Jumat, 24 Juli 2026

JAM PMII Kecam Manuver Nusron Wahid dan KH Zulfa: "Jangan Jadikan Sumut Arena Transaksi Politik!"

Administrator
Jumat, 24 Juli 2026 09:02 WIB
JAM PMII Kecam Manuver Nusron Wahid dan KH Zulfa: "Jangan Jadikan Sumut Arena Transaksi Politik!"
​MEDAN — Gelombang gejolak internal di tubuh Nahdlatul Ulama (NU) menjelang Muktamar mendatang kian meluas dan menyita perhatian publik. Konflik dan tarik-menarik pengaruh kekuasaan yang semula berpusat di tingkat elit PBNU kini dinilai telah merembet ke daerah, memicu polarisasi di tingkat akar rumput dan memperkeruh konsolidasi organisasi, khususnya di wilayah Sumatera Utara (Sumut).

​Sorotan tajam warga Nahdliyin kini tertuju pada manuver politik Menteri ATR/BPN, Nusron Wahid, serta KH Zulfa Mustofa. Keduanya dinilai aktif melakukan penggalangan kekuatan internal di Sumut, seperti rangkaian pertemuan di Deli Serdang hingga Tobasa pada pertengahan Juli 2026, yang dinilai tidak berhubungan dengan agenda resmi kementerian maupun kebutuhan kelembagaan organisasi yang transparan.

Baca Juga:
​Sejumlah elemen warga NU mengkritik rekam jejak Nusron Wahid yang dianggap sering tampil sebagai "pendekar musiman" di ajang-ajang besar seperti Muktamar NU, Kongres Ansor, hingga Kongres PMII. Nusron disinyalir kerap memainkan peran di belakang layar demi mengamankan transaksi dan posisi politik personal, tanpa mengindahkan kemaslahatan jangka panjang warga Nahdliyin.

​Langkah gerilya politik tersebut kini membintangi dinamika di Sumatera Utara. Kehadiran dan konsolidasi yang melibatkan jajaran Pengurus Cabang (PCNU) tanpa koordinasi utuh dengan jajaran struktural Pengurus Wilayah NU (PWNU) Sumut, di mana Ketua dan Sekretaris Tanfidziyah berjalan sendiri-sendiri.

​Kondisi ini memicu reaksi keras dari kalangan aktivis muda NU. Koordinator Nasional Jaringan Alumni Muda Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Hasan Basyri Simanjuntak, menyayangkan panggung keagamaan dan keummatan NU yang terus-menerus dijadikan arena bargaining politik praktis oleh oknum elite.

​"Kita sangat menyayangkan jika panggung keagamaan dan keummatan NU terus-menerus dijadikan arena bargaining politik personal oleh oknum elite tertentu. Kehadiran figur-figur pusat di daerah yang seharusnya membawa pencerahan dan kesejukan, justru disinyalir membawa residu konflik internal ke wilayah-wilayah seperti Sumatera Utara," tegas Hasan Basyri.

​"Sebagai kader muda NU dan alumni PMII, kami menegaskan bahwa jam'iyah ini didirikan untuk kemaslahatan umat, bukan panggung manuver musiman demi memburu jabatan Ketum maupun posisi tawar politik. Kami meminta KH Zulfa Mustofa dan Sahabat Nusron Wahid untuk berjiwa besar, menghentikan langkah-langkah yang memicu polarisasi di daerah, serta menghormati mekanisme konstitusi organisasi secara utuh. Jangan sampai ambisi elite mengorbankan solidaritas warga Nahdliyin di bawah," pungkasnya.

​Sejumlah pihak menilai, jika manuver penggalangan kekuatan tanpa mengindahkan tata krama ber-NU ini terus dibiarkan, marwah PBNU akan semakin tergerus di mata masyarakat umum. Kader muda dan warga Nahdliyin mendesak para elite untuk membuang ambisi pribadi, menghentikan langkah-langkah yang memicu faksionalisasi, serta mengembalikan NU pada khittah kepemimpinan yang sejuk, guyub, dan berorientasi penuh pada kemaslahatan umat. Tegasnya.rel

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Administrator
Sumber
:
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Jelang Muktamar NU ke-35, KORNAS JAM PMII Singgung Dugaan Manuver Kepemimpinan di PBNU

Jelang Muktamar NU ke-35, KORNAS JAM PMII Singgung Dugaan Manuver Kepemimpinan di PBNU

NAHDLATUL ULAMA DI PERSIMPANGAN ABAD KEDUA : Konflik Struktural PBNU dan Bayang-Bayang Khittah 1926

NAHDLATUL ULAMA DI PERSIMPANGAN ABAD KEDUA : Konflik Struktural PBNU dan Bayang-Bayang Khittah 1926

KETUM PB PENDAWA HADIRI HALAL BIHALAL PB NU BERSAMA PWNU SUMUT/ACEH

KETUM PB PENDAWA HADIRI HALAL BIHALAL PB NU BERSAMA PWNU SUMUT/ACEH

Komentar
Berita Terbaru