kudus. Industri logam bertambah maju. Perkakas rumah tangga diproduksi masal. Ekonomi berputar cepat. <br><br>Istri Bupati Tirtokusumo Kudus bernama Raden Ajeng Padangan. Pengusaha minyak tanah Bojonegoro. Keuntungan usaha minyak bumi diwariskan kepada Ratu Temayang atau Ratu Kencana Kudus. Energi gas bumi di kayangan api dikelola bersama pengusaha dari Turki. Devisa Mataram Kartasura berlipat ganda. <br><br>Kayu jati diekspor ke Asia Tengah, Asia Selatan dan Asia Timur. Sebagian dipasarkan ke Eropa. Istana raja di Eropa menggunakan jati Cepu. Untung yang bertumpuk tumpuk ini jelas memberi kemakmuran. Keuangan negara sehat dan surplus. <br><br>Kraton Mataram yang beribukota di  Kartasura itu sedang mempunyai gawe besar, yaitu suksesi tahta Kerajaan. Sesudah Kanjeng Susuhunan Paku Buwana I di Kartasura surut ing kasedan jati, kedudukannya diganti oleh puteranya dengan gelar Sri Susuhunan Amangkurat Jawi; jumeneng keprabon pada tahun 1643 Jawa atau 1719 Masehi. Saat jumeneng keprabon, Raden Ajeng muda itu telah berputera. Yang sulung bernama Raden Mas Sura, dilahirkan oleh garwa Mas Ayu Sumarsana asal desa Keblokan tanah Nglaroh Surakarta yang kemudian mendapat sebutan Raden Ayu Kilen atau Raden Ayu Sepuh. Sejak kecil Raden Mas Sura dipungut sebagai putera oleh Ingkang Paman Pangeran Purbaya dan namanya diganti menjadi Raden Mas Damar. Oleh eyangnya, Sri Sunan Paku Buwana I, diberi nama Pangeran Riya, kemudian nikah dengan Raden Ayu Raga asmara, puteri Panembahan Cakraningrat di Madura, yang meninggal di dalam perahu. Dia lalu nikah lagi dengan puteri Ingkang Paman Pangeran Balitar, bernama Raden Ajeng Wulan yang mengambil tempat di Mataram Hadiningrat, di Bale Kajenar, bekas tempat kedudukan Sultan Agung, yakni kota Karta yang diganti namanya menjadi Kartasekar.<br><br>Mataram Kartasura makin jaya sentosa. Dengan cepat Pangeran Balitar mendapat pengaruh besar di kalangan rakyat sehingga diangkat menjadi Sultan Ibnu Mustopo Paku Buwana Senapati Ing Ngalaga. Pangeran Purbaya menjadi Senapati atau panglima bandayuda dengan sebutan Panembahan Senapati. Ingkang <a href="https://www.halomedan.com/tag/sinuwun/" target="_blank">Sinuwun</a> Amangkurat Jawi banyak berhasil dan mendapat bantuan seorang saudagar kaya Pranaduta. <br>Adipadi Surapati  di Pasuruan akan diundang pula dan akan dijanjikan diangkat menjadi Adipati Pasuruan. Pertemuan terjadi di Pasuruan. Semarang Pangeran Riya di jemput oleh utusan Sri Amangkurat Jawi, ayah kandung dibawa pulang ke Kartasura.<br><br> Pangeran Purbaya tempat di Benteng Alang -alang. Pangeran Herucakra, Adipati Martapura, Adipati Surapati, Adipati Suradila. Oleh Ingkang <a href="https://www.halomedan.com/tag/sinuwun/" target="_blank">Sinuwun</a> di Kartasura Pangeran Riya diberi sebutan Pangeran Adipati Anom Arya. Sri Amangkurat Jawi Sesudah menginjak usia lanjut, memikirkan akan penggantinya sebagai Raja Kartasura. Dalam pikiran beliau ingin mengangkat Pangeran Adipati Anom  sebagai pengganti. Permaisuri Kanjeng Ratu Kadipaten selalu memilih seorang dari empat puteranya diangkat menjadi pengganti Raja di Kartasura.<br> Empat orang putera itu ialah Raden Mas Sekti, kemudian bernama Pangeran Adipati Buminata. Raden Mas Kadhaton, kemudian bernama Pangeran Adipati Buminata, sesudah bernama Sultan Dandun Mertengsari. Raden Mas Pamade, kemudian bernama Pangeran Arya Mataram Hadiningrat dan sesudah kakanda Sultan Dandun Mertengsari ia berganti nama Pangeran Adipati Buminata; 4. Raden Mas Punaka, kemudian bernama Pangeran Adipati Singasari berganti nama Sunan Prabu Jaka. Sri Amangkurat Jawi menyuruh Patihnya membuat nawala    yang isinya Bila mana beliau surut ing kasedan jati, yang  menggantikan kedudukan adalah Pangeran Adipati Anom. <br><br>Dikisahkan kelahiran Pangeran atau Raden Mas. <br> Bila mana tidak dapat terlaksana, diharapkan yang menggantikan, Pangeran Adipati. Bilamana keduanya tidak disetujui, hendaknya empat orang putera dari Kanjeng Ratu Kadipaten, agar dipilih salah seorang menjadi pengganti. Sewaktu di dalam kraton Pangeran  Adipati dengan para pangeran lain  sedang berjaga menunggui Sri Sunan gerah, datanglah seorang abdinya menyusul karena garwanya, puteri Pangeran Balitar, hendak melahirkan. Bergegas pulang, kemudian menyaksikan lahirnya jabang bayi laki- laki. Dia segera kembali ke kraton untuk menyampaikan berita itu kepada Ingkang <a href="https://www.halomedan.com/tag/sinuwun/" target="_blank">Sinuwun</a> yang sedang gerah. Ingkang <a href="https://www.halomedan.com/tag/sinuwun/" target="_blank">Sinuwun</a> berkenan memberi nama cucunya: Raden Mas  sebagai tanda Ingkang <a href="https://www.halomedan.com/tag/sinuwun/" target="_blank">Sinuwun</a> telah menyaksikan. <br>Kata  berasal dari bahasa artinya: saksi. Kelahiran itu pada hari Ahad Legi, tanggal 4 Ruwah (Syakban), tahun Jimakir, 1650 Jawa atau 1725 Masehi.<br> Hari kelahiran itu disebut Senggani -praba, artinya <br>Mustika kelahiran. Gerahnya Ingkang <a href="https://www.halomedan.com/tag/sinuwun/" target="_blank">Sinuwun</a> bertambah berat, sedang menantikan balasan belum pula datang. <br><br>Kepada Patih Danureja Ingkang <a href="https://www.halomedan.com/tag/sinuwun/" target="_blank">Sinuwun</a> berwejangan bila mana sampai meninggal dunia, yang  menjadi Raja ialah seperti isi nawala. Kepada permaisuri beliau memberikan keris pusaka untuk disampaikan kepada Pangeran Adipati. Dengan hati berat sang Ratu menyampaikan keris lambang pengganti raja kepada Pangeran  Adipati dengan wejangan  titip adinda. Kemudian Ingkang <a href="https://www.halomedan.com/tag/sinuwun/" target="_blank">Sinuwun</a> surut ing kasedan jati dalam tahun 1650 Jawa atau 1726 Masehi.<br> Wafatnya Ingkang <a href="https://www.halomedan.com/tag/sinuwun/" target="_blank">Sinuwun</a> disambut jerit tangis seisi kraton, kemudian layon sumare di astana Imagiri. <br><br>Waktu itu di dalam kraton masih banyak putera sentana bertuguran berjaga Sesudah Sinuhun surut ing kasedan jati, Kanjeng Pangeran Adipati keluar diiringi oleh Patih Danureja. Maksudnya akan menenangkan pikiran sebentar.<br>Patih Danureja mohon agar sang Pangeran kembali ke dalam kraton.  Dalam kraton diadakan pembicaraan antara Kanjeng Gusti Ratu Ageng yang bertugas di Kartasura, disaksikan oleh Patih Danureja. <br>Ratu Ageng menjanjikan sepertiga harta bendanya kepada Kapten itu yang lalu menulis nawala. Maksudnya agar putera Ratu Ageng diangkat menjadi Susuhunan Kartasura yang baru. Pintu kraton ditutup. Patih Danureja mengumpulkan semua bupati nayaka dari pasisir mancanagara untuk minta pertimbangan akan nawala mengusulkan agar Pangeran Adipati Anom putera Ratu Ageng diangkat sebagai pengganti Sunan Kartasura. <br><br>Nawala Sunan yang dikirimkan sebelum surut ing kasedan jatinya, kemudian nawala  di Kartasura dan menyusul pula nawala Patih Danureja. Dia membawa nawala keputusannya tentang pengganti Raden Ajeng di Kartasura. Kedatangan dijemput di Banyudana oleh Pangeran Adipadi Anom diiringi oleh Patih Danureja dan beberapa orang bupati. Patih Danureja yang sowankan Pangeran Adipati Anom dengan membawanya menjemput memberikan nawala pengangkatan Raja kepada Pangeran Adipati Anom. Sang Pangeran Adipati menyatakan kegembiraan dan terima kasih. <br>Sampai di Kartasura  disambut oleh Kanjeng Pangeran Adipati yang menerangkan, bahwa dirinya adalah putera tertua dari Susuhunan. <br><br> Nawala sudah diterima tadi oleh Pangeran Adipati Anom. Jawab Pangeran Adipati. <br>Tak ada bedanya antara  Adimas Pangeran Adipati Anom. Pangeran Anom yang merasa  menghibur. Pangeran Adipati berkata sukur. Amangkurat Jawi memberi amanat luhur. <br><br>Raja Amangkurat Jawi berkuasa di Kraton Kartasura tahun 1719 -1726. Menurunkan dinasti raja Jawa yang berwibawa lestari.<br>Prameswari Nata<br>Mustikaning putri tetungguling widodari. Kanjeng Ratu Kencono putri Kanjeng Adipati Tirtokusumo Bupati Kudus. Garwa prameswari <a href="https://www.halomedan.com/tag/sinuwun/" target="_blank">Sinuwun</a> Amangkurat Jawi, narendra Mataram Kartasura tahun 1719 - 1726. Alur sejarah membuktikan sebagai priyayi luhur. Trahing kusuma rembesing madu, wijiling amaratapa, tedhaking andana warih. Prabu Brawijaya V raja Majapahit palakrama dengan Ratu Cempha. <br><br>Lahir seorang tokoh mumpuni. Raden Patah Jimbun Sirullah Syah Alam Akbar. Raja Demak Bintara sejak tahun 1478. Punya garwa prameswari  Kanjeng Ratu Mas Panggung. Putri Sunan Ampeldenta, Wali Sanga ing tlatah Surabaya. <br>Pernikahan ini melahirkan Pangeran Kusen Cokrokusumo. Kelak menjabat Bupati Sumenep Madura. Nurunaken Adipati Cakraningrat, Bupati Pamekasan. Putrinya Ratu Ndoyiwati dan Raden Ajeng Sukaptinah. Keduanya prameswari Paku Buwana IV. Generasi unggul hadir. Pangeran Ngudung Kusumodilogo, Senapati jaman Sultan Trenggana sejak tahun 1521. Garwa prameswari Ratu Mas Katambang. Nurunaken Bupati Lasem Rembang. <br>Muncul Pangeran Poncowati Bupati Demak. Beristri Raden Ajeng Sulastri putri Ki Ageng Kebo Kenanga Pengging. Rayi Joko Tingkir utawi Sultan Hadiwijaya, raja Kraton Pajang. <br><br>Lantas Pangeran Demang Sabrang Malaka Nahkodha dagang Johor Tamasek Singapura. Punya istri Tengku Nur Hasanah Pasai, rayi Pangeran Hadirin garwa Ratu Kalinyamat. Turut mendirikan kabupaten Jepara. <br>Turut pula Pangeran Rajungan Bahita,<br>Pangarsa Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Nurunaken Pangeran Pekik garwa Ratu Wandhansari, rayi Sultan Agung Hanyokro Kusumo. Hubungan dengan Mataram sejak tahun 1613 begitu erat. <br><br>Ada peluang menganyam kejayaan. Pangeran Bae Retno Gebang, Bupati Riya Lisah gas Padangan Cepu. Nurunaken Adipati Utoyo Kusumo Bupati Jepara. Pernah memimpin Budi Utomo. Adipati Sumodipuro, bupati Pati. Palakrama kaliyan Raden Ajeng Panular Pethak, wayah Ki Ageng Penjawi. Berhubungan dengan Ki Ageng Ngerang dan Pangeran Benowo. <br>Tampil pemimpin yang trampil rikat trengginas. Mrantasi sabarang karya. Bagus alus besus lahir batin. Adipati Tirtokusumo Bupati Kudus. Mendapat wahyu Cakraningrat. Nak tumanak run tumurun mandhegani tanah Jawa. <br><br>Berputri Kanjeng Ratu Kentjono Kudus. Garwa Prameswari <a href="https://www.halomedan.com/tag/sinuwun/" target="_blank">Sinuwun</a> Amangkurat Jawi. Narendra gung binathara, mbahu dhendha nyakrawati, ambek adil paramarta, ber budi bawa laksana, memayu hayuning bawana. Gusti Raden Mas Probosuyoso putra mahkota Kraton Mataram. Putra <a href="https://www.halomedan.com/tag/sinuwun/" target="_blank">Sinuwun</a> Amangkurat Jawi dengan Ratu Kencono. Kelak bergelar Sunan Paku Buwono II. Miyos dinten Selasa Pahing, 23 Sawal 1634 utawi 8 Desember 1711 ing Kartasura. Wayah Bupati Kudus, <a href="https://www.halomedan.com/tag/sinuwun/" target="_blank">Sinuwun</a> Paku Buwono II jumeneng nata ing Kartasura   tahun 1726 - 1745 lan  Kraton Surakarta Hadiningrat tahun 1745 - 1749. Dengan Pujangga Kyai Yasadipura. <br><br>Ratu Kencono Kudus berusia panjang. Yakni tahun 1698 - 1788. Kanjeng Tumenggung Prono Kusumojati merupakan abdi kinasih prameswari Amangkurat Jawi. Rumeksa terompet pusaka Kyai Glongsor. Ayu hayu rahayu. <a href="https://www.halomedan.com/tag/sinuwun/" target="_blank">Sinuwun</a> Susuhunan Amangkurat IV menurunkan trah berderajat. <br><br>C. <br>Wilayah Bang Wetan<br><br>Leluhur Amangkurat Jawi dari Madiun. Pendiri Madiun adalah  Pangeran Timur atau Rangga Jumena. Putra bungsu Sultan Trenggana. Sejak kecil diasuh oleh Ratu Kalinyamat di Jepara. <br><br>Ibunda Amangkurat IV yaitu Kanjeng Ratu Mas Balitar. Amangkurat IV lahir di Madiun. Masa kanak kanak tinggal di Madiun bersama Adipati Balitar. Ndherek eyang bupati. Pendidikan yang berhubungan dengan tradisi Madiun dihayati oleh Amangkurat Jawi di bawah kaki gunung Lawu. <br><br>Begitu cinta pada Madiun, Sunan Amangkurat menggagas berdirinya pabrik brem. Usaha brem suling gading cukup berkembang pesat. Banyak diekspor sampai ke negeri Persia. Lewat selat Hormuz. Pemasaran ke brem ke negeri Mesir lewat laut Merah. Orang Madiun diajak memutar ekonomi lewat brem Madiun. <br><br>Tiap kali istana Mataram Kartasura punya gawe, tak lupa hidangan sega pecel. Sambel pecel yang pedes menjadi khas sega pecel Madiun. Wadhah pincuk godhong jati menambah selera makan. Kuluban kembang turi, rempeyek dan lempeng menambah nikmatnya sega pecel. Bangsawan Mataram hampir semua ketagihan dengan enaknya sega pecel. <br><br>Juru masak didatangkan dari Caruban, Pilangkenceng, Saradan, Gemarang dan Dungus. Amangkurat IV populer di wilayah Ponorogo, Ngawi, Madiun dan Pacitan. Orang Madiun membantu Kraton Mataram Kartasura saat pengetan hadeging Kraton, grebeg sekaten, malem selikuran dan wilujengan maesa lawung. Dhawuh berasal dari Ratu Mas Balitar yang ditujukan pada pembesar Kadipaten Madiun. Tentu disambut dengan gembira ria. <br><br>Telaga sarangan dibangun oleh Amangkurat IV. Sadar wisata cukup dipahami oleh raja Mataram. Perikanan dikembangkan. Perahu bermotor didatangkan dari Jerman. Semua atas biaya pribadi Amangkurat IV. Maklum usaha brem, minyak tanah, mebel dan semen cukup berhasil. Keuangan negara Mataram sangat kokoh. Tak ada hutang sama sekali. Karena Amangkurat IV sangat mandiri. <br><br>Aliran bengawan Solo bening. Tanggul dan bendungan dibangun sepanjang daerah aliran sungai. Perahu berjalan melewati Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, Ngawi, Cepu, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Gresik dan Surabaya. Terakhir menuju selat Madura. Amangkurat IV mengembangkan kehidupan maritim. <br><br>Baki Sukoharjo dibina Amangkurat Jawi sebagai sentra sega liwet. Acara kenegaraan  Mataram menyuguhkan sega liwet. Tamu negara lahap menikmati. Cabuk rambak juga tersaji. Makanan murah yang disukai rakyat. Kupat tahu dari Tawangsari melengkapi jamuan makan. Thengkleng dan sate buntel tersedia. Jajanan pasar diletakkan berjajar jajar. Aneka minuman tinggal pilih. Amangkurat Jawi hormat pada tamu. <br><br>Tegalgondo ditanami tembakau. Lereng gunung Merbabu ditanami teh. Daerah Kembang ditanami kopi. Sepanjang gunung Sewu terdapat kebun kina. Kaki gunung Lawu dijadikan tempat wisata kebun. Pesanggrahan dibangun untuk menggerakkan pesona wisata. <br><br>Kerajinan rakyat dibina Amangkurat Jawi. Daerah Bentangan sentra gerabah. Bayat kerajinan batik. Bekonang terdapat industri logam. Gemolong pusat mebel. Ekonomi rakyat berputar maju. Amangkurat Jawi ahli ekonomi. Rakyat hidup makmur. Gemah ripah loh jinawi. <br><br>Upacara dadat dalam setahun sebanyak 11 kali. Grebeg Mulud, grebeg besar, grebeg bada, kirab malem Sura, pengetan hadeging kraton, tingalan jumenengan raja, malem selikur, mbayar pitrah, maesa lawung dan nyadran. Sunan Amangkurat memandang upacara adat sebagai sarana mendapat drajat pangkat semat dan selamat lahir batin.<br><br>D. <br>Raja Bijak Bestari<br><br>Sarasehan Trah Mataram merupakan bentuk aktivitas budaya. Pada hari Minggu, 26 April 2026 jam 13 - 15 diadakan sarasehan pemersatu hati trah Mataram. Dengan tema ngumpulke balung pisah, mikul dhuwur mendhem jero, kumpul gawe manfaat lan keberkahan. Bertempat di petilasan kraton Mataram Kartasura Sukoharjo Jawa Tengah. Kontribusi peserta Rp 100.300. Angka yang penuh nilai simbolik. <br><br>Hadir perwakilan dari Karaton Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Pura Pakualaman, Pura Mangkunegaran dan keturunan Mataram. Para peserta berbusana kejawen. Panitia kakung putri berbusana gagrak Surakarta. Sebagian busana batik mataraman. Dengan duduk lesehan di pendopo Karaton Kartasura, sarasehan ini membahas nilai kearifan lokal masa lampau. Terutama Karaton Kartasura Mataram yang berdiri tahun 1677 - 1745. Kali ini khusus pemerintahan Sunan Amangkurat Jawi. Keluhuran yang patut dijadikan sebagai tepa palupi.<br><br>Harapan untuk terus melestarikan diulas sistematis integral dan komprehensif. GKR Wandansari, GBPH Yudhaningrat, Prof Dr Teguh Supriyanto menjadi narasumber. Pewaris trah Amangkurat Jawi menggabungkan tradisi santri dan budaya abangan. Akulturasi antara agama dan budaya secara selaras serasi seimbang. <br><br>Sarasilah trah Mataram diurus Kantor kasentanan. Kanjeng Warso lan Kanjeng Angga bertugas untuk mengurus alur keluarga. Leluhur Jawa mewariskan kawibawan kawidadan kabagyan kamulyan. <br><br>Tanggal 27 April 2027 GKR Wandansari memimpin labuhan di pantai Parangkusumo. Langse atau kelambu Amangkurat dilarung di samudra kidul. Sentana dan abdi dalem ndherek dengan pengawalan prajurit. <br><br><br>Purwadi, <br>Senin Kliwon, 27 April 2026.<br>]]></content>
            <enclosure url="https://cdn.halomedan.com/uploads/images/2026/05/_8208_SINUWUN-AMANGKURAT-IV.png" type="image/png" length="0"/>
            <link>https://www.halomedan.com/info/65697/sinuwun-amangkurat-iv/</link>
            <author><![CDATA[admin]]></author>
        </item>
            <item>
            <guid isPermaLink="false">Amangkurat Utsmaniyah</guid>
            <pubDate>Tue, 12 May 2026 20:47:00 +0700+0700</pubDate>
            <title><![CDATA[Amangkurat Utsmaniyah]]></title>
            <description><![CDATA[ halomedan.com AmangkuratUtsmaniyahA. Diplomasi KenegaraanHubungan diplomasi yang dilakukan Sunan Amangkurat IV sangat hebat. Karena cakap ]]></description>
            <content><![CDATA[ <b><a href="https://www.halomedan.com">halomedan.com</a></b> -<a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a><br>Utsmaniyah<br><br>A. <br>Diplomasi Kenegaraan<br><br>Hubungan diplomasi yang dilakukan Sunan <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV sangat hebat. Karena cakap berbahasa Arab, Inggris, Perancis, Jerman, Sansekerta,  China dan Melayu. Kasultanan Turki Ottoman menjalin hubungan diplomasi kenegaraan. Sultan Ahmad Utsmani raja Turki kerap berjumpa dengan <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV yang memerintah kerajaan Mataram Kartasura  sejak tahun 1719.<br><br>Putra raja Mataram dikirim untuk belajar di Universitas Turki. Pangeran Mangkunegara, Pangeran Prabasuyasa dan Pangeran Mangkubumi merupakan alumni universitas Turki. Kelak Pangeran Mangkunegara menurunkan dinasti Mangkunegaran. Pangeran Prabasuyasa kelak menjadi raja dengan gelar Sinuwun Paku Buwana II sejak tahun 1726. Pangeran Mangkubumi menjadi Sultan Hamengku Buwana I. Putra raja <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV ini cakap cakep cukup. <br><br>Sultan Ahmad Utsmani III terkesan dengan Sri <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV. Raja Turki ini menyebut sahabatnya dengan gelar <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi. Tokoh Asia Tenggara yang paling penting. Kerajaan Mataram membawahi penduduk lebih dari 120 juta jiwa. Penduduk Muslim terbesar di dunia. Nama <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi mendapat tempat khusus dan istimewa. <br><br>Kasultanan Turki Utsmaniyah terlalu akrab dengan Sunan <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi. Maka para abdi dalem memberi gelar Sinuwun <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Utsmaniyah. Gelar kehormatan yang menunjukkan persahabatan antara Kasultanan Turki dengan Kerajaan Mataram. <br><br>Raja <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi tersohor yang terkenang sepanjang jaman. Masyarakat Turki bangga dengan <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Utsmaniyah. Pewaris tahta raja Mataram <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Utsmaniyah tampil agung dan anggun. Lambang kejayaan Mataram terjadi pada masa pemerintahan <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi. Trah <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi merupakan dinasti yang sukses gemilang. Dinasti Karaton Surakarta Hadiningrat, Kasultanan Yogyakarta dan  Mangkunegaran keturunan langsung Sri Susuhunan <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi. <br>Kanjeng Sinuwun <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV<br>lahir pada hari Senin Wage, tanggal 18 Syawal 1091 Hijrah atau 11 Nopember 1680 Masehi. <br><br>Gelar <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Utsmaniyah makin populer di Timur Tengah. Adapun Sunan <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV surut ing kasedan jati pada hari Setu Wage, 17 Rumah 1138 Hijrah atau tanggal 20 April 1726 Masehi.<br><br>Sultan Turki makin bersahabat dengan Kerajaan Mataram. <br>Kanjeng Sinuwun <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi atau <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV. <br>Raja besar yang menurunkan para penguasa Jawa. Silsilah  Sri <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV telah dijelaskan secara urut patut. Dinasti Mataram yang selalu basuki lestari. Masa silam yang cemerlang. Keterangan rinci mudah dipahami. Adapun Bratadiningrat (1990) meriwayatkan silsilah Sunan <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV atau Sinuwun <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi. <br>Kutipan dalam bahasa Jawa secara lengkap adalah sebagai berikut : Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun  Kanjeng Susuhunan Prabu <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawa Senopati Ing Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panata Gama Kalifatullah Ingkang Kaping IV Ing Nagari Kartasura Hadiningrat 1719-1726. <br><br>Putra Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun  Paku Buwana I miyos saking Prameswari Dalem Kanjeng Ratu Mas Balitar atau GKR Paku Buwana putrinipun  Tumenggung Balitar. Asma timur Bandara Raden Mas Gusti Suryoputro.<br>Nlesih salsilahipun Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Prabu <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawa Saking Ibu dalem Ratu Balitar atau GKR Paku Buwana garwa prameswari trah Bupati Madiun. <br><br>Urutan Sri Susuhunan <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV yakni:<br>1.	Ingkang Sinuwun  Kanjeng Sultan Demak Bintara III, peputra.<br>2.	Kanjeng Panembahan Mas ing Madiun, peputra.<br>3.	GKR  Retno Dumilah, Prameswari Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun  Panembahan Senopati ing Ngalaga, peputra.<br>4.	Panembahan Juminah ing Madiun, peputra.<br>5.	Pangeran Adipati Balitar, peputra.<br>6.	Ki Tumenggung Balitar, peputra.<br>7.	 Ratu Mas Balitar atau GKR Paku Buwana, Prameswari dalam sampeyan dalam Ingkang Sinuwun  Paku Buwana I ing Kartasura, peputra.<br>8.	Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun  Prabu <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawa ing Kartasura. <br><br>BRM Gusti Suryoputro lajeng jejuluk Sri Susuhunan <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi. <br>Prameswari Dalem GKR Kencana, putrinipun  Tumenggung Tirtokusumo Bupati Kudus. <br><br>Putra -Putri Dalem sedaya :<br>1.	GPH Mangkunegara Kartasura<br>2.	GRAy. Suroloyo ing Brebes.<br>3.	GRAy. Wirodigdo<br>4.	GPH Hangabehi<br>5.	G.P.H. Pamot<br><br>6.	GPH Diponegara.<br>7.	GPH Danupoyo<br>8.	Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun  Paku Buwana II utawi BRMG Probosuyoso.<br>9.	G.P.H. Hadinegara<br>10.	GKR Maduretno, garwa KPH Hindronoto<br><br>11.	GRAj. Kacihin,<br>12.	GPH Hadiwijoyo seda ing Kaliabu<br>13.	GRM Subronto, seda timur<br>14.	GPH Mangkubumi, jumeneng Sultan Hamengku Buwono ing Ngayogyakarta. miyos saking RAy Setyowati.<br><br>15.	G.P.H. Buminoto. <br>16.	Sultan Dandun Matengsari. <br>17.	G.R.Ay. Megatsari<br>18.	GRAy. Puruboyo<br>19.	GRAy Pakuningrat, garwa Adipati Sampang<br>20.	GPH Cakranegara.<br><br>21.	GPH Selarong<br>22.	GPH Prangwadono<br>23.	GRAy Suryowinoto, garwa Bupati Demak.<br>24.	GPH Panular<br>25.	GPH Mangkukusumo. <br>26.	G.R.M Timur<br>27.	GRAy. Sujonopuro. <br>28.	GPH Dipowinoto<br>29.	GRAy. Adipati Danurejo I. <br><br>Bupati Banyumas kelak diangkat sebagai Patih Ngayogyakarta dengan gelar Patih Danureja. Badan eksekutif kerajaan Mataram dibina oleh Sri Susuhunan <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV. Raja yang menjadi pelopor modernitas. <br><br>Kanjeng Sinuwun  Susuhunan Prabu <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawa Senapati Ingalaga Ngabdur Rahman Sayidin Panata Gama Kalifatullah ing Kartasura jumeneng nata kala ing taun 1719 dumugi ing taun 1726. Apeputra 42, urut sepuh kados ing ngandhap punika:<br><br>1.	Raden Mas Sura, peparab Raden Mas Landhe, kapatedhakaken dhateng Kapurbayan, lajeng dipun elih nama Raden Mas Damar, kakramakaken angsal putri Kablitaran nama Raden Ajeng Gilang.<br><br>Nalika teksihipun Ingkang Eyang kaparingan nama Pangeran Arya, sareng wonten ing Mataram lajeng jinunjung dening ingkang rama marasepuh, nama Pangeran Arya Mangkunagara, ingkang rama Raden Mas Said Suryakusuma. Nama Pangeran Mangkunegara, karan Mangkunegara Sambernyawa. Ndherek ingkang rama Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Mangkubumi, inggih Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengku Buwana I ing Ngayogyakarta, kapundhut mantu angsal kanjeng Ratu Bendara.<br><br>2.	Raden Ajeng Dewi, peparab Raden Ajeng Sobrah nama Raden Ayu Tumenggung Suralaya ing Brebes.<br>3.	Raden Ayu Pambayun, <br>4.	Raden Ajeng Aminah, peparab Raden Ayu Supadmi, nama Raden Ajeng Supat krama angsal Raden Tumenggung Pringgalaya, dados patih nama Raden Ayu Adipati Pringgalaya, karan Raden Ayu Ageng. <br>5.	Raden Mas Sandeya, jinunjung dening ingkang rayi Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II, nama Pangeran Hangabehi.<br><br>6.	Putri wiyos. <br>7.	Raden Mas Suraya, jinunjung dening ingkang rayi Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II nama Pangeran Arya Pamot.<br><br>8.	Raden Mas Kali, jinunjung dening ingkang rayi Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II, nama Pangeran Arya Dipanagara.<br>9.	Raden Mas Budiman, jejuluk Raden Mas Regu, jinunjung dening ingkang rayi Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II nama Pangeran Arya Danupaya, krama putri Dipasantan, kapanggih nak- sanak.<br><br>10.	Gusti Raden Mas Sandi, ngalih nama Gusti Raden Mas Prabayasa, nama Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangkunagara. Jumeneng nata tahun 1726 jejuluk Kanjeng Susuhunan Paku Buwana Senapati Ingalaga Ngabdurrahman Sayidin Panata Gama ingkang kaping II ing Kartasura.<br>Lajeng pindah ing Ngadipala Wedhi engser, inggih Sala wecaning Nujum Kyai Tumenggung Hanggawangsa Sidik Jayabaya, inggih Kyai Surawijaya, inggih Kyai Tumenggung Arungbinang I Bupati Ageng Sewu. <br><br>11.	Raden Mas Saoya, <br>12.	Raden Mas Surasa, jinunjung dening ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II, nama Pangeran Arya Mangkubumi. <br>13.	Raden Mas Utara, jinunjung dening ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II nama Pangeran Arya Dipanagara, krama angsal putri ing Kapurbayan nama Raden Ajeng Jemblem. <br>14.	Raden Ayu Siti Sundari, peparab Raden Ayu Kedhaton, nama Kanjeng Ratu Maduretna, krama angsal Pangeran Cakraningrat ing Madura ingkang seda mukti. <br>15.	Raden Ajeng Sanyata, <br><br>16.	Raden Ajeng Brangti, krama angsal Raden Sukrama, putranipun Tumenggung Mangkuyuda II, Bagus Lembung Bupati Kedu patutan saking putra dalem Tegal Arum Raden Ayu Kleting Biru, Raden Sukrama kaganjar nama Raden Tumenggung Mangkupraja ing Kedu. <br>17.	Raden Mas Subandar, peparab Raden Mas Lindu. <br>18.	Raden Mas Subekti, jinunjung dening ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II, nama Pangeran Arya Pamot, ngalih nama Pangeran Arya Adiwijaya, seda wonten ing Kaliabu tanah Kedu, ndherek ingkang rayi babadhe Kanjeng Sultan Kabanaran Ngayogyakarta.<br> Garwanipun Pangeran Arya Adiwijaya punika putri saking Natayudan, Wadana Bumija<br>19.	Raden Mas Subrangta, jinunjung dening ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II nama Pangeran Arya Blater.<br>20.	Raden Mas Sakti, peparab Raden Mas Asih, peparab malih Raden Mas Bumi, jinunjung dening ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II nama Pangeran Arya Buminata, garwanipun putra saking Kabaletaran nama Raden Ajeng Tambangleg.<br><br>21.	Raden Mas Sujana, jinunjung dening ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II, nama Pangeran Arya Mangkubumi, saged ngunduraken kramanipun Paridan Martapura, kaganjar siti Sokawati 3000 karya, kajunjung nama Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Mangkubumi Senapati Ingalaga.<br>Gadhuhan siti Sokawati 3000 karya wau kapundhut wangsul. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Mangkubumi lajeng madeg padhawa  nama Pangeran Adipati Sokawati, jumenengipun nata wonten ing Kabanaran nama Kanjeng Sultan Hamengku Buwana Senapati Ingalaga Ngabdurrahman Sayidin Panata Gama Kalifatullah ing Ngayogyakarta, jumeneng saking karsa pribadi. <br>Jumenengan nata dening Kanjeng putri saking Madiun nama Raden Ajeng Manik.<br>22.	Raden Mas Kadhaton, jinunjung dening ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II, nama Pangeran Arya Buminata. Sareng nama Kanjeng Sultan Dhandhun Martengsari, lajeng nama Panembahan Bintara. Garwa putri saking Dipasanan, sadherekipun.<br>23.	Raden Mas Pamade, jinunjung dening ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II nama Kanjeng Arya Mantaram, sareng Pangeran Arya Buminata, Pangeran Arya Mantaram lajeng nggentosi nama Pangeran Arya Buminata.<br>24.	Raden Ajeng Tajem, krama angsal Raden Wiratmeja, keponakanipun Adipati Pathi Raden Wiratmeja kaparingan nama Pangeran Arya Purbaya. <br>25.	Raden Ajeng Sutari, peparab Raden Ajeng Inten, krama angsal Raden Demang Urawan, ingkang kaparingan nama Pangeran Arya Purbaya. <br><br>26.	Raden Ajeng Semi, nama Raden Ayu Pakuningrat ing Sampang. <br>27.	Raden Mas Surata, jinunjung dening ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II, nama Pangeran Rangga. Dipun elih ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana, nama Pangeran Arya Purbaya, ngalih nama malih Pangeran Arya Cakranegara.<br>28.	Raden Mas Yadi, jinunjung dening Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II, nama Pangeran Arya Cakranegara.<br>29.	 Raden Mas Langkir, jinunjung dening ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II, nama Pangeran Arya Prangwadana.<br>30.	Raden Ajeng Sriganten, peparab Raden Ajeng Humik, katrimakaken wiji ing Demak, nama Raden Harmaya, kaparingan nama Raden Tumenggung Surawi nata ing Demak, Raden Ayu Humik lajeng nama Raden Ayu Surawinata.<br><br>31.	Raden Mas Genter, jinunjung dening ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II, nama Pangeran Arya Panular.<br>32.	Raden Mas Pater, jinunjung dening ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II, nama Pangeran Arya Mangkukusuma.<br>33.	Raden Mas Sunaka, jinunjung dening ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II, nama Pangeran Arya Singasari, sareng ndherek ingkang raka Kanjeng Sultan, lajeng kaparingan nama Pangeran Prabu Jaka.