MEDAN — Sigar atau cerutu selama ini lebih dikenal sebagai bagian dari gaya hidup kalangan tertentu. Aroma khas, cita rasa yang beragam, serta cara menikmatinya yang membutuhkan waktu membuat sigar memiliki karakter berbeda dibandingkan rokok pada umumnya.
Namun, di balik asap yang perlahan mengepul, terdapat sisi lain yang menarik. Bagi sebagian kalangan, sigar tidak sekadar untuk dinikmati, tetapi juga menjadi bagian dari seni pergaulan dan komunikasi sosial.
Dalam sebuah pertemuan bisnis, misalnya, sigar dapat menjadi pembuka percakapan. Suasana yang semula formal bisa berubah lebih cair ketika dua orang duduk bersama, menikmati sigar dan berbincang tanpa batasan agenda yang terlalu kaku.
Percakapan mengenai pekerjaan pun dapat berkembang menjadi pembahasan pengalaman, keluarga, hobi hingga berbagai persoalan yang membangun pemahaman personal antarpihak.
Di titik inilah sigar tidak lagi sekadar menjadi benda yang dinikmati, melainkan medium yang menciptakan ruang komunikasi.
Sigar memang kerap dikaitkan dengan kelas sosial tertentu. Harga dan eksklusivitas sejumlah jenis sigar turut membentuk persepsi tersebut. Tetapi dalam konteks komunikasi, nilai terpentingnya bukan semata-mata terletak pada mahal atau tidaknya sebuah sigar.
Yang lebih penting adalah pengalaman yang dibangun ketika sigar dinikmati bersama. Ada waktu yang diberikan, percakapan yang berlangsung, serta perhatian kepada orang yang menjadi teman berbincang.
Dalam hubungan profesional, hal-hal sederhana semacam itu dapat meninggalkan kesan yang lebih kuat dibandingkan pertemuan formal yang berlangsung singkat.
Karena itu, sigar dapat berfungsi sebagai bahasa simbolik dalam pergaulan. Ia menjadi penanda suasana, membuka ruang interaksi dan menciptakan kesempatan untuk mengenal seseorang lebih jauh.
Anto Genk dan Perkenalannya dengan Dunia Sigar
Pendekatan komunikasi melalui sigar belum banyak digunakan komunitas jurnalis sebagai bagian dari aktivitas membangun jejaring.
Di Sumatera Utara, salah satu jurnalis yang konsisten menekuni dunia sigar adalah Rianto, SH, MH, atau yang akrab disapa Anto Genk, CEO Sumut24 Group sekaligus Ketua JMSI Pengda Sumut.
Perkenalannya dengan sigar bermula pada 2024. Saat itu, Anto Genk diperkenalkan dengan sigar oleh Ketua Umum JMSI, Dr. Teguh Santosa, di sela kegiatan JMSI.
Ia mengaku, pada awalnya mencoba sigar bukan karena dirinya seorang perokok aktif, melainkan sebagai bentuk penghormatan kepada sang ketua.
"Awalnya hanya menghargai ketua, karena saya tidak perokok aktif. Saya coba sigar itu meskipun tidak mendalami rasanya," kenang Anto Genk.
Ketertarikan tersebut kemudian berkembang. Seorang teman yang merupakan tokoh penting di Sumatera Utara kembali memperkenalkannya dengan berbagai jenis sigar.
Dari sana, Anto mulai mengenal karakter, aroma dan cita rasa berbagai sigar, termasuk sigar asal Kuba.
"Sejak itu saya pun kerap mencari sigar berkualitas, mulai dari sigar lokal hingga di luar Sumatera dan Indonesia," ujarnya.
Bagi Anto Genk, ketertarikan terhadap sigar pada akhirnya berkembang menjadi bagian dari pergaulan.
Menurutnya, terdapat pengalaman sosial yang berbeda ketika komunikasi dibangun dalam suasana santai sambil menikmati sigar. Pertemuan tidak selalu harus diawali pembicaraan bisnis atau pekerjaan.
Justru dari percakapan ringan itulah sering kali muncul pembicaraan yang lebih mendalam.
Sigar menjadi medium, sementara komunikasi tetap menjadi tujuan.
Membangun Kepercayaan Lewat Percakapan
Dalam konteks hubungan profesional, pola komunikasi semacam ini dapat membantu memperluas jaringan, membangun kedekatan, serta menciptakan ruang untuk saling memahami karakter dan kepentingan masing-masing.
Suasana yang lebih santai juga memungkinkan percakapan berlangsung lebih natural dan personal. Interaksi yang dilakukan secara berulang kemudian berpotensi memperkuat kedekatan dan membangun hubungan yang lebih berkelanjutan.
Jika dilakukan secara konsisten, tujuannya bukan sekadar membangun hubungan dalam satu pertemuan.
Lebih jauh, komunikasi informal dapat menjadi bagian dari upaya membangun kepercayaan dan jejaring jangka panjang.
Dalam dunia bisnis, hubungan yang kuat tidak selalu lahir dari meja rapat. Sebagian justru tumbuh dari percakapan informal, pertemuan yang berulang, dan kesempatan untuk saling mengenal di luar kepentingan pekerjaan.
Begitu pula dalam dunia jurnalistik.
Networking tidak hanya dibutuhkan untuk mendapatkan informasi, tetapi juga untuk memahami karakter narasumber, membangun akses komunikasi dan membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak.
Namun, kedekatan tersebut tetap harus berjalan beriringan dengan profesionalisme dan independensi jurnalistik.
Pada akhirnya, sigar hanyalah alat komunikasi sosial. Manusialah yang menentukan ke mana komunikasi itu diarahkan.rel