JAKARTA — Komite Sepak Bola Mini Indonesia (KSMI) memperkuat jajaran pengurus pusat dengan menunjuk Adhannie Anggoro sebagai Sekretaris Jenderal. Penunjukan oleh Ketua Umum KSMI Yan Mulia Abidin itu berlangsung ketika organisasi tersebut tengah mempersiapkan tim nasional untuk menjalani debut di Piala Dunia Sepak Bola Mini 2026 di Antalya, Turki, 1–6 November.
Adhannie sebelumnya menjabat Wakil Ketua Umum Bidang Pemain dan Klub Pengurus Pusat KSMI untuk masa bakti 2025–2029. Peralihan tugas tersebut menempatkannya pada posisi strategis untuk menghubungkan pembinaan pemain dan klub dengan pengelolaan organisasi secara lebih luas.
Ia bukan orang baru dalam ekosistem olahraga. Adhannie memiliki pengalaman sebagai atlet, pernah mengelola klub futsal profesional pada periode 2012–2014, dan menekuni karate hingga menyandang sabuk hitam DAN 5 di lingkungan Institut Karate-Do Nasional (Inkanas). Ia juga berkecimpung dalam bisnis teknologi olahraga melalui PT Real Sport Indonesia.
Perpaduan pengalaman sebagai atlet, pengelola klub, dan pelaku usaha teknologi olahraga menjadi modal yang relevan bagi Adhannie dalam menjalankan fungsi kesekretariatan KSMI. Tugasnya tidak hanya berkaitan dengan administrasi kepengurusan, tetapi juga koordinasi program, pengembangan kompetisi, serta penguatan hubungan antara pengurus, klub, dan para pemangku kepentingan olahraga.
Baca Juga:
Pengalaman Adhannie di bidang teknologi olahraga juga memiliki dimensi tersendiri. PT Real Sport Indonesia, perusahaan yang dipimpinnya, bergerak di bidang teknologi informasi olahraga dan pernah mendukung penyelenggaraan sejumlah ajang besar, antara lain Pekan Olahraga Nasional 2016 dan 2021, SEA Games 2011 di Jakarta, serta Asian Games 2018 di Jakarta.
Keterlibatan dalam penyelenggaraan ajang multievent tersebut berkaitan dengan kebutuhan pengelolaan informasi dan dukungan teknologi dalam kompetisi olahraga. Pengalaman itu berpotensi menjadi bekal untuk mendorong pengelolaan pertandingan sepak bola mini yang lebih tertata, termasuk dalam aspek administrasi kompetisi, pendataan pemain, dan penyebaran informasi.
Meski demikian, tantangan yang dihadapi KSMI tidak berhenti pada pemanfaatan teknologi. Organisasi juga perlu membangun sistem pembinaan yang berkesinambungan, memperkuat klub di daerah, dan memastikan kompetisi berlangsung secara teratur. Teknologi akan memberikan manfaat optimal apabila didukung tata kelola yang jelas serta sumber daya manusia yang memadai.
Dalam olahraga, hubungan antara pembinaan dan kompetisi menentukan kesempatan pemain untuk berkembang. Klub menjadi salah satu fondasi pembentukan pemain, sedangkan kompetisi menyediakan ruang untuk menguji kemampuan dan menjaga konsistensi performa. Pengalaman Adhannie di bidang pemain dan klub dapat menjadi bekal untuk memperkuat keterhubungan kedua aspek tersebut.
Pengalamannya sebagai karateka juga memberinya perspektif dari sisi atlet. Disiplin, konsistensi latihan, dan kesiapan menghadapi pertandingan merupakan unsur yang dibutuhkan dalam pembinaan olahraga. Namun, penerapan pengalaman tersebut ke dalam program KSMI tetap memerlukan pendekatan yang sesuai dengan karakter sepak bola mini.
Menguatkan Organisasi, Menyiapkan Prestasi
Penunjukan Adhannie berlangsung pada momentum penting bagi sepak bola mini Indonesia. Tim nasional dijadwalkan tampil untuk pertama kalinya di IMF World Cup Minifootball Antalya 2026 pada 1–6 November. Keikutsertaan ini menjadi kesempatan untuk mengukur kemampuan pemain Indonesia dalam persaingan internasional sekaligus memperkenalkan sepak bola mini nasional kepada khalayak yang lebih luas.
Persiapan menuju kejuaraan tersebut tidak hanya menyangkut pematangan taktik dan kondisi fisik pemain. Kesiapan administrasi, koordinasi tim, serta dukungan operasional juga menentukan kelancaran partisipasi Indonesia. Dalam konteks itu, sekretaris jenderal berperan mengoordinasikan pelaksanaan program dan memastikan keputusan organisasi diterjemahkan menjadi langkah kerja yang terarah.
Dengan latar belakang sebagai atlet, pengelola klub futsal, dan pengusaha teknologi olahraga, Adhannie membawa pengalaman dari beberapa sisi ekosistem olahraga. Tantangannya adalah mengintegrasikan pengalaman tersebut ke dalam kebutuhan organisasi, tanpa mengabaikan prinsip tata kelola, transparansi, dan kesinambungan pembinaan.
Pada akhirnya, keberhasilan pergantian sekretaris jenderal tidak cukup diukur dari perubahan susunan pengurus. Ukuran yang lebih penting adalah kemampuan organisasi memperbaiki koordinasi, memperluas kesempatan pembinaan, dan membangun kompetisi yang memberikan jalur perkembangan bagi para pemain.
Debut di Piala Dunia Sepak Bola Mini 2026 menjadi salah satu ujian awal bagi KSMI. Sementara performa tim nasional akan dinilai di lapangan, kemampuan organisasi memanfaatkan momentum tersebut akan menentukan seberapa jauh pengalaman internasional dapat menjadi pijakan bagi perkembangan sepak bola mini Indonesia dalam jangka panjang