<br>34.	Raden Ajeng Marganten, ngalih nama Raden Ajeng Jumanten, nama Raden Ayu Megatsari Ngarang Ulu ingkang mbok ayu Raden Ajeng Tajem.<br>35.	Putri surut. <br><br>36.	Raden Ajeng Yadah, nama Raden Ayu Jagapura, embanipun Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom.<br>37.	Raden Mas Darman, kagadhuhaken dhateng kurawan, jinunjung dening ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II, nama Pangeran Arya Dipasanta.<br>38.	Raden Ajeng Rembe, kaparingan nama Raden Arya Sujanapura. Raden Ajeng Rembe lajeng nama Raden Ayu Sujanapura. <br>Raden Ayu Sujanapura palakrama kaliyan Raden Tumenggung Yudanagara Adipati Banyumas.<br> Sareng Kanjeng Susuhunan Hamengku Buwana jumeneng nata wonten ing Ngayojakarta, Raden Tumenggung Yudanagara kaangkat dados Patih Ngayojakarta nama Raden Adipati Danureja I.<br>39.	Raden Ajeng Resmiyah,<br>40.	Raden Ajeng Masiyah. <br><br>41.	Raden Ajeng Wartah,<br>42.	Kakung surut. <br><a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV adalah ayah Paku Buwana II, Hamengku Buwana I dan kakek Mangkunegara I.<br>Dengan demikian, beliau telah menurunkan tiga dinasti besar kerajaan Jawa.  GPH Mangkunegara ing Kartasura, peputra RM Sahid, jumeneng Mangkunegara I Sambernyawa ing Surakarta. GPH Mangkubumi jumeneng Sultan Hamengku Buwana I ing Ngayogyakarta Hadiningrat. Jaman jumenengan Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun  Kanjeng Susuhunan Paku Buwana III. Raja yang terkenal sebagai juru perdamaian dunia. <br><br>B. 	<br>Universitas Turki<br><br>Pendidikan tinggi dilakukan oleh para bangsawan Mataram. Mereka kuliah di Universitas Turki. Dari Kudus sampai Pesisir mereka belajar di Timur Tengah. Maka segala aspek kejayaan Mataram atas peran daerah Kudus dan pesisir. <br>Pernikahan <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV dengan Ratu Kencana membawa kejayaan Mataram. Atas modal Bupati Tirtokusumo, berdiri pabrik rokok Kudus. Industri logam bertambah maju. Perkakas rumah tangga diproduksi masal. Ekonomi berputar cepat. <br><br>Istri Bupati Tirtokusumo Kudus bernama Raden Ajeng Padangan. Pengusaha minyak tanah Bojonegoro. Keuntungan usaha minyak bumi diwariskan kepada Ratu Temayang atau Ratu Kencana Kudus. Energi gas bumi di kayangan api dikelola bersama pengusaha dari Turki. Devisa Mataram Kartasura berlipat ganda. <br><br>Kayu jati diekspor ke Asia Tengah, Asia Selatan dan Asia Timur. Sebagian dipasarkan ke Eropa. Istana raja di Eropa menggunakan jati Cepu. Untung yang bertumpuk tumpuk ini jelas memberi kemakmuran. Keuangan negara sehat dan surplus. <br><br>Kraton Mataram yang beribukota di  Kartasura itu sedang mempunyai gawe besar, yaitu suksesi tahta Kerajaan. Sesudah Kanjeng Susuhunan Paku Buwana I di Kartasura surut ing kasedan jati, kedudukannya diganti oleh puteranya dengan gelar Sri Susuhunan <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi; jumeneng keprabon pada tahun 1643 Jawa atau 1719 Masehi. Saat jumeneng keprabon, Raden Ajeng muda itu telah berputera. Yang sulung bernama Raden Mas Sura, dilahirkan oleh garwa Mas Ayu Sumarsana asal desa Keblokan tanah Nglaroh Surakarta yang kemudian mendapat sebutan Raden Ayu Kilen atau Raden Ayu Sepuh. Sejak kecil Raden Mas Sura dipungut sebagai putera oleh Ingkang Paman Pangeran Purbaya dan namanya diganti menjadi Raden Mas Damar. Oleh eyangnya, Sri Sunan Paku Buwana I, diberi nama Pangeran Riya, kemudian nikah dengan Raden Ayu Raga asmara, puteri Panembahan Cakraningrat di Madura, yang meninggal di dalam perahu. Dia lalu nikah lagi dengan puteri Ingkang Paman Pangeran Balitar, bernama Raden Ajeng Wulan yang mengambil tempat di Mataram Hadiningrat, di Bale Kajenar, bekas tempat kedudukan Sultan Agung, yakni kota Karta yang diganti namanya menjadi Kartasekar.<br><br>Mataram Kartasura makin jaya sentosa. Dengan cepat Pangeran Balitar mendapat pengaruh besar di kalangan rakyat sehingga diangkat menjadi Sultan Ibnu Mustopo Paku Buwana Senapati Ing Ngalaga. Pangeran Purbaya menjadi Senapati atau panglima bandayuda dengan sebutan Panembahan Senapati. Ingkang Sinuwun <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi banyak berhasil dan mendapat bantuan seorang saudagar kaya Pranaduta. <br>Adipadi Surapati  di Pasuruan akan diundang pula dan akan dijanjikan diangkat menjadi Adipati Pasuruan. Pertemuan terjadi di Pasuruan. Semarang Pangeran Riya di jemput oleh utusan Sri <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi, ayah kandung dibawa pulang ke Kartasura.<br><br> Pangeran Purbaya tempat di Benteng Alang -alang. Pangeran Herucakra, Adipati Martapura, Adipati Surapati, Adipati Suradila. Oleh Ingkang Sinuwun di Kartasura Pangeran Riya diberi sebutan Pangeran Adipati Anom Arya. Sri <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi Sesudah menginjak usia lanjut, memikirkan akan penggantinya sebagai Raja Kartasura. Dalam pikiran beliau ingin mengangkat Pangeran Adipati Anom  sebagai pengganti. Permaisuri Kanjeng Ratu Kadipaten selalu memilih seorang dari empat puteranya diangkat menjadi pengganti Raja di Kartasura.<br> Empat orang putera itu ialah Raden Mas Sekti, kemudian bernama Pangeran Adipati Buminata. Raden Mas Kadhaton, kemudian bernama Pangeran Adipati Buminata, sesudah bernama Sultan Dandun Mertengsari. Raden Mas Pamade, kemudian bernama Pangeran Arya Mataram Hadiningrat dan sesudah kakanda Sultan Dandun Mertengsari ia berganti nama Pangeran Adipati Buminata; 4. Raden Mas Punaka, kemudian bernama Pangeran Adipati Singasari berganti nama Sunan Prabu Jaka. Sri <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi menyuruh Patihnya membuat nawala    yang isinya Bila mana beliau surut ing kasedan jati, yang  menggantikan kedudukan adalah Pangeran Adipati Anom. <br><br>Dikisahkan kelahiran Pangeran atau Raden Mas. <br> Bila mana tidak dapat terlaksana, diharapkan yang menggantikan, Pangeran Adipati. Bilamana keduanya tidak disetujui, hendaknya empat orang putera dari Kanjeng Ratu Kadipaten, agar dipilih salah seorang menjadi pengganti. Sewaktu di dalam kraton Pangeran  Adipati dengan para pangeran lain  sedang berjaga menunggui Sri Sunan gerah, datanglah seorang abdinya menyusul karena garwanya, puteri Pangeran Balitar, hendak melahirkan. Bergegas pulang, kemudian menyaksikan lahirnya jabang bayi laki- laki. Dia segera kembali ke kraton untuk menyampaikan berita itu kepada Ingkang Sinuwun yang sedang gerah. Ingkang Sinuwun berkenan memberi nama cucunya: Raden Mas  sebagai tanda Ingkang Sinuwun telah menyaksikan. <br>Kata  berasal dari bahasa artinya: saksi. Kelahiran itu pada hari Ahad Legi, tanggal 4 Ruwah (Syakban), tahun Jimakir, 1650 Jawa atau 1725 Masehi.<br> Hari kelahiran itu disebut Senggani -praba, artinya <br>Mustika kelahiran. Gerahnya Ingkang Sinuwun bertambah berat, sedang menantikan balasan belum pula datang. <br><br>Kepada Patih Danureja Ingkang Sinuwun berwejangan bila mana sampai meninggal dunia, yang  menjadi Raja ialah seperti isi nawala. Kepada permaisuri beliau memberikan keris pusaka untuk disampaikan kepada Pangeran Adipati. Dengan hati berat sang Ratu menyampaikan keris lambang pengganti raja kepada Pangeran  Adipati dengan wejangan  titip adinda. Kemudian Ingkang Sinuwun surut ing kasedan jati dalam tahun 1650 Jawa atau 1726 Masehi.<br> Wafatnya Ingkang Sinuwun disambut jerit tangis seisi kraton, kemudian layon sumare di astana Imagiri. <br><br>Waktu itu di dalam kraton masih banyak putera sentana bertuguran berjaga Sesudah Sinuhun surut ing kasedan jati, Kanjeng Pangeran Adipati keluar diiringi oleh Patih Danureja. Maksudnya akan menenangkan pikiran sebentar.<br>Patih Danureja mohon agar sang Pangeran kembali ke dalam kraton.  Dalam kraton diadakan pembicaraan antara Kanjeng Gusti Ratu Ageng yang bertugas di Kartasura, disaksikan oleh Patih Danureja. <br>Ratu Ageng menjanjikan sepertiga harta bendanya kepada Kapten itu yang lalu menulis nawala. Maksudnya agar putera Ratu Ageng diangkat menjadi Susuhunan Kartasura yang baru. Pintu kraton ditutup. Patih Danureja mengumpulkan semua bupati nayaka dari pasisir mancanagara untuk minta pertimbangan akan nawala mengusulkan agar Pangeran Adipati Anom putera Ratu Ageng diangkat sebagai pengganti Sunan Kartasura. <br><br>Nawala Sunan yang dikirimkan sebelum surut ing kasedan jatinya, kemudian nawala  di Kartasura dan menyusul pula nawala Patih Danureja. Dia membawa nawala keputusannya tentang pengganti Raden Ajeng di Kartasura. Kedatangan dijemput di Banyudana oleh Pangeran Adipadi Anom diiringi oleh Patih Danureja dan beberapa orang bupati. Patih Danureja yang sowankan Pangeran Adipati Anom dengan membawanya menjemput memberikan nawala pengangkatan Raja kepada Pangeran Adipati Anom. Sang Pangeran Adipati menyatakan kegembiraan dan terima kasih. <br>Sampai di Kartasura  disambut oleh Kanjeng Pangeran Adipati yang menerangkan, bahwa dirinya adalah putera tertua dari Susuhunan. <br><br> Nawala sudah diterima tadi oleh Pangeran Adipati Anom. Jawab Pangeran Adipati. <br>Tak ada bedanya antara  Adimas Pangeran Adipati Anom. Pangeran Anom yang merasa  menghibur. Pangeran Adipati berkata sukur. <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi memberi amanat luhur. <br><br>Raja <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi berkuasa di Kraton Kartasura tahun 1719 -1726. Menurunkan dinasti raja Jawa yang berwibawa lestari.<br>Prameswari Nata<br>Mustikaning putri tetungguling widodari. Kanjeng Ratu Kencono putri Kanjeng Adipati Tirtokusumo Bupati Kudus. Garwa prameswari Sinuwun <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi, narendra Mataram Kartasura tahun 1719 - 1726. Alur sejarah membuktikan sebagai priyayi luhur. Trahing kusuma rembesing madu, wijiling amaratapa, tedhaking andana warih. Prabu Brawijaya V raja Majapahit palakrama dengan Ratu Cempha. <br><br>Lahir seorang tokoh mumpuni. Raden Patah Jimbun Sirullah Syah Alam Akbar. Raja Demak Bintara sejak tahun 1478. Punya garwa prameswari  Kanjeng Ratu Mas Panggung. Putri Sunan Ampeldenta, Wali Sanga ing tlatah Surabaya. <br>Pernikahan ini melahirkan Pangeran Kusen Cokrokusumo. Kelak menjabat Bupati Sumenep Madura. Nurunaken Adipati Cakraningrat, Bupati Pamekasan. Putrinya Ratu Ndoyiwati dan Raden Ajeng Sukaptinah. Keduanya prameswari Paku Buwana IV. Generasi unggul hadir. Pangeran Ngudung Kusumodilogo, Senapati jaman Sultan Trenggana sejak tahun 1521. Garwa prameswari Ratu Mas Katambang. Nurunaken Bupati Lasem Rembang. <br>Muncul Pangeran Poncowati Bupati Demak. Beristri Raden Ajeng Sulastri putri Ki Ageng Kebo Kenanga Pengging. Rayi Joko Tingkir utawi Sultan Hadiwijaya, raja Kraton Pajang. <br><br>Lantas Pangeran Demang Sabrang Malaka Nahkodha dagang Johor Tamasek Singapura. Punya istri Tengku Nur Hasanah Pasai, rayi Pangeran Hadirin garwa Ratu Kalinyamat. Turut mendirikan kabupaten Jepara. <br>Turut pula Pangeran Rajungan Bahita,<br>Pangarsa Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Nurunaken Pangeran Pekik garwa Ratu Wandhansari, rayi Sultan Agung Hanyokro Kusumo. Hubungan dengan Mataram sejak tahun 1613 begitu erat. <br><br>Ada peluang menganyam kejayaan. Pangeran Bae Retno Gebang, Bupati Riya Lisah gas Padangan Cepu. Nurunaken Adipati Utoyo Kusumo Bupati Jepara. Pernah memimpin Budi Utomo. Adipati Sumodipuro, bupati Pati. Palakrama kaliyan Raden Ajeng Panular Pethak, wayah Ki Ageng Penjawi. Berhubungan dengan Ki Ageng Ngerang dan Pangeran Benowo. <br>Tampil pemimpin yang trampil rikat trengginas. Mrantasi sabarang karya. Bagus alus besus lahir batin. Adipati Tirtokusumo Bupati Kudus. Mendapat wahyu Cakraningrat. Nak tumanak run tumurun mandhegani tanah Jawa. <br><br>Berputri Kanjeng Ratu Kentjono Kudus. Garwa Prameswari Sinuwun <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi. Narendra gung binathara, mbahu dhendha nyakrawati, ambek adil paramarta, ber budi bawa laksana, memayu hayuning bawana. Gusti Raden Mas Probosuyoso putra mahkota Kraton Mataram. Putra Sinuwun <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi dengan Ratu Kencono. Kelak bergelar Sunan Paku Buwono II. Miyos dinten Selasa Pahing, 23 Sawal 1634 utawi 8 Desember 1711 ing Kartasura. Wayah Bupati Kudus, Sinuwun Paku Buwono II jumeneng nata ing Kartasura   tahun 1726 - 1745 lan  Kraton Surakarta Hadiningrat tahun 1745 - 1749. Dengan Pujangga Kyai Yasadipura. <br><br>Ratu Kencono Kudus berusia panjang. Yakni tahun 1698 - 1788. Kanjeng Tumenggung Prono Kusumojati merupakan abdi kinasih prameswari <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi. Rumeksa terompet pusaka Kyai Glongsor. Ayu hayu rahayu. Sinuwun Susuhunan <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV menurunkan trah berderajat. <br><br>C. <br>Penguasa Timur Tengah<br><br>Sultan Ahmad Utsmani III memberi fasilitas khusus untuk raja <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV. Turut pula segenap abdi dalem. Wilayah bang wetan selalu patuh. Leluhur <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi dari Madiun. Pendiri Madiun adalah  Pangeran Timur atau Rangga Jumena. Putra bungsu Sultan Trenggana. Sejak kecil diasuh oleh Ratu Kalinyamat di Jepara. <br><br>Ibunda <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV yaitu Kanjeng Ratu Mas Balitar. <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV lahir di Madiun. Masa kanak kanak tinggal di Madiun bersama Adipati Balitar. Ndherek eyang bupati. Pendidikan yang berhubungan dengan tradisi Madiun dihayati oleh <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi di bawah kaki gunung Lawu. <br><br>Begitu cinta pada Madiun, Sunan <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> menggagas berdirinya pabrik brem. Usaha brem suling gading cukup berkembang pesat. Banyak diekspor sampai ke negeri Persia. Lewat selat Hormuz. Pemasaran ke brem ke negeri Mesir lewat laut Merah. Orang Madiun diajak memutar ekonomi lewat brem Madiun. <br><br>Tiap kali istana Mataram Kartasura punya gawe, tak lupa hidangan sega pecel. Sambel pecel yang pedes menjadi khas sega pecel Madiun. Wadhah pincuk godhong jati menambah selera makan. Kuluban kembang turi, rempeyek dan lempeng menambah nikmatnya sega pecel. Bangsawan Mataram hampir semua ketagihan dengan enaknya sega pecel. <br><br>Juru masak didatangkan dari Caruban, Pilangkenceng, Saradan, Gemarang dan Dungus. <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV populer di wilayah Ponorogo, Ngawi, Madiun dan Pacitan. Orang Madiun membantu Kraton Mataram Kartasura saat pengetan hadeging Kraton, grebeg sekaten, malem selikuran dan wilujengan maesa lawung. Dhawuh berasal dari Ratu Mas Balitar yang ditujukan pada pembesar Kadipaten Madiun. Tentu disambut dengan gembira ria. <br><br>Telaga sarangan dibangun oleh <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV. Sadar wisata cukup dipahami oleh raja Mataram. Perikanan dikembangkan. Perahu bermotor didatangkan dari Jerman. Semua atas biaya pribadi <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV. Maklum usaha brem, minyak tanah, mebel dan semen cukup berhasil. Keuangan negara Mataram sangat kokoh. Tak ada hutang sama sekali. Karena <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV sangat mandiri. <br><br>Aliran bengawan Solo bening. Tanggul dan bendungan dibangun sepanjang daerah aliran sungai. Perahu berjalan melewati Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, Ngawi, Cepu, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Gresik dan Surabaya. Terakhir menuju selat Madura. <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV mengembangkan kehidupan maritim. <br><br>Baki Sukoharjo dibina <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi sebagai sentra sega liwet. Acara kenegaraan  Mataram menyuguhkan sega liwet. Tamu negara lahap menikmati. Cabuk rambak juga tersaji. Makanan murah yang disukai rakyat. Kupat tahu dari Tawangsari melengkapi jamuan makan. Thengkleng dan sate buntel tersedia. Jajanan pasar diletakkan berjajar jajar. Aneka minuman tinggal pilih. <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi hormat pada tamu. <br><br>Tegalgondo ditanami tembakau. Lereng gunung Merbabu ditanami teh. Daerah Kembang ditanami kopi. Sepanjang gunung Sewu terdapat kebun kina. Kaki gunung Lawu dijadikan tempat wisata kebun. Pesanggrahan dibangun untuk menggerakkan pesona wisata. <br><br>Kerajinan rakyat dibina <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi. Daerah Bentangan sentra gerabah. Bayat kerajinan batik. Bekonang terdapat industri logam. Gemolong pusat mebel. Ekonomi rakyat berputar maju. <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi ahli ekonomi. Rakyat hidup makmur. Gemah ripah loh jinawi. <br><br>Upacara dadat dalam setahun sebanyak 11 kali. Grebeg Mulud, grebeg besar, grebeg bada, kirab malem Sura, pengetan hadeging kraton, tingalan jumenengan raja, malem selikur, mbayar pitrah, maesa lawung dan nyadran. Sunan <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> memandang upacara adat sebagai sarana mendapat drajat pangkat semat dan selamat lahir batin. Hubungan diplomasi dengan Turki makin berkah. <br><br>D. <br>Kasultanan Turki<br><br>Sultan Ahmad Utsmani adalah penguasa negeri Turki. Raja bijak bestari di Timur Tengah. Sarasehan Trah Mataram merupakan bentuk aktivitas budaya. Pada hari Minggu, 26 April 2026 jam 13 - 15 diadakan sarasehan pemersatu hati trah Mataram. Dengan tema ngumpulke balung pisah, mikul dhuwur mendhem jero, kumpul gawe manfaat lan keberkahan. Bertempat di petilasan kraton Mataram Kartasura Sukoharjo Jawa Tengah. Kontribusi peserta Rp 100.300. Angka yang penuh nilai simbolik. <br><br>Hadir perwakilan dari Karaton Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Pura Pakualaman, Pura Mangkunegaran dan keturunan Mataram. Para peserta berbusana kejawen. Panitia kakung putri berbusana gagrak Surakarta. Sebagian busana batik mataraman. Dengan duduk lesehan di pendopo Karaton Kartasura, sarasehan ini membahas nilai kearifan lokal masa lampau. Terutama Karaton Kartasura Mataram yang berdiri tahun 1677 - 1745. Kali ini khusus pemerintahan Sunan <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi. Keluhuran yang patut dijadikan sebagai tepa palupi.<br><br>Harapan untuk terus melestarikan diulas sistematis integral dan komprehensif. GKR Wandansari, GBPH Yudhaningrat, Prof Dr Teguh Supriyanto menjadi narasumber. Pewaris trah <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi menggabungkan tradisi santri dan budaya abangan. Akulturasi antara agama dan budaya secara selaras serasi seimbang. <br><br>Sarasilah trah Mataram diurus Kantor kasentanan. Kanjeng Warso lan Kanjeng Angga bertugas untuk mengurus alur keluarga. Leluhur Jawa mewariskan kawibawan kawidadan kabagyan kamulyan. <br><br>Tanggal 27 April 2027 GKR Wandansari memimpin labuhan di pantai Parangkusumo. Langse atau kelambu <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> dilarung di samudra kidul. Sentana dan abdi dalem ndherek dengan pengawalan prajurit. <br><br>NegaraTurki menjadi prestasi utama buat <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV. Wajar bila masyarakat lantas memberi gelar <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Utsmaniyah. Gelar kehormatan buat Sinuwun <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi yang terkenal di negeri Turki. <br><br><br>Purwadi, <br>Senin Kliwon, 27 April 2026.<br>]]></content>
            <enclosure url="https://cdn.halomedan.com/uploads/images/2026/05/_8872_Amangkurat-Utsmaniyah.png" type="image/png" length="0"/>
            <link>https://www.halomedan.com/info/65696/amangkurat-utsmaniyah/</link>
            <author><![CDATA[admin]]></author>
        </item>
            <item>
            <guid isPermaLink="false">Amangkurat IV Kartasura</guid>
            <pubDate>Tue, 12 May 2026 20:46:00 +0700+0700</pubDate>
            <title><![CDATA[Amangkurat IV Kartasura]]></title>
            <description><![CDATA[ halomedan.com Amangkurat IV KartasuraAmangkuratUtsmaniyahA. Diplomasi KenegaraanHubungan diplomasi yang dilakukan Sunan Amangkurat IV sang]]></description>
            <content><![CDATA[ <b><a href="https://www.halomedan.com">halomedan.com</a></b> -<a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV Kartasura<br><br><br><a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a><br>Utsmaniyah<br><br>A. <br>Diplomasi Kenegaraan<br><br>Hubungan diplomasi yang dilakukan Sunan <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV sangat hebat. Karena cakap berbahasa Arab, Inggris, Perancis, Jerman, Sansekerta,  China dan Melayu. Kasultanan Turki Ottoman menjalin hubungan diplomasi kenegaraan. Sultan Ahmad Utsmani raja Turki kerap berjumpa dengan <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV yang memerintah kerajaan Mataram Kartasura  sejak tahun 1719.<br><br>Putra raja Mataram dikirim untuk belajar di Universitas Turki. Pangeran Mangkunegara, Pangeran Prabasuyasa dan Pangeran Mangkubumi merupakan alumni universitas Turki. Kelak Pangeran Mangkunegara menurunkan dinasti Mangkunegaran. Pangeran Prabasuyasa kelak menjadi raja dengan gelar Sinuwun Paku Buwana II sejak tahun 1726. Pangeran Mangkubumi menjadi Sultan Hamengku Buwana I. Putra raja <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV ini cakap cakep cukup. <br><br>Sultan Ahmad Utsmani III terkesan dengan Sri <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV. Raja Turki ini menyebut sahabatnya dengan gelar <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi. Tokoh Asia Tenggara yang paling penting. Kerajaan Mataram membawahi penduduk lebih dari 120 juta jiwa. Penduduk Muslim terbesar di dunia. Nama <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi mendapat tempat khusus dan istimewa. <br><br>Kasultanan Turki Utsmaniyah terlalu akrab dengan Sunan <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi. Maka para abdi dalem memberi gelar Sinuwun <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Utsmaniyah. Gelar kehormatan yang menunjukkan persahabatan antara Kasultanan Turki dengan Kerajaan Mataram. <br><br>Raja <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi tersohor yang terkenang sepanjang jaman. Masyarakat Turki bangga dengan <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Utsmaniyah. Pewaris tahta raja Mataram <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Utsmaniyah tampil agung dan anggun. Lambang kejayaan Mataram terjadi pada masa pemerintahan <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi. Trah <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi merupakan dinasti yang sukses gemilang. Dinasti Karaton Surakarta Hadiningrat, Kasultanan Yogyakarta dan  Mangkunegaran keturunan langsung Sri Susuhunan <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi. <br>Kanjeng Sinuwun <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV<br>lahir pada hari Senin Wage, tanggal 18 Syawal 1091 Hijrah atau 11 Nopember 1680 Masehi. <br><br>Gelar <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Utsmaniyah makin populer di Timur Tengah. Adapun Sunan <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV surut ing kasedan jati pada hari Setu Wage, 17 Rumah 1138 Hijrah atau tanggal 20 April 1726 Masehi.<br><br>Sultan Turki makin bersahabat dengan Kerajaan Mataram. <br>Kanjeng Sinuwun <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi atau <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV. <br>Raja besar yang menurunkan para penguasa Jawa. Silsilah  Sri <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV telah dijelaskan secara urut patut. Dinasti Mataram yang selalu basuki lestari. Masa silam yang cemerlang. Keterangan rinci mudah dipahami. Adapun Bratadiningrat (1990) meriwayatkan silsilah Sunan <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV atau Sinuwun <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi. <br>Kutipan dalam bahasa Jawa secara lengkap adalah sebagai berikut : Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun  Kanjeng Susuhunan Prabu <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawa Senopati Ing Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panata Gama Kalifatullah Ingkang Kaping IV Ing Nagari Kartasura Hadiningrat 1719-1726. <br><br>Putra Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun  Paku Buwana I miyos saking Prameswari Dalem Kanjeng Ratu Mas Balitar atau GKR Paku Buwana putrinipun  Tumenggung Balitar. Asma timur Bandara Raden Mas Gusti Suryoputro.<br>Nlesih salsilahipun Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Prabu <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawa Saking Ibu dalem Ratu Balitar atau GKR Paku Buwana garwa prameswari trah Bupati Madiun. <br><br>Urutan Sri Susuhunan <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV yakni:<br>1.	Ingkang Sinuwun  Kanjeng Sultan Demak Bintara III, peputra.<br>2.	Kanjeng Panembahan Mas ing Madiun, peputra.<br>3.	GKR  Retno Dumilah, Prameswari Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun  Panembahan Senopati ing Ngalaga, peputra.<br>4.	Panembahan Juminah ing Madiun, peputra.<br>5.	Pangeran Adipati Balitar, peputra.<br>6.	Ki Tumenggung Balitar, peputra.<br>7.	 Ratu Mas Balitar atau GKR Paku Buwana, Prameswari dalam sampeyan dalam Ingkang Sinuwun  Paku Buwana I ing Kartasura, peputra.<br>8.	Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun  Prabu <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawa ing Kartasura. <br><br>BRM Gusti Suryoputro lajeng jejuluk Sri Susuhunan <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi. <br>Prameswari Dalem GKR Kencana, putrinipun  Tumenggung Tirtokusumo Bupati Kudus. <br><br>Putra -Putri Dalem sedaya :<br>1.	GPH Mangkunegara Kartasura<br>2.	GRAy. Suroloyo ing Brebes.<br>3.	GRAy. Wirodigdo<br>4.	GPH Hangabehi<br>5.	G.P.H. Pamot<br><br>6.	GPH Diponegara.<br>7.	GPH Danupoyo<br>8.	Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun  Paku Buwana II utawi BRMG Probosuyoso.<br>9.	G.P.H. Hadinegara<br>10.	GKR Maduretno, garwa KPH Hindronoto<br><br>11.	GRAj. Kacihin,<br>12.	GPH Hadiwijoyo seda ing Kaliabu<br>13.	GRM Subronto, seda timur<br>14.	GPH Mangkubumi, jumeneng Sultan Hamengku Buwono ing Ngayogyakarta. miyos saking RAy Setyowati.<br><br>15.	G.P.H. Buminoto. <br>16.	Sultan Dandun Matengsari. <br>17.	G.R.Ay. Megatsari<br>18.	GRAy. Puruboyo<br>19.	GRAy Pakuningrat, garwa Adipati Sampang<br>20.	GPH Cakranegara.<br><br>21.	GPH Selarong<br>22.	GPH Prangwadono<br>23.	GRAy Suryowinoto, garwa Bupati Demak.<br>24.	GPH Panular<br>25.	GPH Mangkukusumo. <br>26.	G.R.M Timur<br>27.	GRAy. Sujonopuro. <br>28.	GPH Dipowinoto<br>29.	GRAy. Adipati Danurejo I. <br><br>Bupati Banyumas kelak diangkat sebagai Patih Ngayogyakarta dengan gelar Patih Danureja. Badan eksekutif kerajaan Mataram dibina oleh Sri Susuhunan <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV. Raja yang menjadi pelopor modernitas. <br><br>Kanjeng Sinuwun  Susuhunan Prabu <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawa Senapati Ingalaga Ngabdur Rahman Sayidin Panata Gama Kalifatullah ing Kartasura jumeneng nata kala ing taun 1719 dumugi ing taun 1726. Apeputra 42, urut sepuh kados ing ngandhap punika:<br><br>1.	Raden Mas Sura, peparab Raden Mas Landhe, kapatedhakaken dhateng Kapurbayan, lajeng dipun elih nama Raden Mas Damar, kakramakaken angsal putri Kablitaran nama Raden Ajeng Gilang.<br><br>Nalika teksihipun Ingkang Eyang kaparingan nama Pangeran Arya, sareng wonten ing Mataram lajeng jinunjung dening ingkang rama marasepuh, nama Pangeran Arya Mangkunagara, ingkang rama Raden Mas Said Suryakusuma. Nama Pangeran Mangkunegara, karan Mangkunegara Sambernyawa. Ndherek ingkang rama Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Mangkubumi, inggih Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengku Buwana I ing Ngayogyakarta, kapundhut mantu angsal kanjeng Ratu Bendara.<br><br>2.	Raden Ajeng Dewi, peparab Raden Ajeng Sobrah nama Raden Ayu Tumenggung Suralaya ing Brebes.<br>3.	Raden Ayu Pambayun, <br>4.	Raden Ajeng Aminah, peparab Raden Ayu Supadmi, nama Raden Ajeng Supat krama angsal Raden Tumenggung Pringgalaya, dados patih nama Raden Ayu Adipati Pringgalaya, karan Raden Ayu Ageng. <br>5.	Raden Mas Sandeya, jinunjung dening ingkang rayi Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II, nama Pangeran Hangabehi.<br><br>6.	Putri wiyos. <br>7.	Raden Mas Suraya, jinunjung dening ingkang rayi Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II nama Pangeran Arya Pamot.<br><br>8.	Raden Mas Kali, jinunjung dening ingkang rayi Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II, nama Pangeran Arya Dipanagara.<br>9.	Raden Mas Budiman, jejuluk Raden Mas Regu, jinunjung dening ingkang rayi Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II nama Pangeran Arya Danupaya, krama putri Dipasantan, kapanggih nak- sanak.<br><br>10.	Gusti Raden Mas Sandi, ngalih nama Gusti Raden Mas Prabayasa, nama Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangkunagara. Jumeneng nata tahun 1726 jejuluk Kanjeng Susuhunan Paku Buwana Senapati Ingalaga Ngabdurrahman Sayidin Panata Gama ingkang kaping II ing Kartasura.<br>Lajeng pindah ing Ngadipala Wedhi engser, inggih Sala wecaning Nujum Kyai Tumenggung Hanggawangsa Sidik Jayabaya, inggih Kyai Surawijaya, inggih Kyai Tumenggung Arungbinang I Bupati Ageng Sewu. <br><br>11.	Raden Mas Saoya, <br>12.	Raden Mas Surasa, jinunjung dening ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II, nama Pangeran Arya Mangkubumi. <br>13.	Raden Mas Utara, jinunjung dening ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II nama Pangeran Arya Dipanagara, krama angsal putri ing Kapurbayan nama Raden Ajeng Jemblem. <br>14.	Raden Ayu Siti Sundari, peparab Raden Ayu Kedhaton, nama Kanjeng Ratu Maduretna, krama angsal Pangeran Cakraningrat ing Madura ingkang seda mukti. <br>15.	Raden Ajeng Sanyata, <br><br>16.	Raden Ajeng Brangti, krama angsal Raden Sukrama, putranipun Tumenggung Mangkuyuda II, Bagus Lembung Bupati Kedu patutan saking putra dalem Tegal Arum Raden Ayu Kleting Biru, Raden Sukrama kaganjar nama Raden Tumenggung Mangkupraja ing Kedu. <br>17.	Raden Mas Subandar, peparab Raden Mas Lindu. <br>18.	Raden Mas Subekti, jinunjung dening ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II, nama Pangeran Arya Pamot, ngalih nama Pangeran Arya Adiwijaya, seda wonten ing Kaliabu tanah Kedu, ndherek ingkang rayi babadhe Kanjeng Sultan Kabanaran Ngayogyakarta.<br> Garwanipun Pangeran Arya Adiwijaya punika putri saking Natayudan, Wadana Bumija<br>19.	Raden Mas Subrangta, jinunjung dening ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II nama Pangeran Arya Blater.<br>20.	