Kamis, 30 Juli 2026

Anak-Anak Bertahan di Atas Puing Bencana, Negara Datang Terlambat?

Administrator
Senin, 15 Desember 2025 11:17 WIB
Anak-Anak Bertahan di Atas Puing Bencana, Negara Datang Terlambat?
Istimewa

Aceh - Seorang anak kecil berjalan tertatih di atas batang kayu dan lumpur sisa bencana. Tubuhnya kotor, langkahnya ragu. Di sekelilingnya, rumah-rumah warga lenyap tersapu bencana alam. Ironisnya, di tengah kehancuran itu, sebuah masjid masih berdiri kokoh—seolah menjadi satu-satunya penopang harapan di tengah absennya perlindungan nyata dari negara.

Bencana ini kembali memperlihatkan pola lama yang terus berulang: alam rusak, rakyat jadi korban, dan penanganan datang setelah semuanya terlambat. Anak-anak, kelompok paling rentan, dipaksa menghadapi trauma tanpa jaminan pemulihan yang jelas. Mereka tidak hanya kehilangan rumah, tetapi juga rasa aman dan masa depan.

Hingga saat ini, warga terdampak mengeluhkan minimnya kehadiran negara dalam penanganan pascabencana. Distribusi bantuan dinilai lamban, pendataan korban tidak transparan, dan upaya mitigasi hampir tidak pernah dilakukan sebelum bencana terjadi. Padahal, kawasan ini disebut-sebut telah lama masuk zona rawan banjir dan longsor.

Bencana bukan semata musibah alam. Kerusakan lingkungan, alih fungsi lahan, pembalakan liar, serta buruknya tata kelola wilayah menjadi faktor yang patut dipertanyakan. Namun, nyaris tidak ada pihak yang dimintai pertanggungjawaban atas kerusakan yang berujung petaka bagi warga.

Masjid yang tetap berdiri di tengah puing menjadi simbol ironi: iman rakyat lebih kokoh daripada sistem perlindungan negara. Ketika rumah hancur dan anak-anak melangkah di atas sisa kehidupan mereka, yang hadir justru solidaritas warga, bukan negara yang seharusnya paling bertanggung jawab.

Foto ini bukan sekadar dokumentasi bencana, melainkan cermin kegagalan kebijakan. Selama penanganan bencana masih bersifat reaktif dan bukan pencegahan, selama kerusakan lingkungan dibiarkan tanpa penegakan hukum, maka anak-anak akan terus menjadi saksi sekaligus korban dari kelalaian yang sama.

Bencana boleh disebut takdir, tetapi penderitaan yang berulang adalah akibat dari pembiaran.red

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Administrator
Sumber
:
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Laskar Panglima Nanggroe Ajak Masyarakat Dukung Polri Berantas Korupsi dan TPPU

Laskar Panglima Nanggroe Ajak Masyarakat Dukung Polri Berantas Korupsi dan TPPU

APDESI Aceh Tegaskan Dukungan terhadap Polri dalam Menjaga Marwah Penegakan Hukum

APDESI Aceh Tegaskan Dukungan terhadap Polri dalam Menjaga Marwah Penegakan Hukum

SAPA: Kapolda Baru Harus Tuntaskan Dugaan Korupsi Beasiswa, PON dan Aceh Hebat

SAPA: Kapolda Baru Harus Tuntaskan Dugaan Korupsi Beasiswa, PON dan Aceh Hebat

OC dan SC Musda III SPS Aceh Resmi Terbentuk, Persiapan Musyawarah Daerah Mulai Dimatangkan

OC dan SC Musda III SPS Aceh Resmi Terbentuk, Persiapan Musyawarah Daerah Mulai Dimatangkan

Salihin Desak Menteri PU Copot Kepala BPJN Aceh

Salihin Desak Menteri PU Copot Kepala BPJN Aceh

Pemerintah Lanjutkan Program Magang dan Vokasi pada Semester II Tahun 2026

Pemerintah Lanjutkan Program Magang dan Vokasi pada Semester II Tahun 2026

Komentar
Berita Terbaru