Depok, — Ada yang perlahan hilang dari keseharian anak-anak kita: rasa hormat yang tulus, empati yang tumbuh alami, dan kebanggaan terhadap identitasnya sendiri. Di tengah derasnya arus budaya global dan dominasi gawai, anak-anak lebih cepat mengenal dunia luar daripada memahami akar budayanya sendiri.
Dalam situasi itu, pendidikan usia dini sering justru terjebak pada percepatan akademik. Padahal, di fase inilah karakter seharusnya dibentuk—bukan sekadar kemampuan membaca, menulis, dan berhitung.
*Ruang Refleksi Pendidikan*
Kegelisahan itu menjadi pijakan Seminar "Membangun Karakter dan Jati Diri Anak Bangsa: Pendidikan Anak Usia Dini Berbasis Warisan Budaya
Sound of Borobudur" yang diselenggarakan pada Senin (4/5/2026) di Auditorium Yayasan Baitul Bestari Malik, Bojongsari, Depok.
Acara ini menjadi bagian dari peringatan Hari Pendidikan Nasional sekaligus sebagai rangkaian kegiatan Siti Maryam School Fiesta 2026 yang digagas oleh TK Siti Maryam, sekolah yang berdiri pada tahun 2024 dan bernaung di bawah Yayasan Baitul Bestari Malik.
Direktur PAUD Kemendikdasmen RI, Kurniawan, S.T., M.B.A., menegaskan bahwa pendidikan karakter berbasis budaya adalah kebutuhan mendesak. "Kita tidak bisa membiarkan anak-anak tumbuh tanpa akar. Pendidikan harus menanamkan jati diri agar mereka tidak kehilangan arah di tengah globalisasi," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pemanfaatan warisan budaya merupakan langkah strategis yang sejalan dengan kebijakan nasional. "Situs sejarah seperti Borobudur adalah sumber belajar yang hidup. Ini bukan hanya masa lalu, tetapi fondasi masa depan pendidikan kita," kata Kurniawan.
*Potret Lapangan*
Dalam sesi pertama, Gallah Akbar Mahardhika, M.Pd., memotret kondisi pendidikan anak usia dini yang mengalami krisis orientasi. Ia melihat adanya tekanan akademik yang menggerus ruang pembentukan karakter.
"Anak-anak dipaksa menguasai calistung terlalu cepat, sementara nilai dasar seperti empati, kemandirian, dan tanggung jawab justru terabaikan," ujarnya. Ia menyebut fenomena ini sebagai kegagalan membangun "wadah" sebelum mengisi "isi".
*Borobudur sebagai Inspirasi*
Gagasan untuk kembali pada akar budaya menemukan bentuk konkretnya melalui
Sound of Borobudur. Candi Borobudur, yang dibangun pada abad ke-8, menyimpan lebih dari 200 relief alat musik yang menjadi bukti tingginya peradaban Nusantara.
Fakta menunjukkan, instrumen-instrumen tersebut masih memiliki kemiripan dengan alat musik yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia bahkan di lebih dari 40 negara. Tidak ada situs sejarah lain di dunia yang merekam dokumentasi musik sedetail Borobudur.
"Budaya bukan hanya kesenian atau pakaian adat. Budaya adalah cara kita berinteraksi dan memaknai kehidupan sehari-hari," ujar Trie Utami, artis senior yang menginisiasi gerakan
Sound of Borobudur.
Melalui gerakan ini, relief-relief tersebut tidak lagi menjadi artefak diam. Instrumen-instrumen itu direkonstruksi menjadi alat musik nyata—dawai, tiup, dan perkusi—yang kini dapat dimainkan kembali, termasuk sebagai media pembelajaran bagi anak usia dini.
Pandangan tersebut diperkuat oleh Purwa Tjaraka, Ir., musisi sekaligus penggerak
Sound of Borobudur, yang menilai bahwa warisan ini memiliki daya bangun karakter yang kuat. "Ketika alat-alat musik itu dibunyikan kembali, kita sedang membangkitkan ingatan kolektif bahwa Nusantara pernah menjadi pusat peradaban musik dunia," ujarnya.
*Pendekatan Akademis*
Perspektif akademis disampaikan oleh Melani Budianta, M.A., Ph.D., guru besar ilmu budaya dari Universitas Indonesia, yang menekankan pentingnya pendekatan sederhana dalam mengajarkan budaya. Ia mengingatkan bahwa budaya tidak boleh berhenti pada simbol, tetapi harus hadir dalam kebiasaan.
Pelopor perkembangan Cultural Studies di Indonesia ini mencontohkan bagaimana satu objek sederhana dapat menjadi pintu masuk pembelajaran. Dari makanan tradisional, misalnya, anak dapat belajar tentang alam, sejarah, hingga nilai kebersamaan secara mendalam.
Ia menyebut pendekatan ini sebagai bagian dari strategi "deep learning". Dalam praktiknya, guru tidak sekadar menyampaikan informasi, tetapi mengajak anak berpikir, merasakan, dan memahami keterkaitan antara dirinya dengan lingkungan dan bangsanya.
Konsep ini kemudian diperkuat melalui pendekatan "mesin ke-Indonesia-an", yakni kerangka berpikir yang membantu guru menyusun materi ajar berbasis budaya. Di dalamnya terdapat unsur kesadaran sejarah, kebinekaan, internalisasi nilai, hingga pembentukan nasionalisme aktif sejak dini.
*Praktik di Sekolah*
Pengalaman praktik juga dibagikan oleh Kepala Sekolah TK Siti Maryam, H. Sigit Subiyanto. Ia menyampaikan bahwa uji coba penerapan pembelajaran berbasis budaya, termasuk materi
Sound of Borobudur di sekolahnya memberikan hasil yang menggembirakan.
"Anak-anak menjadi lebih percaya diri dan menunjukkan rasa bangga terhadap budaya mereka sendiri. Pembelajaran terasa lebih hidup karena mereka mengalami langsung," ujarnya.
*Arah ke Depan*
Seminar ini tidak berhenti pada diskusi, tetapi menghasilkan rumusan strategis bagi pemangku kebijakan pendidikan. Salah satu poin pentingnya adalah perlunya memasukkan unsur budaya secara substantif dalam pola ajar PAUD, bukan sekadar simbolik atau seremonial.
Selain itu, ditegaskan pula pentingnya menanamkan karakter keindonesiaan sejak usia dini melalui pengalaman langsung. Budaya dipandang sebagai medium utama untuk membangun fondasi mental, bukan sekadar materi tambahan.
Di tengah kekhawatiran akan krisis karakter, seminar ini menawarkan arah yang lebih mendasar. Bahwa untuk membangun generasi masa depan, pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga harus menumbuhkan rasa—rasa memiliki, rasa bangga, dan rasa menjadi bagian dari bangsa yang besar.
Rel