Raden Mas Sakti, peparab Raden Mas Asih, peparab malih Raden Mas Bumi, jinunjung dening ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II nama Pangeran Arya Buminata, garwanipun putra saking Kabaletaran nama Raden Ajeng Tambangleg.<br><br>21.	Raden Mas Sujana, jinunjung dening ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II, nama Pangeran Arya Mangkubumi, saged ngunduraken kramanipun Paridan Martapura, kaganjar siti Sokawati 3000 karya, kajunjung nama Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Mangkubumi Senapati Ingalaga.<br>Gadhuhan siti Sokawati 3000 karya wau kapundhut wangsul. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Mangkubumi lajeng madeg padhawa  nama Pangeran Adipati Sokawati, jumenengipun nata wonten ing Kabanaran nama Kanjeng Sultan Hamengku Buwana Senapati Ingalaga Ngabdurrahman Sayidin Panata Gama Kalifatullah ing Ngayogyakarta, jumeneng saking karsa pribadi. <br>Jumenengan nata dening Kanjeng putri saking Madiun nama Raden Ajeng Manik.<br>22.	Raden Mas Kadhaton, jinunjung dening ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II, nama Pangeran Arya Buminata. Sareng nama Kanjeng Sultan Dhandhun Martengsari, lajeng nama Panembahan Bintara. Garwa putri saking Dipasanan, sadherekipun.<br>23.	Raden Mas Pamade, jinunjung dening ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II nama Kanjeng Arya Mantaram, sareng Pangeran Arya Buminata, Pangeran Arya Mantaram lajeng nggentosi nama Pangeran Arya Buminata.<br>24.	Raden Ajeng Tajem, krama angsal Raden Wiratmeja, keponakanipun Adipati Pathi Raden Wiratmeja kaparingan nama Pangeran Arya Purbaya. <br>25.	Raden Ajeng Sutari, peparab Raden Ajeng Inten, krama angsal Raden Demang Urawan, ingkang kaparingan nama Pangeran Arya Purbaya. <br><br>26.	Raden Ajeng Semi, nama Raden Ayu Pakuningrat ing Sampang. <br>27.	Raden Mas Surata, jinunjung dening ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II, nama Pangeran Rangga. Dipun elih ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana, nama Pangeran Arya Purbaya, ngalih nama malih Pangeran Arya Cakranegara.<br>28.	Raden Mas Yadi, jinunjung dening Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II, nama Pangeran Arya Cakranegara.<br>29.	 Raden Mas Langkir, jinunjung dening ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II, nama Pangeran Arya Prangwadana.<br>30.	Raden Ajeng Sriganten, peparab Raden Ajeng Humik, katrimakaken wiji ing Demak, nama Raden Harmaya, kaparingan nama Raden Tumenggung Surawi nata ing Demak, Raden Ayu Humik lajeng nama Raden Ayu Surawinata.<br><br>31.	Raden Mas Genter, jinunjung dening ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II, nama Pangeran Arya Panular.<br>32.	Raden Mas Pater, jinunjung dening ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II, nama Pangeran Arya Mangkukusuma.<br>33.	Raden Mas Sunaka, jinunjung dening ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II, nama Pangeran Arya Singasari, sareng ndherek ingkang raka Kanjeng Sultan, lajeng kaparingan nama Pangeran Prabu Jaka.<br>34.	Raden Ajeng Marganten, ngalih nama Raden Ajeng Jumanten, nama Raden Ayu Megatsari Ngarang Ulu ingkang mbok ayu Raden Ajeng Tajem.<br>35.	Putri surut. <br><br>36.	Raden Ajeng Yadah, nama Raden Ayu Jagapura, embanipun Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom.<br>37.	Raden Mas Darman, kagadhuhaken dhateng kurawan, jinunjung dening ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II, nama Pangeran Arya Dipasanta.<br>38.	Raden Ajeng Rembe, kaparingan nama Raden Arya Sujanapura. Raden Ajeng Rembe lajeng nama Raden Ayu Sujanapura. <br>Raden Ayu Sujanapura palakrama kaliyan Raden Tumenggung Yudanagara Adipati Banyumas.<br> Sareng Kanjeng Susuhunan Hamengku Buwana jumeneng nata wonten ing Ngayojakarta, Raden Tumenggung Yudanagara kaangkat dados Patih Ngayojakarta nama Raden Adipati Danureja I.<br>39.	Raden Ajeng Resmiyah,<br>40.	Raden Ajeng Masiyah. <br><br>41.	Raden Ajeng Wartah,<br>42.	Kakung surut. <br><a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV adalah ayah Paku Buwana II, Hamengku Buwana I dan kakek Mangkunegara I.<br>Dengan demikian, beliau telah menurunkan tiga dinasti besar kerajaan Jawa.  GPH Mangkunegara ing Kartasura, peputra RM Sahid, jumeneng Mangkunegara I Sambernyawa ing Surakarta. GPH Mangkubumi jumeneng Sultan Hamengku Buwana I ing Ngayogyakarta Hadiningrat. Jaman jumenengan Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun  Kanjeng Susuhunan Paku Buwana III. Raja yang terkenal sebagai juru perdamaian dunia. <br><br>B. 	<br>Universitas Turki<br><br>Pendidikan tinggi dilakukan oleh para bangsawan Mataram. Mereka kuliah di Universitas Turki. Dari Kudus sampai Pesisir mereka belajar di Timur Tengah. Maka segala aspek kejayaan Mataram atas peran daerah Kudus dan pesisir. <br>Pernikahan <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV dengan Ratu Kencana membawa kejayaan Mataram. Atas modal Bupati Tirtokusumo, berdiri pabrik rokok Kudus. Industri logam bertambah maju. Perkakas rumah tangga diproduksi masal. Ekonomi berputar cepat. <br><br>Istri Bupati Tirtokusumo Kudus bernama Raden Ajeng Padangan. Pengusaha minyak tanah Bojonegoro. Keuntungan usaha minyak bumi diwariskan kepada Ratu Temayang atau Ratu Kencana Kudus. Energi gas bumi di kayangan api dikelola bersama pengusaha dari Turki. Devisa Mataram Kartasura berlipat ganda. <br><br>Kayu jati diekspor ke Asia Tengah, Asia Selatan dan Asia Timur. Sebagian dipasarkan ke Eropa. Istana raja di Eropa menggunakan jati Cepu. Untung yang bertumpuk tumpuk ini jelas memberi kemakmuran. Keuangan negara sehat dan surplus. <br><br>Kraton Mataram yang beribukota di  Kartasura itu sedang mempunyai gawe besar, yaitu suksesi tahta Kerajaan. Sesudah Kanjeng Susuhunan Paku Buwana I di Kartasura surut ing kasedan jati, kedudukannya diganti oleh puteranya dengan gelar Sri Susuhunan <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi; jumeneng keprabon pada tahun 1643 Jawa atau 1719 Masehi. Saat jumeneng keprabon, Raden Ajeng muda itu telah berputera. Yang sulung bernama Raden Mas Sura, dilahirkan oleh garwa Mas Ayu Sumarsana asal desa Keblokan tanah Nglaroh Surakarta yang kemudian mendapat sebutan Raden Ayu Kilen atau Raden Ayu Sepuh. Sejak kecil Raden Mas Sura dipungut sebagai putera oleh Ingkang Paman Pangeran Purbaya dan namanya diganti menjadi Raden Mas Damar. Oleh eyangnya, Sri Sunan Paku Buwana I, diberi nama Pangeran Riya, kemudian nikah dengan Raden Ayu Raga asmara, puteri Panembahan Cakraningrat di Madura, yang meninggal di dalam perahu. Dia lalu nikah lagi dengan puteri Ingkang Paman Pangeran Balitar, bernama Raden Ajeng Wulan yang mengambil tempat di Mataram Hadiningrat, di Bale Kajenar, bekas tempat kedudukan Sultan Agung, yakni kota Karta yang diganti namanya menjadi Kartasekar.<br><br>Mataram Kartasura makin jaya sentosa. Dengan cepat Pangeran Balitar mendapat pengaruh besar di kalangan rakyat sehingga diangkat menjadi Sultan Ibnu Mustopo Paku Buwana Senapati Ing Ngalaga. Pangeran Purbaya menjadi Senapati atau panglima bandayuda dengan sebutan Panembahan Senapati. Ingkang Sinuwun <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi banyak berhasil dan mendapat bantuan seorang saudagar kaya Pranaduta. <br>Adipadi Surapati  di Pasuruan akan diundang pula dan akan dijanjikan diangkat menjadi Adipati Pasuruan. Pertemuan terjadi di Pasuruan. Semarang Pangeran Riya di jemput oleh utusan Sri <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi, ayah kandung dibawa pulang ke Kartasura.<br><br> Pangeran Purbaya tempat di Benteng Alang -alang. Pangeran Herucakra, Adipati Martapura, Adipati Surapati, Adipati Suradila. Oleh Ingkang Sinuwun di Kartasura Pangeran Riya diberi sebutan Pangeran Adipati Anom Arya. Sri <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi Sesudah menginjak usia lanjut, memikirkan akan penggantinya sebagai Raja Kartasura. Dalam pikiran beliau ingin mengangkat Pangeran Adipati Anom  sebagai pengganti. Permaisuri Kanjeng Ratu Kadipaten selalu memilih seorang dari empat puteranya diangkat menjadi pengganti Raja di Kartasura.<br> Empat orang putera itu ialah Raden Mas Sekti, kemudian bernama Pangeran Adipati Buminata. Raden Mas Kadhaton, kemudian bernama Pangeran Adipati Buminata, sesudah bernama Sultan Dandun Mertengsari. Raden Mas Pamade, kemudian bernama Pangeran Arya Mataram Hadiningrat dan sesudah kakanda Sultan Dandun Mertengsari ia berganti nama Pangeran Adipati Buminata; 4. Raden Mas Punaka, kemudian bernama Pangeran Adipati Singasari berganti nama Sunan Prabu Jaka. Sri <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi menyuruh Patihnya membuat nawala    yang isinya Bila mana beliau surut ing kasedan jati, yang  menggantikan kedudukan adalah Pangeran Adipati Anom. <br><br>Dikisahkan kelahiran Pangeran atau Raden Mas. <br> Bila mana tidak dapat terlaksana, diharapkan yang menggantikan, Pangeran Adipati. Bilamana keduanya tidak disetujui, hendaknya empat orang putera dari Kanjeng Ratu Kadipaten, agar dipilih salah seorang menjadi pengganti. Sewaktu di dalam kraton Pangeran  Adipati dengan para pangeran lain  sedang berjaga menunggui Sri Sunan gerah, datanglah seorang abdinya menyusul karena garwanya, puteri Pangeran Balitar, hendak melahirkan. Bergegas pulang, kemudian menyaksikan lahirnya jabang bayi laki- laki. Dia segera kembali ke kraton untuk menyampaikan berita itu kepada Ingkang Sinuwun yang sedang gerah. Ingkang Sinuwun berkenan memberi nama cucunya: Raden Mas  sebagai tanda Ingkang Sinuwun telah menyaksikan. <br>Kata  berasal dari bahasa artinya: saksi. Kelahiran itu pada hari Ahad Legi, tanggal 4 Ruwah (Syakban), tahun Jimakir, 1650 Jawa atau 1725 Masehi.<br> Hari kelahiran itu disebut Senggani -praba, artinya <br>Mustika kelahiran. Gerahnya Ingkang Sinuwun bertambah berat, sedang menantikan balasan belum pula datang. <br><br>Kepada Patih Danureja Ingkang Sinuwun berwejangan bila mana sampai meninggal dunia, yang  menjadi Raja ialah seperti isi nawala. Kepada permaisuri beliau memberikan keris pusaka untuk disampaikan kepada Pangeran Adipati. Dengan hati berat sang Ratu menyampaikan keris lambang pengganti raja kepada Pangeran  Adipati dengan wejangan  titip adinda. Kemudian Ingkang Sinuwun surut ing kasedan jati dalam tahun 1650 Jawa atau 1726 Masehi.<br> Wafatnya Ingkang Sinuwun disambut jerit tangis seisi kraton, kemudian layon sumare di astana Imagiri. <br><br>Waktu itu di dalam kraton masih banyak putera sentana bertuguran berjaga Sesudah Sinuhun surut ing kasedan jati, Kanjeng Pangeran Adipati keluar diiringi oleh Patih Danureja. Maksudnya akan menenangkan pikiran sebentar.<br>Patih Danureja mohon agar sang Pangeran kembali ke dalam kraton.  Dalam kraton diadakan pembicaraan antara Kanjeng Gusti Ratu Ageng yang bertugas di Kartasura, disaksikan oleh Patih Danureja. <br>Ratu Ageng menjanjikan sepertiga harta bendanya kepada Kapten itu yang lalu menulis nawala. Maksudnya agar putera Ratu Ageng diangkat menjadi Susuhunan Kartasura yang baru. Pintu kraton ditutup. Patih Danureja mengumpulkan semua bupati nayaka dari pasisir mancanagara untuk minta pertimbangan akan nawala mengusulkan agar Pangeran Adipati Anom putera Ratu Ageng diangkat sebagai pengganti Sunan Kartasura. <br><br>Nawala Sunan yang dikirimkan sebelum surut ing kasedan jatinya, kemudian nawala  di Kartasura dan menyusul pula nawala Patih Danureja. Dia membawa nawala keputusannya tentang pengganti Raden Ajeng di Kartasura. Kedatangan dijemput di Banyudana oleh Pangeran Adipadi Anom diiringi oleh Patih Danureja dan beberapa orang bupati. Patih Danureja yang sowankan Pangeran Adipati Anom dengan membawanya menjemput memberikan nawala pengangkatan Raja kepada Pangeran Adipati Anom. Sang Pangeran Adipati menyatakan kegembiraan dan terima kasih. <br>Sampai di Kartasura  disambut oleh Kanjeng Pangeran Adipati yang menerangkan, bahwa dirinya adalah putera tertua dari Susuhunan. <br><br> Nawala sudah diterima tadi oleh Pangeran Adipati Anom. Jawab Pangeran Adipati. <br>Tak ada bedanya antara  Adimas Pangeran Adipati Anom. Pangeran Anom yang merasa  menghibur. Pangeran Adipati berkata sukur. <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi memberi amanat luhur. <br><br>Raja <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi berkuasa di Kraton Kartasura tahun 1719 -1726. Menurunkan dinasti raja Jawa yang berwibawa lestari.<br>Prameswari Nata<br>Mustikaning putri tetungguling widodari. Kanjeng Ratu Kencono putri Kanjeng Adipati Tirtokusumo Bupati Kudus. Garwa prameswari Sinuwun <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi, narendra Mataram Kartasura tahun 1719 - 1726. Alur sejarah membuktikan sebagai priyayi luhur. Trahing kusuma rembesing madu, wijiling amaratapa, tedhaking andana warih. Prabu Brawijaya V raja Majapahit palakrama dengan Ratu Cempha. <br><br>Lahir seorang tokoh mumpuni. Raden Patah Jimbun Sirullah Syah Alam Akbar. Raja Demak Bintara sejak tahun 1478. Punya garwa prameswari  Kanjeng Ratu Mas Panggung. Putri Sunan Ampeldenta, Wali Sanga ing tlatah Surabaya. <br>Pernikahan ini melahirkan Pangeran Kusen Cokrokusumo. Kelak menjabat Bupati Sumenep Madura. Nurunaken Adipati Cakraningrat, Bupati Pamekasan. Putrinya Ratu Ndoyiwati dan Raden Ajeng Sukaptinah. Keduanya prameswari Paku Buwana IV. Generasi unggul hadir. Pangeran Ngudung Kusumodilogo, Senapati jaman Sultan Trenggana sejak tahun 1521. Garwa prameswari Ratu Mas Katambang. Nurunaken Bupati Lasem Rembang. <br>Muncul Pangeran Poncowati Bupati Demak. Beristri Raden Ajeng Sulastri putri Ki Ageng Kebo Kenanga Pengging. Rayi Joko Tingkir utawi Sultan Hadiwijaya, raja Kraton Pajang. <br><br>Lantas Pangeran Demang Sabrang Malaka Nahkodha dagang Johor Tamasek Singapura. Punya istri Tengku Nur Hasanah Pasai, rayi Pangeran Hadirin garwa Ratu Kalinyamat. Turut mendirikan kabupaten Jepara. <br>Turut pula Pangeran Rajungan Bahita,<br>Pangarsa Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Nurunaken Pangeran Pekik garwa Ratu Wandhansari, rayi Sultan Agung Hanyokro Kusumo. Hubungan dengan Mataram sejak tahun 1613 begitu erat. <br><br>Ada peluang menganyam kejayaan. Pangeran Bae Retno Gebang, Bupati Riya Lisah gas Padangan Cepu. Nurunaken Adipati Utoyo Kusumo Bupati Jepara. Pernah memimpin Budi Utomo. Adipati Sumodipuro, bupati Pati. Palakrama kaliyan Raden Ajeng Panular Pethak, wayah Ki Ageng Penjawi. Berhubungan dengan Ki Ageng Ngerang dan Pangeran Benowo. <br>Tampil pemimpin yang trampil rikat trengginas. Mrantasi sabarang karya. Bagus alus besus lahir batin. Adipati Tirtokusumo Bupati Kudus. Mendapat wahyu Cakraningrat. Nak tumanak run tumurun mandhegani tanah Jawa. <br><br>Berputri Kanjeng Ratu Kentjono Kudus. Garwa Prameswari Sinuwun <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi. Narendra gung binathara, mbahu dhendha nyakrawati, ambek adil paramarta, ber budi bawa laksana, memayu hayuning bawana. Gusti Raden Mas Probosuyoso putra mahkota Kraton Mataram. Putra Sinuwun <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi dengan Ratu Kencono. Kelak bergelar Sunan Paku Buwono II. Miyos dinten Selasa Pahing, 23 Sawal 1634 utawi 8 Desember 1711 ing Kartasura. Wayah Bupati Kudus, Sinuwun Paku Buwono II jumeneng nata ing Kartasura   tahun 1726 - 1745 lan  Kraton Surakarta Hadiningrat tahun 1745 - 1749. Dengan Pujangga Kyai Yasadipura. <br><br>Ratu Kencono Kudus berusia panjang. Yakni tahun 1698 - 1788. Kanjeng Tumenggung Prono Kusumojati merupakan abdi kinasih prameswari <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi. Rumeksa terompet pusaka Kyai Glongsor. Ayu hayu rahayu. Sinuwun Susuhunan <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV menurunkan trah berderajat. <br><br>C. <br>Penguasa Timur Tengah<br><br>Sultan Ahmad Utsmani III memberi fasilitas khusus untuk raja <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV. Turut pula segenap abdi dalem. Wilayah bang wetan selalu patuh. Leluhur <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi dari Madiun. Pendiri Madiun adalah  Pangeran Timur atau Rangga Jumena. Putra bungsu Sultan Trenggana. Sejak kecil diasuh oleh Ratu Kalinyamat di Jepara. <br><br>Ibunda <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV yaitu Kanjeng Ratu Mas Balitar. <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV lahir di Madiun. Masa kanak kanak tinggal di Madiun bersama Adipati Balitar. Ndherek eyang bupati. Pendidikan yang berhubungan dengan tradisi Madiun dihayati oleh <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi di bawah kaki gunung Lawu. <br><br>Begitu cinta pada Madiun, Sunan <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> menggagas berdirinya pabrik brem. Usaha brem suling gading cukup berkembang pesat. Banyak diekspor sampai ke negeri Persia. Lewat selat Hormuz. Pemasaran ke brem ke negeri Mesir lewat laut Merah. Orang Madiun diajak memutar ekonomi lewat brem Madiun. <br><br>Tiap kali istana Mataram Kartasura punya gawe, tak lupa hidangan sega pecel. Sambel pecel yang pedes menjadi khas sega pecel Madiun. Wadhah pincuk godhong jati menambah selera makan. Kuluban kembang turi, rempeyek dan lempeng menambah nikmatnya sega pecel. Bangsawan Mataram hampir semua ketagihan dengan enaknya sega pecel. <br><br>Juru masak didatangkan dari Caruban, Pilangkenceng, Saradan, Gemarang dan Dungus. <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV populer di wilayah Ponorogo, Ngawi, Madiun dan Pacitan. Orang Madiun membantu Kraton Mataram Kartasura saat pengetan hadeging Kraton, grebeg sekaten, malem selikuran dan wilujengan maesa lawung. Dhawuh berasal dari Ratu Mas Balitar yang ditujukan pada pembesar Kadipaten Madiun. Tentu disambut dengan gembira ria. <br><br>Telaga sarangan dibangun oleh <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV. Sadar wisata cukup dipahami oleh raja Mataram. Perikanan dikembangkan. Perahu bermotor didatangkan dari Jerman. Semua atas biaya pribadi <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV. Maklum usaha brem, minyak tanah, mebel dan semen cukup berhasil. Keuangan negara Mataram sangat kokoh. Tak ada hutang sama sekali. Karena <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV sangat mandiri. <br><br>Aliran bengawan Solo bening. Tanggul dan bendungan dibangun sepanjang daerah aliran sungai. Perahu berjalan melewati Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, Ngawi, Cepu, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Gresik dan Surabaya. Terakhir menuju selat Madura. <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV mengembangkan kehidupan maritim. <br><br>Baki Sukoharjo dibina <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi sebagai sentra sega liwet. Acara kenegaraan  Mataram menyuguhkan sega liwet. Tamu negara lahap menikmati. Cabuk rambak juga tersaji. Makanan murah yang disukai rakyat. Kupat tahu dari Tawangsari melengkapi jamuan makan. Thengkleng dan sate buntel tersedia. Jajanan pasar diletakkan berjajar jajar. Aneka minuman tinggal pilih. <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi hormat pada tamu. <br><br>Tegalgondo ditanami tembakau. Lereng gunung Merbabu ditanami teh. Daerah Kembang ditanami kopi. Sepanjang gunung Sewu terdapat kebun kina. Kaki gunung Lawu dijadikan tempat wisata kebun. Pesanggrahan dibangun untuk menggerakkan pesona wisata. <br><br>Kerajinan rakyat dibina <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi. Daerah Bentangan sentra gerabah. Bayat kerajinan batik. Bekonang terdapat industri logam. Gemolong pusat mebel. Ekonomi rakyat berputar maju. <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi ahli ekonomi. Rakyat hidup makmur. Gemah ripah loh jinawi. <br><br>Upacara dadat dalam setahun sebanyak 11 kali. Grebeg Mulud, grebeg besar, grebeg bada, kirab malem Sura, pengetan hadeging kraton, tingalan jumenengan raja, malem selikur, mbayar pitrah, maesa lawung dan nyadran. Sunan <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> memandang upacara adat sebagai sarana mendapat drajat pangkat semat dan selamat lahir batin. Hubungan diplomasi dengan Turki makin berkah. <br><br>D. <br>Kasultanan Turki<br><br>Sultan Ahmad Utsmani adalah penguasa negeri Turki. Raja bijak bestari di Timur Tengah. Sarasehan  Trah Mataram merupakan bentuk aktivitas budaya. Pada hari Minggu, 26 April 2026 jam 13 - 15 diadakan sarasehan pemersatu hati trah Mataram. Dengan tema ngumpulke balung pisah, mikul dhuwur mendhem jero, kumpul gawe manfaat lan keberkahan. Bertempat di petilasan kraton Mataram Kartasura Sukoharjo Jawa Tengah. Kontribusi peserta Rp 100.300. Angka yang penuh nilai simbolik. <br><br>Hadir perwakilan dari Karaton Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Pura Pakualaman, Pura Mangkunegaran dan keturunan Mataram. Para peserta berbusana kejawen. Panitia kakung putri berbusana gagrak Surakarta. Sebagian busana batik mataraman. Dengan duduk lesehan di pendopo Karaton Kartasura, sarasehan ini membahas nilai kearifan lokal masa lampau. Terutama Karaton Kartasura Mataram yang berdiri tahun 1677 - 1745. Kali ini khusus pemerintahan Sunan <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi. Keluhuran yang patut dijadikan sebagai tepa palupi.<br><br>Harapan untuk terus melestarikan diulas sistematis integral dan komprehensif. GKR Wandansari, GBPH Yudhaningrat, Prof Dr Teguh Supriyanto menjadi narasumber. Pewaris trah <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi menggabungkan tradisi santri dan budaya abangan. Akulturasi antara agama dan budaya secara selaras serasi seimbang. <br><br>Sarasilah trah Mataram diurus Kantor kasentanan. Kanjeng Warso lan Kanjeng Angga bertugas untuk mengurus alur keluarga. Leluhur Jawa mewariskan kawibawan kawidadan kabagyan kamulyan. <br><br>Tanggal 27 April 2027 GKR Wandansari memimpin labuhan di pantai Parangkusumo. Langse atau kelambu <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> dilarung di samudra kidul. Sentana dan abdi dalem ndherek dengan pengawalan prajurit. <br><br>NegaraTurki menjadi prestasi utama buat <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> IV. Wajar bila masyarakat lantas memberi gelar <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Utsmaniyah. Gelar kehormatan buat Sinuwun <a href="https://www.halomedan.com/tag/amangkurat/" target="_blank">Amangkurat</a> Jawi yang terkenal di negeri Turki. Diplomasi Mataram Kartasura tampil memukau dan mempesona. Kang cerak manglung, kang tebih mentiyung. <br><br><br>Purwadi, <br>Senin Kliwon, 27 April 2026.<br>]]></content>
            <enclosure url="https://cdn.halomedan.com/uploads/images/2026/05/_402_Amangkurat-IV-Kartasura.png" type="image/png" length="0"/>
            <link>https://www.halomedan.com/kota/65695/amangkurat-iv-kartasura/</link>
            <author><![CDATA[admin]]></author>
        </item>
            <item>
            <guid isPermaLink="false">Ular ular Donoroso</guid>
            <pubDate>Tue, 12 May 2026 20:44:00 +0700+0700</pubDate>
            <title><![CDATA[Ular ular Donoroso]]></title>
            <description><![CDATA[ halomedan.com Ular ular DonorosoWulang wuruk Kejawen selalu berjenjang. Mulai dari raga cipta jiwa rasa. Sesuai dengan tema grebeg Sekar K]]></description>
            <content><![CDATA[ <b><a href="https://www.halomedan.com">halomedan.com</a></b> -<a href="https://www.halomedan.com/tag/ular/" target="_blank">Ular</a> ular Donoroso<br><br>Wulang wuruk Kejawen selalu berjenjang. Mulai dari raga cipta jiwa rasa. Sesuai dengan tema grebeg Sekar Kencana pada hari Kamis Paing, 30 April 2026. Bertempat di Pengkol Jepara. <br><br>Ratu Shima raja Kalingga beribukota di Keling. Tepatnya ujung pesisir bumi Jepara. Narendra gung binathara, mbahu dhendha nyakrawati. Sebagai penganut Hindu tentu mengajarkan konsep kama artha dharma muksa. <br><br>Tokoh Majapahit bernama Raden Sungging Purbengkara. Juru lukis istana berjasa pada masyarakat Sukodono Tahunan Jepara. Berkenan memberi pethel untuk kerajinan ukir ukiran. Penganut Budha ini memberi ajaran kamadhatu rupadhatu arupadhatu nirwana. <br><br>Ratu Kalinyamat murid Sunan Kalijaga. Putri Sultan Trenggana raja Demak membaca serat suluk. Wali Sanga mengajarkan syariat tarekat hakikat makrifat. Islamisasi tanah Jawa atas dasar akulturasi kebudayaan. Ratu Kalinyamat sebagai bupati Jepara menerapkan toleransi atas keberagaman. <br><br>Jaman Mataram muncul tokoh termahsyur. Yakni Adipati Tjitrasoma. Putra Sri Sunan Amangkurat Tegalarum ini diangkat menjadi bupati Jepara. Membawa bekal ajaran sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa dan sembah rasa. Adipati Tjitrasoma  memberi wulang wuruk tata cara panembah jati. <br><br>Pakasa Jepara melestarikan ajaran leluhur. Tokoh emansipasi Kartini selalu diperingati. Ontologi epistemologi aksiologi dan kosmologi dijadikan bahan refleksi. Emansipasi wanita bertolak dari konsepsi prediksi aplikasi produksi. Wanita sungguh sungguh wani mranata. <br><br>Grebeg Sekar Kencana<br><br>Kirab grebeg Sekar Kencana dilakukan pada tanggal 30 April 2026. Bertepatan dengan hari Kamis Paing pukul 8 pagi. Penyelenggara yakni Paguyuban Kawula Karaton Surakarta Hadiningrat atau Pakasa Pang Jepara. <br><br>Undangan kehormatan untuk Bupati Jepara, LSM, seniman, budayawan, ilmuwan dan sesepuh masyarakat. Tampak Pakasa sahabat dari Bekasi. Mahasiswa dari UPGRIS Semarang turut pawai budaya. <br><br>Sekar Kencana mengingatkan nama putri Sinuwun Paku Buwana XII. Yaitu GRAy Koes Handariyah. Putri cantik yang lembah manah sabar drana. Pinter momong momor momot. Pangandikan sumeh semeleh. Wigati merak ati. <br><br>Sehari sebelumnya persiapan sudah matang. KP Bambang S Adiningrat memimpin gladi resik. Nasir Syar an ikut menemani. Sambil menikmati suguhan nasi Padang. Suasana diskusi begitu hidup. Mulai jaman Sungging Purbengkoro mengabdi Kraton Majapahit. Sampai novel Para Priyayi karya Umar Kayam. Bahasan jelas tuntas tegas bagas waras. <br><br>Pertapan Donoroso<br><br>Rikala dinten Kemis Kliwon, 19  Maret 2026 Pakasa Pang Jepara seba ing Karaton Surakarta Hadiningrat. Saperlu ngrembag Pertapan Donoroso. KP Bambang S Hadiningrat kersa mandhegani. <br><br>Rombongan katampi ing Bale Smarakata. GKR Wandansari lan KP Wirabhumi nyalirani watawis jam 12. Lenggah dipun dherekaken KP Bambang Sudarsono. Ugi BRAy Arum Kusumo Pradopo. Rembagan maneka warni. Wosing gati murih mencaring kagunan. <br><br>Rancangan tata cara kepyakan Pertapan Donoroso dinten Kemis, 30 April 2026. Juru kunci ingkang nganthi sampun siyaga ing gati, sawega ing diri. <br><br>Assallamuallaikum<br><br>Sugeng enjing Kanjeng Pangeran Wirabumi.<br><br>Atur pirso bilh benjing dinten Kamis, 19 Maret 2026 kulo kalian Pengurus Petilasan Pertapaan Ratu Kalinyamat Donoroso - Pengkol Jepara  badhe marak sowan wonten Kraton Surakarta.<br><br>Nyuwun miterang lan nyuwun wedal ingkang lodang sakperlu badhe nyuwun Tetepan Pengurus Petilasan Pertapaan saha badhe  nyuwun tapak Asmo GKR Wandansari kagem Prasasti wonten batu marmer.<br><br>Catetan :<br><br>Petilasan Pertapaan punika lokasi di Jantung kota Jepara dengan Radius 300 an meter kalian Pendopo Kabupaten Jpra dan 500 - an mtr dgn pusat kota di Jepara.<br><br>Pakasa Jepara telah hadir dan mengembalikan situs Belik Patirtan yg ada sekaligus besok di Hari Kamis 30 April 2026 Pakasa Jepara ingkang miwiti Kirab Manganan sekaligus Pemasangan Plang Papan Nama Cagar Budaya ingkang sampun pikantuk tetepan SK.<br><br>Serat kapacak ing nginggil dados paseksen. Bilih Pakasa Pang Jepara tansah angesthi gawa gawe. Ing pangajab sami gancar lancar. Palaporan kiprah Pakasa Pang Jepara kadamel jangkep genep genah. <br><br>Pertapan Donoroso mapan dhusun Pengkol Jepara. Dados sarana ngudi gesang ingkang langkung sae. Sembada kang sinedya, jumbuh ingkang ginayuh. <br><br>Pertapan Donoroso Pengkol Jepara makin sigrak gumyak penak enak jenak. Masyarakat Jepara kembali berjaya. Rintisan Ratu Kalinyamat, Ratu Shima, Raden Ajeng Kartini tetap rahayu lestari. <br><br><br>Kemis Paing<br>30 April 2026.<br>Purwadi<br>]]></content>
            <enclosure url="https://cdn.halomedan.com/uploads/images/2026/05/_7603_Ular-ular-Donoroso.png" type="image/png" length="0"/>
            <link>https://www.halomedan.com/Berita/65694/ular-ular-donoroso/</link>
            <author><![CDATA[admin]]></author>
        </item>
            <item>
            <guid isPermaLink="false">Sekar Kencana Donoroso</guid>
            <pubDate>Tue, 12 May 2026 20:43:00 +0700+0700</pubDate>
            <title><![CDATA[Sekar Kencana Donoroso]]></title>
            <description><![CDATA[ halomedan.com Sekar KencanaDonorosoKirab Grebeg Sekar KencanaGlagah Sari Tirta Panguripan, kawasan cagar budaya petilasan Ratu Kalinyamat.]]></description>
