Selasa, 12 Mei 2026

Sekali Lancung ke Ujian, Seumur Hidup Orang Tak Percaya

Administrator
Minggu, 01 Februari 2026 08:55 WIB
Sekali Lancung ke Ujian, Seumur Hidup Orang Tak Percaya
Istimewa

Oleh: H Syahrir Nasution

"Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya."

Petuah lama ini bukan sekadar rangkaian kata bijak, melainkan peringatan keras lintas zaman tentang harga mahal dari sebuah kebohongan.

Orang-orang tua dahulu menyampaikannya sebagai warning bagi anak-anak yang mulai beranjak dewasa: sekali saja seseorang berbohong—baik dalam ucapan maupun perilaku—maka kepercayaan akan runtuh. Dan ketika kepercayaan runtuh, yang tumbang bukan hanya reputasi sesaat, melainkan martabat yang dibangun seumur hidup.

Kepercayaan adalah mata uang sosial paling berharga. Ia tidak tercipta dalam semalam, namun bisa hancur hanya oleh satu tindakan tidak jujur. Ironisnya, luka akibat kebohongan sering kali tak sembuh oleh waktu. Bahkan setelah pelakunya tiada, ingatan kolektif publik tetap menyimpannya. Stigma itu bisa menurun, melekat pada keturunan dan asal-usulnya. Sebuah warisan yang pahit, hanya karena satu kesalahan moral.

Baca Juga:
Di sinilah kita diingatkan: kejujuran bukan urusan pribadi semata, melainkan tanggung jawab sosial dan historis.

Lebih jauh, petuah ini relevan ketika kita berbicara tentang kepemimpinan. Menjadi pemimpin bukan perkara mudah. Ia tidak cukup hanya bermodalkan tampang, retorika, popularitas, atau jam terbang panjang dalam dunia birokrasi dan politik. Ada satu hal fundamental yang kerap terabaikan: watak (character).

Watak tidak lahir dari pencitraan. Ia terbentuk dari proses panjang sejak kecil—dari didikan keluarga, keteladanan orang tua, dan terutama pendidikan agama yang ditanamkan sejak dini. Dari sanalah seseorang belajar membedakan benar dan salah, jujur dan culas, amanah dan khianat.

Pemimpin yang kehilangan integritas, sejatinya telah kehilangan legitimasi moral. Ia mungkin masih berkuasa, namun tak lagi dipercaya. Dan pemimpin tanpa kepercayaan publik hanyalah sosok yang berdiri di atas bayang-bayang kekuasaannya sendiri.

Baca Juga:
Sejarah mencatat, bangsa-bangsa runtuh bukan semata karena miskin sumber daya, tetapi karena krisis kepercayaan pada para pemimpinnya. Ketika kebohongan dinormalisasi, ketika pelanggaran etika dianggap lumrah, maka kehancuran tinggal menunggu waktu.

Karena itu, petuah lama ini patut kita hidupkan kembali, bukan hanya sebagai nasihat personal, tetapi sebagai prinsip berbangsa dan bernegara. Kejujuran adalah fondasi. Integritas adalah tiang penyangga. Tanpa keduanya, kepemimpinan hanyalah ilusi.

Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya.

Dan dalam kepemimpinan, sekali berkhianat pada kejujuran, sejarah tak akan lupa.***

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Administrator
Sumber
:
SHARE:
Tags
Berita Terkait
4 Begal Terowongan Tembung Ditangkap

4 Begal Terowongan Tembung Ditangkap

77 Peserta Rehab Ikuti Upacara Khidmat, Ketua JMSI Sumut: Jauhi Bahaya Narkoba

77 Peserta Rehab Ikuti Upacara Khidmat, Ketua JMSI Sumut: Jauhi Bahaya Narkoba

Bank Sumut Raih Taxpayer Award dari DJP, Tegaskan Komitmen Perkuat Layanan Pajak Digital bagi Masyarakat

Bank Sumut Raih Taxpayer Award dari DJP, Tegaskan Komitmen Perkuat Layanan Pajak Digital bagi Masyarakat

Welcoming Inkubator Bisnis UNPAB Batch 1 Resmi Digelar, Cetak Mahasiswa Inovatif dan Siap Bangun Usaha

Welcoming Inkubator Bisnis UNPAB Batch 1 Resmi Digelar, Cetak Mahasiswa Inovatif dan Siap Bangun Usaha

Machika Luna Debut Lewat “Kupu Lucuku”, Anthem Cinta Pertama yang Siap Kuasai Playlist Gen Z

Machika Luna Debut Lewat “Kupu Lucuku”, Anthem Cinta Pertama yang Siap Kuasai Playlist Gen Z

Jebakan "Visa Turis" dan Ilusi Keamanan Digital: Belajar dari Ratusan WNA Pelaku Judol

Jebakan "Visa Turis" dan Ilusi Keamanan Digital: Belajar dari Ratusan WNA Pelaku Judol

Komentar
Berita Terbaru