Oleh : H Syahrir Nasution
Praktik politik dinasti kembali menjadi sorotan. Pengamat politik H. Syahrir Nasution SE MM menegaskan, tidak semestinya ada tempat bagi politik dinasti dalam negara demokrasi yang benar-benar menjalankan kekuasaan berdasarkan kehendak rakyat.
Menurut Syahrir, demokrasi sejati harus menempatkan rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi. Kekuasaan bukan warisan keluarga, bukan pula hak istimewa yang dapat diteruskan kepada orang-orang terdekat hanya karena hubungan darah maupun kedekatan politik.
"Tidak ada tempat hidup dinasti di negara demokrasi yang betul-betul dijalankan sesuai kehendak rakyat," tegas Syahrir Nasution dalam pernyataannya, Senin (19/10/2026).
Baca Juga:
Ia menyoroti nama Joko Widodo dan Gibran Rakabuming Raka dalam perdebatan mengenai politik dinasti di Indonesia. Syahrir menilai, persoalan ini bukan sekadar menyangkut individu, melainkan juga menyangkut masa depan demokrasi, kualitas kepemimpinan, serta kepercayaan masyarakat terhadap sistem politik nasional.
Demokrasi Bukan Warisan Keluarga
Syahrir berpandangan, demokrasi akan kehilangan makna apabila kesempatan berpolitik dan memperoleh kekuasaan lebih banyak ditentukan oleh hubungan keluarga, popularitas yang diwariskan, atau pengaruh politik yang telah dibangun sebelumnya.
Dalam negara demokrasi, setiap warga negara semestinya memiliki kesempatan yang setara untuk berpartisipasi dalam politik. Jabatan publik harus diperoleh melalui proses yang konstitusional, terbuka, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
Menurutnya, rakyat tidak boleh sekadar dijadikan objek dalam proses politik, sementara keputusan penting mengenai kepemimpinan justru ditentukan oleh kepentingan elite.
Baca Juga:
"Rakyatlah yang memiliki kedaulatan. Kekuasaan harus dijalankan untuk kepentingan rakyat, bukan untuk mempertahankan pengaruh keluarga atau kelompok tertentu," demikian pokok pandangan yang disampaikan Syahrir.
Ia mengingatkan, demokrasi bukan hanya soal terselenggaranya pemilihan umum. Demokrasi juga menuntut kesetaraan kesempatan, integritas penyelenggaraan kekuasaan, serta adanya mekanisme pengawasan agar jabatan publik tidak digunakan untuk melanggengkan kepentingan pribadi.
Kritik terhadap Jokowi dan Gibran
Dalam pernyataannya, Syahrir melontarkan kritik keras terhadap Joko Widodo dan Gibran Rakabuming Raka. Ia menggunakan bahasa yang tajam untuk menyampaikan penolakannya terhadap apa yang dipandangnya sebagai persoalan politik dinasti.
Syahrir juga membawa perspektif masyarakat religius dalam kritiknya. Menurutnya, nilai-nilai agama yang mengajarkan keadilan, amanah, dan tanggung jawab seharusnya menjadi landasan moral dalam penyelenggaraan negara.
Namun, dalam negara hukum dan demokrasi konstitusional, kritik terhadap pemimpin harus tetap diarahkan pada kebijakan, tindakan, etika kekuasaan, serta pertanggungjawaban kepada publik.
Bagi Syahrir, persoalan mendasarnya adalah apakah kekuasaan benar-benar dijalankan untuk memenuhi kehendak rakyat atau justru berpotensi menjadi sarana mempertahankan pengaruh politik keluarga.
Perdebatan mengenai politik dinasti, menurut perspektif tersebut, tidak cukup berhenti pada persoalan siapa yang menduduki jabatan. Hal yang lebih penting adalah memastikan bahwa proses politik berlangsung secara adil, tidak menyalahgunakan kekuasaan, dan memberikan ruang yang sama bagi seluruh warga negara.
Rakyat Harus Menjadi Penentu
Syahrir menegaskan bahwa masa depan demokrasi Indonesia tidak boleh ditentukan oleh kepentingan segelintir elite. Rakyat harus memiliki ruang yang luas untuk menilai, mengkritik, dan menentukan arah kepemimpinan melalui mekanisme demokrasi yang sah.
Karena itu, ia mendorong masyarakat agar tidak bersikap pasif terhadap setiap gejala yang dinilai dapat melemahkan prinsip kedaulatan rakyat.
Pengawasan publik, kebebasan menyampaikan pendapat, serta keberanian mengkritik kekuasaan merupakan bagian penting dalam menjaga demokrasi tetap sehat.
Pada akhirnya, legitimasi seorang pemimpin tidak cukup hanya bertumpu pada popularitas atau dukungan politik. Kepercayaan masyarakat juga harus dijaga melalui integritas, kebijakan yang berpihak kepada kepentingan umum, dan kesediaan mempertanggungjawabkan setiap keputusan.
Pesan utama Syahrir jelas: demokrasi harus menjadi jalan bagi rakyat untuk menentukan masa depan bangsa, bukan menjadi instrumen bagi siapa pun untuk membangun atau mempertahankan kekuasaan berdasarkan hubungan keluarga.
Sebab, dalam negara demokrasi, jabatan publik bukan milik keluarga, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada seluruh rakyat Indonesia.