            <content><![CDATA[ <b><a href="https://www.halomedan.com">halomedan.com</a></b> -<a href="https://www.halomedan.com/tag/sekar/" target="_blank">Sekar</a> Kencana<br>Donoroso<br><br>Kirab Grebeg <a href="https://www.halomedan.com/tag/sekar/" target="_blank">Sekar</a> Kencana<br><br>Glagah Sari Tirta Panguripan, kawasan cagar budaya petilasan Ratu Kalinyamat. Pakasa Jepara pimpinan KP Bambang S Adiningrat menjadi pelopor dalam pelestarian budaya daerah. <br><br>Acara ini terdiri dari kirab gunungan sekar Kencana. Wilujengan untuk keselamatan. Umbul donga buat leluhur. Pemasangan tarub lambang keagungan. Pentas jathilan Ponorogo. Drumband tali jagad. Launching batik Pengkol. Peresmian sendang patirtan. <br><br>Bupati Jepara dan aparat berkenan hadir. Memberi sambutan demi kesadaran  kearifan lokal. Budaya nasional menurut Bupati Jepara karena peran budaya tradisional. Kelurahan Pengkol sejak pagi sudah  sibuk dengan persiapan. Kegiatan kultural ini memang profesional dan handal. <br><br>Patirtan berdampingan dengan pohon ringin alas. Teduh agrom edhum ngrembuyung. Alam memang harus dijaga. Sumber mata air perlu dirawat. Anak cucu berhak mewarisi peradaban. Belik atau mata air mengalirkan denyut nadi kehidupan. <br><br>Kamis Paing, 30 April 2026 hari yang bersejarah bagi orang Pengkol Jepara. Dukungan dari Ponorogo, Madiun, Malang, Semarang, Yogyakarta, Surakarta, Jakarta menjadi pertanda kegiatan budaya ini sangat penting. Karaton Surakarta Hadiningrat berperan sebagai payung yang ngayomi dan ngayemi budaya Jawa.<br><br>Ular ular Donoroso<br><br>Wulang wuruk Kejawen selalu berjenjang. Mulai dari raga cipta jiwa rasa. Sesuai dengan tema grebeg <a href="https://www.halomedan.com/tag/sekar/" target="_blank">Sekar</a> Kencana pada hari Kamis Paing, 30 April 2026. Bertempat di Pengkol Jepara. <br><br>Ratu Shima raja Kalingga beribukota di Keling. Tepatnya ujung pesisir bumi Jepara. Narendra gung binathara, mbahu dhendha nyakrawati. Sebagai penganut Hindu tentu mengajarkan konsep kama artha dharma muksa. <br><br>Tokoh Majapahit bernama Raden Sungging Purbengkara. Juru lukis istana berjasa pada masyarakat Sukodono Tahunan Jepara. Berkenan memberi pethel untuk kerajinan ukir ukiran. Penganut Budha ini memberi ajaran kamadhatu rupadhatu arupadhatu nirwana. <br><br>Ratu Kalinyamat murid Sunan Kalijaga. Putri Sultan Trenggana raja Demak membaca serat suluk. Wali Sanga mengajarkan syariat tarekat hakikat makrifat. Islamisasi tanah Jawa atas dasar akulturasi kebudayaan. Ratu Kalinyamat sebagai bupati Jepara menerapkan toleransi atas keberagaman. <br><br>Jaman Mataram muncul tokoh termahsyur. Yakni Adipati Tjitrasoma. Putra Sri Sunan Amangkurat Tegalarum ini diangkat menjadi bupati Jepara. Membawa bekal ajaran sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa dan sembah rasa. Adipati Tjitrasoma  memberi wulang wuruk tata cara panembah jati. <br><br>Pakasa Jepara melestarikan ajaran leluhur. Tokoh emansipasi Kartini selalu diperingati. Ontologi epistemologi aksiologi dan kosmologi dijadikan bahan refleksi. Emansipasi wanita bertolak dari konsepsi prediksi aplikasi produksi. Wanita sungguh sungguh wani mranata. <br><br>Grebeg <a href="https://www.halomedan.com/tag/sekar/" target="_blank">Sekar</a> Kencana<br><br>Kirab grebeg <a href="https://www.halomedan.com/tag/sekar/" target="_blank">Sekar</a> Kencana dilakukan pada tanggal 30 April 2026. Bertepatan dengan hari Kamis Paing pukul 8 pagi. Penyelenggara yakni Paguyuban Kawula Karaton Surakarta Hadiningrat atau Pakasa Pang Jepara. <br><br>Undangan kehormatan untuk Bupati Jepara, LSM, seniman, budayawan, ilmuwan dan sesepuh masyarakat. Tampak Pakasa sahabat dari Bekasi. Mahasiswa dari UPGRIS Semarang turut pawai budaya. <br><br><a href="https://www.halomedan.com/tag/sekar/" target="_blank">Sekar</a> Kencana mengingatkan nama putri Sinuwun Paku Buwana XII. Yaitu GRAy Koes Handariyah. Putri cantik yang lembah manah sabar drana. Pinter momong momor momot. Pangandikan sumeh semeleh. Wigati merak ati. <br><br>Sehari sebelumnya persiapan sudah matang. KP Bambang S Adiningrat memimpin gladi resik. Nasir Syar an ikut menemani. Sambil menikmati suguhan nasi Padang. Suasana diskusi begitu hidup. Mulai jaman Sungging Purbengkoro mengabdi Kraton Majapahit. Sampai novel Para Priyayi karya Umar Kayam. Bahasan jelas tuntas tegas bagas waras. <br><br>Pertapan Donoroso<br><br>Rikala dinten Kemis Kliwon, 19  Maret 2026 Pakasa Pang Jepara seba ing Karaton Surakarta Hadiningrat. Saperlu ngrembag Pertapan Donoroso. KP Bambang S Hadiningrat kersa mandhegani. <br><br>Rombongan katampi ing Bale Smarakata. GKR Wandansari lan KP Wirabhumi nyalirani watawis jam 12. Lenggah dipun dherekaken KP Bambang Sudarsono. Ugi BRAy Arum Kusumo Pradopo. Rembagan maneka warni. Wosing gati murih mencaring kagunan. <br><br>Rancangan tata cara kepyakan Pertapan Donoroso dinten Kemis, 30 April 2026. Juru kunci ingkang nganthi sampun siyaga ing gati, sawega ing diri. <br><br>Assallamuallaikum<br><br>Sugeng enjing Kanjeng Pangeran Wirabumi.<br><br>Atur pirso bilh benjing dinten Kamis, 19 Maret 2026 kulo kalian Pengurus Petilasan Pertapaan Ratu Kalinyamat Donoroso - Pengkol Jepara  badhe marak sowan wonten Kraton Surakarta.<br><br>Nyuwun miterang lan nyuwun wedal ingkang lodang sakperlu badhe nyuwun Tetepan Pengurus Petilasan Pertapaan saha badhe  nyuwun tapak Asmo GKR Wandansari kagem Prasasti wonten batu marmer.<br><br>Catetan :<br><br>Petilasan Pertapaan punika lokasi di Jantung kota Jepara dengan Radius 300 an meter kalian Pendopo Kabupaten Jpra dan 500 - an mtr dgn pusat kota di Jepara.<br><br>Pakasa Jepara telah hadir dan mengembalikan situs Belik Patirtan yg ada sekaligus besok di Hari Kamis 30 April 2026 Pakasa Jepara ingkang miwiti Kirab Manganan sekaligus Pemasangan Plang Papan Nama Cagar Budaya ingkang sampun pikantuk tetepan SK.<br><br>Serat kapacak ing nginggil dados paseksen. Bilih Pakasa Pang Jepara tansah angesthi gawa gawe. Ing pangajab sami gancar lancar. Palaporan kiprah Pakasa Pang Jepara kadamel jangkep genep genah. <br><br>Pertapan Donoroso mapan dhusun Pengkol Jepara. Dados sarana ngudi gesang ingkang langkung sae. Sembada kang sinedya, jumbuh ingkang ginayuh. <br><br>Pertapan Donoroso Pengkol Jepara makin sigrak gumyak penak enak jenak. Masyarakat Jepara kembali berjaya. Rintisan Ratu Kalinyamat, Ratu Shima, Raden Ajeng Kartini tetap rahayu lestari. <br><br><br>Kemis Paing<br>30 April 2026.<br>Purwadi<br>]]></content>
            <enclosure url="https://cdn.halomedan.com/uploads/images/2026/05/_2081_Sekar-Kencana-Donoroso.png" type="image/png" length="0"/>
            <link>https://www.halomedan.com/umum/65693/sekar-kencana-donoroso/</link>
            <author><![CDATA[admin]]></author>
        </item>
            <item>
            <guid isPermaLink="false">Babad Mentawis</guid>
            <pubDate>Tue, 12 May 2026 20:41:00 +0700+0700</pubDate>
            <title><![CDATA[Babad Mentawis]]></title>
            <description><![CDATA[ halomedan.com Babad Mentawis1.PangkurBumiayu Panjer Donan, Purbalingga bawah Kraton Mentawis, Pekalongan Tegalarum, Kebumen Brebes Pemalan]]></description>
            <content><![CDATA[ <b><a href="https://www.halomedan.com">halomedan.com</a></b> -<a href="https://www.halomedan.com/tag/babad/" target="_blank">Babad</a> Mentawis<br><br><br>1.<br>Pangkur<br><br>Bumiayu Panjer Donan, <br>Purbalingga bawah Kraton Mentawis, <br>Pekalongan Tegalarum, <br>Kebumen Brebes Pemalang, <br>Adi luhung tuwuh kagunan ngrembuyung, <br>Kawula tata raharja. <br>Wisma wastra waras wasis. <br><br>Anerat Riptakariya, <br>Gelis Karaton Mentawis tinulis, <br>Tlatah Brebes dunung tepung,<br>Gunung Slamet sarana, <br>Amanekung semedi<br>ing Sumeragung, <br>Kaliguwa Paguyangan, <br>Candi Kramat Pancurawis.  <br><br>Kaloka Brebes minulya, <br>Pra bregada alelayar bahari, <br>Rikat trampil nyabrang laut, <br>Dugi manca nagara, <br>Numpak prahu mawi gladhi kawruh ngelmu, <br>Pelabuhan ing samudra, <br>Gemah ripah juru belah. <br><br>Gapura selat Malaka, <br>Johor Banjar Aceh Melayu Deli, <br>Pelabuhan Tegalarum, <br>Pangarsaning samudra, <br>Raden Lambung saking Borneo Malambung,<br>Trah kusuma Kalimantan, <br>Priyayi ing Banjarmasin. <br><br>Nama Lambung Mangkurat, <br>Setya bekti pangarsa Tegalwangi, <br>Brebes purun anenuntun, <br>Dedagang juru para, <br>Mas jumerut  Martapura awis patut, <br>Pawitan bandha lumaksa, <br>Arta daya dana picis. <br><br>2.<br>Durma<br><br>Pesanggrahan Kartanagara kayasa, <br>Sultan Agung murwani, <br>Kersa Ratu Batang, <br>Martalaya rumeksa, <br>Kulon gunung Slamet prayogi, <br>Sri Amangkurat, <br>Kedhaton edi peni. <br><br>Kotagedhe kuthapraja ing Mataram, <br>Dhawuhe Jaka Tingkir,<br>Nata tanah Jawa, <br>Lestari Lumaksana, <br>Pamanahan Juru Martani, <br>Sutawijaya, <br>Penjawi saking Pati. <br><br>Anglir mendhung wadya bala wus atata, <br>Aglar sami sumiwi, <br>Santana arapak, <br>Ngagem busana endah, <br>Maneka warna tinon asri, <br>Kraton Mataram, <br>Sadaya pacak baris. <br><br>Sigra mangsah lumampah anut wirama, <br>Tambur gong bendhe beri, <br>Suling sesauran, <br>Trompet munya ngumandhang, <br>Kuthagedhe Kerta Plered mring, <br>Punjering pura, <br>Segarayasa pilih. <br><br>Amangkurat nata agung binathara, <br>Wibawa welas asih, <br>Grapyak kumawula, <br>Susila tata krama, <br>Sabarang pakaryan pratitis, <br>Hormat sasama, <br>Gita gati taberi. <br><br>3.<br>Asmarandana<br><br>Cak cakan gemi nastiti, <br>Bumiayu Brebes purna, <br>Sepi pamrih rame gawe, <br>Ngayahi pakaryan praja, <br>Sukeng tyas asung panggagas, <br>Wiwit desa kutha gunung, <br>Ngirit kawula sentana. <br><br>Telaga Renjeng marsudi, <br>Kasudibyan kanugrahan, <br>Mangsa labuh mangsa mareng, <br>Wadhuk Penjalin patirtan,  <br>Wader badher kehing mina, <br>Tuking Bening tapa kungkum, <br>Puncak Sakub sung pepuja.<br><br><br>Pendhak warsi mangastuti, <br>Curug Putri ing Candi Pangkuan, <br>Sagung pamuji pendherek, <br>Kapitayan Amangkurat, <br>Jroning kapti ngalap berkah, <br>Semurup kawula Tarub, <br>Trahing Ki Ageng Sela. <br><br>4.<br><br>Dhandhanggula<br><br>Asma Gusti Raden Mas Sayiddin, <br>Raja putra narendra Mataram, <br>Bagus winasis mentereng, <br>Atmaja Sultan Agung, <br>Ratu Batang sang prameswari, <br>Tedhaking Hupasanta, <br>Bupati misuwur, <br>Juru Martani Ki Saba, <br>Brawijaya Bondhan Kejawan siwi, <br>Sela Nis Pemanahan. <br><br>Urutane turun Majapahit, <br>Wilwatikta adipati Tuban, <br>Rasawulan Magribi Seh, <br>Peputra Jaka Tarub, <br>Nawangwulan putri Nawangsih, <br>Lembu Peteng akrama, <br>Asesunu sampun, <br>Ki Ageng Getas Pendhawa, <br>Wanasaba Sela Kasihan sumiwi, <br>Leluhur kraton Jawa. <br><br>Kyai Ageng Sela peputra Nis, <br>Turun Kyai Ageng Pemanahan, <br>Alas Mentaok pernahe,<br>Penjawi sabiyantu, <br>Handayani Juru Martani, <br>Tetruka Ngeksiganda, <br>Pulung wahyu ndaru, <br>Giring kanugrahan degan, <br>Gagak emprit Senapati wus inganggit, <br>Danang Sutawijaya. <br><br>Nata mbahu dhendha nyakrawati, <br>Raja ber budi bawa laksana, <br>Lenggah ing kedhaton Plered, <br>Sri Amangkurat Agung, <br>Wus sumare ing Tegalwangi, <br>Sembada wirotama, <br>Sugih bandha bandhu, <br>Ambeg adil paramarta, <br>Seger bener kober bleger pinter becik, <br>Paring tepa tuladha. <br><br>Sunan Amangkurat Tegalwangi, <br>Narendra gung Karaton Mataram, <br>Lir ganda mlathi  rinonce, <br>Angambar wangi arum, <br>Wulang wuruk ing Tanah Jawi, <br>Lumantar Wali Sanga, <br>Gancar mbabar kawruh, <br>Wiwit Kraton Demak Pajang, <br>Mandhegani murih basuki lestari, <br>Bumiayu kawedhar.<br><br>Prameswari nata kaping siji, <br>Kanjeng Ratu Mas ing Surabaya, <br>Guyub rukun gandheng renteng, <br>Pangeran Pekik sunu, <br>Wandansari putri Mentawis, <br>Wasis manis kawentar, <br>Rayi Sultan Agung, <br>Apeputra Raden Rahmat, <br>Amangkurat Amral anglintir tumuli, <br>Kartasura Diningrat. <br><br>5.<br>Kinanthi<br><br>Kondhang Brebes Tegalarum, <br>ingon ingon kebo sapi, <br>Kewan iwen bebek ayam, <br>Menthok trowelu kelinci, <br>Sakathahing rajajaya, <br>Gurih enak endhog asin. <br><br>Amangkurat Tegalarum, <br>Garwa Ratu Wiratsari, <br>Putra Pangeran Kajoran, <br>Tedhak turun Jaka Tingkir, <br>Benawa karaton Pajang, <br>Kasusra diddaya sekti. <br><br>Joko Kahiman satuhu, <br>Titis wasis samukawis, <br>Atmaja Sunan Prawata, <br>Kinen jumeneng Bupati, <br>Pangarsa tlatah Banyumas, <br>Dhawuh raja Jaka Tingkir. <br><br>Kusuma rembesing madu, <br>Amangkurat Tegalwangi, <br>Anggarwa Ratu Kencana, <br>Raden Drajat Banyumanik, <br>Sinuwun Paku Buwana, <br>Atmaja narpa Mentawis. <br><br>Suwita Pangeran Lambung, <br>Miyos saking Banjarmasin, <br>Ndherek Sunan Amangkurat, <br>Milangkori tanah Jawi, <br>Gya nami Lambung Mangkurat, <br>Lestari dadya priyayi. <br><br>6.<br>Mijil<br><br>Wus ngupadi permana permati, <br>Kawawas karaos, <br>Sagunging kawula gandheng renteng, <br>Ngancik titi wanci, <br>Tegal gya binangun. <br><br>Narendra kagungan emas picis, <br>Tlatah sisih kulon, <br>Amemangun kedhaton Pamase, <br>Bumiayu Brebes amemetri, <br>Dayane hartati, <br>Jeng Ratu Serayu. <br><br>Bupati sigra sengkut makarti, <br>Manunggal gumolong, <br>Cipta rasa karsa karya gedhe, <br>Linambaran pakarti pekerti, <br>Bumiayu kang wigati, <br>Teegal guyub rukun. <br><br>Ngalami jaman kencana rukmi, <br>Amangkurat katong, <br>Sentana punggawa jero beteng, <br>Bumiayu kawula negari, <br>Tegal tunggal kapti, <br>Bumiayu makmur. <br><br>7.<br>Gambuh<br><br>Boga wastra sadarum, <br>Sunan Amangkurat<br>Tegalarum, <br>Waras wasis wisma laras laris manis, <br>Pereng Srayu Brebes rahayu, <br>Katon maton tanggap tanggon. <br><br>Bangunan saka kayu, <br>Brebes mathuk Bumiayu gathuk, <br>Nalakerta sesepuh trah Majapahit,  <br>Banyumas tambah ngrembuyung, <br>Suka gembira rinaos. <br><br>Sukengtyas Tegal hayu, <br>Rikat mlaku  dagang layar payu, <br>Juru tani taliti gemi nastiti, <br>Pra leluhur paring dhawuh, <br>Darapon tumanja awoh. <br><br>8.<br>Pangkur<br><br>Wus gumlewang Ajibarang, <br>Brebes Wangon Kebumen ugi, <br>Purbalingga<br>Sumberpucung, <br>Sokaraja Banyumas, <br>Gandrungmangun Amangkurat gya ambangun, <br>Banjarnegara Pemalang, <br>Kendal Batang Tegal Slawi. <br><br>Meguri ing Lasem Rembang, <br>Pabrik trasi<br>kondhang belah pesisir, <br>Brebes Bumiayu purun, <br>Amangkurat mranata, <br>Kanjeng Ratu kersa udhu bahu suku, <br>Pasaran manca negara, <br>Dugi Samudra Pasai. <br><br>Tegal kocap pabrik kecap, <br>Madeg jejeg mapan neng Purwodadi, <br>Kedhele Ngawi Madiun, <br>Tuban Lamongan Blora, <br>Ponorogo Blitar Nganjuk Tulungagung, <br>Trenggalek Sragen Pacitan, <br>Bojonegoro Kediri. <br><br>Adipati Brebes Banyumas, <br>Golong gilig arsa mbangun negari, <br>Dhawuh Amangkurat Agung, <br>Nuhoni Ratu Kencana, <br>Mrih rahayu iline kali Serayu, <br>Angocori sawah sawah, <br>Tela pohung jagung pari. <br><br>Pelabuhan Brebes Tegal, <br>Amangkurat anggagas Surabangi, <br>Ternate Bugis Maluku, <br>Tidore Bali Banjar, <br>Deli Serdang Palembang Bangka Belitung, <br>Cirebon Banten Sumedang, <br>Lampung Siak Indragiri. <br><br>9.<br>Asmarandana<br><br>Kanjeng Ratu Wiratsari, <br>Prameswari Amangkurat, <br>Yasa Kedhaton Pamase, <br>Bumiayu Purbalingga, <br>ing Lesmana Ajibarang, <br>Mahargya Ratu Serayu, <br>Kadang tani among dagang. <br><br>Dumugi Rembang pesisir, <br>Pelabuhan dagang layar, <br>Selat Malaka Tamasek, <br>Banjar Aceh Deli Serdang, <br>Ternate Bugis Makassar, <br>Tidore Ambon Maluku, <br>Cirebon Banten Pasundan. <br><br>Kawentar bakul martabak, <br>Raos eca warung Tegal, <br>Soto seger bumbu sate, <br>Bumiayu Ajibarang, <br>Lelana dodol panganan, <br>Regane murah misuwur, <br>Pasugatan kang prasaja. <br><br>10.<br>Pucung<br><br>Cilacap Majenang wangon Bumiayu, <br>Gandrungmangun Kroya, <br>Darma bakti Wiratsari, <br>Prameswari nata agung binathara. <br><br>Tlatah timur tani dagang tambah makmur, <br>Probolinggo Malang, <br>Pasuruan Jombang Gresik, <br>Amangkurat narendra gung mider ing rat. <br><br>Alun alun papan amba kebak purun, <br>Aneng Purwakerta, <br>Bumiayu laris manis, <br>Amangkurat paring cahya kang sumirat. <br><br>Tani maju perenging gunung Serayu,<br>Kebumen Cilacap Purbalingga, <br>Pekalongan Tegalwangi, <br> Bumiayu Pemalang Brebes weh terang. <br><br>Gunung Slamet sanana mesu lelaku, <br>ing Kali Gung Tegal, <br>Aneng Cipanas Pakujati, <br>Pra pangarsa<br>tarak brata lara lapa. <br><br>11.<br>Megatruh<br><br>Sarwa luhur Bumiayu Brebes subur, <br>Kabawah kraton Mentawis, <br>Raja Amangkurat Agung, <br>Sarta Ratu Wiratsari, <br>Pura Pamase mencorong. <br><br>Manggis dhuku seger buger padha tuku, <br>Bener cocok enak gurih, <br>Redi Srayu<br>pereng gunung, <br>Suka lila kadang tani, <br>Tandur subur aweh awoh.<br><br>Purbalingga Brebes urut gunung laut, <br>Banyu mili aneng kali,<br>Gunung Slamet margi hayu, <br>Marembes ing tegal sabin,<br>Gemah ripah jinawi loh. <br><br>12.<br>Pucung<br><br>Desa gunung seni tumangkar ngrembuyung, <br>Wilayah Banyumas, <br>Kanjeng Ratu Wiratsari, <br>Amangkurat nata agung hayuningrat. <br>Laris payu pakaryan pereng Serayu, <br>Warga pegunungan, <br>Gumelem tansah makarti, <br>Setya darma labuh labet marang praja. <br><br>Bumiayu Brebes nyumbang bahu suku, <br>Tumraping bebrayan, <br>Gotong royong tandang kardi,<br>Suka lila ngesti mulya tata praja. <br><br>13.<br>Kinanthi<br><br>Brebes Wangon Bumiayu, <br>Kinclong kinclong sarwa bening, <br>Kanjeng Sunan Amangkurat, <br>Sesarengan prameswari, <br>Nyawang gunung Slamet endah, <br>Ajibarang edi peni. <br><br>Pasir wukir panjang punjung, <br>Kawula praja Mentawis, <br>Amangkurat kalokengrat, <br>Kanjeng Ratu Wiratsari, <br>Ngudi dagang pelayaran, <br>Lumampah pambelah gisik. <br><br>Kawula Brebes andulu, <br>Jangkah jangkaning ngaurip, <br>Timbang anut ing kabisan,<br>Among dagang juru tani, <br>Suwita marang negara, <br>Nara praja lan prajurit. <br><br>Kasusilan unggah ungguh, <br>Putra Purbaya  winarni, <br>Kinarya tepa tuladaha, <br>Panembahan Senapati, <br>Narendra agung Mataram, <br>Wirasuta darma bakti. <br><br>Samengko sigra jununjung, <br>Wirasuta jumeneng dipati, <br>Ambawahi tlatah Tegal, <br>Sultan Agung angestreni, <br>Sineksenan Ratu Batang, <br>Sagung pangarsa Mentawis. <br><br>Enjing bidhal gumuruh, <br>Tata barisan prajurit, <br>Slompret puksur tambur munya, <br>Gamelan gung bendhe beri, <br>Wirasuta winisuda, <br>Martalaya Adipati. <br><br>14.<br>Pangkur<br><br>Pancurendang Ajibarang, <br>Papan sumber emas kencana rukmi, <br>Nata Amangkurat Agung, <br>Wiratsari kang garwa, <br>Paring dhawuh mrih Banyumas wutuh tangguh, <br>Kuwat drajat pangkat semat, <br>Sugih bandha bandhu budi. <br><br>Bregada jurit samudra, <br>Pilih tanding madyaning jalanidhi, <br>Mundhut piranti perahu, <br>Nadyan reregan larang, <br>Reksa laut suradhadhu baut patut, <br>Silem gladhening layaran, <br>Prigel trampil olah warih. <br><br>Ngedhep mantep sade bogawa, <br>Rega murah nanging rasane gurih, <br>Grapyak penak kehing bakul, <br>Mersudi arta daya,<br>Bisa untung marga ngerti marang petung, <br>Tuna santak bathi sanak, <br>Tlatah Kedhu tliti gemi. <br><br>15.<br>Pucung<br><br>Bumiayu Brebes Pekalongan hayu, <br>Cilacap Majenang, <br>ing Pemalang Tegalwangi, <br>Amangkurat mandhegani sagung rakyat. <br><br>Ing Serayu kali ayu lan rahayu, <br>Sunan Amangkurat, <br>Tapa kungkum tapa ngeli, <br>Mesu jiwa anoraga cipta rasa. <br><br>Numpak prahu tengah laut sigra laju, <br>Aneng pelabuhan, <br>Rumeksa wadya prajurit, <br>Tata bala olah gelaring samudra. <br><br>Jamak lamun pra leluhur anenuntun, <br>Bumiayu Tegal, <br>Mula solahing pambudi, <br>Paripurna teteg ajeg amakarya. <br><br>16.<br>Sinom<br><br>Martalaya winiwaha, <br>Jumeneng minangka bupati, <br>Mandhegani tlatah Tegal, <br>Sumungkem kawula dasih, <br>Nara praja pinilih, <br>Kayungyung sengkut kabangun, <br>Sukeng tyas Ratu Batang, <br>Sagung putri ing pesisir, <br>Kawibawan kawidadan karaharjan. <br><br>Garwa dalem Amangkurat, <br>Kanjeng Ratu Wiratsari, <br>Katelah Ratu Kencana, <br>Tedhak turun Jaka Tingkir, <br>Nyata putri linuwih, <br>Sinebut Ratu Serayu, <br>Mbangun nagri Mataram, <br>Gemah ripah loh jinawi, <br>Purwokerto  Bumiayu Ajibarang. <br><br>Tata praja ing negara, <br>Ngasta permana permati, <br>Kanjeng Sunan Amangkurat, <br>Ngereh sagung adipati, <br>Wetan kulon pesisir, <br>Laladan samudra kidul, <br>Winengku tata cara, <br>ingukir lendheping pikir, <br>Pra kawula cukup sandhang wisma boga. <br><br>Sinau dagang layaran,<br>Gulawenthah jalanidhi, <br>Papan Bumiayu  Tegal, <br>Kawentar laut bahari, <br>Angrengga papan gisik,<br>Apadene gethek prahu, <br>Pirantine wisata, <br>Sesawangan kinclong asri, <br>Amangkurat wus ambangun kalokengrat. <br><br>17.<br>Maskumambang<br><br>Bungah susah yekti gawane ngaurip, <br>Bumiayu Ajibarang, <br>Mersudi luhuring budi, <br>Suwita Kraton Mataram. <br><br>Abdi dalem sampun tampi dana dhuwit, <br>Bungah turah arta daya,<br>Marem ayem jroning kapti, <br>Narendra nyata sembada. <br><br>Brebes Tegalarum winastan bahari, <br>Gerbang lawang nusantara, <br>Dugi Samudra Pasai, <br>Temasek Banjar Malaka. <br><br>18.<br>Durma<br><br>Tuking rukmi Bumiayu Pancurendhang, <br>Rajabrana mas picis, <br>Sumber penghasilan, <br>Tumrap praja Mataram, <br>Mbudidaya Sri Wiratsari, <br>Sri Amangkurat, <br>Mersudi pala karti.<br><br>Gunung Kendheng gunung Renteng gunung Pandhan, <br>Sumbering minyak bumi, <br>Mubal lenga patra, <br>Temayang Jepun Tuban, <br>Lumaku budidaya nuli, <br>Cerak bengawan, <br>Tilel sakehing bathi. <br><br>Nyambut gawe tandang karya kehing jalma, <br>Lumaku wira wira, <br>Ing sadhengah papan, <br>Pamrihe kasembadan, <br>Tata titi gilir gumanti, <br>Ndherek pernatan, <br>Bebrayan hayu lestari. <br><br>19.<br>Gambuh<br><br>Bumiayu rahayu, <br>Brebes laku tani dagang payu, <br>Payung agung ngrembuyung rejeki, <br>Nalakerta sang sesepuh, <br>Pepundhen mangka pengayom. <br><br>Papan kidul pununjul, <br>Gunung Slamet agung kaya payung, <br>Ambawahi wilayah Banyumas kang peni, <br>Amangkurat terus ambangun, <br>Sigrak gumyak gotong royong. <br><br>Tambah makmur sempulur <br>Minyak tanah mapan ing sumur bur, <br>Kanan kiri tanem tuwuh kayu jati, <br>Perkutut ocehing patut, <br>Prabeya praja gumrojog. <br><br>Patut mbangun miturut, <br>Garap runtut wekasane urut, <br>Ngati ngati kinarya tepa palupi, <br>Wedharane ngelmu laku, <br>Jangkane kabeh kelakon. <br><br>20.<br>Pangkur<br><br>Bumiayu kang winarna, <br>Angrumpaka kabudayan inganggit, <br>Tapa ngeli tapa kungkum, <br>Gunung Slamet kinarya, <br>Alelaku amrih lantip jroning kalbu, <br>Minangka abdi narendra, <br>Darma bakti nusa bangsa. <br><br>Jeng Pangeran Kajor kocap, <br>Sentana kang sugih inten mas picis, <br>Bandha bandhu tanah mbrewu, <br>Tedhak Pangeran Benawa, <br>Wus misuwur trah Pajang kang makmur, <br>Wiratsari ingkang putra, <br>Ginarwa Sri Tegalwangi. <br><br>Kutha praja Kartasura, <br>Amangkurat Amral titi patitis, <br>Tumpuk undhung mas jumerut, <br>Mangka bandha negara, <br>Sami udhu lumintu sajuru juru, <br>Juru tani among dagang, <br>Untung bathi mbanyu mili. <br><br>21.<br>Dhandhanggula<br><br>Guru bangsa mbabar wiyatadi, <br>Kawentar Pangeran Karanggayam, <br>Saking wilayah Kebumen, <br>Pituduh barang kawruh, <br>Paugeran tata negari, <br>Peprentahan bebrayan, <br>Pandoming pandulu, <br>Jeng Sultan Hadiwijaya, <br>Paring dhawuh murih rahayu lestari,  <br>Pujangga Kraton Pajang. <br><br>Ludruk kentrung kethoprak wigati, <br>Wayang gamelan terus ngembaka, <br>Joged tembang mekar gedhe, <br>Jathilan reyog tayub, <br>Jaran kepang sigrak ngangeni, <br>Kawula gambireng tyas, <br>Ayem guyub rukun, <br>Tontonan tuntun tatanan, <br>Guna seni aweh seneng saben jalmi, <br>Warata saknegara.<br><br>Tegalarum Brebes tandang kardi, <br>Sakparan paran sami bakulan, <br>Gumreget gumregah rame, <br>Padha sengkut gumregut, <br>Bumiayu Brebes marsudi, <br>Angrampungi pakaryan, <br>Temen bakal temu, <br>Sembada ingkang kajangka,<br>Siyang ratri ngupaya lelana dhiri, <br>Temah awoh kamulyan.<br><br>22.<br>Pangkur<br><br>Gya kaonang Ratu Batang, <br>Prameswari nata gemi nastiti, <br>Hanggawana Tegalarum, <br>Tegalyasa winedhar,<br>Juru demung mengkoni pakaryan agung,<br>Among tani among dagang, <br>Tlatah kardi jalanidhi. <br><br>Kaloka Sri Ratu Batang, <br>Ing Mataram minangka prameswari, <br>Garwanipun Sultan Agung, <br>Miyos Sri Amangkurat, <br>Sampun purun tlatah Banyumas binangun, <br>Narendra gung binathara, <br>Mbahu dhendha nyakrawati. <br><br>Manggih jaman keemasan, <br>Kanjeng Sunan Amangkurat mersudi, <br>Sinartan Ratu Serayu, <br>Mranata pra kawula, <br>Gancar lancar Bumiayu  subur makmur, <br>Cekap cukup cukap cakap, <br>Enjang sonten siyang ratri. <br><br>Tegalarum mbudidaya, <br>Darma bakti sarana purun ngrukti<br>Warisan ingkang kapungkur, <br>Kadya sejarah babad, <br>Asih asuh asah sihing tedah tuduh, <br>Tumraping warga bebrayan, <br>Wusnya dangu angleluri. <br><br>23.<br>Kinanthi<br><br>Lumaksana Tegalarum, <br>Brebes rumembes amili,<br>Bebek menthok banyak ayam, <br>Menda kuda kebo sapi, <br>Gemrayah alambah kathah,<br>Angayom Kraton Mentawis. <br><br>Kanjeng Ratu Mas Serayu, <br>Pinilih putri linuwih, <br>Atmaja Joko Kahiman, <br>Hupasanta  malakrami, <br>Miyos Kanjeng Ratu Batang, <br>Sultan Agung ing Mentawis. <br><br>Nata Kanjeng Sultan Agung, <br>Amangkurat Tegalwangi, <br>Amangkurat Amral, <br>Paku Buwana siji, <br>Sunan Amangkurat Emas, <br>Sinuwun Mangkurat Jawi. <br><br>Yogya murid Bumiayu, <br>Sami kersa amastuti, <br>Dhawuhe para sarjana, <br>Sujana budi winasis, <br>Ajaran Sri Amangkurat, <br>Sumare ing Tegalwangi. <br><br>24.<br>Dhandhanggula<br><br>Tanah Tegal kinarya palupi, <br>Labuh labet raja Amangkurat, <br>Yasa Kedhaton Pamase, <br>Sayekti tangguh ampuh, <br>Mbangun jaman kencana rukmi, <br>Lesmana Ajibarang, <br>Pancurendhang mancur, <br>Emas picis rajabrana, <br>Bandha bandhu budi linangkung utami, <br>Kanjeng Ratu Kencana.<br><br>Kanjeng Panembahan Senapati, <br>Paring tuladha kagem wong Jawa, <br>Aneng dhatulaya bale, <br>Ganti Sinuwun Prabu , <br>Nyakrawati wus menggalih, <br>Murih bagya minulya, <br>Kagem anak putu, <br>Lumaksana gya makarya, <br>Gemi tliti ngati ati barang kardi, <br>Amangkurat Mataram. <br><br>Sampun kondhang pertiwi wiyati,<br>Bumiayu Brebes<br>Nggenya purna karya, <br>Sepi pamrih rame gawe, <br>Guna kaya lan purun, <br>Karya conto Raden Sumantri, <br>Kamot serat tripama, <br>Wacan becik tugu, <br>Kagem punggawa negara, <br>Kumbakarna Bupati Ngawangga ugi, <br>Lahir batin suwita.<br><br>Tanah Tegal kawentar lumaris, <br>Among dagang kondhang angumandhang, <br>Borneo Johor Ternate, <br>Laju bandaran agung, <br>Lelayaran jroning jaladri, <br>Kanjeng Sri Sultan Demak, <br>Sesorah sesurup,<br>Pangeran Benawa prapta, <br>Wus makati mrih raharjaning negari, <br>Ngantya Pajang Mataram. <br><br>Martalaya jumeneng dipati, <br>Panca guna legawa manunggal, <br>Pinuju grebeg sekaten, <br>Rolas sasine Mulud, <br>Gya lumaris kraton Mentawis, <br>Sineksen Sri Narendra, <br>Kanjeng Sultan Agung, <br>Prameswari Ratu Batang, <br>Pra bupati pangarsaning tanah Jawi, <br>Ngejayeng bumi Tegal. <br><br>25.<br>Maskumambang<br><br>Wus ngakoni titah salumahing bumi, <br>Kawula praja Mataram, <br>Pinanggih wibawa mukti, <br>Widada suka gembira. <br><br>Panjang punjung gemah ripah loh jinawi, <br>Ayem tentrem karta harja, <br>Amangkurat Tegalwangi, <br>Negara arum kuncara. <br><br>Bumiayu Brebes<br>sarwa becik, <br>Wilayah ingkang kawentar, <br>Amangkurat Tegalwangi, <br>Kinarya tepa tuladha. <br><br>26.<br>Gambuh<br><br>Sowan ing Bumiayu, <br>Tani maju dagang bakul payu, <br>Mandhegani Amangkurat Tegalwangi <br>Ngupakara mas jumerut, <br>Brebes bandha ber gumrojog. <br><br>Plered mbangun miturut, <br>Pikir runtut urut pantes patut, <br>Pinandhegan Amangkurat prameswawi, <br>Ratu Mas Ratu Serayu, <br>Kawulane gendhon rukon. <br><br>Segarayasa kayun,<br>Tanah manca kabeh dha kayungyun, <br>Bumi Plered endah asri milangeni, <br>Tlatah Bantul cahya mantul, <br>Gumreget gregah gumolong. <br><br>Kotagede anggayuh, <br>Datan lumuh nrajang kehing kewuh, <br>Binarunging Sultan Pajang Senapati, <br>Mumbul unggul ing pinunjul, <br>Bumi ing Alas Mentaok. <br><br>Tegalarum sadarum,<br>Pandam pandom pandulune pandum, <br>Ngestu pada raja putra ing Mentawis, <br>Urun bahu suku lan panemu, <br>Sopan santun andhap asor. <br><br>Jiwa unggul pinunjul, <br>Juru demung agung sinengkuyung, <br>Abdi dalem Kalinyamatan winasis, <br>Ki Gedhe Sebayu tangguh, <br>Teguh hayu tanggap tanggon. <br><br>Duta saraya ampuh, <br>Pangeran Benawa paring dhawuh, <br>Tata gati laladan ing Tegalwangi, <br>Mandhegani darat laut, <br>Ing pangangkah ayem ayom. <br><br>27.<br>Pucung<br><br>Ajibarang Tegalarum Bumiayu, <br>Sunan Amangkurat,<br>Kanjeng Ratu Wiratsari, <br>Mbahu dhendha nyakrawati pra kawula. <br><br>Pucuk gunung mesu budi bisa dunung, <br>Dalan kebecikan,<br>Sri Mangkurat Tegalwangi, <br>Sung tuladha tumrap jalma tanah Jawa. <br><br>Jeng Sinuwun amaringi sawabipun, <br>Tumrap putra wayah, <br>Boga wastra wisma wasis,<br>Bagas waras panjang yuswa laris laras. <br><br>Murid guru jamak lumrah amituhu, <br>Wignya jaman kuna, <br>Kababar mawa tinulis, <br>Padhang terang wedharan sastra piwulang.<br><br>Bumiayu tlatah hayu weh rahayu, <br>Widada wibawa, <br>Gemah ripah loh jinawi, <br>Panjang punjung pasir wukir karta harja. <br><br>Titi sampun Riptakariya rumuhun, <br>Carik Kartasura, <br>Panyerat babad Mentawis, <br>Sri Narendra Amangkurat nabda. <br><br>Sultan Agung yekti pepundhen linuhung, <br>Kersa amisuda, <br>Martalaya Adipati, <br>Wus kaloka putra nata dibyatama.<br><br><br>Pethikan saking <a href="https://www.halomedan.com/tag/babad/" target="_blank">Babad</a> Tanah Jawi, <a href="https://www.halomedan.com/tag/babad/" target="_blank">Babad</a> Mentawis, <a href="https://www.halomedan.com/tag/babad/" target="_blank">Babad</a> Demak, <a href="https://www.halomedan.com/tag/babad/" target="_blank">Babad</a> Pajang, <a href="https://www.halomedan.com/tag/babad/" target="_blank">Babad</a> Mataram, <a href="https://www.halomedan.com/tag/babad/" target="_blank">Babad</a> Kartasura, <a href="https://www.halomedan.com/tag/babad/" target="_blank">Babad</a> Banyumas, <a href="https://www.halomedan.com/tag/babad/" target="_blank">Babad</a> Tegal, <a href="https://www.halomedan.com/tag/babad/" target="_blank">Babad</a> Ondje, <a href="https://www.halomedan.com/tag/babad/" target="_blank">Babad</a> Arumbinang, <a href="https://www.halomedan.com/tag/babad/" target="_blank">Babad</a> Donan.<br>]]></content>
            <enclosure url="https://cdn.halomedan.com/uploads/images/2026/05/_1931_Babad-Mentawis.png" type="image/png" length="0"/>
            <link>https://www.halomedan.com/info/65692/babad-mentawis/</link>
            <author><![CDATA[admin]]></author>
        </item>
            <item>
            <guid isPermaLink="false">Pulo Mageti Wijayakusuma</guid>
            <pubDate>Tue, 12 May 2026 20:40:00 +0700+0700</pubDate>
            <title><![CDATA[Pulo Mageti Wijayakusuma]]></title>
            <description><![CDATA[ halomedan.com Pulo Mageti WijayakusumaSekar Wijayakusuma  mapan ing pulo Majeti. Kahyangan Sang Hyang Wening ingkang dados paran pitakenan]]></description>
