JAKARTA — Sebuah foto yang menampilkan sejumlah kader Partai
Golkar yang kini menduduki posisi menteri dapat dibaca sebagai gambaran perubahan komposisi elite partai berlambang pohon beringin itu. Di bawah kepemimpinan Bahlil Lahadalia, sejumlah kader yang meniti karier dari bawah kini mendapat tempat di lingkaran kekuasaan nasional.
Nama-nama seperti Muhammad Sarmuji, Wihaji, Maman Abdurrahman hingga Meutya Hafid memiliki perjalanan politik yang tidak identik dengan dinasti politik lama
Golkar.
Sarmuji, misalnya, sebelum menjadi Menteri Perindustrian pada Oktober 2026, merupakan tenaga ahli Fraksi
Golkar di DPR. Ia kemudian menjadi anggota DPR selama tiga periode dan menjabat Sekretaris Jenderal Partai
Golkar sejak 2024. Rekam jejaknya juga panjang di organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan, termasuk HMI, AMPI dan AMPG.
Wihaji memiliki perjalanan yang serupa. Ia mengawali karier politik sebagai staf ahli anggota DPR dari Partai
Golkar. Ia sempat gagal dalam Pemilu 2014 sebelum kemudian terpilih sebagai Bupati Batang dan akhirnya dipercaya menjadi Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN dalam Kabinet Merah Putih.
Sementara itu, Maman Abdurrahman datang dari jalur profesional dan organisasi. Setelah berkarier di sektor minyak dan gas, ia aktif di Partai
Golkar dan pernah menjadi tenaga ahli Kementerian Sosial pada 2018. Ia kemudian menjadi anggota DPR melalui mekanisme pergantian antarwaktu dan terpilih kembali pada Pemilu berikutnya sebelum dipercaya menjadi Menteri UMKM.
Ada pula Meutya Hafid. Sebelum masuk politik, ia dikenal sebagai jurnalis Metro TV. Jalan politiknya juga tidak langsung mulus. Ia gagal dalam pencalonan anggota DPR pada 2009 dan kemudian kalah dalam Pilkada Binjai 2010 sebagai calon wakil wali kota mendampingi Dhani Setiawan Isma. Setelah itu, ia justru masuk DPR melalui mekanisme PAW pada 2010 dan kemudian terpilih dalam tiga pemilu berikutnya. Kini ia menjadi Menteri Komunikasi dan Digital.
Rangkaian perjalanan tersebut memperlihatkan munculnya generasi kader
Golkar dengan latar belakang yang berbeda dari sebagian elite partai pada masa sebelumnya.
Dari dinasti menuju meritokrasi?
Golkar merupakan partai yang memiliki sejarah panjang dan berkelindan dengan kekuasaan sejak era Orde Baru. Karena sejarah tersebut, pembicaraan mengenai jejaring elite, keluarga politik dan kesinambungan antargenerasi selalu menjadi bagian dari dinamika internal partai.
Dalam konteks itu, komposisi elite
Golkar hari ini menarik untuk diperhatikan.
Nama keluarga seperti Bakrie, Laksono, Kalla, Isman, Hartanto, hingga Kartasasmita pernah menjadi bagian dari sejarah panjang elite
Golkar dan politik nasional. Namun, kemunculan sejumlah kader baru menunjukkan bahwa nama keluarga bukan satu-satunya jalur menuju posisi strategis di partai maupun pemerintahan.
Airlangga Hartarto menjadi salah satu figur yang masih memiliki hubungan langsung dengan elite Orde Baru. Ia merupakan putra Hartarto Sastrosoenarto, Menteri Perindustrian pada era pemerintahan Soeharto. Airlangga sendiri kemudian membangun karier politiknya sebagai anggota DPR, Menteri Perindustrian, Ketua Umum
Golkar, dan kini Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.
Namun, keberadaan Airlangga sekaligus memperlihatkan bahwa
Golkar hari ini tidak sepenuhnya meninggalkan generasi lama. Yang berubah adalah komposisinya: semakin banyak kader yang berasal dari jalur organisasi, profesional, legislatif dan politik akar rumput yang memperoleh akses ke posisi puncak.
Bahlil dan wajah baru
GolkarDi titik inilah kepemimpinan Bahlil Lahadalia menarik untuk dilihat.
Bahlil sendiri bukan produk dinasti politik Orde Baru. Ia membangun karier dari organisasi kepemudaan dan dunia usaha sebelum masuk ke pemerintahan. Kini, sebagai Ketua Umum
Golkar sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, ia memimpin partai yang secara historis memiliki banyak figur yang lahir dari lingkungan elite lama.
Pilihan untuk memberi ruang kepada kader seperti Sarmuji, Wihaji, Maman dan Meutya dapat dibaca sebagai upaya memperlebar jalur kaderisasi
Golkar.
Bukan berarti seluruh kader tersebut datang dari latar belakang yang sama atau sepenuhnya tanpa jejaring politik. Mereka masing-masing memiliki pengalaman organisasi, legislatif dan pemerintahan yang panjang. Tetapi perjalanan mereka menunjukkan bahwa posisi strategis tidak semata-mata ditentukan oleh nama keluarga.
Dalam perspektif ini,
Golkar di bawah Bahlil sedang memperlihatkan wajah yang berbeda: kaderisasi berdasarkan perjalanan politik dan pengalaman organisasi semakin terlihat berdampingan dengan warisan elite lama.
Tidak ada lagi anggapan bahwa nama belakang tertentu otomatis membuat seorang kader lebih istimewa.
Bagi partai setua
Golkar, perubahan semacam ini penting dicermati. Sebab, keberlangsungan sebuah partai tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mempertahankan jaringan kekuasaan lama, tetapi juga oleh kemampuan membuka jalan bagi generasi yang datang dari bawah.
Foto tersebut, dengan demikian, bukan sekadar dokumentasi sejumlah menteri dari Partai
Golkar. Ia dapat dibaca sebagai simbol perubahan generasi di tubuh partai: dari politik yang lekat dengan warisan keluarga menuju politik yang semakin memberi ruang bagi kader yang membangun kariernya melalui proses panjang di organisasi, parlemen dan pemerintahan.
Apakah ini menandai berakhirnya pengaruh "darah biru" di
Golkar? Belum tentu.red