            <content><![CDATA[ <b><a href="https://www.halomedan.com">halomedan.com</a></b> -Pulo Mageti Wijayakusuma<br><br>Sekar Wijayakusuma  mapan ing pulo Majeti. Kahyangan Sang Hyang Wening ingkang dados paran pitakenan para dewa. Sang Hyang Wening peputra Dewi  Kanastren. Garwa  Sang Hyang Ismaya, putra Sang Hyang Wenang ing Kahyangan Alang alang Kumitir. <br><br>Dewi Kanastren  lan Sang Hyang Ismaya lajeng dedunung ing Karang Kadhempel. Ismaya peparap Kyai Lurah Semar Badranaya. Ndherek suwita panakawan Gareng Petruk  Bagong. Pamomong  para satriya tanah Jawa. <br><br>Wijayakusuma kapethik dening abdi dalem Pakasa. Hari Minggu Kliwon, 3 Mei 2026 mengulangi sejarah besar. Abdi dalem Pakasa Magelang mendapat tugas mulia dari Kraton Surakarta Hadiningrat. Bersama dengan Pakasa lain meneruskan tradisi yang berjalan turun tumurun. <br><br>Patih Sindurejo miwaha Sekar Wijayakusuma. Perdana menteri Mataram itu diutus Sinuwun Amangkurat Amral. Legitimasi untuk memperkokoh daya pangaribawa Karaton Mataram yang beribukota Kartasura. <br><br>Bertempat di pendopo Bupati Cilacap kali ini acara sakral berlanjut. Kanjeng Raden Tumenggung Bagioyono selaku ketua panitia menyusun urutan acara. <br><br>Rangkaian acara :<br>1. Jam 06.00 sholat hajat di masjid agung Darussalam<br>2. Setelah selesai sholat hajat persiapan menuju ke pendopo kabupaten kanthi ageman Jawi jangkep warni pethak<br>3. Jam 7 acara dipendopo dg diawali pengambilan sumpah tim A dilanjutkan wilujengan<br>4. Setelah selesai wilujengan dipendopo persiapan kirab seluruh pakasa ke dermaga teluk penyu.<br><br>Kanjeng Probonagoro sejak tanggal 1 Mei 2026 sudah datang di Cilacap. Naik kereta api dari Klaten bersama Bu Suci. Cek lokasi dilakukan demi lancarnya  upacara. Kebetulan Bu Suci punya rumah di dekat stasiun Cilacap. Warga Pakasa Klaten beruntung memiliki tempat transit yang strategis. Sebanyak 60 anggota turut acara pawiwahan. <br><br>Abdi dalem Pakasa Tegal hadir tanggal 2 Mei 2026. Dipimpin oleh drg Fitri Pusponagoro. Para pengiring siap dengan peralatan yang lengkap. Payung, sekar, spanduk digunakan untuk kirab. Busana adat kejawen tentu tersedia. <br><br>Ketua Parengkarta Kanjeng Wulan Setyoningsih naik kereta api dari Solo Balapan. Alumni pasinaon tata busana ini sungguh aktif. Jaringan luas siap untuk kerjasama. Tiba di Cilacap langsung disambut ketua PKBM Cilacap. Suguhan garang asem disajikan begitu turun dari Stasiun. Transit di kantor serba guna. <br><br>Rombongan Pakasa  berangkat dari Kraton Surakarta. Terdiri dari Pakasa Trenggalek, Nganjuk, Pati, Kudus, Yogyakarta, Boyolali dan Ponorogo. Diawali dengan wilujengan di smarakata. Naik bus bersama menuju pendopo kabupaten Cilacap. <br><br>Warga Pakasa Ngawi tiba bersama Kanjeng Suyono. Cek lapangan demi kelancaran. Untuk membantu Kanjeng Rudi selaku ketua Pakasa Cilacap, sekaligus sekretaris panitia. Ngayahi jejibahan ageng. <br><br>Kanjeng Bambang S Hadiningrat memang ber bandha ber bandhu. Ketua Pakasa Jepara ini didampingi oleh Mas Ayu Tumenggung Susanti Purwoningsih SE. Mahasiswi S2 bahasa daerah UNY ini turut serta kegiatan ritual di Gumelem Susukan Banjarnegara. Wilujengan di pajimatan Ki Ageng Giring. Kanjeng Bambang memimpin barisan prajurit. <br><br>Upacara pawiwahan sekar Wijayakusuma demi kokohnya peradaban. Pulo Mageti Nusakambangan Donan Cilacap tempat pawiwahan. Para peserta naik perahu. Hadir pula Gusti Putri Purnaningrum dan Bendoro Raden Ayu Lung Ayu. Keselamatan beserta dengan para pendherek. <br><br>Iring iringan bregada prajurit nguntara praja beserta dengan musik kebesaran. Dari Pendopo menuju Teluk Penyu. Upacara dipimpin oleh GKR Wandansari. GKR Putri Purnaningrum dan BRAy mandhegani rombongan ke  pulau Majeti. Guna memetik Sekar Wijayakusuma. Naik perahu dengan pengawalan dari Angkatan Laut. Lancar gancar kawentar. <br><br><br>Minggu Kliwon, 3 Mei 2026.<br>Purwadi<br>]]></content>
            <enclosure url="https://cdn.halomedan.com/uploads/images/2026/05/_4077_Pulo-Mageti-Wijayakusuma.png" type="image/png" length="0"/>
            <link>https://www.halomedan.com/wisata/65691/pulo-mageti-wijayakusuma/</link>
            <author><![CDATA[admin]]></author>
        </item>
            <item>
            <guid isPermaLink="false">Mencari Calon Ketua Umum PBNU yang Bersih dan Berakhlak</guid>
            <pubDate>Tue, 12 May 2026 20:39:00 +0700+0700</pubDate>
            <title><![CDATA[Mencari Calon Ketua Umum PBNU yang Bersih dan Berakhlak]]></title>
            <description><![CDATA[Mencari Calon Ketua Umum PBNU yang Bersih dan Berakhlak]]></description>
            <content><![CDATA[<br>Medan - Nahdlatul Ulama (NU) dinilai membutuhkan sosok pemimpin yang berintegritas, berakhlak, serta fokus mengurus umat dalam kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ke depan. Hal ini disampaikan oleh Kyai Khambali, Ketua Umum Gema Santri <a href="https://www.halomedan.com/tag/nu/" target="_blank">Nu</a>sa.<br>Menurut Kyai Khambali, NU sebagai organisasi besar yang lahir untuk menjaga agama, bangsa, dan kemaslahatan umat harus dipimpin oleh figur yang memiliki keteladanan moral serta komitmen kuat terhadap pelayanan umat.<br>&quot;Kepemimpinan PBNU ke depan harus dipegang oleh sosok yang benar-benar hadir untuk mengurus umat, bukan sekadar kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu,&quot; ujarnya.<br>Ia menegaskan, calon Ketua Umum PBNU mendatang diharapkan merupakan figur yang bersih dari persoalan yang dapat merusak marwah organisasi, serta mampu menjadi pemersatu seluruh warga Nahdliyin di Indonesia. Selain itu, pemimpin PBNU juga harus memiliki kedekatan dengan ulama dan santri serta mampu merangkul seluruh elemen masyarakat.<br>Kyai Khambali yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Kyai Tahlil menambahkan, kepemimpinan PBNU harus kembali meneguhkan khidmah kepada umat melalui sejumlah penguatan, antara lain:<br>Dakwah Ahlussunnah wal Jama&#039;ah An-Nahdliyah<br>Pendidikan pesantren dan generasi muda NU<br>Persatuan bangsa dan ukhuwah Islamiyah<br>Kepedulian sosial dan pemberdayaan masyarakat<br>Keteladanan akhlak serta kebijaksanaan dalam memimpin<br>Ia juga menekankan pentingnya menghadirkan pemimpin yang sederhana, amanah, dan istiqamah dalam menjaga kehormatan organisasi.<br>&quot;NU besar karena ulama dan umatnya. Maka kepemimpinan harus kembali untuk khidmah kepada umat,&quot; tutupnya.<br>Kyai Khambali yang juga dikenal sebagai Pengasuh Majlis Sholawat Akhsa <a href="https://www.halomedan.com/tag/nu/" target="_blank">Nu</a>santara berharap agar Allah SWT memberikan pemimpin terbaik bagi NU, yang mampu menjaga persatuan bangsa sekaligus melayani umat dengan penuh tanggung jawab.]]></content>
            <enclosure url="https://cdn.halomedan.com/uploads/images/2026/05/_1549_Mencari-Calon-Ketua-Umum-PBNU-yang-Bersih-dan-Berakhlak.png" type="image/png" length="0"/>
            <link>https://www.halomedan.com/Berita/65690/mencari-calon-ketua-umum-pbnu-yang-bersih-dan-berakhlak/</link>
            <author><![CDATA[admin]]></author>
        </item>
            <item>
            <guid isPermaLink="false">Upacara Majeti Nusakambana  Pulo Majeti Wijayakusuma</guid>
            <pubDate>Tue, 12 May 2026 20:38:00 +0700+0700</pubDate>
            <title><![CDATA[Upacara Majeti Nusakambana  Pulo Majeti Wijayakusuma]]></title>
            <description><![CDATA[ halomedan.com Upacara Majeti NusakambanaPulo Majeti WijayakusumaKepercayaan akulturatif dihayati oleh masyarakat Jawa. Karaton Surakarta H]]></description>
            <content><![CDATA[ <b><a href="https://www.halomedan.com">halomedan.com</a></b> -<a href="https://www.halomedan.com/tag/upacara/" target="_blank">Upacara</a> Majeti Nusakambana<br><br>Pulo Majeti Wijayakusuma<br><br>Kepercayaan akulturatif dihayati oleh masyarakat Jawa. Karaton Surakarta Hadiningrat. Misalnya dalam acara miwaha sekar Wijayakusuma.<br><br>Pulo Majeti penting sekali sekar Wijayakusuma  mapan ing pulo Majeti. Kahyangan Sang Hyang Wening ingkang dados paran pitakenan para dewa. Sang Hyang Wening peputra Dewi  Kanastren. Garwa  Sang Hyang Ismaya, putra Sang Hyang Wenang ing Kahyangan Alang alang Kumitir. <br><br>Dewi Kanastren  lan Sang Hyang Ismaya lajeng dedunung ing Karang Kadhempel. Ismaya peparap Kyai Lurah Semar Badranaya. Ndherek suwita panakawan Gareng Petruk  Bagong. Pamomong  para satriya tanah Jawa. <br><br>Wijayakusuma kapethik dening abdi dalem Pakasa. Hari Minggu Kliwon, 3 Mei 2026 mengulangi sejarah besar. Abdi dalem Pakasa Magelang mendapat tugas mulia dari Kraton Surakarta Hadiningrat. Bersama dengan Pakasa lain meneruskan tradisi yang berjalan turun tumurun. <br><br>Patih Sindurejo miwaha Sekar Wijayakusuma. Perdana menteri Mataram itu diutus Sinuwun Amangkurat Amral. Legitimasi untuk memperkokoh daya pangaribawa Karaton Mataram yang beribukota Kartasura. <br><br>Bertempat di pendopo Bupati Cilacap kali ini acara sakral berlanjut. Kanjeng Raden Tumenggung Bagioyono selaku ketua panitia menyusun urutan acara. <br><br>Rangkaian acara :<br>1. Jam 06.00 sholat hajat di masjid agung Darussalam<br>2. Setelah selesai sholat hajat persiapan menuju ke pendopo kabupaten kanthi ageman Jawi jangkep warni pethak<br>3. Jam 7 acara dipendopo dg diawali pengambilan sumpah tim A dilanjutkan wilujengan<br>4. Setelah selesai wilujengan dipendopo persiapan kirab seluruh pakasa ke dermaga teluk penyu.<br><br>Kanjeng Probonagoro sejak tanggal 1 Mei 2026 sudah datang di Cilacap. Naik kereta api dari Klaten bersama Bu Suci. Cek lokasi dilakukan demi lancarnya  upacara. Kebetulan Bu Suci punya rumah di dekat stasiun Cilacap. Warga Pakasa Klaten beruntung memiliki tempat transit yang strategis. Sebanyak 60 anggota turut acara pawiwahan. <br><br>Abdi dalem Pakasa Tegal hadir tanggal 2 Mei 2026. Dipimpin oleh drg Fitri Pusponagoro. Para pengiring siap dengan peralatan yang lengkap. Payung, sekar, spanduk digunakan untuk kirab. Busana adat kejawen tentu tersedia. <br><br>Ketua Parengkarta Kanjeng Wulan Setyoningsih naik kereta api dari Solo Balapan. Alumni pasinaon tata busana ini sungguh aktif. Jaringan luas siap untuk kerjasama. Tiba di Cilacap langsung disambut ketua PKBM Cilacap. Suguhan garang asem disajikan begitu turun dari Stasiun. Transit di kantor serba guna. <br><br>Rombongan Pakasa  berangkat dari Kraton Surakarta. Terdiri dari Pakasa Trenggalek, Nganjuk, Pati, Kudus, Yogyakarta, Boyolali dan Ponorogo. Diawali dengan wilujengan di smarakata. Naik bus bersama menuju pendopo kabupaten Cilacap. <br><br>Warga Pakasa Ngawi tiba bersama Kanjeng Suyono. Cek lapangan demi kelancaran. Untuk membantu Kanjeng Rudi selaku ketua Pakasa Cilacap, sekaligus sekretaris panitia. Ngayahi jejibahan ageng. <br><br>Kanjeng Bambang S Hadiningrat memang ber bandha ber bandhu. Ketua Pakasa Jepara ini didampingi oleh Mas Ayu Tumenggung Susanti Purwoningsih SE. Mahasiswi S2 bahasa daerah UNY ini turut serta kegiatan ritual di Gumelem Susukan Banjarnegara. Wilujengan di pajimatan Ki Ageng Giring. Kanjeng Bambang memimpin barisan prajurit. <br><br><a href="https://www.halomedan.com/tag/upacara/" target="_blank">Upacara</a> pawiwahan sekar Wijayakusuma demi kokohnya peradaban. Pulo Mageti Nusakambangan Donan Cilacap tempat pawiwahan. Para peserta naik perahu. Hadir pula Gusti Putri Purnaningrum dan Bendoro Raden Ayu Lung Ayu. Keselamatan beserta dengan para pendherek. <br><br>Iring iringan bregada prajurit nguntara praja beserta dengan musik kebesaran. Dari Pendopo menuju Teluk Penyu. <a href="https://www.halomedan.com/tag/upacara/" target="_blank">Upacara</a> dipimpin oleh GKR Wandansari. GKR Putri Purnaningrum dan BRAy mandhegani rombongan ke  pulau Majeti. Guna memetik Sekar Wijayakusuma. Naik perahu dengan pengawalan dari Angkatan Laut. Lancar gancar kawentar. <br><br><br>Minggu Kliwon, 3 Mei 2026.<br>Purwadi<br>]]></content>
            <enclosure url="https://cdn.halomedan.com/uploads/images/2026/05/_9681_Upacara-Majeti-Nusakambana--Pulo-Majeti-Wijayakusuma.png" type="image/png" length="0"/>
            <link>https://www.halomedan.com/tips/65689/upacara-majeti-nusakambana-pulo-majeti-wijayakusuma/</link>
            <author><![CDATA[admin]]></author>
        </item>
            <item>
            <guid isPermaLink="false">Teluk Penyu Wijayakusuma</guid>
            <pubDate>Tue, 12 May 2026 20:37:00 +0700+0700</pubDate>
            <title><![CDATA[Teluk Penyu Wijayakusuma]]></title>
            <description><![CDATA[ halomedan.com Teluk Penyu WijayakusumaTata cara untuk mendapat sekar Wijayakusuma dilakukan sesuai dengan paugeran. Maka Karaton Surakarta]]></description>
            <content><![CDATA[ <b><a href="https://www.halomedan.com">halomedan.com</a></b> -<a href="https://www.halomedan.com/tag/teluk/" target="_blank">Teluk</a> Penyu Wijayakusuma<br><br><br>Tata cara untuk mendapat sekar Wijayakusuma dilakukan sesuai dengan paugeran. Maka Karaton Surakarta mengutus abdi dalem Pakasa. Bermula dari tepi <a href="https://www.halomedan.com/tag/teluk/" target="_blank">Teluk</a> Penyu. Menuju Pulau Mageti. KP Bambang S Adiningrat mengawali dari pendopo Bupati Donan Cilacap. <br><br><a href="https://www.halomedan.com/tag/teluk/" target="_blank">Teluk</a> Penyu dekat pula Nusakambangan. Kepercayaan kejawen memberi daya mistik magis. Alam memancar sinar kawibawan buat suksesi Kraton Mataram. Berlaku turun tumurun. <br><br>Upacara Majeti Nusakambana<br><br>Pulo Majeti Wijayakusuma<br><br>Kepercayaan akulturatif dihayati oleh masyarakat Jawa. Karaton Surakarta Hadiningrat. Misalnya dalam acara miwaha sekar Wijayakusuma.<br><br>Pulo Majeti penting sekali sekar Wijayakusuma  mapan ing pulo Majeti. Kahyangan Sang Hyang Wening ingkang dados paran pitakenan para dewa. Sang Hyang Wening peputra Dewi  Kanastren. Garwa  Sang Hyang Ismaya, putra Sang Hyang Wenang ing Kahyangan Alang alang Kumitir. <br><br>Dewi Kanastren  lan Sang Hyang Ismaya lajeng dedunung ing Karang Kadhempel. Ismaya peparap Kyai Lurah Semar Badranaya. Ndherek suwita panakawan Gareng Petruk  Bagong. Pamomong  para satriya tanah Jawa. <br><br>Wijayakusuma kapethik dening abdi dalem Pakasa. Hari Minggu Kliwon, 3 Mei 2026 mengulangi sejarah besar. Abdi dalem Pakasa Magelang mendapat tugas mulia dari Kraton Surakarta Hadiningrat. Bersama dengan Pakasa lain meneruskan tradisi yang berjalan turun tumurun. <br><br>Patih Sindurejo miwaha Sekar Wijayakusuma. Perdana menteri Mataram itu diutus Sinuwun Amangkurat Amral. Legitimasi untuk memperkokoh daya pangaribawa Karaton Mataram yang beribukota Kartasura. <br><br>Bertempat di pendopo Bupati Cilacap kali ini acara sakral berlanjut. Kanjeng Raden Tumenggung Bagioyono selaku ketua panitia menyusun urutan acara. <br><br>Rangkaian acara :<br>1. Jam 06.00 sholat hajat di masjid agung Darussalam<br>2. Setelah selesai sholat hajat persiapan menuju ke pendopo kabupaten kanthi ageman Jawi jangkep warni pethak<br>3. Jam 7 acara dipendopo dg diawali pengambilan sumpah tim A dilanjutkan wilujengan<br>4. Setelah selesai wilujengan dipendopo persiapan kirab seluruh pakasa ke dermaga teluk penyu.<br><br>Kanjeng Probonagoro sejak tanggal 1 Mei 2026 sudah datang di Cilacap. Naik kereta api dari Klaten bersama Bu Suci. Cek lokasi dilakukan demi lancarnya  upacara. Kebetulan Bu Suci punya rumah di dekat stasiun Cilacap. Warga Pakasa Klaten beruntung memiliki tempat transit yang strategis. Sebanyak 60 anggota turut acara pawiwahan. <br><br>Abdi dalem Pakasa Tegal hadir tanggal 2 Mei 2026. Dipimpin oleh drg Fitri Pusponagoro. Para pengiring siap dengan peralatan yang lengkap. Payung, sekar, spanduk digunakan untuk kirab. Busana adat kejawen tentu tersedia. <br><br>Ketua Parengkarta Kanjeng Wulan Setyoningsih naik kereta api dari Solo Balapan. Alumni pasinaon tata busana ini sungguh aktif. Jaringan luas siap untuk kerjasama. Tiba di Cilacap langsung disambut ketua PKBM Cilacap. Suguhan garang asem disajikan begitu turun dari Stasiun. Transit di kantor serba guna. <br><br>Rombongan Pakasa  berangkat dari Kraton Surakarta. Terdiri dari Pakasa Trenggalek, Nganjuk, Pati, Kudus, Yogyakarta, Boyolali dan Ponorogo. Diawali dengan wilujengan di smarakata. Naik bus bersama menuju pendopo kabupaten Cilacap. <br><br>Warga Pakasa Ngawi tiba bersama Kanjeng Suyono. Cek lapangan demi kelancaran. Untuk membantu Kanjeng Rudi selaku ketua Pakasa Cilacap, sekaligus sekretaris panitia. Ngayahi jejibahan ageng. <br><br>Kanjeng Bambang S Hadiningrat memang ber bandha ber bandhu. Ketua Pakasa Jepara ini didampingi oleh Mas Ayu Tumenggung Susanti Purwoningsih SE. Mahasiswi S2 bahasa daerah UNY ini turut serta kegiatan ritual di Gumelem Susukan Banjarnegara. Wilujengan di pajimatan Ki Ageng Giring. Kanjeng Bambang memimpin barisan prajurit. <br><br>Upacara pawiwahan sekar Wijayakusuma demi kokohnya peradaban. Pulo Mageti Nusakambangan Donan Cilacap tempat pawiwahan. Para peserta naik perahu. Hadir pula Gusti Putri Purnaningrum dan Bendoro Raden Ayu Lung Ayu. Keselamatan beserta dengan para pendherek. <br><br>Iring iringan bregada prajurit nguntara praja beserta dengan musik kebesaran. Dari Pendopo menuju <a href="https://www.halomedan.com/tag/teluk/" target="_blank">Teluk</a> Penyu. Upacara dipimpin oleh GKR Wandansari. GKR Putri Purnaningrum dan BRAy mandhegani rombongan ke  pulau Majeti. Guna memetik Sekar Wijayakusuma. Naik perahu dengan pengawalan dari Angkatan Laut. Lancar gancar kawentar. <br><br><br>Minggu Kliwon, 3 Mei 2026.<br>Purwadi<br>]]></content>
            <enclosure url="https://cdn.halomedan.com/uploads/images/2026/05/_5203_Teluk-Penyu-Wijayakusuma.png" type="image/png" length="0"/>
            <link>https://www.halomedan.com/umum/65688/teluk-penyu-wijayakusuma/</link>
            <author><![CDATA[admin]]></author>
        </item>
            <item>
            <guid isPermaLink="false">Sekar Wijayakusuma Pulo Majeti</guid>
            <pubDate>Tue, 12 May 2026 20:35:00 +0700+0700</pubDate>
            <title><![CDATA[Sekar Wijayakusuma Pulo Majeti]]></title>
            <description><![CDATA[ halomedan.com Sekar WijayakusumaPulo MajetiBagian ISEJARAH SEKAR WIJAYAKUSUMATata cara miwaha Sekar Wijayakusuma terjadi pada hari Minggu ]]></description>
            <content><![CDATA[ <b><a href="https://www.halomedan.com">halomedan.com</a></b> -<a href="https://www.halomedan.com/tag/sekar/" target="_blank">Sekar</a> Wijayakusuma<br>Pulo Majeti<br><br>Bagian I<br><br>SEJARAH SEKAR WIJAYAKUSUMA<br><br>Tata cara miwaha <a href="https://www.halomedan.com/tag/sekar/" target="_blank">Sekar</a> Wijayakusuma terjadi pada hari Minggu Kliwon, 3 Mei 2026. Pangageng Lembaga Dewan Adat GKR Wandansari memimpin jalannya upacara. Beserta segenap abdi dalem Karaton Surakarta Hadiningrat. <br><br>Penulusuran sekar Wijayakusuma dilakukan dengan melacak aspek historis. Sowan ke Pajimatan Rekyana Patih Sindurejo untuk ngalap berkah. PAKASA Magelang sowan ke Pajimatan Paremono pada hari Kemis Paing, 15 Januari 2026. Kanjeng Bagiyono memimpin jalannya tata cara. Memuliakan Rekyana Patih Sindurejo, tokoh Kraton Mataram yang bertugas miwaha <a href="https://www.halomedan.com/tag/sekar/" target="_blank">Sekar</a> Wijayakusuma. <br><br>Dengan busana kejawen jangkep tata cara berlangsung regeng merbawani. Ubarampe genep jangkep. Dalam rangka nyengkuyung darma bakti kepada Kraton Surakarta Hadiningrat. Terutama mangayu bagya jumenengan dalem Sinuwun Paku Buwana XIV pada hari Kamis Wage, 13 Nopember 2025. Hayu rahayu. <br><br>Sejarah <a href="https://www.halomedan.com/tag/sekar/" target="_blank">Sekar</a> Wijayakusuma berhubungan dengan berdirinya Kraton Mataram Surakarta. Tata cara berlangsung sesuai paugeran. Sinuwun<br><br>Paku Buwana II melakukan tata cara di Donan Cilacap agar selalu rahayu lestari. Donan Cilacap dijadikan tempat tata cara sebelum Paku Buwana II dilantik sebagai raja Mataram. Abdi dalem lengkap ndherek nyengkuyung. Dengan dikoordinir oleh para Bupati Bang Kulon. <br><br>Upacara adat ini dalam rangka penobatan Sri Susuhunan Paku Buwana II pada tahun 1726 di Kartasura. Agar berjalan lancar. Sembah kalbu yen lumintu dadi laku. Manggih hayu ayem tentrem kang tinemu. Daerah Donan Cilacap menyimpan kisah menarik. Makhluk halus di Tanah Jawa berhubungan dengan sistem politik Kerajaan. Dalam masyarakat Jawa ibukota makhluk halus berada di daerah Nusa Kambangan.<br><br>Secara historis perlu dilacak keberadaan makhluk halus yang berpusat di Nusa Kambangan. Kabupaten Cilacap dulunya berdiri tanggal 17 Januari 1678. Bernama Kadipaten Donan. Tempatnya di Pulau Nusa Kambangan atau Nusa Berambang. Dalam cerita tutur pedalangan Nusa Kambangan disebut Nusa Kambana, Watu Masigid, Sela Marsigid atau Dhandhang Mangore. Kawasan ini memiliki kewibawaan tinggi, wana gung liwang liwung, bebasan gawat kaliwat liwat, angker kepati pati, jalm mara jalma mati, sato mara keplayu.<br><br>Tutur tinular kang wus lumaku. Cerita wayang purwa melukiskan kahyangan Nusa Kambana atau Dhandhang Mangore begitu wingit seram. Penguasa Nungsa Berambang bergelar Sang Hyang Pramoni atau Bethari Durga. Saat bertugas sebagai permaisuri di Kahyangan Junggring Salaka bebisik Sang Hyang Bathari Uma, yang memimpin widodari cantik. Beberapa literatur kesusasteraan menamakan Bethari Durga Umayi. Karaton Surakarta Hadiningrat memberi sesebatan Sang Hyang Bathari Kalayuwati.<br><br>Catatan dari kitab babad tanah Jawi dibaca oleh Paku Buwana II. Dengan maksud mengerti situasi kebatinan. Berguna untuk momong segenap kawula dasih. Untuk menghormati raja Bidadari ini, Karaton Surakarta setiap tahun selalu menyelenggarakan upacara wilujengan negara Maesa Lawung di Alas Krendha Wahana. Kepala kerbau atau sirah maesa Kebo Bule dipendham atau ditanam dengan sesaji ubarampe lengkap. Persembahan buat Bathari Kalayuwati berwujud daging mentahan, karena wadya bala atau pasukan kahyangan Nusa Kambana terdiri dari brekasakan bersiung bertaring. Prajurit Nusa Berambang merupakan raksasa makhluk halus yang tidak kasat mripat. Kejadian ini dirasakan benar oleh Sunan Paku Buwana II. <br><br>Nungsa Berambang atau Donan Nusa Kambangan men-jadi ibukota makhluk halus yang tersebar di Tanah Jawa. Penguasa alam lelembut di tiap- tiap kabupaten harus tunduk pada perintah Sang Hyang Pramoni Durga yang berkedudukan di Watu Masigid Nusa Kambangan. Watu Masigid atau Sela Marsigid adalah istana kediaman Bathari Uma.<br><br> Pembangunan istana Sela Marsigid mirip kayangan Suralaya yang serba emas gemerlapan. Bahan bangunan istana Sela Marsigid yakni emas, intan, mutu manikam, jumerut, ratna, suwarna, mutiara warna warni. Wajar sekali karena Sang Pramoni Durga adalah mustikane putri tetunggule widodari. Sekedar untuk diketahui para makhluk halus yang menjadi bawahan Sang Hyang Pramoni Durga di Kahyangan Dhandhang Mangore atau Nungsa Berambang. Mereka adalah pemuka makhluk halus yang berkuasa atas wilayah tertentu. Misalnya Jin Balabatu di Blambangan Banyuwangi. <br><br>Buta Locaya menguasai Kediri, Sidagori di Pacitan, Klenthing Mungil di Magetan. Jin Abur Abur berada di Madiun, Macan Puguh di Purwadadi, Kala Jangga di Malang, Pilang Putih di Cepu Blora, Dhadhung Awuk di Purworejo. Jin yang tinggal di Semarang bernama Barat Ketiga. Semua pemuka makhluk halus tiap tahun sowan ke Nusa Kambangan untuk caos glondhong pengareng areng, peni peni raja peni, guru bakal guru dadi.<br><br>Adapun asisten yang bertindak sebagai carik sekretaris Sang Hyang Pramoni Durga yaitu Jin Trenggiling Wesi. Berdomisili di daerah Majenang. Segala perintah istana Watu Masigid atau Sela Marsigid pasti melalui Trenggiling Wesi Majenang. Properti istana Sela Marsigid dikelola oleh Jin Nyai Bathithing Tuban. Sedangkan busana kawidodaren untuk Sang Hyang Pramoni diurus oleh Jin Nyai Puspakati. Suguhan makanan sehari hari untuk istana Sela Marsigid Nungsa Berambang disajikan oleh Jin Nyai Roro Denok.<br><br>Demikianlah kehidupan istana Marsigid atau Watu Masigid atau kedaton Sela Marsigid. Kediaman asri milik Sang Pramoni Durga atau Bathari Uma ini berlangsung di pulau Nusa Kambangan. Orang menyebut Nungsa Berambang, Nusa Kambana, Dhandhang Mangore. Keistimewaan wilayah kabupaten Donan Tlacap ini adalah menjadi tempat tumbuhnya sekar Wijaya Kusuma. Siapa saja yang berhasil memetik sekar wijaya kusuma hidupnya akan mulia wibawa. <br><br>Bahkan keturunannya lestari pejabat, pemimpin dan penguasa Tanah Jawa. Hal itulah yang mendorong Kanjeng Sinuwun Amangkurat Amral yang memerintah kerajaan Mataram Kartasura pada tahun 1677-1703. Beliau berusaha sekuat tenaga untuk bisa memboyong sekar wijaya kusuma.<br><br>Keistimewaan kadipaten Donan teruji dalam sejarah. Orang melakukan lara lapa tapa brata. Mereka bersemedi di gunung Srandil untuk ngalap berkah pada Eyang Semar atau Kaki Tunggal Sabdo Jati Doyo Among Rogo. Laku spiritual ini selalu dilakukan oleh para bangsawan mataram secara turunt temurun. <br><br>Mataram kuat karena punya aji dan pusaka sakti. Paku Buwana II dan anak cucu tetap melestarikan tradisi. PAKASA pimpinan Kanjeng Bagiyono selalu siaga ing hati, sawega ing diri. <br><br>Bagian II<br><br>PAWIWAHAN SEKAR WIJAYAKUSUMA<br><br>Tata cara miwaha sekar Wijayakusuma berlangsung sesuai paugeran. Dari Paremono ke Donan. <a href="https://www.halomedan.com/tag/sekar/" target="_blank">Sekar</a> Wijayakusuma di Nusa Kambana winiwaha. Pakasa Magelang ngleluri tradisi Patih Sindurejo pada tanggal 15 Januari 2026. Tepat pada hari Kemis Paing malam Jumat Kliwon. <br><br>Paku Buwana II Memetik <a href="https://www.halomedan.com/tag/sekar/" target="_blank">Sekar</a> Wijaya Kusuma. <br><br><a href="https://www.halomedan.com/tag/sekar/" target="_blank">Sekar</a> Wijaya Kusuma Mekar di Nusa Kambangan. Pada tahun 1726 saat dinobatkan menjadi raja Mataram, terlebih dulu memetik <a href="https://www.halomedan.com/tag/sekar/" target="_blank">Sekar</a> wijaya Kusuma. Sebagai pusaka sipat kandel. <br><br>Kerajaan Mataram memiliki pusaka <a href="https://www.halomedan.com/tag/sekar/" target="_blank">Sekar</a> Wijaya Kusuma. Patih Sindureja Diutus Sinuwun Amangkurat Amral Memetik <a href="https://www.halomedan.com/tag/sekar/" target="_blank">Sekar</a> Wijaya Kusuma di Kadipaten Donan Cilacap. Kegiatan ini berlanjut pada masa pemerintahan Paku Buwana II. Pembangunan Kadipaten Donan Tanah Tlacap atau Cilacap yang mahsyur sudah dirintis oleh Sinuwun Amangkurat Agung. Raja Mataram yang memerintah tahun 1645-1677 ini sangat perhatian pada wilayah Dulangmas, Kedu, Magelang, Banyumas. Kebetulan Kanjeng Ratu Wiratsari memiliki istana cabang Mataram di desa Lesmana Ajibarang Banyumas. Permaisuri raja Amangkurat Agung berjasa besar atas pengembangan Donan Tlacap sebagai kawasan spiritual. Sampai sekarang orang berdatangan ke gunung Srandhil untuk mahas ing ngasepi nedahake semedi. Paku Buwana II telah memberi contoh yang baik. <br><br>Pada tahun 1677 Sinuwun Amangkurat Amral memindahkan ibukota dari Plered ke Kartasura. Segala persiapan lahir batin dilakukan demi kejayaan Kraton Mataram. Segera Kanjeng Sinuwun Amangkurat Agung membentuk tim Panitia Pembangunan fisik kraton diserahkan kepada Pangeran Pekik Bupati Surabaya. Beliau dibantu tenaga ahli dari Sumenep dan Makasar. Proyek besar pindahan ibukota Mataram ini ditangani oleh para bupati Bang Wetan.<br><br>Bidang spiritual dijalanlan oleh Tumenggung Pranantaka. Beliau putra Patih Mandaraka III. Ditunjuknya keluarga Patih Mandaraka karena sejak dulu memiliki pusaka aji Canda Birawa. Masyarakat Jawa percaya bahwa Aji Candra Birawa dapat menaklukkan segala macam makhluk halus. Aji Canda Birawa pernah digunakan oleh raja Mandaraka, Prabu Salyapati. Ketika memimpin perang Baratayuda jaya binangun, Prabu Salya menjadi senopati agung. Pusaka aji canda birawa hanya bisa dikalahkan oleh Jamus Kalimasada atau dua kalimat syahadat. Itulah konsep iman ilmu, amal, iman Islam ikhsan, cipta rasa karsa.<br><br>Kisah ini dihayati benar oleh Paku Buwana II. Surat perintah untuk memetik sekar wijaya kusuma terbit pada tanggal 17 Januari 1678. Tumenggung Pranantaka diutus memetik sekar wijaya kusuma di Donan Nungsa Berambang tanah Tlacap. Tugas mulia dan berat itu dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Waktu itu Tumenggung Pranantaka juga menjabat sebagai Bupati Tegal tahun 1678-1680. <br><br>Dalam waktu yang bersamaan Tumenggung Pranantaka mengurusi sekolah ketrampilan tata praja di Magelang, diplomasi kenegaraan Mataram dan tata cara methik sekar wijaya kusuma di Donan Cilacap.<br><br>Kegiatan awal yang dilakukan adalah wilujengan Negari di Sitihinggil Kraton Mataram. Kemudian tahlilan di pendopo Kabupaten Tegal. Istri Tumenggung Pranantaka menyiapkan uba rampe dan sesaji. Kebetulan istri Tumenggung Pranantaka ini pernah kursus di bagian abdi dalem Purwo Kinanthi, sehingga mengenal dengan detail tentang adat istiadat Jawa. Istri Tumenggung Pranantaka itu bernama BRA Kleting Kuning atau Raden Ayu Pucang. Sebagian menyebut Raden Ayu Brongut.<br><br>Turut memberi doa restu yakni Tumenggung Urawan Pradotonagoro dan Patih Nerangkusumo. Tumenggung Urawan pegawai kejaksaan Mataram. Patih Nerangkusumo perdana menteri kerajaan Mataram. Kedua sesepuh memimpin upacara tolak balak di Donan Cilacap. Mereka membaca dzikir bergantian. Pembacaan mantra rajah kalacakra dilakukan oleh Ki Dalang Kondho Buwono, penjelmaan Bathara Ismaya yang ngejawantah ing madyapada. Cerita ini dihayati oleh Paku Buwana II. <br><br>Khusus tata cara adat wilujengan di Donan Nusa Kambana, dhalang Kondho Buwono harus diperankan oleh titisan Sang Hyang Ismoyo atau Kyai Lurah Semar. Orang menyebut kaki Tunggul Sabdo Jati Doyo Among Rogo. Beliau sesepuh Donan yang amat ditaati oleh penguasa Nusa Kambangan.<br><br> Bersama dengan Eyang Sukmo Sejati. Kunci Sari, Putri Dana Sari Nini Dewi Tunjung <a href="https://www.halomedan.com/tag/sekar/" target="_blank">Sekar</a> Sari dan tokoh spiritual lainnya sama menjaga Gunung Srandhil. Pengikut peguron Gunung Srandhil yaitu Sunan Kuning, Pangeran Langlang Buana dan Resi Mayangkara. Gunung Srandhil juga merupakan tempat petilasan para Pembesar Pajajaran.<br><br>Mijil <br><br>Sang Patih sigra anata baris. <br><br>Nyawiji gumolong. <br><br>Dhampyak. dhampyak gumregut lampahe. <br><br>Binarung krapyak myang watang agathik. <br><br>Gumelar ngebaki. <br><br>Suraknya gumuruh.<br><br>Utusan Mataram yang dipimpin Tumenggung Pranantaka segera melaksanakan tugas. Dibantu segenap lurah, mantri, demang, wedana dan bupati Dulangmas tugas kenegaraan itu berlangsung lancar. Rakyat mendukung dengan menyediakan logistik makanan dan minuman.<br><br>Suguhan mbayu mili. Tak ketinggalan tempe, srabi, tape goreng dan mendoan. Tempe Karanganyar, srabi Wangon, tape goreng Sukaraja dan mendoan Purwokerto menjadi makanan nyamikan saat tirakatan dan lek-lekan.<br><br>Proses methik sekar wijaya kusuma di Donan Cilacap dilaksanakan pada malam Jumah Legi. Tumenggung Pranantaka dibantu oleh aneka ragam makhluk halus, yakni Barat Katiga Semarang, Guntur Geni Pekalongan, Sambang Yuda Pemalang, Buta Trenggiling Tegal, Gunting Geni Kaliwungu, Samaita Magelang, Dhadhung Awuk Kutoarjo, Padhareksa Gunung Sundara, Jolela Gunung Sumbing dan Jin Wewari Banjarnegara. Adapun jin makhluk halus yang turut menjaga keamanan yaitu Butakala Cilacap, Kalanadhah Banyumas, Penthul Gumuk Bagelen dan Baleng Ngungrung Kebumen.<br><br>Sukses besar diperoleh Tumenggung Pranantaka. Wilayah Donan Nusa Kambangan semakin harum. Tanah Tlacap atau Cilacap termashur di kalangan kejawen. <a href="https://www.halomedan.com/tag/sekar/" target="_blank">Sekar</a> wijaya kusuma segera diboyong ke Mataram Kartasura. Pada tahun 1685 Tumenggung Pranantaka dilantik menjadi patih kerajaan Mataram Kartasura. Tumenggung Pranantaka bergelar Tumenggung Raden Arya Sindurejo I. Paku Buwana II menghayati kisah leluhur. <br><br>Masyarakat Donan Cilacap menghormati Tumenggung Raden Arya Sindurejo I. Beliau dianggap pembuka awal Bumi Cilacap. Kadipaten Cilacap segera ditetapkan sebagai wilayah Kabupaten oleh Sinuwun Amangkurat Amral raja Mataram Kartasura pada tanggal 21 Maret 1678. Jasa besar Patih Sindurejo perlu dikenang. Pada tahun 1701 Patih Sindurejo lengser keprabon madeg pandito. Patih Sindurejo memilih menjadi tenaga pengajar pelatihan tata praja. Beliau wafat tahun 1703 dan dimakamkan di Astanalaya Pasareyan Agung Paremono. Dari daerah Paremono Magelang, para eksekutif tanah Jawa terbina. Trah Paku Buwana II tiap tahun hadir di daerah ini. Sekedar untuk melakukan upacara adat yang berlangsung turun tumurun. <br><br>Bagian III<br><br>PANGREKSA SEKAR WIJAYAKUSUMA DONAN<br><br>Upacara adat miwaha <a href="https://www.halomedan.com/tag/sekar/" target="_blank">Sekar</a> Wijayakusuma dilakukan para pangarsa  Donan Cilacap. Paku Buwana II membina pimpinan Donan Cilacap. Pembinaan dari Kerajaan Mataram berlangsung tertib. Pemangku adat istiadat kepercayaan di wilayah Kejawen. Agar terjadi keseimbangan. <br><br>Penguasa Donan Cilacap selalu tampil bersinar wibawa. Keselarasan jagad gumelar dan jagad gumulung tertata rapi. Paku Buwana II peduli upacara adat. Sebagai pusat kawasan Kejawen, para pemimpin bertindak tepat bijaksana. Toleran terhadap segala bentuk keberagaman.<br><br>1. Tumenggung Sindunagoro I, 1678-1710. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Amangkurat Amral, raja Mataram.<br><br>2. Tumenggung Sindunagoro II, 1710-1721. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono I, raja Mataram.<br><br>3. Tumenggung Sindunagoro III, 1721-1734. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Amangkurat Jawi, raja Mataram.<br><br>4. Tumenggung Notoyudo I, 1734-1752. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono II, raja Mataram.<br><br>5. Tumenggung Notoyudo II, 1752-1793. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono III, raja Surakarta Hadiningrat.<br><br>6. Tumenggung Notoyudo III, 1793-1814. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IV, raja Surakarta Hadiningrat.<br><br>7. Tumenggung Notoyudo IV, 1814-1822. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IV, raja Surakarta Hadiningrat.<br><br>8. Tumenggung Mondronagoro I, 1822-1829. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono V, raja Surakarta Hadiningrat.<br><br>9. Tumenggung Mondronagoro II, 1829-1847. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono VI, raja Surakarta Hadiningrat.<br><br>10. Tumenggung Tjakrawerdana I, 1847-1858. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono VII, raja Surakarta Hadiningrat.<br><br>11. Tumenggung Tjakrawerdana II, 1858-1873. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono VIII, raja Surakarta Hadiningrat.<br><br>12. Tumenggung Tjakrawerdana III, 1873-1875. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IX, raja Surakarta Hadiningrat.<br><br>13. Tumenggung Tjakrawerdana IV, 1875-1881. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IX, raja Surakarta Hadiningrat. <br><br>14. Tumenggung Tjakrawerdaya, 1881-1927.. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IX, raja Surakarta Hadiningrat.<br><br>15. Tumenggung Tjakrasewaya, 1927-1950. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono X, raja Surakarta Hadiningrat.<br><br>16. RM Soetedjo, 1950-1952. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soekarno.<br><br>17. R Witono, 1952-1954. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soekarno.<br><br>18. RM Kodri, 1954-1958. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soekarno.<br><br>19. DA Santosa, 1958-1965. Dilantik pada jaman pemerintah-an Presiden Soekarno.<br><br>20. Hadi Soetomo, 1965-1968. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soekarno.<br><br>21. HS Kartabrata, 1968-1974. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soeharto. <br><br>22. H Moekmin, 1974-1979. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soeharto.<br><br>23. Poedjono Pranyoto, 1979-1987. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soeharto.<br><br>24. H Moch Supardi, 1987-1997. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soeharto.<br><br>25. H Herry Tabri Karto, SH, 1997-2002. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soeharto.<br><br>26. H Probo Yulastoro S.Sos, 2002-2010. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Megawati.<br><br>27. Tatto Suwarto Pamudji, menjabat Bupati Cilacap tahun 2010-2020. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudoyono dan Presiden Joko Widodo.<br><br>28. Syamsul Aulia Rahman 2025 -2026. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. <br><br>29. Ammy Amalia Fatma Surya 2026 sampai sekarang. Beliau dilantik pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. <br><br>Para penguasa Donan Cilacap menghormati adat istiadat yang sudah berjalan. Mereka bisa hidup berdampingan dengan segala lapisan sosial. Termasuk dengan jaringan Kejawen.<br><br>Bagian IV<br><br>DAYA PERBAWA SEKAR WIJAYAKUSUMA<br><br>Daya perbawa <a href="https://www.halomedan.com/tag/sekar/" target="_blank">Sekar</a> Wijayakusuma ditunjukkan oleh Prabu Kresna raja negeri Dwarawati. Sunan Paku Buwana II Merawat <a href="https://www.halomedan.com/tag/sekar/" target="_blank">Sekar</a> Wijaya Kusuma. Atas saran Pangeran Wujil, Kyai Yasadipura dan Tumenggung Honggowongso kerajaan Mataram mengadakan wilujengan. Paku Buwana II berkenan hadir. <br><br><br><br>Dalam acara itu dibicarakan pula Jaringan jagade Pedhanyangan. Agar penduduk Jawa ayem tentrem. <br><br><br><br>Makhluk halus di Tanah Jawa membentuk jaringan Pedhanyangan. Mereka memiliki tugas dan kewenangan sesuai batas kewilayahan. Kekuasaan makhluk halus berpusat di Pulau Nusa Kambangan.<br><br><br><br>Paku Buwana II dengan teliti menyimak paparan pujangga Kraton. Hadir pula dalam sarasehan ini para bupati bang kulon dan bang wetan. <br><br><br><br>Dhandhanggula <br><br><br><br>Angandika alon sri bupati. <br><br>dhateng kang abdi kapedhak lama. <br><br>Ki Pranataka namane. <br><br>Heh gendhewor sireku. <br><br>Lumakua sira den aglis. <br><br>Sun utus marang Donan. <br><br><br><br>Ing masigid watu. <br><br>Iya ing Nungsa Berambang. <br><br>Angambila sekar wijayadi luwih. <br><br>Iya Jayakusuma.<br><br>Aja mulih yen ta durung olih. <br><br>Nadyan silih jambul wanen sira. <br><br>Sun upatani yen muleh.<br><br>Yen ana kang pitulung. <br><br>Dene teka gampang ing benjing. <br><br>Kembang wijayamulya. <br><br>Mring sira kapangguh. <br><br>Wotsekar Ki Pranataka. <br><br>Tur sandika ing karya datan gumingsir. <br><br>Nadyan dhumateng pejah.<br><br><br><br>Sampun lengser saking ing ngarsa ji.<br><br>Pranataka sedya marang Donan. <br><br>Anglugas raga lampahe. <br><br>Warnanen sang aprabu. <br><br>Nulya nembang tengara aglis. <br><br>Budhal saking Toyamas. <br><br>Kang wadya gumuruh. <br><br>Dhateng nagari ing Tegal. <br><br>Angentosi utusan kang mring Betawi. <br><br>Ki Arya Mandaraka.<br><br><br><br>Kawarnaa kang anglugas ragi. <br><br>Kang dinuta mring Nungsa Berambang<br><br>Ki Pranataka lampahe.<br><br>Prapta masigid watu.<br><br>Tan anyipta kalamun urip.<br><br>Amung anyipta pejah.<br><br>Raosing tyasipun.<br><br>Tan adhahar tan anendra.<br><br>Pitung dina anenedha ing Hyang Widhi.<br><br>Mugi antuka karya.<br><br><br><br>Apan sampun karsaning Hyang Widhi.<br><br>Amarengi ing dinten Jumungah.<br><br>Tengah wengi ing wayahe.<br><br>Ana katingal mancur.<br><br>Cahyanira ngebeki bumi.<br><br>Ing wite jayamulya.<br><br>Wau enggenipun.<br><br>Kang sekar jayakusuma.<br><br>Mung sarakit nulya pinethik tumuli. <br><br>Maring Ki Pranataka.<br><br><br><br>Langkung bungah<br><br>dennya antuk kardi<br><br>Pranataka sigra lampahira<br><br>Maring Toyamas jujuge. <br><br>Prapta Toyamas suwung. <br><br>Lampahira laju mring Tegil. <br><br>Ing enu tan winarna. <br><br>Ing Tegal wus rawuh. <br><br>Lajeng tumameng ngayunan. <br><br>Sampun katur sekar wijayadi luwih. <br><br>Marang sri naranata.<br><br><br><br>Pangkur<br><br><br><br>Dangu denira sineba. <br><br>Arsa junjung marang kang abdi-abdi. <br><br>Wong kadipaten sadarum. <br><br>Sami sinungan nama. <br><br>Mandaraka kang wau sampun jinunjung. <br><br>Adipati Mandaraka. <br><br>Apan kinarya pepatih.<br><br><br><br>Dene wau Pranantaka. <br><br>Wus jinunjung Sindurja ingkang nami. <br><br>Andangkara wastanipun. <br><br>Nenggih Ki Wiradigda. <br><br>Kyai Sendhi Ki Urawan wastanipun. <br><br>Ni Dhakarta wastanira. <br><br>Tumenggung Binarong nenggih.<br><br>Ingaran wong jagasura. <br><br>Angandika wau sri narapati. <br><br><br><br>Maring Arya Sindurjeku. <br><br>Heh sira ingsun duta. <br><br>Lumakua sira mring desa ing Kedhu. <br><br>Parimana ing Mataram. <br><br>Sapa ingkang angenggeni.<br><br><br><br>Sinom<br><br><br><br>Raden Arya Sindureja. <br><br>budhal saking nagri Tegil. <br><br>lawan Raden Maduretna. <br><br>gumuruh swaraning jalmi. <br><br>saupacara asri. <br><br>wong Sarageni neng ngayun. <br><br>bandera warna-warna. <br><br>wong anumbak aneng wuri. <br><br>busanane lir pendah sekar sataman.<br><br><br><br>Tan winarna solahira. <br><br>Wus lepas lampahing baris.<br><br>Ing Kaliwungu wus prapta. <br><br>Rereb sakala kang baris. <br><br>Saksana budhal enjing. <br><br>Wus ngancik telatah Kedhu. <br><br>Ki Arya Sindureja. <br><br>Ing Kathithang den anciki. <br><br>Kathah prapta sentanane Parimana.<br><br><br><br>Dhandhanggula<br><br><br><br>Si Gendhewor wastane duk alit. <br><br>Kala taksihe amanakawan. <br><br>Kala samana kinengken. <br><br>Dhateng gustine wau. <br><br>Iya kangjeng pangran dipati. <br><br>Ngandikane pangeran. <br><br>Marang kang ingutus. <br><br>Kang aran Ki Pranantaka. <br><br>Si Gendhewor sira ta lungaa aglis. <br><br>Sira menyanga donan.<br><br><br><br>Sira ngularana sekar adi. <br><br>Iya sekar Wijaya Kusuma. <br><br>Lah iku sira den oleh. <br><br>Sigra saha wotsantun. <br><br>Pranantaka saking ing ngarsi. <br><br>Sampun mangkat sadaya. <br><br>Wau kang ingutus. <br><br>Awatara pitung dina. <br><br>Kang ingutus mring Tegal bubar tumuli.<br><br>Mangkat dhateng Tetegal.<br><br><br><br>Kala jumeneng sri narapati, <br><br>Ing Rebo Epon dinane ika, <br><br>Nuju tanggal patlikure, <br><br>Ing Sura sasinipun<br><br>Taun Wawu den sangkalani, <br><br>Janma aneng gegana, <br><br>Sinayang ing ratu, <br><br>Samana Ki Pranantaka, <br><br>Kang ingutus mring Donan amundhut sari, <br><br>Praptane antuk karya.<br><br><br>Kang ingupaya angsal sarakit, <br><br>Aran sekar Wijayakusuma, <br><br>Samana wus ngaturake, <br><br>Dhumateng sang aprabu, <br><br>Langkung suka galih narpati, <br><br>Rumaos yen sih ing Hyang, <br><br>Nugraheng Hyang Luhur, <br><br>Dhawuh rumasuking nata, <br><br>Panjenengan tanah Jawa wus kapusthi. <br><br>Kagem aneng ing asta.<br><br><br>Ki Pranantaka kalangkung dening. <br><br>Kapracaya ing salampahira. <br><br>Kinulawisudha mangke. <br><br>Apan jinunjung lungguh. <br><br>Pranantaka sinung kekasih. <br><br>Jinunjung saking ngandhap. <br><br>Sumengkeng aluhur. <br><br>Aran Arya Sindureja. <br><br>Kyai Sendhi apan sinungan kekasih. <br><br>Aran Demang Urawan.<br><br>Asmaradana<br><br>Wus tetep jumeneng aji, <br><br>Sang nata sigra parentah, <br><br>Padha estrenana kabeh, <br><br>Samengko Si Mandaraka, <br><br>Ngong karya patih ingwang, <br><br>Sun junjung lungguh tumenggung, <br><br>Ki Tumenggung Mondaraka.<br><br>Kang den utus sri bupati, <br><br>Dhumateng Nungsa Kambangan, <br><br>Mundhut kang sekar wastane, <br><br>Jayakusuma wus prapta, <br><br>Sarakit kang puspita, <br><br>Lajeng kunjuk sang aprabu, <br><br>Langkung suka sri narendra.<br><br>Ngraos tuk nugraha jati, <br><br>Sihing Suksmana jenengnya, <br><br>Tanah Jawa sedayane, <br><br>Wus kagem aneng ing asta,<br><br>Suraosing wardaya, <br><br>Kyai Pranataka wau<br><br>Dhateng kanjeng sri narendra.<br><br>Langkung kapracayeng westhi, <br><br>Sang nata asru ngandika, <br><br>Si Pranataka samengke, <br><br>Ingsun junjung linggihira, <br><br>Lan sun paringi nama, <br><br>Iku arane Tumenggung, <br><br>Sindureja aranira.<br><br>Nusa Kambangan menjadi ibukota makhluk halus di Tanah Jawa. Disebut juga Nusa Kambana, Nusa Berambang, Selo Marsigit, Watu Masigit, Dhandhang Mangore. Sejak dulu Nusa Kambangan terkenal angker kepati pati, gawat kaliwat liwat. Paku Buwana II sejak tahun 1726 menempatkan Bupati Donan Cilacap sebagai pimpinan untuk merawat <a href="https://www.halomedan.com/tag/sekar/" target="_blank">Sekar</a> Wijaya Kusuma. Pusaka Karaton Surakarta Hadiningrat yang berada di daerah ini dikenal sebagai jimat yang ampuh tangguh sepuh wutuh.<br><br>Ritual tentang sekar Wijayakusuma sungguh penting. <br><br>Mahluk halus di Tanah Jawa sudah patuh kepada Wali Sanga. Sunan Kalijaga diutus Raden Patah Jimbun Sirullah Syah Alam Akbar. Raja Demak Bintara membawahi Kerajaan Mahluk halus. Atas bantuan spiritual para Wali. <a href="https://www.halomedan.com/tag/sekar/" target="_blank">Sekar</a> Wijayakusuma masih dimuliakan oleh Karaton Surakarta Hadiningrat.<br><br>Pakasa Magelang melacak <a href="https://www.halomedan.com/tag/sekar/" target="_blank">Sekar</a> Wijayakusuma pada tanggal 15 Januari 2026. Dengan sowan ke Pajimatan Paremono. Caos puji pangastuti kepada Rekyana Patih Sindurejo. Kanjeng Bagiyono beserta anggota PAKASA Magelang berdarma bakti kepada Kraton Surakarta Hadiningrat. Penobatan Paku Buwono XIV memberi harapan pada masa depan yang lebih cemerlang. <br><br>Bagian V<br><br>SEKAR WIJAYAKUSUMA KAWEDHAR<br><br>Wedharan dibicarakan oleh abdi dalem Karaton Surakarta Hadiningrat. Ndalem Wetan Trojayan  Paremono Mungkid Magelang tempat paheman rapat. Terjadi pada hari Ahad Legi, tanggal 15 Maret 202. Warga Paguyuban Kawula Karaton Surakarta Hadiningrat  atau Pakasa hendak melakukan wiwaha <a href="https://www.halomedan.com/tag/sekar/" target="_blank">Sekar</a> Wijayakusuma. <br><br>Kegiatan rapat ini dipimpin oleh KRAT Bagiyono, ketua Pakasa Magelang. Dene Pangarsa Punjer Dr KPH Wirabhumi SH membuka. Dengan memberi pengarahan tentang tata cara megepokan kalian jumenengan narendra. Yakni penobatan Sinuwun Paku Buwono XIV, sebagai raja Karaton Surakarta Hadiningrat. <br><br>Hari yang berbahagia dinanti oleh segenap abdi dalem. Dengan susunan acara yang terperinci wedharan sekar Wijayakusuma dibahas dalam acara paheman. <br><br>1.Pembukaan.<br><br>2.Sambutan tuan rumah/Ketua Pakasa Kab.Mgl.<br><br>3.sambutan pakasa punjer<br><br>4.Rapat.<br><br>5.Selamatan (wilujengan).<br><br>6.Buka bersama.<br><br>7.Penutup.<br><br>Para petugas:<br><br>1.Pembawa acara: *K.R.T Untung Hadinagoro A.Md*<br><br>2.Sambutan: *K.R.A.T Bagiyono Rumeksodiningrat A.Md*<br><br>3.Moderator: *K.R.A.T Nadar Hadinagoro*<br><br>4.Notulis: *K.R.A Mustiko Adinagoro*<br><br>5.Pemimpin Ziarah: *R.T Mantep Widyodipuro*<br><br>6.Pemimpin Do&#039;a: *K.R.T Suwardi Hadinagoro*<br><br>7.Operator: *M.A.T Winanjar Projoningtyas*<br><br>8.Kordinator seksi Konsumsi: *Dra K.M.A.T Eni Lestariningtyas*<br><br>9.Seksi dokumentasi:<br><br>● *R.R Nastiti Anindita Lukiswati S.Sn*<br><br>● *R.Ng Fahrian Dhia Ulhaq*<br><br>● *R.T Servianus Didik Murdianto Projobudoyo*<br><br>KRA : Kanjeng Raden Arya<br><br>KRAT : Kanjeng Raden Arya Tumenggung<br><br>KMAT : Kanjeng Mas Ayu Tumenggung<br><br>RT : Raden Tumenggung<br><br>MAT : Mas Ayu Tumenggung<br><br>R.R : Raden Roro<br><br>R.Ng : Raden Ngabehi<br><br>Adapun perwakilan pangarsa Pakasa cabang yang hadir lebih dari 50 orang. Yakni pangarsa Pakasa cabang dari :<br><br>1. Pakasa Klaten<br><br>2. Pakasa Ponorogo<br><br>3. Pakasa Ngawi<br><br>4. Pakasa Madiun<br><br>5. Pakasa Nganjuk<br><br>6. Pakasa Jepara<br><br>7. Pakasa Semarang<br><br>8. Pakasa Boyolali<br><br>9. Pakasa Salatiga.<br><br>10. Pakasa cilacap. <br><br>11. Pakasa Kudus<br><br>12. Pakasa Pati. <br><br>Tugas kultural ini dihayati sepenuh hati. Pakasa Magelang dipilih atas dasar faktor historis. Patih Mandaraka dan Sindurejo bertugas miwaha <a href="https://www.halomedan.com/tag/sekar/" target="_blank">Sekar</a> Wijayakusuma. Ibukota Mataram Kotagede, Karya, Plered, Kartasura dan Surakarta selalu disertai dengan <a href="https://www.halomedan.com/tag/sekar/" target="_blank">Sekar</a> Wijayakusuma dari Donan Cilacap. <br><br>Wakil dari pemerintah Kabupaten Magelang yaitu dinas Kebudayaan dan Kesbangpol. Hujan deras yang mengguyur menambah semangat kerja. GKR Wandansari selaku ketua Lembaga Dewan Adat mengikuti jalannya rapat lewat zoom. Lengkap sekali para peserta rapat persiapan. Pilihan tanggal masih dibicarakan lebih lanjut. Sesuai dengan keadaan menjelang lebaran.<br><br>Sesepuh Pakasa Magelang memberi saran syarat methik <a href="https://www.halomedan.com/tag/sekar/" target="_blank">Sekar</a> Wijayakusuma. Dengan ngirit bebek cacah 11. Sementara Pakasa Jepara hendak ngecul dara cacah 14. Lambang Sinuwun Paku Buwono XIV Hangabehi. Lantas KP Probonagoro ketua Pakasa cabang Klaten. Usia lebih dari 82 tahun tetep semangat. Lila lan legawa kanggo milyaning negara. Kebetulan Bu Suci Marheningtyas Probonagoro asli Cilacap. Tentu bisa memperlancar pusaka tanah Jawa. <br><br>Usul dari Pakasa Jepara begitu sigrak gumyak semanak. Kemampuan teknis dan operasional sungguh cepat tepat. Perijinan, birokrasi dan wilujengan diutarakan dengan rinci. Termasuk jadwal penyeberangan menuju ke Nusakambangan. Siaga untuk memenuhi gawa gawe.<br><br>Utusan Pakasa Salatiga yang dipimpin oleh Bu Retno Robby Hernawan. Istri Walikota Salatiga aktif dalam bidang sosial budaya. Pakasa Ponorogo diwakili Kanjeng Sunarso. Siap kirim seratus jiwa. Kanjeng Suyono mewakili Pakasa Ngawi. Ngalap berkah dari adat Kejawen. Kanjeng Sukoco perwakilan dari Pakasa Nganjuk. Supaya tepat dalam acara adat. Wilujengan dengan doa jangkep genep genah. <br><br>Waktu menjelang buka bersama. Rapat berjalan gancar lancar. Magelang menjadi tempat yang cocok untuk rapat. Mbak Eni Endang Lestari merupakan pelopor yang tersohor. Barisan muda mudi dibina demi pelestarian budaya bangsa.<br><br>4.<br>Teluk Penyu Wijayakusuma<br><br><br>Tata cara untuk mendapat sekar Wijayakusuma dilakukan sesuai dengan paugeran. Maka Karaton Surakarta mengutus abdi dalem Pakasa. Bermula dari tepi Teluk Penyu. Menuju Pulau Mageti. KP Bambang S Adiningrat mengawali dari pendopo Bupati Donan Cilacap. <br><br>Teluk Penyu dekat pula Nusakambangan. Kepercayaan kejawen memberi daya mistik magis. Alam memancar sinar kawibawan buat suksesi Kraton Mataram. Berlaku turun tumurun. <br><br>Upacara Majeti Nusakambana<br><br>Pulo Majeti Wijayakusuma<br><br>Kepercayaan akulturatif dihayati oleh masyarakat Jawa. Karaton Surakarta Hadiningrat. Misalnya dalam acara miwaha sekar Wijayakusuma.<br><br>Pulo Majeti penting sekali sekar Wijayakusuma  mapan ing pulo Majeti. Kahyangan Sang Hyang Wening ingkang dados paran pitakenan para dewa. Sang Hyang Wening peputra Dewi  Kanastren. Garwa  Sang Hyang Ismaya, putra Sang Hyang Wenang ing Kahyangan Alang alang Kumitir. <br><br>Dewi Kanastren  lan Sang Hyang Ismaya lajeng dedunung ing Karang Kadhempel. Ismaya peparap Kyai Lurah Semar Badranaya. Ndherek suwita panakawan Gareng Petruk  Bagong. Pamomong  para satriya tanah Jawa. <br><br>Wijayakusuma kapethik dening abdi dalem Pakasa. Hari Minggu Kliwon, 3 Mei 2026 mengulangi sejarah besar. Abdi dalem Pakasa Magelang mendapat tugas mulia dari Kraton Surakarta Hadiningrat. Bersama dengan Pakasa lain meneruskan tradisi yang berjalan turun tumurun. <br><br>Patih Sindurejo miwaha <a href="https://www.halomedan.com/tag/sekar/" target="_blank">Sekar</a> Wijayakusuma. Perdana menteri Mataram itu diutus Sinuwun Amangkurat Amral. Legitimasi untuk memperkokoh daya pangaribawa Karaton Mataram yang beribukota Kartasura. <br><br>Bertempat di pendopo Bupati Cilacap kali ini acara sakral berlanjut. Kanjeng Raden Tumenggung Bagioyono selaku ketua panitia menyusun urutan acara. <br><br>Rangkaian acara :<br>1. Jam 06.00 sholat hajat di masjid agung Darussalam<br>2. Setelah selesai sholat hajat persiapan menuju ke pendopo kabupaten kanthi ageman Jawi jangkep warni pethak<br>3. Jam 7 acara dipendopo dg diawali pengambilan sumpah tim A dilanjutkan wilujengan<br>4. Setelah selesai wilujengan dipendopo persiapan kirab seluruh pakasa ke dermaga teluk penyu.<br><br>Kanjeng Probonagoro sejak tanggal 1 Mei 2026 sudah datang di Cilacap. Naik kereta api dari Klaten bersama Bu Suci. Cek lokasi dilakukan demi lancarnya  upacara. Kebetulan Bu Suci punya rumah di dekat stasiun Cilacap. Warga Pakasa Klaten beruntung memiliki tempat transit yang strategis. Sebanyak 60 anggota turut acara pawiwahan. <br><br>Abdi dalem Pakasa Tegal hadir tanggal 2 Mei 2026. Dipimpin oleh drg Fitri Pusponagoro. Para pengiring siap dengan peralatan yang lengkap. Payung, sekar, spanduk digunakan untuk kirab. Busana adat kejawen tentu tersedia. <br><br>Ketua Parengkarta Kanjeng Wulan Setyoningsih naik kereta api dari Solo Balapan. Alumni pasinaon tata busana ini sungguh aktif. Jaringan luas siap untuk kerjasama. Tiba di Cilacap langsung disambut ketua PKBM Cilacap. Suguhan garang asem disajikan begitu turun dari Stasiun. Transit di kantor serba guna. <br><br>Rombongan Pakasa  berangkat dari Kraton Surakarta. Terdiri dari Pakasa Trenggalek, Nganjuk, Pati, Kudus, Yogyakarta, Boyolali dan Ponorogo. Diawali dengan wilujengan di smarakata. Naik bus bersama menuju pendopo kabupaten Cilacap. <br><br>Warga Pakasa Ngawi tiba bersama Kanjeng Suyono. Cek lapangan demi kelancaran. Untuk membantu Kanjeng Rudi selaku ketua Pakasa Cilacap, sekaligus sekretaris panitia. Ngayahi jejibahan ageng. <br><br>Kanjeng Bambang S Hadiningrat memang ber bandha ber bandhu. Ketua Pakasa Jepara ini didampingi oleh Mas Ayu Tumenggung Susanti Purwoningsih SE. Mahasiswi S2 bahasa daerah UNY ini turut serta kegiatan ritual di Gumelem Susukan Banjarnegara. Wilujengan di pajimatan Ki Ageng Giring. Kanjeng Bambang memimpin barisan prajurit. <br><br>Upacara pawiwahan sekar Wijayakusuma demi kokohnya peradaban. Pulo Mageti Nusakambangan Donan Cilacap tempat pawiwahan. Para peserta naik perahu. Hadir pula Gusti Putri Purnaningrum dan Bendoro Raden Ayu Lung Ayu. Keselamatan beserta dengan para pendherek. <br><br>Iring iringan bregada prajurit nguntara praja beserta dengan musik kebesaran. Dari Pendopo menuju Teluk Penyu. Upacara dipimpin oleh GKR Wandansari. GKR Putri Purnaningrum dan BRAy mandhegani rombongan ke  pulau Majeti. Guna memetik <a href="https://www.halomedan.com/tag/sekar/" target="_blank">Sekar</a> Wijayakusuma. Naik perahu dengan pengawalan dari Angkatan Laut. Lancar gancar kawentar. <br><br><br>Minggu Kliwon, 3 Mei 2026.<br>Purwadi<br><br><br>Setu Wage, 2 Mei 2026.<br>Purwadi<br>]]></content>
            <enclosure url="https://cdn.halomedan.com/uploads/images/2026/05/_1580_Sekar-Wijayakusuma-Pulo-Majeti.png" type="image/png" length="0"/>
            <link>https://www.halomedan.com/wisata/65687/sekar-wijayakusuma-pulo-majeti/</link>
            <author><![CDATA[admin]]></author>
        </item>
            <item>
            <guid isPermaLink="false">Bregada Wijayakusuma  Sekar Wijayakusuma Pulo Majeti</guid>
            <pubDate>Tue, 12 May 2026 20:34:00 +0700+0700</pubDate>
            <title><![CDATA[Bregada Wijayakusuma  Sekar Wijayakusuma Pulo Majeti]]></title>
            <description><![CDATA[ halomedan.com Bregada WijayakusumaSekar WijayakusumaPulo MajetiBagian ISEJARAH SEKAR WIJAYAKUSUMATata cara miwaha Sekar Wijayakusuma terja]]></description>
            <content><![CDATA[ <b><a href="https://www.halomedan.com">halomedan.com</a></b> -Bregada Wijayakusuma<br><br>Sekar Wijayakusuma<br>Pulo Majeti<br><br>Bagian I<br><br>SEJARAH SEKAR WIJAYAKUSUMA<br><br>Tata cara miwaha Sekar Wijayakusuma terjadi pada hari Minggu Kliwon, 3 Mei 2026. Pangageng Lembaga Dewan Adat GKR Wandansari memimpin jalannya upacara. Beserta segenap abdi dalem Karaton Surakarta Hadiningrat. <br><br>Penulusuran sekar Wijayakusuma dilakukan dengan melacak aspek historis. Sowan ke Pajimatan Rekyana Patih Sindurejo untuk ngalap berkah. PAKASA Magelang sowan ke Pajimatan Paremono pada hari Kemis Paing, 15 Januari 2026. Kanjeng Bagiyono memimpin jalannya tata cara. Memuliakan Rekyana Patih Sindurejo, tokoh Kraton Mataram yang bertugas miwaha Sekar Wijayakusuma. <br><br>Dengan busana kejawen jangkep tata cara berlangsung regeng merbawani. Ubarampe genep jangkep. Dalam rangka nyengkuyung darma bakti kepada Kraton Surakarta Hadiningrat. Terutama mangayu bagya jumenengan dalem Sinuwun Paku Buwana XIV pada hari Kamis Wage, 13 Nopember 2025. Hayu rahayu. <br><br>Sejarah Sekar Wijayakusuma berhubungan dengan berdirinya Kraton Mataram Surakarta. Tata cara berlangsung sesuai paugeran. Sinuwun<br><br>Paku Buwana II melakukan tata cara di Donan Cilacap agar selalu rahayu lestari. Donan Cilacap dijadikan tempat tata cara sebelum Paku Buwana II dilantik sebagai raja Mataram. Abdi dalem lengkap ndherek nyengkuyung. Dengan dikoordinir oleh para Bupati Bang Kulon. <br><br>Upacara adat ini dalam rangka penobatan Sri Susuhunan Paku Buwana II pada tahun 1726 di Kartasura. Agar berjalan lancar. Sembah kalbu yen lumintu dadi laku. Manggih hayu ayem tentrem kang tinemu. Daerah Donan Cilacap menyimpan kisah menarik. Makhluk halus di Tanah Jawa berhubungan dengan sistem politik Kerajaan. Dalam masyarakat Jawa ibukota makhluk halus berada di daerah Nusa Kambangan.<br><br>Secara historis perlu dilacak keberadaan makhluk halus yang berpusat di Nusa Kambangan. Kabupaten Cilacap dulunya berdiri tanggal 17 Januari 1678. Bernama Kadipaten Donan. Tempatnya di Pulau Nusa Kambangan atau Nusa Berambang. Dalam cerita tutur pedalangan Nusa Kambangan disebut Nusa Kambana, Watu Masigid, Sela Marsigid atau Dhandhang Mangore. Kawasan ini memiliki kewibawaan tinggi, wana gung liwang liwung, bebasan gawat kaliwat liwat, angker kepati pati, jalm mara jalma mati, sato mara keplayu.<br><br>Tutur tinular kang wus lumaku. Cerita wayang purwa melukiskan kahyangan Nusa Kambana atau Dhandhang Mangore begitu wingit seram. Penguasa Nungsa Berambang bergelar Sang Hyang Pramoni atau Bethari Durga. Saat bertugas sebagai permaisuri di Kahyangan Junggring Salaka bebisik Sang Hyang Bathari Uma, yang memimpin widodari cantik. Beberapa literatur kesusasteraan menamakan Bethari Durga Umayi. Karaton Surakarta Hadiningrat memberi sesebatan Sang Hyang Bathari Kalayuwati.<br><br>Catatan dari kitab babad tanah Jawi dibaca oleh Paku Buwana II. Dengan maksud mengerti situasi kebatinan. Berguna untuk momong segenap kawula dasih. Untuk menghormati raja Bidadari ini, Karaton Surakarta setiap tahun selalu menyelenggarakan upacara wilujengan negara Maesa Lawung di Alas Krendha Wahana. Kepala kerbau atau sirah maesa Kebo Bule dipendham atau ditanam dengan sesaji ubarampe lengkap. Persembahan buat Bathari Kalayuwati berwujud daging mentahan, karena wadya bala atau pasukan kahyangan Nusa Kambana terdiri dari brekasakan bersiung bertaring. Prajurit Nusa Berambang merupakan raksasa makhluk halus yang tidak kasat mripat. Kejadian ini dirasakan benar oleh Sunan Paku Buwana II. <br><br>Nungsa Berambang atau Donan Nusa Kambangan men-jadi ibukota makhluk halus yang tersebar di Tanah Jawa. Penguasa alam lelembut di tiap- tiap kabupaten harus tunduk pada perintah Sang Hyang Pramoni Durga yang berkedudukan di Watu Masigid Nusa Kambangan. Watu Masigid atau Sela Marsigid adalah istana kediaman Bathari Uma.<br><br> Pembangunan istana Sela Marsigid mirip kayangan Suralaya yang serba emas gemerlapan. Bahan bangunan istana Sela Marsigid yakni emas, intan, mutu manikam, jumerut, ratna, suwarna, mutiara warna warni. Wajar sekali karena Sang Pramoni Durga adalah mustikane putri tetunggule widodari. Sekedar untuk diketahui para makhluk halus yang menjadi bawahan Sang Hyang Pramoni Durga di Kahyangan Dhandhang Mangore atau Nungsa Berambang. Mereka adalah pemuka makhluk halus yang berkuasa atas wilayah tertentu. Misalnya Jin Balabatu di Blambangan Banyuwangi. <br><br>Buta Locaya menguasai Kediri, Sidagori di Pacitan, Klenthing Mungil di Magetan. Jin Abur Abur berada di Madiun, Macan Puguh di Purwadadi, Kala Jangga di Malang, Pilang Putih di Cepu Blora, Dhadhung Awuk di Purworejo. Jin yang tinggal di Semarang bernama Barat Ketiga. Semua pemuka makhluk halus tiap tahun sowan ke Nusa Kambangan untuk caos glondhong pengareng areng, peni peni raja peni, guru bakal guru dadi.<br><br>Adapun asisten yang bertindak sebagai carik sekretaris Sang Hyang Pramoni Durga yaitu Jin Trenggiling Wesi. Berdomisili di daerah Majenang. Segala perintah istana Watu Masigid atau Sela Marsigid pasti melalui Trenggiling Wesi Majenang. Properti istana Sela Marsigid dikelola oleh Jin Nyai Bathithing Tuban. Sedangkan busana kawidodaren untuk Sang Hyang Pramoni diurus oleh Jin Nyai Puspakati. Suguhan makanan sehari hari untuk istana Sela Marsigid Nungsa Berambang disajikan oleh Jin Nyai Roro Denok.<br><br>Demikianlah kehidupan istana Marsigid atau Watu Masigid atau kedaton Sela Marsigid. Kediaman asri milik Sang Pramoni Durga atau Bathari Uma ini berlangsung di pulau Nusa Kambangan. Orang menyebut Nungsa Berambang, Nusa Kambana, Dhandhang Mangore. Keistimewaan wilayah kabupaten Donan Tlacap ini adalah menjadi tempat tumbuhnya sekar Wijaya Kusuma. Siapa saja yang berhasil memetik sekar wijaya kusuma hidupnya akan mulia wibawa. <br><br>Bahkan keturunannya lestari pejabat, pemimpin dan penguasa Tanah Jawa. Hal itulah yang mendorong Kanjeng Sinuwun Amangkurat Amral yang memerintah kerajaan Mataram Kartasura pada tahun 1677-1703. Beliau berusaha sekuat tenaga untuk bisa memboyong sekar wijaya kusuma.<br><br>Keistimewaan kadipaten Donan teruji dalam sejarah. Orang melakukan lara lapa tapa brata. Mereka bersemedi di gunung Srandil untuk ngalap berkah pada Eyang Semar atau Kaki Tunggal Sabdo Jati Doyo Among Rogo. Laku spiritual ini selalu dilakukan oleh para bangsawan mataram secara turunt temurun. <br><br>Mataram kuat karena punya aji dan pusaka sakti. Paku Buwana II dan anak cucu tetap melestarikan tradisi. PAKASA pimpinan Kanjeng Bagiyono selalu siaga ing hati, sawega ing diri. <br><br>Bagian II<br><br>PAWIWAHAN SEKAR WIJAYAKUSUMA<br><br>Tata cara miwaha sekar Wijayakusuma berlangsung sesuai paugeran. Dari Paremono ke Donan. Sekar Wijayakusuma di Nusa Kambana winiwaha. Pakasa Magelang ngleluri tradisi Patih Sindurejo pada tanggal 15 Januari 2026. Tepat pada hari Kemis Paing malam Jumat Kliwon. <br><br>Paku Buwana II Memetik Sekar Wijaya Kusuma. <br><br>Sekar Wijaya Kusuma Mekar di Nusa Kambangan. Pada tahun 1726 saat dinobatkan menjadi raja Mataram, terlebih dulu memetik Sekar wijaya Kusuma. Sebagai pusaka sipat kandel. <br><br>Kerajaan Mataram memiliki pusaka Sekar Wijaya Kusuma. Patih Sindureja Diutus Sinuwun Amangkurat Amral Memetik Sekar Wijaya Kusuma di Kadipaten Donan Cilacap. Kegiatan ini berlanjut pada masa pemerintahan Paku Buwana II. Pembangunan Kadipaten Donan Tanah Tlacap atau Cilacap yang mahsyur sudah dirintis oleh Sinuwun Amangkurat Agung. Raja Mataram yang memerintah tahun 1645-1677 ini sangat perhatian pada wilayah Dulangmas, Kedu, Magelang, Banyumas. Kebetulan Kanjeng Ratu Wiratsari memiliki istana cabang Mataram di desa Lesmana Ajibarang Banyumas. Permaisuri raja Amangkurat Agung berjasa besar atas pengembangan Donan Tlacap sebagai kawasan spiritual. Sampai sekarang orang berdatangan ke gunung Srandhil untuk mahas ing ngasepi nedahake semedi. Paku Buwana II telah memberi contoh yang baik. <br><br>Pada tahun 1677 Sinuwun Amangkurat Amral memindahkan ibukota dari Plered ke Kartasura. Segala persiapan lahir batin dilakukan demi kejayaan Kraton Mataram. Segera Kanjeng Sinuwun Amangkurat Agung membentuk tim Panitia Pembangunan fisik kraton diserahkan kepada Pangeran Pekik Bupati Surabaya. Beliau dibantu tenaga ahli dari Sumenep dan Makasar. Proyek besar pindahan ibukota Mataram ini ditangani oleh para bupati Bang Wetan.<br><br>Bidang spiritual dijalanlan oleh Tumenggung Pranantaka. Beliau putra Patih Mandaraka III. Ditunjuknya keluarga Patih Mandaraka karena sejak dulu memiliki pusaka aji Canda Birawa. Masyarakat Jawa percaya bahwa Aji Candra Birawa dapat menaklukkan segala macam makhluk halus. Aji Canda Birawa pernah digunakan oleh raja Mandaraka, Prabu Salyapati. Ketika memimpin perang Baratayuda jaya binangun, Prabu Salya menjadi senopati agung. Pusaka aji canda birawa hanya bisa dikalahkan oleh Jamus Kalimasada atau dua kalimat syahadat. Itulah konsep iman ilmu, amal, iman Islam ikhsan, cipta rasa karsa.<br><br>Kisah ini dihayati benar oleh Paku Buwana II. Surat perintah untuk memetik sekar wijaya kusuma terbit pada tanggal 17 Januari 1678. Tumenggung Pranantaka diutus memetik sekar wijaya kusuma di Donan Nungsa Berambang tanah Tlacap. Tugas mulia dan berat itu dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Waktu itu Tumenggung Pranantaka juga menjabat sebagai Bupati Tegal tahun 1678-1680. <br><br>Dalam waktu yang bersamaan Tumenggung Pranantaka mengurusi sekolah ketrampilan tata praja di Magelang, diplomasi kenegaraan Mataram dan tata cara methik sekar wijaya kusuma di Donan Cilacap.<br><br>Kegiatan awal yang dilakukan adalah wilujengan Negari di Sitihinggil Kraton Mataram. Kemudian tahlilan di pendopo Kabupaten Tegal. Istri Tumenggung Pranantaka menyiapkan uba rampe dan sesaji. Kebetulan istri Tumenggung Pranantaka ini pernah kursus di bagian abdi dalem Purwo Kinanthi, sehingga mengenal dengan detail tentang adat istiadat Jawa. Istri Tumenggung Pranantaka itu bernama BRA Kleting Kuning atau Raden Ayu Pucang. Sebagian menyebut Raden Ayu Brongut.<br><br>Turut memberi doa restu yakni Tumenggung Urawan Pradotonagoro dan Patih Nerangkusumo. Tumenggung Urawan pegawai kejaksaan Mataram. Patih Nerangkusumo perdana menteri kerajaan Mataram. Kedua sesepuh memimpin upacara tolak balak di Donan Cilacap. Mereka membaca dzikir bergantian. Pembacaan mantra rajah kalacakra dilakukan oleh Ki Dalang Kondho Buwono, penjelmaan Bathara Ismaya yang ngejawantah ing madyapada. Cerita ini dihayati oleh Paku Buwana II. <br><br>Khusus tata cara adat wilujengan di Donan Nusa Kambana, dhalang Kondho Buwono harus diperankan oleh titisan Sang Hyang Ismoyo atau Kyai Lurah Semar. Orang menyebut kaki Tunggul Sabdo Jati Doyo Among Rogo. Beliau sesepuh Donan yang amat ditaati oleh penguasa Nusa Kambangan.<br><br> Bersama dengan Eyang Sukmo Sejati. Kunci Sari, Putri Dana Sari Nini Dewi Tunjung Sekar Sari dan tokoh spiritual lainnya sama menjaga Gunung Srandhil. Pengikut peguron Gunung Srandhil yaitu Sunan Kuning, Pangeran Langlang Buana dan Resi Mayangkara. Gunung Srandhil juga merupakan tempat petilasan para Pembesar Pajajaran.<br><br>Mijil <br><br>Sang Patih sigra anata baris. <br><br>Nyawiji gumolong. <br><br>Dhampyak. dhampyak gumregut lampahe. <br><br>Binarung krapyak myang watang agathik. <br><br>Gumelar ngebaki. <br><br>Suraknya gumuruh.<br><br>Utusan Mataram yang dipimpin Tumenggung Pranantaka segera melaksanakan tugas. Dibantu segenap lurah, mantri, demang, wedana dan bupati Dulangmas tugas kenegaraan itu berlangsung lancar. Rakyat mendukung dengan menyediakan logistik makanan dan minuman.<br><br>Suguhan mbayu mili. Tak ketinggalan tempe, srabi, tape goreng dan mendoan. Tempe Karanganyar, srabi Wangon, tape goreng Sukaraja dan mendoan Purwokerto menjadi makanan nyamikan saat tirakatan dan lek-lekan.<br><br>Proses methik sekar wijaya kusuma di Donan Cilacap dilaksanakan pada malam Jumah Legi. Tumenggung Pranantaka dibantu oleh aneka ragam makhluk halus, yakni Barat Katiga Semarang, Guntur Geni Pekalongan, Sambang Yuda Pemalang, Buta Trenggiling Tegal, Gunting Geni Kaliwungu, Samaita Magelang, Dhadhung Awuk Kutoarjo, Padhareksa Gunung Sundara, Jolela Gunung Sumbing dan Jin Wewari Banjarnegara. Adapun jin makhluk halus yang turut menjaga keamanan yaitu Butakala Cilacap, Kalanadhah Banyumas, Penthul Gumuk Bagelen dan Baleng Ngungrung Kebumen.<br><br>Sukses besar diperoleh Tumenggung Pranantaka. Wilayah Donan Nusa Kambangan semakin harum. Tanah Tlacap atau Cilacap termashur di kalangan kejawen. Sekar wijaya kusuma segera diboyong ke Mataram Kartasura. Pada tahun 1685 Tumenggung Pranantaka dilantik menjadi patih kerajaan Mataram Kartasura. Tumenggung Pranantaka bergelar Tumenggung Raden Arya Sindurejo I. Paku Buwana II menghayati kisah leluhur. <br><br>Masyarakat Donan Cilacap menghormati Tumenggung Raden Arya Sindurejo I. Beliau dianggap pembuka awal Bumi Cilacap. Kadipaten Cilacap segera ditetapkan sebagai wilayah Kabupaten oleh Sinuwun Amangkurat Amral raja Mataram Kartasura pada tanggal 21 Maret 1678. Jasa besar Patih Sindurejo perlu dikenang. Pada tahun 1701 Patih Sindurejo lengser keprabon madeg pandito. Patih Sindurejo memilih menjadi tenaga pengajar pelatihan tata praja. Beliau wafat tahun 1703 dan dimakamkan di Astanalaya Pasareyan Agung Paremono. Dari daerah Paremono Magelang, para eksekutif tanah Jawa terbina. Trah Paku Buwana II tiap tahun hadir di daerah ini. Sekedar untuk melakukan upacara adat yang berlangsung turun tumurun. <br><br>Bagian III<br><br>PANGREKSA SEKAR WIJAYAKUSUMA DONAN<br><br>Upacara adat miwaha Sekar Wijayakusuma dilakukan para pangarsa  Donan Cilacap. Paku Buwana II membina pimpinan Donan Cilacap. Pembinaan dari Kerajaan Mataram berlangsung tertib. Pemangku adat istiadat kepercayaan di wilayah Kejawen. Agar terjadi keseimbangan. <br><br>Penguasa Donan Cilacap selalu tampil bersinar wibawa. Keselarasan jagad gumelar dan jagad gumulung tertata rapi. Paku Buwana II peduli upacara adat. Sebagai pusat kawasan Kejawen, para pemimpin bertindak tepat bijaksana. Toleran terhadap segala bentuk keberagaman.<br><br>1. Tumenggung Sindunagoro I, 1678-1710. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Amangkurat Amral, raja Mataram.<br><br>2. Tumenggung Sindunagoro II, 1710-1721. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono I, raja Mataram.<br><br>3. Tumenggung Sindunagoro III, 1721-1734. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Amangkurat Jawi, raja Mataram.<br><br>4. Tumenggung Notoyudo I, 1734-1752. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono II, raja Mataram.<br><br>5. Tumenggung Notoyudo II, 1752-1793. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono III, raja Surakarta Hadiningrat.<br><br>6. Tumenggung Notoyudo III, 1793-1814. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IV, raja Surakarta Hadiningrat.<br><br>7. Tumenggung Notoyudo IV, 1814-1822. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IV, raja Surakarta Hadiningrat.<br><br>8. Tumenggung Mondronagoro I, 1822-1829. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono V, raja Surakarta Hadiningrat.<br><br>9. Tumenggung Mondronagoro II, 1829-1847. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono VI, raja Surakarta Hadiningrat.<br><br>10. Tumenggung Tjakrawerdana I, 1847-1858. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono VII, raja Surakarta Hadiningrat.<br><br>11. Tumenggung Tjakrawerdana II, 1858-1873. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono VIII, raja Surakarta Hadiningrat.<br><br>12. Tumenggung Tjakrawerdana III, 1873-1875. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IX, raja Surakarta Hadiningrat.<br><br>13. Tumenggung Tjakrawerdana IV, 1875-1881. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IX, raja Surakarta Hadiningrat. <br><br>14. Tumenggung Tjakrawerdaya, 1881-1927.. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IX, raja Surakarta Hadiningrat.<br><br>15. Tumenggung Tjakrasewaya, 1927-1950. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono X, raja Surakarta Hadiningrat.<br><br>16. RM Soetedjo, 1950-1952. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soekarno.<br><br>17. R Witono, 1952-1954. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soekarno.<br><br>18. RM Kodri, 1954-1958. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soekarno.<br><br>19. DA Santosa, 1958-1965. Dilantik pada jaman pemerintah-an Presiden Soekarno.<br><br>20. Hadi Soetomo, 1965-1968. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soekarno.<br><br>21. HS Kartabrata, 1968-1974. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soeharto. <br><br>22. H Moekmin, 1974-1979. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soeharto.<br><br>23. Poedjono Pranyoto, 1979-1987. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soeharto.<br><br>24. H Moch Supardi, 1987-1997. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soeharto.<br><br>25. H Herry Tabri Karto, SH, 1997-2002. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soeharto.<br><br>26. H Probo Yulastoro S.Sos, 2002-2010. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Megawati.<br><br>27. Tatto Suwarto Pamudji, menjabat Bupati Cilacap tahun 2010-2020. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudoyono dan Presiden Joko Widodo.<br><br>28. Syamsul Aulia Rahman 2025 -2026. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. <br><br>29. Ammy Amalia Fatma Surya 2026 sampai sekarang. Beliau dilantik pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. <br><br>Para penguasa Donan Cilacap menghormati adat istiadat yang sudah berjalan. Mereka bisa hidup berdampingan dengan segala lapisan sosial. Termasuk dengan jaringan Kejawen.<br><br>Bagian IV<br><br>DAYA PERBAWA SEKAR WIJAYAKUSUMA<br><br>Daya perbawa Sekar Wijayakusuma ditunjukkan oleh Prabu Kresna raja negeri Dwarawati. Sunan Paku Buwana II Merawat Sekar Wijaya Kusuma. Atas saran Pangeran Wujil, Kyai Yasadipura dan Tumenggung Honggowongso kerajaan Mataram mengadakan wilujengan. Paku Buwana II berkenan hadir. <br><br><br><br>Dalam acara itu dibicarakan pula Jaringan jagade Pedhanyangan. Agar penduduk Jawa ayem tentrem. <br><br><br><br>Makhluk halus di Tanah Jawa membentuk jaringan Pedhanyangan. Mereka memiliki tugas dan kewenangan sesuai batas kewilayahan. Kekuasaan makhluk halus berpusat di Pulau Nusa Kambangan.<br><br><br><br>Paku Buwana II dengan teliti menyimak paparan pujangga Kraton. Hadir pula dalam sarasehan ini para bupati bang kulon dan bang wetan. <br><br><br><br>Dhandhanggula <br><br><br><br>Angandika alon sri bupati. <br><br>dhateng kang abdi kapedhak lama. <br><br>Ki Pranataka namane. <br><br>Heh gendhewor sireku. <br><br>Lumakua sira den aglis. <br><br>Sun utus marang Donan. <br><br><br><br>Ing masigid watu. <br><br>Iya ing Nungsa Berambang. <br><br>Angambila sekar wijayadi luwih. <br><br>Iya Jayakusuma.<br><br>Aja mulih yen ta durung olih. <br><br>Nadyan silih jambul wanen sira. <br><br>Sun upatani yen muleh.<br><br>Yen ana kang pitulung. <br><br>Dene teka gampang ing benjing. <br><br>Kembang wijayamulya. <br><br>Mring sira kapangguh. <br><br>Wotsekar Ki Pranataka. <br><br>Tur sandika ing karya datan gumingsir. <br><br>Nadyan dhumateng pejah.<br><br><br><br>Sampun lengser saking ing ngarsa ji.<br><br>Pranataka sedya marang Donan. <br><br>Anglugas raga lampahe. <br><br>Warnanen sang aprabu. <br><br>Nulya nembang tengara aglis. <br><br>Budhal saking Toyamas. <br><br>Kang wadya gumuruh. <br><br>Dhateng nagari ing Tegal. <br><br>Angentosi utusan kang mring Betawi. <br><br>Ki Arya Mandaraka.<br><br><br><br>Kawarnaa kang anglugas ragi. <br><br>Kang dinuta mring Nungsa Berambang<br><br>Ki Pranataka lampahe.<br><br>Prapta masigid watu.<br><br>Tan anyipta kalamun urip.<br><br>Amung anyipta pejah.<br><br>Raosing tyasipun.<br><br>Tan adhahar tan anendra.<br><br>Pitung dina anenedha ing Hyang Widhi.<br><br>Mugi antuka karya.<br><br><br><br>Apan sampun karsaning Hyang Widhi.<br><br>Amarengi ing dinten Jumungah.<br><br>Tengah wengi ing wayahe.<br><br>Ana katingal mancur.<br><br>Cahyanira ngebeki bumi.<br><br>Ing wite jayamulya.<br><br>Wau enggenipun.<br><br>Kang sekar jayakusuma.<br><br>Mung sarakit nulya pinethik tumuli. <br><br>Maring Ki Pranataka.<br><br><br><br>Langkung bungah<br><br>dennya antuk kardi<br><br>Pranataka sigra lampahira<br><br>Maring Toyamas jujuge. <br><br>Prapta Toyamas suwung. <br><br>Lampahira laju mring Tegil. <br><br>Ing enu tan winarna. <br><br>Ing Tegal wus rawuh. <br><br>Lajeng tumameng ngayunan. <br><br>Sampun katur sekar wijayadi luwih. <br><br>Marang sri naranata.<br><br><br><br>Pangkur<br><br><br><br>Dangu denira sineba. <br><br>Arsa junjung marang kang abdi-abdi. <br><br>Wong kadipaten sadarum. <br><br>Sami sinungan nama. <br><br>Mandaraka kang wau sampun jinunjung. <br><br>Adipati Mandaraka. <br><br>Apan kinarya pepatih.<br><br><br><br>Dene wau Pranantaka. <br><br>Wus jinunjung Sindurja ingkang nami. <br><br>Andangkara wastanipun. <br><br>Nenggih Ki Wiradigda. <br><br>Kyai Sendhi Ki Urawan wastanipun. <br><br>Ni Dhakarta wastanira. <br><br>Tumenggung Binarong nenggih.<br><br>Ingaran wong jagasura. <br><br>Angandika wau sri narapati. <br><br><br><br>Maring Arya Sindurjeku. <br><br>Heh sira ingsun duta. <br><br>Lumakua sira mring desa ing Kedhu. <br><br>Parimana ing Mataram. <br><br>Sapa ingkang angenggeni.<br><br><br><br>Sinom<br><br><br><br>Raden Arya Sindureja. <br><br>budhal saking nagri Tegil. <br><br>lawan Raden Maduretna. <br><br>gumuruh swaraning jalmi. <br><br>saupacara asri. <br><br>wong Sarageni neng ngayun. <br><br>bandera warna-warna. <br><br>wong anumbak aneng wuri. <br><br>busanane lir pendah sekar sataman.<br><br><br><br>Tan winarna solahira. <br><br>Wus lepas lampahing baris.<br><br>Ing Kaliwungu wus prapta. <br><br>Rereb sakala kang baris. <br><br>Saksana budhal enjing. <br><br>Wus ngancik telatah Kedhu. <br><br>Ki Arya Sindureja. <br><br>Ing Kathithang den anciki. <br><br>Kathah prapta sentanane Parimana.<br><br><br><br>Dhandhanggula<br><br><br><br>Si Gendhewor wastane duk alit. <br><br>Kala taksihe amanakawan. <br><br>Kala samana kinengken. <br><br>Dhateng gustine wau. <br><br>Iya kangjeng pangran dipati. <br><br>Ngandikane pangeran. <br><br>Marang kang ingutus. <br><br>Kang aran Ki Pranantaka. <br><br>Si Gendhewor sira ta lungaa aglis. <br><br>Sira menyanga donan.<br><br><br><br>Sira ngularana sekar adi. <br><br>Iya sekar Wijaya Kusuma. <br><br>Lah iku sira den oleh. <br><br>Sigra saha wotsantun. <br><br>Pranantaka saking ing ngarsi. <br><br>Sampun mangkat sadaya. <br><br>Wau kang ingutus. <br><br>Awatara pitung dina. <br><br>Kang ingutus mring Tegal bubar tumuli.<br><br>Mangkat dhateng Tetegal.<br><br><br><br>Kala jumeneng sri narapati, <br><br>Ing Rebo Epon dinane ika, <br><br>Nuju tanggal patlikure, <br><br>Ing Sura sasinipun<br><br>Taun Wawu den sangkalani, <br><br>Janma aneng gegana, <br><br>Sinayang ing ratu, <br><br>Samana Ki Pranantaka, <br><br>Kang ingutus mring Donan amundhut sari, <br><br>Praptane antuk karya.<br><br><br>Kang ingupaya angsal sarakit, <br><br>Aran sekar Wijayakusuma, <br><br>Samana wus ngaturake, <br><br>Dhumateng sang aprabu, <br><br>Langkung suka galih narpati, <br><br>Rumaos yen sih ing Hyang, <br><br>Nugraheng Hyang Luhur, <br><br>Dhawuh rumasuking nata, <br><br>Panjenengan tanah Jawa wus kapusthi. <br><br>Kagem aneng ing asta.<br><br><br>Ki Pranantaka kalangkung dening. <br><br>Kapracaya ing salampahira. <br><br>Kinulawisudha mangke. <br><br>Apan jinunjung lungguh. <br><br>Pranantaka sinung kekasih. <br><br>Jinunjung saking ngandhap. <br><br>Sumengkeng aluhur. <br><br>Aran Arya Sindureja. <br><br>Kyai Sendhi apan sinungan kekasih. <br><br>Aran Demang Urawan.<br><br>Asmaradana<br><br>Wus tetep jumeneng aji, <br><br>Sang nata sigra parentah, <br><br>Padha estrenana kabeh, <br><br>Samengko Si Mandaraka, <br><br>Ngong karya patih ingwang, <br><br>Sun junjung lungguh tumenggung, <br><br>Ki Tumenggung Mondaraka.<br><br>Kang den utus sri bupati, <br><br>Dhumateng Nungsa Kambangan, <br><br>Mundhut kang sekar wastane, <br><br>Jayakusuma wus prapta, <br><br>Sarakit kang puspita, <br><br>Lajeng kunjuk sang aprabu, <br><br>Langkung suka sri narendra.<br><br>Ngraos tuk nugraha jati, <br><br>Sihing Suksmana jenengnya, <br><br>Tanah Jawa sedayane, <br><br>Wus kagem aneng ing asta,<br><br>Suraosing wardaya, <br><br>Kyai Pranataka wau<br><br>Dhateng kanjeng sri narendra.<br><br>Langkung kapracayeng westhi, <br><br>Sang nata asru ngandika, <br><br>Si Pranataka samengke, <br><br>Ingsun junjung linggihira, <br><br>Lan sun paringi nama, <br><br>Iku arane Tumenggung, <br><br>Sindureja aranira.<br><br>Nusa Kambangan menjadi ibukota makhluk halus di Tanah Jawa. Disebut juga Nusa Kambana, Nusa Berambang, Selo Marsigit, Watu Masigit, Dhandhang Mangore. Sejak dulu Nusa Kambangan terkenal angker kepati pati, gawat kaliwat liwat. Paku Buwana II sejak tahun 1726 menempatkan Bupati Donan Cilacap sebagai pimpinan untuk merawat Sekar Wijaya Kusuma. Pusaka Karaton Surakarta Hadiningrat yang berada di daerah ini dikenal sebagai jimat yang ampuh tangguh sepuh wutuh.<br><br>Ritual tentang sekar Wijayakusuma sungguh penting. <br><br>Mahluk halus di Tanah Jawa sudah patuh kepada Wali Sanga. Sunan Kalijaga diutus Raden Patah Jimbun Sirullah Syah Alam Akbar. Raja Demak Bintara membawahi Kerajaan Mahluk halus. Atas bantuan spiritual para Wali. Sekar Wijayakusuma masih dimuliakan oleh Karaton Surakarta Hadiningrat.<br><br>Pakasa Magelang melacak Sekar Wijayakusuma pada tanggal 15 Januari 2026. Dengan sowan ke Pajimatan Paremono. Caos puji pangastuti kepada Rekyana Patih Sindurejo. Kanjeng Bagiyono beserta anggota PAKASA Magelang berdarma bakti kepada Kraton Surakarta Hadiningrat. Penobatan Paku Buwono XIV memberi harapan pada masa depan yang lebih cemerlang. <br><br>Bagian V<br><br>SEKAR WIJAYAKUSUMA KAWEDHAR<br><br>Wedharan dibicarakan oleh abdi dalem Karaton Surakarta Hadiningrat. Ndalem Wetan Trojayan  Paremono Mungkid Magelang tempat paheman rapat. Terjadi pada hari Ahad Legi, tanggal 15 Maret 202. Warga Paguyuban Kawula Karaton Surakarta Hadiningrat  atau Pakasa hendak melakukan wiwaha Sekar Wijayakusuma. <br><br>Kegiatan rapat ini dipimpin oleh KRAT Bagiyono, ketua Pakasa Magelang. Dene Pangarsa Punjer Dr KPH Wirabhumi SH membuka. Dengan memberi pengarahan tentang tata cara megepokan kalian jumenengan narendra. Yakni penobatan Sinuwun Paku Buwono XIV, sebagai raja Karaton Surakarta Hadiningrat. <br><br>Hari yang berbahagia dinanti oleh segenap abdi dalem. Dengan susunan acara yang terperinci wedharan sekar Wijayakusuma dibahas dalam acara paheman. <br><br>1.Pembukaan.<br><br>2.Sambutan tuan rumah/Ketua Pakasa Kab.Mgl.<br><br>3.sambutan pakasa punjer<br><br>4.Rapat.<br><br>5.Selamatan (wilujengan).<br><br>6.Buka bersama.<br><br>7.Penutup.<br><br>Para petugas:<br><br>1.Pembawa acara: *K.R.T Untung Hadinagoro A.Md*<br><br>2.Sambutan: *K.R.A.T Bagiyono Rumeksodiningrat A.Md*<br><br>3.Moderator: *K.R.A.T Nadar Hadinagoro*<br><br>4.Notulis: *K.R.A Mustiko Adinagoro*<br><br>5.Pemimpin Ziarah: *R.T Mantep Widyodipuro*<br><br>6.Pemimpin Do&#039;a: *K.R.T Suwardi Hadinagoro*<br><br>7.Operator: *M.A.T Winanjar Projoningtyas*<br><br>8.Kordinator seksi Konsumsi: *Dra K.M.A.T Eni Lestariningtyas*<br><br>9.Seksi dokumentasi:<br><br>● *R.R Nastiti Anindita Lukiswati S.Sn*<br><br>● *R.Ng Fahrian Dhia Ulhaq*<br><br>● *R.T Servianus Didik Murdianto Projobudoyo*<br><br>KRA : Kanjeng Raden Arya<br><br>KRAT : Kanjeng Raden Arya Tumenggung<br><br>KMAT : Kanjeng Mas Ayu Tumenggung<br><br>RT : Raden Tumenggung<br><br>MAT : Mas Ayu Tumenggung<br><br>R.R : Raden Roro<br><br>R.Ng : Raden Ngabehi<br><br>Adapun perwakilan pangarsa Pakasa cabang yang hadir lebih dari 50 orang. Yakni pangarsa Pakasa cabang dari :<br><br>1. Pakasa Klaten<br><br>2. Pakasa Ponorogo<br><br>3. Pakasa Ngawi<br><br>4. Pakasa Madiun<br><br>5. Pakasa Nganjuk<br><br>6. Pakasa Jepara<br><br>7. Pakasa Semarang<br><br>8. Pakasa Boyolali<br><br>9. Pakasa Salatiga.<br><br>10. Pakasa cilacap. <br><br>11. Pakasa Kudus<br><br>12. Pakasa Pati. <br><br>Tugas kultural ini dihayati sepenuh hati. Pakasa Magelang dipilih atas dasar faktor historis. Patih Mandaraka dan Sindurejo bertugas miwaha Sekar Wijayakusuma. Ibukota Mataram Kotagede, Karya, Plered, Kartasura dan Surakarta selalu disertai dengan Sekar Wijayakusuma dari Donan Cilacap. <br><br>Wakil dari pemerintah Kabupaten Magelang yaitu dinas Kebudayaan dan Kesbangpol. Hujan deras yang mengguyur menambah semangat kerja. GKR Wandansari selaku ketua Lembaga Dewan Adat mengikuti jalannya rapat lewat zoom. Lengkap sekali para peserta rapat persiapan. Pilihan tanggal masih dibicarakan lebih lanjut. Sesuai dengan keadaan menjelang lebaran.<br><br>Sesepuh Pakasa Magelang memberi saran syarat methik Sekar Wijayakusuma. Dengan ngirit bebek cacah 11. Sementara Pakasa Jepara hendak ngecul dara cacah 14. Lambang Sinuwun Paku Buwono XIV Hangabehi. Lantas KP Probonagoro ketua Pakasa cabang Klaten. Usia lebih dari 82 tahun tetep semangat. Lila lan legawa kanggo milyaning negara. Kebetulan Bu Suci Marheningtyas Probonagoro asli Cilacap. Tentu bisa memperlancar pusaka tanah Jawa. <br><br>Usul dari Pakasa Jepara begitu sigrak gumyak semanak. Kemampuan teknis dan operasional sungguh cepat tepat. Perijinan, birokrasi dan wilujengan diutarakan dengan rinci. Termasuk jadwal penyeberangan menuju ke Nusakambangan. Siaga untuk memenuhi gawa gawe.<br><br>Utusan Pakasa Salatiga yang dipimpin oleh Bu Retno Robby Hernawan. Istri Walikota Salatiga aktif dalam bidang sosial budaya. Pakasa Ponorogo diwakili Kanjeng Sunarso. Siap kirim seratus jiwa. Kanjeng Suyono mewakili Pakasa Ngawi. Ngalap berkah dari adat Kejawen. Kanjeng Sukoco perwakilan dari Pakasa Nganjuk. Supaya tepat dalam acara adat. Wilujengan dengan doa jangkep genep genah. <br><br>Waktu menjelang buka bersama. Rapat berjalan gancar lancar. Magelang menjadi tempat yang cocok untuk rapat. Mbak Eni Endang Lestari merupakan pelopor yang tersohor. Barisan muda mudi dibina demi pelestarian budaya bangsa.<br><br>Bagian VI<br>Teluk Penyu Wijayakusuma<br><br><br>Tata cara untuk mendapat sekar Wijayakusuma dilakukan sesuai dengan paugeran. Maka Karaton Surakarta mengutus abdi dalem Pakasa. Bermula dari tepi Teluk Penyu. Menuju Pulau Mageti. KP Bambang S Adiningrat mengawali dari pendopo Bupati Donan Cilacap. <br><br>Teluk Penyu dekat pula Nusakambangan. Kepercayaan kejawen memberi daya mistik magis. Alam memancar sinar kawibawan buat suksesi Kraton Mataram. Berlaku turun tumurun. <br><br>Upacara Majeti Nusakambana<br><br>Pulo Majeti Wijayakusuma<br><br>Kepercayaan akulturatif dihayati oleh masyarakat Jawa. Karaton Surakarta Hadiningrat. Misalnya dalam acara miwaha sekar Wijayakusuma.<br><br>Pulo Majeti penting sekali sekar Wijayakusuma  mapan ing pulo Majeti. Kahyangan Sang Hyang Wening ingkang dados paran pitakenan para dewa. Sang Hyang Wening peputra Dewi  Kanastren. Garwa  Sang Hyang Ismaya, putra Sang Hyang Wenang ing Kahyangan Alang alang Kumitir. <br><br>Dewi Kanastren  lan Sang Hyang Ismaya lajeng dedunung ing Karang Kadhempel. Ismaya peparap Kyai Lurah Semar Badranaya. Ndherek suwita panakawan Gareng Petruk  Bagong. Pamomong  para satriya tanah Jawa. <br><br>Wijayakusuma kapethik dening abdi dalem Pakasa. Hari Minggu Kliwon, 3 Mei 2026 mengulangi sejarah besar. Abdi dalem Pakasa Magelang mendapat tugas mulia dari Kraton Surakarta Hadiningrat. Bersama dengan Pakasa lain meneruskan tradisi yang berjalan turun tumurun. <br><br>Patih Sindurejo miwaha Sekar Wijayakusuma. Perdana menteri Mataram itu diutus Sinuwun Amangkurat Amral. Legitimasi untuk memperkokoh daya pangaribawa Karaton Mataram yang beribukota Kartasura. <br><br>Bertempat di pendopo Bupati Cilacap kali ini acara sakral berlanjut. Kanjeng Raden Tumenggung Bagioyono selaku ketua panitia menyusun urutan acara. <br><br>Rangkaian acara :<br>1. Jam 06.00 sholat hajat di masjid agung Darussalam<br>2. Setelah selesai sholat hajat persiapan menuju ke pendopo kabupaten kanthi ageman Jawi jangkep warni pethak<br>3. Jam 7 acara dipendopo dg diawali pengambilan sumpah tim A dilanjutkan wilujengan<br>4. Setelah selesai wilujengan dipendopo persiapan kirab seluruh pakasa ke dermaga teluk penyu.<br><br>Kanjeng Probonagoro sejak tanggal 1 Mei 2026 sudah datang di Cilacap. Naik kereta api dari Klaten bersama Bu Suci. Cek lokasi dilakukan demi lancarnya  upacara. Kebetulan Bu Suci punya rumah di dekat stasiun Cilacap. Warga Pakasa Klaten beruntung memiliki tempat transit yang strategis. Sebanyak 60 anggota turut acara pawiwahan. <br><br>Abdi dalem Pakasa Tegal hadir tanggal 2 Mei 2026. Dipimpin oleh drg Fitri Pusponagoro. Para pengiring siap dengan peralatan yang lengkap. Payung, sekar, spanduk digunakan untuk kirab. Busana adat kejawen tentu tersedia. <br><br>Ketua Parengkarta Kanjeng Wulan Setyoningsih naik kereta api dari Solo Balapan. Alumni pasinaon tata busana ini sungguh aktif. Jaringan luas siap untuk kerjasama. Tiba di Cilacap langsung disambut ketua PKBM Cilacap. Suguhan garang asem disajikan begitu turun dari Stasiun. Transit di kantor serba guna. <br><br>Rombongan Pakasa  berangkat dari Kraton Surakarta. Terdiri dari Pakasa Trenggalek, Nganjuk, Pati, Kudus, Yogyakarta, Boyolali dan Ponorogo. Diawali dengan wilujengan di smarakata. Naik bus bersama menuju pendopo kabupaten Cilacap. <br><br>Warga Pakasa Ngawi tiba bersama Kanjeng Suyono. Cek lapangan demi kelancaran. Untuk membantu Kanjeng Rudi selaku ketua Pakasa Cilacap, sekaligus sekretaris panitia. Ngayahi jejibahan ageng. <br><br>Kanjeng Bambang S Hadiningrat memang ber bandha ber bandhu. Ketua Pakasa Jepara ini didampingi oleh Mas Ayu Tumenggung Susanti Purwoningsih SE. Mahasiswi S2 bahasa daerah UNY ini turut serta kegiatan ritual di Gumelem Susukan Banjarnegara. Wilujengan di pajimatan Ki Ageng Giring. Kanjeng Bambang memimpin barisan prajurit. <br><br>Upacara pawiwahan sekar Wijayakusuma demi kokohnya peradaban. Pulo Mageti Nusakambangan Donan Cilacap tempat pawiwahan. Para peserta naik perahu. Hadir pula Gusti Putri Purnaningrum dan Bendoro Raden Ayu Lung Ayu. Keselamatan beserta dengan para pendherek. <br><br>Iring iringan bregada prajurit nguntara praja beserta dengan musik kebesaran. Dari Pendopo menuju Teluk Penyu. Upacara dipimpin oleh GKR Wandansari. GKR Putri Purnaningrum dan BRAy mandhegani rombongan ke  pulau Majeti. Guna memetik Sekar Wijayakusuma. Naik perahu dengan pengawalan dari Angkatan Laut. Lancar gancar kawentar. <br><br><br>Minggu Kliwon, 3 Mei 2026.<br>Purwadi<br>]]></content>
            <enclosure url="https://cdn.halomedan.com/uploads/images/2026/05/_5576_Bregada-Wijayakusuma--Sekar-Wijayakusuma-Pulo-Majeti.png" type="image/png" length="0"/>
            <link>https://www.halomedan.com/profil/65686/bregada-wijayakusuma-sekar-wijayakusuma-pulo-majeti/</link>
            <author><![CDATA[admin]]></author>
        </item>
            <item>
            <guid isPermaLink="false">Ketahanan Pangan dari Sleman</guid>
            <pubDate>Tue, 12 May 2026 20:32:00 +0700+0700</pubDate>
            <title><![CDATA[Ketahanan Pangan dari Sleman]]></title>
            <description><![CDATA[ halomedan.com Ketahanan Pangan dari SlemanKetahanan pangan merupakan kebutuhan dasar pembangunan nasional. Kali ini ICMI Orda Sleman berus]]></description>
            <content><![CDATA[ <b><a href="https://www.halomedan.com">halomedan.com</a></b> -<a href="https://www.halomedan.com/tag/ketahanan/" target="_blank">Ketahanan</a> Pangan dari Sleman<br><br><a href="https://www.halomedan.com/tag/ketahanan/" target="_blank">Ketahanan</a> pangan merupakan kebutuhan dasar pembangunan nasional. Kali ini ICMI Orda Sleman berusaha untuk menggalakkan pangan lokal. Kegiatan berlangsung pada hari Setu Legi, 9 Mei 2027. Dengan tema<br>NASI JERUK WANGI. Pelatihan dilakukan bersama praktisi dan ibu ibu pegiat pangan lokal. <br><br>Kesadaran untuk menggerakkan ekonomi kreatif perlu digalakkan oleh pelaku di lapangan. Peluang usaha dibuka seluas luasnya. Inisiatif ini mendorong untuk terus mengaplikasikan antara pemikiran dan pelaksanaan. <br><br>Akhmad Akbar Susamto Ph,D beserta tim ICMI Orda Sleman bergerak cepat. Gagasan cemerlang ini dilakukan dalam bentuk pelatihan. Pada papan pengumuman tersiar dengan jelas. <br><br>Bidang Seni Budaya ICMI Orda Sleman. <br>Pelatihan <br>Memasak Nasi Jeruk Wangi. <br>Ketrampilan ekonomi kreatif berbasis budaya. <br>Narasumber:<br>Dra Regina Sri Susilowati Wiyono<br>Sambutan:<br>Dr Akhmad Akbar Susamto SE. <br>Ketua ICMI Sleman<br>Moderator: Adityo Jatmiko<br>Sabtu, 9 Mei 2026 jam 8 - 12.<br>Jl Kakap Raya 36 Minomartani Yogyakarta.<br><br>Ibu ibu tampak bersemangat. Sejak pagi sudah berdatangan. Mereka berperan sebagai panitia dan peserta. Menata meja kursi dan perlengkapan. <br><br>Instrumen pelatihan tersedia lengkap. Alat pelatihan terdiri dari kompos, dandang, kekep, sendok, gelas, piring, irus, kukusan. Tertata rapi. Siap untuk mbabar keterampilan.<br><br>Mbak Amel selalu cekatan membantu kelancaran. Mulai dari perlengkapan dan penataan dilakukan dengan begitu menyenangkan. Sari Indah Setiani selaku ketua panitia melaporkan kegiatan. Pak Akhmad Akbar Susamto sebagai ketua ICMI Orda Sleman memberi dukungan. Dengan moderator Adityo Jatmiko mahasiswa UGM. Mas Ical dari UNY bertindak sebagai humas. <br><br>Dra Regina Sri Susilowati Wiyono memaparkan ilmu pengetahuan dan pengalaman. Ir Wiyono alumni Fakultas Pertanian UGM angkatan 1970 turut memberi penjelasan. Daryono pegiat sosmed kelihatan sibuk melakukan dokumentasi. Partini mewakili masyarakat Kalasan membantu panitia. <br><br>ICMI Orda Sleman yang dipimpin Akhmad Akbar Susamto Ph.D makin tumangkar menyebar. <a href="https://www.halomedan.com/tag/ketahanan/" target="_blank">Ketahanan</a> demi mewujudkan kesejahteraan lahir batin. <br><br><br>Sabtu Legi, 9 Mei 2026.<br>Purwadi<br>]]></content>
            <enclosure url="https://cdn.halomedan.com/uploads/images/2026/05/_6307_Ketahanan-Pangan-dari-Sleman.png" type="image/png" length="0"/>
            <link>https://www.halomedan.com/ekbis/65685/ketahanan-pangan-dari-sleman/</link>
            <author><![CDATA[admin]]></author>
        </item>
            <item>
            <guid isPermaLink="false">Prof Dr Rukiyati M.Hum</guid>
            <pubDate>Tue, 12 May 2026 20:31:00 +0700+0700</pubDate>
            <title><![CDATA[Prof Dr Rukiyati M.Hum]]></title>
            <description><![CDATA[Prof Dr Rukiyati M.Hum1.DhandhangulaWinisuda Bu Prof Rukiyati, Bagya mulya mangka Guru Besar, Kampus Ungu ing UNY, Wanci tahun nem likur, Ta]]></description>
            <content><![CDATA[<a href="https://www.halomedan.com/tag/prof/" target="_blank">Prof</a> Dr Rukiyati M.Hum<br><br>1.<br>Dhandhangula<br><br>Winisuda Bu <a href="https://www.halomedan.com/tag/prof/" target="_blank">Prof</a> Rukiyati, <br>Bagya mulya mangka Guru Besar, <br>Kampus Ungu ing UNY, <br>Wanci tahun nem likur, <br>Tanggal rolas ing sasi Mei, <br>Ngudhar mbabar wedharan, <br>Kehing wulang wuruk,<br>Momong sagung mahasiswa, <br>Sarwa becik sanak kadang dosen tendik, <br>Peguron Karangmalang. <br><br>2.<br>Pangkur<br><br>Mersudi bidang filsafat, <br>Kontemplasi golong gilig refleksi, <br><a href="https://www.halomedan.com/tag/prof/" target="_blank">Prof</a> Rukiyati manekung, <br>Tata cara ilmiah, <br>Sistematis integral karana laku, <br>Metodologi ingarah, <br>Pemikiran komprehensif. <br><br>3.<br>Kinanthi<br><br>Plato tokoh ahli filsuf, <br>Aristoteles pamikir, <br>Socrates sang jalma limpat,<br>Mengkoni jagad sakalir, <br>Madhangi alam pikiran, <br>Mring <a href="https://www.halomedan.com/tag/prof/" target="_blank">Prof</a>esor Rukiyati. <br><br>4.<br>Pucung<br><br>Siang dalu <a href="https://www.halomedan.com/tag/prof/" target="_blank">Prof</a> Rukiyati andulu, <br>Wejangan wewarah, <br>Saking kakang mbakyu adhi,<br>Ibu bapak genep jangkep pepak jenak.<br><br>5.<br>Gambuh<br><br>Tanggap tangguh tumuwuh, <br>Kulawarga nuting para sepuh, <br>Filosofi Bu <a href="https://www.halomedan.com/tag/prof/" target="_blank">Prof</a>esor Rukiyati, <br>Sareng garwa putra putu, <br>Tekad gembleng condhong raos. <br><br>6.<br>Maskumambang<br><br>Logika etika estetika yekti, <br><a href="https://www.halomedan.com/tag/prof/" target="_blank">Prof</a> Rukiyati nggegulang, <br>Jangka jinangkah patitis, <br>Tumuli awoh kawulyan. <br><br>7.<br>Asmarandana<br><br>Cipta rasa karsa nenggih, <br>Sakjroning falsafah Jawa, <br><a href="https://www.halomedan.com/tag/prof/" target="_blank">Prof</a> Rukiyati nggatekke, <br><a href="https://www.halomedan.com/tag/prof/" target="_blank">Prof</a> Damardjati Supadjar, <br>Nalika ngesthi kawignyan, <br>Fak Filsafat Bulaksumur, <br>Perguruan Gadjah Mada. <br><br>8.<br>Megatruh<br><br>Ngangsu ngelmu linambaran temen temu, <br>Sarjana ing strata siji, <br>Lajeng magister rumuhun, <br>Bu <a href="https://www.halomedan.com/tag/prof/" target="_blank">Prof</a>esor Rukiyati, <br>Dugi nempuh program doktor. <br><br>9.<br>Mijil<br><br>Dedalane warni sewu margi, <br>Rukiyati <a href="https://www.halomedan.com/tag/prof/" target="_blank">Prof</a>esor, <br>Gumregah gumregut tekad gedhe, <br>Betah lara lapa tahan uji, <br>Pepalang sumingkir,<br>Budi teguh hayu. <br><br>10.<br>Durma<br><br>Jangkah langkah ngarah arah antuk berkah, <br><a href="https://www.halomedan.com/tag/prof/" target="_blank">Prof</a> Rukiyati ngudi, <br>Pamuji pandonga, <br>Rekadaya pakaryan, <br>Jumbuh tunggal pakarti lathi, <br>Karya mirasa, <br>Selaras guru murid. <br><br>11.<br>Sinom<br><br>Karangmalang trus ngumandhang, <br>Guru Besar Rukiyati, <br>Ing pidato pengukuhan, <br>Sineksenan dosen tendik, <br>Rektor sinartan wakil, <br>Dekan pangarsa direktur, <br>Tumangkar gya ngrembaka, <br>Mangambar sumerbak wangi, <br>Bakti darma kemajuan nusa bangsa. <br><br><br>Selasa Wage, 12 Mei 2026,<br>Purwadi<br>]]></content>
            <enclosure url="https://cdn.halomedan.com/uploads/images/2026/05/_7414_Prof-Dr-Rukiyati-M-Hum.png" type="image/png" length="0"/>
            <link>https://www.halomedan.com/info/65684/prof-dr-rukiyati-mhum/</link>
            <author><![CDATA[admin]]></author>
        </item>
            <item>
            <guid isPermaLink="false">Mahasiswa Demo di Mapoldasu dan Kantor BNN Sumut, Desak Penutupan THM Kapten America</guid>
            <pubDate>Tue, 12 May 2026 16:40:00 +0700+0700</pubDate>
            <title><![CDATA[Mahasiswa Demo di Mapoldasu dan Kantor BNN Sumut, Desak Penutupan THM Kapten America]]></title>
            <description><![CDATA[Mahasiswa Demo di Mapoldasu dan Kantor BNN Sumut, Desak Penutupan THM Kapten America]]></description>
            <content><![CDATA[<br><br><br>Medan&mdash; Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Pembela Rakyat Kecil Sumatera Utara (AMPERAKSU) menggelar aksi unjuk rasa di dua titik, yakni di depan Markas Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Mapoldasu) dan kantor Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sumatera Utara, Selasa (11/5).<br>Dalam aksinya, massa menyuarakan keprihatinan terhadap maraknya peredaran narkoba di Sumatera Utara yang dinilai semakin mengkhawatirkan. Mereka bahkan menyebut kondisi ini sebagai &quot;darurat narkoba&quot;.<br>Koordinator aksi, Rian Lubis, dalam orasinya menyoroti keberadaan tempat hiburan malam (THM) Kapten America di Kabupaten Serdang Bedagai yang diduga menjadi lokasi peredaran narkoba. Ia menyebut, berdasarkan penggerebekan sebelumnya, sejumlah pengunjung tempat tersebut dinyatakan positif narkoba.<br>&quot;Ini menunjukkan bahwa peredaran narkoba masih terjadi secara terang-terangan dan diduga kurang mendapat pengawasan ketat,&quot; ujar Rian.<br>Selain itu, massa aksi juga menyampaikan dugaan adanya keterlibatan oknum aparat yang dinilai membuat tempat tersebut tetap beroperasi. Mereka mendesak aparat penegak hukum untuk bertindak tegas dan transparan dalam menangani persoalan tersebut.<br>Dalam tuntutannya, AMPERAKSU meminta:<br>Pemerintah Provinsi Sumatera Utara bersama BNN segera menutup permanen THM Kapten America.<br>Polda Sumut mengusut dugaan keterlibatan oknum aparat.<br>Evaluasi kinerja aparat di wilayah Serdang Bedagai, termasuk Kapolres dan Kepala BNN setempat.<br>Aksi di dua lokasi tersebut berlangsung dengan pengawalan aparat keamanan. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi baik dari Polda Sumatera Utara maupun BNNP Sumatera Utara terkait tuntutan yang disampaikan massa.<br>Mahasiswa menegaskan akan terus mengawal isu ini hingga ada langkah konkret dari pihak berwenang.red<br>]]></content>
            <enclosure url="https://cdn.halomedan.com/uploads/images/2026/05/_6701_Mahasiswa-Demo-di-Mapoldasu-dan-Kantor-BNN-Sumut--Desak-Penutupan-THM-Kapten-America.png" type="image/png" length="0"/>
            <link>https://www.halomedan.com/news/65683/mahasiswa-demo-di-mapoldasu-dan-kantor-bnn-sumut-desak-penutupan-thm-kapten-america/</link>
            <author><![CDATA[admin]]></author>
        </item>
            <item>
            <guid isPermaLink="false">PTPN 1 Regional 1 Dukung Kejuaraan Voli U-15 Se-Sumut</guid>
            <pubDate>Tue, 12 May 2026 12:20:00 +0700+0700</pubDate>
            <title><![CDATA[PTPN 1 Regional 1 Dukung Kejuaraan Voli U-15 Se-Sumut]]></title>
            <description><![CDATA[Tanjung Morawa  Halomedan.comPTPN 1 Regional 1 melalui Humas Rahmat Kurniawan menyatakan dukungan penuh terhadap pelaksanaan Kejuaraan Voli]]></description>
            <content><![CDATA[Tanjung Morawa | Halomedan.com</p><br>PTPN 1 Regional 1 melalui Humas Rahmat Kurniawan menyatakan dukungan penuh terhadap pelaksanaan Kejuaraan Voli U-15 se-Sumatera Utara tingkat provinsi. Dukungan tersebut dinilai sebagai bentuk nyata kepedulian perusahaan dalam pembinaan generasi muda, khususnya atlet bola voli di Sumut.<br><br>Hal itu disampaikan Rahmat Kurniawan saat menerima audiensi pengurus MAVI Sumut yang dipimpin Paryono selaku Wakil Ketua Umum Korwil MAVI Sumut, didampingi Wakil Ketua Panitia Pelaksana Rianto SH MH, Senin (12/5/2024).<br><br>&quot;Ini adalah kegiatan pembinaan generasi muda, khususnya atlet voli Sumut, yang dilaksanakan oleh para mantan atlet voli Sumut,&quot; ujar Rahmat.<br><br>Menurutnya, pembinaan olahraga sejak usia dini sangat penting untuk mencetak atlet-atlet berprestasi yang nantinya mampu membawa nama baik Sumatera Utara di tingkat nasional maupun internasional.<br><br>Sementara itu, Paryono menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas dukungan yang diberikan oleh PTPN 1 Regional 1 terhadap pelaksanaan kejuaraan tersebut.<br><br>&quot;Ini merupakan bukti nyata kepedulian seluruh jajaran direksi dan pimpinan PTPN 1 Regional 1 terhadap pembinaan olahraga, khususnya bola voli di Sumatera Utara,&quot; ujar Paryono yang akrab disapa Yono.<br><br>Kejuaraan Voli U-15 se-Sumut ini diharapkan menjadi ajang lahirnya bibit-bibit atlet potensial sekaligus mempererat silaturahmi antarpecinta olahraga voli di Sumatera Utara.red</p>]]></content>
            <enclosure url="https://cdn.halomedan.com/uploads/images/2026/05/_2122_PTPN-1-Regional-1-Dukung-Kejuaraan-Voli-U-15-Se-Sumut.png" type="image/png" length="0"/>
            <link>https://www.halomedan.com/news/65682/ptpn-1-regional-1-dukung-kejuaraan-voli-u15-sesumut/</link>
            <author><![CDATA[admin]]></author>
        </item>
            <item>
            <guid isPermaLink="false">Ketika 320 WNA Mengelola Judi Online di Jakarta: Alarm Kedaulatan Negara</guid>
            <pubDate>Tue, 12 May 2026 11:42:00 +0700+0700</pubDate>
            <title><![CDATA[Ketika 320 WNA Mengelola Judi Online di Jakarta: Alarm Kedaulatan Negara]]></title>
            <description><![CDATA[Ketika 320 WNA Mengelola Judi Online di Jakarta Alarm Kedaulatan Negara]]></description>
            <content><![CDATA[<br><br>Oleh: Abdullah Rasyid<br>Staf Khusus Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan<br>Mahasiswa Doktoral Ilmu Pemerintahan IPDN<br><br>Penggerebekan jaringan judi online internasional yang melibatkan 320 warga negara asing (WNA) di kawasan Hayam Wuruk, Jakarta, bukan sekadar berita kriminal biasa. Ia adalah alarm keras tentang bagaimana wajah ancaman terhadap negara telah berubah.<br><br>Dulu, ancaman negara identik dengan invasi militer, penyusupan senjata, atau perang terbuka. Kini, ancaman hadir dalam bentuk yang lebih senyap: server, laptop, visa, apartemen sewaan, rekening digital, dan jaringan internet lintas negara.<br><br>Di tengah hiruk-pikuk Jakarta, ratusan WNA ternyata mampu membangun &quot;pabrik judi online&quot; yang diduga mengoperasikan puluhan situs digital secara sistematis. Mereka bekerja dalam ruang tertutup, hidup dalam komunitas eksklusif, bergerak nyaris tanpa interaksi sosial dengan masyarakat sekitar. Namun dampaknya mengalir ke seluruh Indonesia: menghancurkan ekonomi keluarga, menciptakan kecanduan digital, hingga memicu kebocoran devisa dan pencucian uang lintas negara.<br><br>Pertanyaan paling mendasar tentu muncul: bagaimana ratusan WNA bisa masuk, tinggal, dan menjalankan aktivitas ilegal secara terorganisasi di pusat ibu kota?<br><br>Jawabannya kemungkinan pahit: ada celah dalam sistem pengawasan yang dimanfaatkan secara sistematis.<br><br>Kasus ini memperlihatkan bahwa ancaman keimigrasian modern tidak lagi hanya soal orang asing overstay atau pelanggaran administrasi biasa. Kini, imigrasi berada di garis depan pertarungan kedaulatan digital dan ekonomi nasional.<br><br>Bisa jadi sebagian dari mereka masuk menggunakan visa wisata, visa bisnis, atau sponsor tertentu yang kemudian disalahgunakan. Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan bahkan telah menegaskan adanya dugaan pemalsuan sponsor visa dan membuka kemungkinan pemidanaan terhadap pihak penjamin yang terlibat.<br><br>Di sinilah persoalan menjadi serius. Sebab sistem sponsor dalam keimigrasian sejatinya dibangun atas dasar tanggung jawab hukum. Ketika sponsor berubah menjadi &quot;jasa masuk&quot; bagi operasi ilegal transnasional, maka yang sedang dipertaruhkan bukan hanya aturan administrasi, tetapi integritas negara.<br><br>Indonesia tampaknya mulai dibaca sebagai pasar besar sekaligus basis operasi yang potensial bagi jaringan judi online internasional. Populasi digital yang besar, tingginya pengguna internet, serta besarnya perputaran uang di sektor ilegal membuat Indonesia menjadi target empuk.<br><br>Dalam perspektif geopolitik modern, kontrol terhadap arus manusia dan arus data adalah bagian dari kekuatan negara. Negara yang tidak mampu mengawasi siapa yang masuk, bekerja, dan menjalankan aktivitas digital di wilayahnya perlahan akan kehilangan kontrol atas ruang kedaulatannya sendiri.<br><br>Inilah mengapa persoalan judi online tidak bisa lagi dibaca semata-mata sebagai isu moral atau kriminal biasa. Ia sudah berkembang menjadi ancaman keamanan nasional nonmiliter.<br><br>Bayangkan ironi ini: di saat negara sedang mendorong transformasi digital, ekonomi kreatif, dan hilirisasi teknologi sebagai bagian dari Asta Cita Presiden Prabowo, justru ruang digital Indonesia disusupi oleh industri ilegal transnasional yang memanfaatkan teknologi untuk merusak masyarakat.<br><br>Judi online bekerja seperti perusahaan modern. Ada operator, tim pemasaran, pengelola transaksi, customer service, hingga pengatur algoritma digital. Mereka berpindah server dengan cepat, menggunakan rekening nominee, memanfaatkan cryptocurrency, dan bekerja lintas yurisdiksi negara.<br><br>Karena itu, pendekatan penanganannya juga tidak bisa konvensional.<br><br>Indonesia membutuhkan lompatan besar dalam sistem pengawasan keimigrasian dan keamanan digital. Pengawasan visa tidak cukup berhenti di pintu masuk bandara. Negara harus mulai membangun integrasi intelijen antara data imigrasi, transaksi keuangan, aktivitas digital, hingga pengawasan hunian dan kawasan bisnis.<br><br>Di era kecerdasan buatan (AI), profiling risiko WNA berbasis big data sudah bukan pilihan, melainkan kebutuhan. Negara harus mampu mendeteksi pola-pola mencurigakan sejak awal: kedatangan dalam jumlah besar, sponsor berulang, aktivitas ekonomi tidak wajar, hingga pola tinggal tertutup dalam satu lokasi tertentu.<br><br>Di titik inilah negara, khususnya Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, perlu melakukan transformasi pengawasan secara lebih agresif dan modern.<br><br>Pertama, memperkuat selective policy keimigrasian berbasis risiko. Indonesia harus semakin selektif terhadap WNA yang masuk, terutama dari sektor-sektor dan pola perjalanan yang memiliki potensi penyalahgunaan tinggi. Visa tidak boleh lagi dipandang sekadar dokumen administratif, tetapi instrumen keamanan nasional.<br><br>Kedua, membangun sistem integrated immigration intelligence. Data perlintasan, sponsor, tempat tinggal, aktivitas ekonomi, hingga pola digital perlu diintegrasikan dengan Polri, PPATK, Komdigi, BIN, pemerintah daerah, dan lembaga terkait lainnya. Negara modern tidak bisa bekerja dalam pola sektoral yang terpisah-pisah.<br><br>Ketiga, memperketat pengawasan sponsor dan penjamin WNA. Selama ini sponsor sering dipandang formalitas administratif. Padahal sponsor adalah pintu utama masuknya orang asing. Karena itu, sponsor fiktif, perusahaan cangkang, maupun pihak yang terbukti memfasilitasi aktivitas ilegal harus dikenakan sanksi pidana dan blacklist secara tegas.<br><br>Keempat, memperkuat pengawasan wilayah urban dan hunian vertikal. Banyak operasi kejahatan digital modern kini menggunakan apartemen, ruko, atau kantor tertutup sebagai basis operasi. Karena itu, pengawasan keimigrasian tidak cukup hanya di bandara dan pelabuhan, tetapi juga harus bergerak ke pusat-pusat ekonomi digital perkotaan.<br><br>Kelima, mempercepat penggunaan AI dan big data dalam pengawasan keimigrasian. Dunia kejahatan sudah menggunakan teknologi tinggi. Negara tidak bisa lagi bekerja dengan pola manual. Sistem analitik harus mampu membaca anomali: misalnya kedatangan WNA dalam jumlah besar dengan sponsor yang sama, pola tinggal tertutup, atau aktivitas digital dan transaksi mencurigakan.<br><br>Keenam, memperkuat operasi gabungan lintas lembaga secara berkala. Judi online adalah kejahatan multidimensi. Karena itu, penanganannya tidak bisa hanya dibebankan kepada satu institusi. Dibutuhkan model whole of government approach yang terintegrasi dan berkelanjutan.<br><br>Lebih jauh lagi, kasus Hayam Wuruk menunjukkan bahwa perang melawan judi online pada hakikatnya adalah perang menjaga kedaulatan negara.<br><br>Kedaulatan hari ini bukan hanya soal menjaga batas laut dan daratan, tetapi juga menjaga ruang digital nasional dari infiltrasi ekonomi ilegal global.<br><br>Karena jika negara lengah, maka kota-kota besar kita perlahan bisa berubah menjadi basis operasi kejahatan transnasional yang bekerja diam-diam di balik layar laptop dan koneksi internet.<br><br>Dan ketika itu terjadi, yang dipertaruhkan bukan hanya hukum, tetapi masa depan kedaulatan Indonesia sendiri.]]></content>
            <enclosure url="https://cdn.halomedan.com/uploads/images/2026/05/_7722_Ketika-320-WNA-Mengelola-Judi-Online-di-Jakarta--Alarm-Kedaulatan-Negara.png" type="image/png" length="0"/>
            <link>https://www.halomedan.com/news/65681/ketika-320-wna-mengelola-judi-online-di-jakarta-alarm-kedaulatan-negara/</link>
            <author><![CDATA[admin]]></author>
        </item>
            <item>
            <guid isPermaLink="false">Ideologi Pembangunan Prabowo Jawaban untuk Kegelisahan di &ldquo;Paradoks Indonesia&rdquo;</guid>
            <pubDate>Tue, 12 May 2026 11:39:00 +0700+0700</pubDate>
            <title><![CDATA[Ideologi Pembangunan Prabowo Jawaban untuk Kegelisahan di “Paradoks Indonesia”]]></title>
            <description><![CDATA[Ideologi Pembangunan Prabowo Jawaban untuk Kegelisahan di &ldquoParadoks Indonesia&rdquo]]></description>
            <content><![CDATA[<br>SURABAYA &ndash;  Kebijakan yang diambil pemerintah saat ini bukanlah langkah sporadis, melainkan sebuah manifestasi dari ideologi pembangunan <a href="https://www.halomedan.com/tag/prabowo/" target="_blank">Prabowo</a> Subianto yang berakar kuat pada kesadaran akan realisme politik global dan keinginan membangun kedaulatan ekonomi.<br><br>Hal itu disampaikan Direktur Geopolitik GREAT Institute, Dr. Teguh Santosa, dalam &quot;Pelatihan Digital Creator dan Program Magang Komunikasi Pembangunan 2026&quot; yang diselenggarakan Nexus Digital Strategy di Suites Hotel Surabaya, Senin, 11 Mei 2026.<br><br>Teguh menjelaskan bahwa &quot;ideologi pembangunan&quot; ini lahir sebagai jawaban konkret atas kegelisahan yang dituangkan <a href="https://www.halomedan.com/tag/prabowo/" target="_blank">Prabowo</a> dalam bukunya &quot;Paradoks Indonesia&quot;. Untuk membedah struktur pemikiran tersebut, Teguh menggunakan tiga karya monumental sebagai pisau analisis, yakni &quot;Politics among Nations&quot; karya Hans J. Morgenthau, &quot;The Tragedy of Great Power Politics&quot; karya John J. Mearsheimer, dan &quot;Breakout Nations&quot; karya Ruchir Sharma.<br><br>Menurut Teguh yang juga mengajar Hubungan Internasional di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, pondasi pertama pembangunan Indonesia saat ini berpijak pada kesadaran akan anarkisme dunia internasional. Mengutip Morgenthau, ia menyebut tidak ada otoritas tertinggi di dunia yang bisa memaksakan aturan kepada negara berkuasa. Hal ini memaksa Indonesia untuk memprioritaskan keamanan dan kepentingan nasional di atas segalanya melalui sistem self-help yang mandiri.<br><br>Sementara dalam perspektif realisme ofensif yang dikembangkan Mearsheimer, mantan Wakil Rektor Universitas Bung Karno (UBK) ini menggarisbawahi kenyataan bahwa sistem internasional memaksa negara untuk terus mengejar kekuasaan demi kelangsungan hidup. <br><br>&quot;Dunia cenderung bergerak dari tatanan liberal menuju anarki. Oleh karena itu, <a href="https://www.halomedan.com/tag/prabowo/" target="_blank">Prabowo</a> melakukan pergeseran paradigma dari ekonomi liberal yang digerakkan pasar (market-driven) menjadi ekonomi yang berbasis intervensi negara atau state-driven,&quot; tegasnya.<br><br>Lebih lanjut, Teguh memaparkan apa yang disebutnya sebagai doktrin dasar bahwa keamanan suara negara adalah situasi di mana pertahanannya lebih besar daripada ancaman yang dihadapi. Kesadaran akan hal ini, membuat Indonesia di era <a href="https://www.halomedan.com/tag/prabowo/" target="_blank">Prabowo</a> terlibat aktif menjaga keamanan di kawasan dan arena internasional. Ini yang disebut sebagai inclusive security, yang kata kuncinya adalah partisipasi dan keterlibatan.<br><br>Indonesia di era <a href="https://www.halomedan.com/tag/prabowo/" target="_blank">Prabowo</a> juga mengembangkan prinsip active neutrality, di mana netralitas dan ketidakberpihakan adalah pilihan yang diambil berdasarkan kalkulasi kepentingan nasional. Bukan karena tekanan pihak lain.<br><br>Warisan &quot;Soemitronomics&quot;<br><br>Sementara untuk bisa melesat menjadi negara dengan kekuatan dan reputasi yang diperhitungkan, menggunakan kacamata dalam &quot;Breakout Nations&quot;, Teguh menekankan empat syarat utama, yakni stabilitas politik, pemanfaatan demografi produktif, kebijakan ekonomi pragmatis, dan keberanian memutus ketergantungan pada komoditas mentah.<br><br>Menariknya, ideologi pembangunan <a href="https://www.halomedan.com/tag/prabowo/" target="_blank">Prabowo</a> ini juga membawa nafas &quot;Soemitronomics&quot;, warisan pemikiran begawan ekonomi Soemitro Djojohadikusumo yang merupakan ayah <a href="https://www.halomedan.com/tag/prabowo/" target="_blank">Prabowo</a>. Teguh menyebut implementasi hilirisasi, Trilogi Pembangunan, hingga pembentukan daya dukung finansial melalui BPI Danantara  adalah langkah yang diambil untuk memperkuat struktur ekonomi nasional melalui industrialisasi yang masif.<br><br>Teguh juga menyinggung sisi sosialisme demokrasi dalam pemikiran <a href="https://www.halomedan.com/tag/prabowo/" target="_blank">Prabowo</a>. Berbeda dengan Marxisme-Leninisme yang otoriter, konsep ini menekankan manajemen perekonomian nasional secara mandiri melalui koperasi yang dikembangkan dalam sistem demokrasi.<br><br>&quot;Tujuannya adalah menghapus praktik kapitalisme yang merugikan dan mewujudkan masyarakat adil melalui cara-cara demokratis, di mana pekerja memiliki akses terhadap alat produksi,&quot; jelasnya.<br><br>Strategi &quot;opening up&quot; atau membuka pintu juga diterapkan pemerintahan <a href="https://www.halomedan.com/tag/prabowo/" target="_blank">Prabowo</a> dengan semangat pragmatisme &quot;kucing hitam-putih&quot; ala Deng Xiaoping di Tiongkok. Indonesia, katanya, terbuka terhadap modal dan teknologi asing, namun tetap fokus pada modernisasi empat sektor kunci, yakni pertanian, industri, pertahanan, serta ilmu pengetahuan dan teknologi.<br><br>Dalam tataran praktis, Teguh menyoroti sejumlah program yang sedang dikerjakan pemerintah. Teguh menekankan bahwa modal manusia adalah aset terpenting.<br><br>&quot;Tanpa rakyat yang sehat dan terdidik, bonus demografi hanya menjadi beban. Inilah mengapa program Sekolah Rakyat dan akses pendidikan gratis bagi keluarga miskin menjadi pilar yang tidak bisa ditawar,&quot; tambah Teguh.<br><br>Teguh juga membela program Makan Bergizi Gratis sebagai investasi produktivitas jangka panjang. Menurutnya, anak-anak yang bebas dari stunting hari ini adalah tenaga kerja cerdas dan sehat yang akan menggerakkan ekonomi Indonesia setidaknya dalam 20 tahun mendatang. Ini adalah langkah preventif untuk memastikan keberlanjutan bangsa.<br><br>Di sektor ekonomi kerakyatan, pembentukan Koperasi Merah Putih disebut sebagai mekanisme desentralisasi kekuasaan ekonomi. Teguh berpendapat bahwa koperasi yang dikelola dengan baik dapat mencegah akumulasi kekayaan pada segelintir elite atau oligarki yang selama ini sering membajak ruang pengelolaan sumber daya alam.<br><br>Di sisi lain, Teguh juga memberikan catatan kritis bahwa ujian serius pemerintah terletak pada penegakan hukum, termasuk penertiban pelanggaran lingkungan oleh kelompok oligarki.<br><br>Dia juga mengatakan, dalam berbagai referensi disebutkan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan stagnasi ekonomi adalah keterlambatan lambat dalam melakukan transisi energi. Terkait isu kedaulatan energi, Teguh optimis Indonesia memiliki peluang besar melalui Energi Baru Terbarukan (EBT) seperti panas bumi, tenaga surya, dan bioenergi dari CPO. Baginya, EBT bukan sekadar isu lingkungan, melainkan soal kedaulatan nasional agar Indonesia tidak lagi bergantung pada pasokan energi luar negeri yang fluktuatif.<br><br>Menutup seminarnya, Dr. Teguh Santosa mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berpartisipasi luas dalam pembangunan. Ia menegaskan bahwa kemauan untuk melepaskan diri dari stagnasi ekonomi membutuhkan sinergi antara kebijakan negara yang kuat dan dukungan rakyat yang aktif. <br><br>&quot;Ideologi pembangunan ini adalah peta jalan menuju Indonesia yang kuat, mandiri, dan bermartabat di panggung global,&quot; pungkasnya. []<br><br><br><br><br><br>Buatkan berita 15 paragraph  dari pernyataan Direktur Geopolitik GREAT Institute, Dr. Teguh Santosa, dalam sebuah seminar di Surabaya, Senin, 11 Mei 2026. <br><br>Materi yang dibawa Dr.  Teguh berjudul &quot;Ideologi Pembangunan <a href="https://www.halomedan.com/tag/prabowo/" target="_blank">Prabowo</a> Subianto&quot;. Untuk membedah ideologi pembangunan <a href="https://www.halomedan.com/tag/prabowo/" target="_blank">Prabowo</a>, Teguh menggunakan tiga buku sebagai pisau analisis, yakni &quot;Politics among Nations&quot; karya Hans J. Morgenthau, &quot;The Tragedy of Great Power Politics&quot; karya John J. Mearsheimer, dan &quot;Breakout Nations&quot; karya Ruchir Sharma. <br><br>Teguh mengatakan, ideologi pembangunan <a href="https://www.halomedan.com/tag/prabowo/" target="_blank">Prabowo</a> dikembangkan <a href="https://www.halomedan.com/tag/prabowo/" target="_blank">Prabowo</a> untuk menjawab berbagai persoalan dan pertanyaan dalam buku &quot;Paradoks Indonesia&quot; yang ditulisnya.<br><br><br>Anarkisme Dunia Internasional<br>&bull;Ketiadaan Otoritas Tertinggi: Tidak ada lembaga yang dapat memaksakan aturan kepada negara-negara, bahkan kepada negara yang paling berkuasa sekalipun.<br>&bull;Setiap negara memprioritaskan keamanan dan kepentingannya sendiri, menciptakan lingkungan mandiri (self-help system).<br><br><br>Realisme Ofensif <br>&bull;Struktur sistem internasional yang anarkis memaksa negara-negara besar untuk terus mengejar kekuasaan demi kelangsungan hidup mereka. <br>&bull;Negara tidak akan pernah merasa cukup aman dan akan selalu berusaha menjadi hegemon regional sekaligus mencegah munculnya pesaing di wilayah lain. <br>&bull;Realisme ofensif: dunia cenderung bergerak dari tatanan liberal menuju anarki di mana setiap negara hanya memikirkan kepentingan nasionalnya.<br>&bull;<a href="https://www.halomedan.com/tag/prabowo/" target="_blank">Prabowo</a> melakukan pergeseran cara pandang (paradigm shift) dari ekonomi liberal yang berbasis mekanisme pasar bebas (market-driven), menjadi ekonomi komando perang yang berbasis intervensi negara (state-driven).<br><br>Key Words<br>&bull;Si vis pacem para bellum<br>&bull;Thucydides&#039; Trap<br>&bull;Security = Defence &gt; Threat: doktrin dasar<br>&bull;Inclusive Security: pentingnya partisipasi <br>&bull;Active Neutrality: merangkul tanpa berpihak<br>&bull;Good Neighbour <br><br>&quot;Breakout&quot;<br>Pertumbuhan yang berkelanjutan lahir dari:<br>1.kombinasi politik yang stabil, <br>2.demografi produktif, <br>3.kebijakan ekonomi pragmatis, dan <br>4.kemauan memutus ketergantungan pada komoditas.<br><br>Warisan Soemitronomics<br>&bull;Program Benteng (1950-1957).<br>&bull;Industrialisasi/Hilirisasi<br>&bull;Trilogi Pembangunan: Pertumbuhan Ekonomi, Pemerataan Pembangunan, Stabilitas nasional<br>&bull;Sovereign Wealth Fund, pengelolaan cadangan negara (Khazanah Nasional Berhad &amp; BPI Danantara)<br>&bull;Koperasi Tani dan Koperasi Pegawai<br><br>Sosialisme Demokrasi<br>&bull;Ekonomi sosialis: alat produksi dimiliki secara sosial, dijalankan melalui pemerintahan demokratis.<br>&bull;Menghapus kapitalisme dan mewujudkan masyarakat sosialis melalui cara-cara demokratis.<br>&bull;Pekerja mengelola alat produksi (skema koperasi pekerja).<br>&bull;Menekankan manajemen mandiri (self-management) dan demokrasi dalam institusi ekonomi.<br>&bull;Dikontraskan dengan Marxisme-Leninisme yang otoriter.<br><br>Opening Up<br>&bull;Penerimaan Modal dan Teknologi Asing (Pintu Terbuka)<br>&bull;Pragmatisme &quot;Kucing Hitam-Putih&quot;<br>&bull;Desentralisasi dan Reformasi Pasar<br>&bull;&quot;Sosialisme dengan Karakteristik Tiongkok&quot;<br>&bull;Modernisasi Empat Sektor: pertanian, industri, pertahanan nasional, serta ilmu pengetahuan dan teknologi.<br>&bull;Down to Earth<br>&bull;Negara yang terjebak dalam &quot;middle income trap&quot; biasanya terlalu bergantung pada sumber kekayaan tanpa hilirisasi. <br>&bull;Modal manusia bagaimanapun adalah yang terpenting. Tanpa rakyat yang sehat dan terdidik, bonus demografi hanya menjadi beban, bukan kekuatan.<br>&bull;<br>&bull;Sekolah Rakyat menyediakan akses pendidikan gratis bagi anak dari keluarga miskin.<br>&bull;Kemampuan negaramelepaskan diri dari stagnasi ekonomi membutuhkan partisipasi luas masyarakat.<br>&bull;Makan Bergizi Gratis adalah investasi produktivitas. Anak yang tidak stunting, yang mendapat gizi cukup, adalah tenaga kerja yang lebih sehat dan lebih cerdas pada 20 tahun ke depan. <br>&bull;<br>&bull;<br>&bull;Koperasi Merah Putih. Koperasi adalah mekanisme untuk mendesentralisasi kekuasaan ekonomi. Jika berjalan baik, ia bisa mencegah akumulasi kekayaan yang mematikan persaingan sehat.<br>&bull;Korupsi dan pembajakan ruang pengelolaan sumber daya oleh kelompok elite adalah pembunuh pertumbuhan yang efektif. <br>&bull;<br>&bull;<br>&bull;Penertiban pelanggaran lingkungan oleh oligarki menjadi ujian serius lainnya.<br>&bull;Negara yang terjebak pada stagnasi ekonomi biasanya lambat dalam transisi energi. <br>&bull;Indonesia punya peluang besar dengan energi baru terbarukan (EBT): panas bumi, tenaga surya, bioenergi dari CPO. Bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga soal kedaulatan energi.<br><br>]]></content>
            <enclosure url="https://cdn.halomedan.com/uploads/images/2026/05/_9842_Ideologi-Pembangunan-Prabowo-Jawaban-untuk-Kegelisahan-di--ldquo-Paradoks-Indonesia-rdquo-.png" type="image/png" length="0"/>
            <link>https://www.halomedan.com/news/65680/ideologi-pembangunan-prabowo-jawaban-untuk-kegelisahan-di-ldquoparadoks-indonesiardquo/</link>
            <author><![CDATA[admin]]></author>
        </item>
        </channel>
</rss>