Asrinya Wisma Pesanggrahan Bung Karno Mess Pemprovsu Ramai Dikunjungi Wisatawan
BERASTAGI l Halomedan.co
Pesanggrahan atau tempat pengasingan Bung Karno Presiden Pertama RI mess sempurna Pemprovsu yang ada di Kota dingin Berastagi Kabupaten Karo provinsi sumatera utara, sudah banyak perubahan, kini terlihat nyaman dan asri sehingga banyak dikunjungi wisatawan dan masyarakat. Baik hanya untuk berswafoto juga menginap bersama keluarga diakhir pekan. Pesanggrahan Bung Karno yang telah ada pada tahun 1948 dan diresmikan oleh Gubsu HT Rizal Nurdin pada 5 Juni 2005 itu membawa keunikan tersendiri, betapa tidak seorang Presiden RI Soekarno pernah diasingkan di Sumatera Utara, tepatnya di Kota Berastagi.

Pengelola wisma mess sempurna Pemprovsu Pahala Siregar yang ditemui disela-sela kesibukannya mengurus mess mengatakan, Bangunan sejarah mess sempurna Pemprovsu ini sudah banyak perubahan, yang dahulunya dipenuhi semak belukar dan gelap kurangnya penerangan semenjak pengelolah yang baru langsung berubah dengan terang benderang dikelola pengurus baru yang masih berjalan 2 tahun.
” sekarang ini sudah terlihat nyaman dan asri dengan berbagai tanaman serta bunga hias yang sangat menarik dipandang mata. Disebutkan Pahala, bahwa Perubahan Mess pemprovsu tersebut tak terlepas dari kepedulian Pemprovsu dibawah kepemimpinan Gubsu Edy Rahmayadi dan Wagubsu Musa Rajekshah serta Biro Umum dan Perlengkapan Setda Provsu untuk merawat tempat peninggalan sejarah ini, ucapnya.

Dilanjutkan Pahala, di lahan Mess pemprovsu seluas lebih kurang 2 hektar ini, terdapat pohon Cemara beringin yang telah berumur 150 tahun yang merupakan pohon Langka yang ada hanya di Indonesia, tak ada ditempat lain, ucapnya.
Selain tempat dan lokasinya semakin nyaman dan asri mess Pemprovsu juga sudah terlihat sangat bagus, sehingga setiap hari libur banyak wisatawan lokal dan keluarga menginap untuk merasakan dinginnya kota bumi turang itu, baik dari berbagai penjuru Sumatera Utara dan bahkan dari luar provinsi.

Diketahui, Rumah Pesanggrahan Bung Karno yang bergaya Belanda dan dibangun pada tahun 1719, dulunya rumah ini tempat tinggal seorang perwira Belanda. Rumahnya terbuat dari kayu jati dan berukuran 10 x 20 meter dengan cat putih dan seng berwarna merah. Di pelataran depan terdapat pula patung Bung Karno dari perunggu setinggi 7 meter dengan posisi duduk sebagai penanda bahwa rumah ini pernah menjadi saksi sejarah perjuangan Bung Karno. Berdasarkan sejarahnya, pada Agresi Militer Belanda II, tepatnya pada tanggal 22 Desember 1948, tiga pemimpin Republik Indonesia, yakni Bung Karno, Sjahrir, dan Haji Agus Salim, ditangkap Belanda di Yogyakarta kemudian dibuang ke sini. Mereka ditahan di sini selama 27 hari sebelum dipindahkan ke Parapat karena masalah keamanan. Meskipun saat itu penjagaan Bung Karno cukup ketat, namun sepertinya Belanda memilih memindahkan Bung Karno ke Parapat. Karena pada saat itu di Tanah Karo terdapat basis perjuangan kemerdekaan yang dikenal dengan nama laskar rakyat.Meski hanya tinggal 27 hari di sini, tetapi Bung Karno telah mendapat tempat khusus di hati masyarakat Karo. Bahkan mereka menjuluki Bung Karno sebagai Bapak Rakyat Sirulo yang berarti Bapak Lambang Kemakmuran Rakyat. Masyarakat Karo mencintai Bung Karno karena ajaran-ajaran beliau sama dengan nilai-nilai masyarakat Karo seperti gotong royong, pluralisme dan solidaritas.Sampai sekarang rumah ini masih berdiri kokoh dan terawat baik. Keaslian bangunan ini masih terjaga, termasuk furnitur di dalam rumah seperti tempat tidur, lemari pakaian dan perabotnya masih sama seperti dulu. Dan rumah dan wisma ini juga sudah dibuka untuk umum dan masyarakat luas serta tempat menjadi sumber belajar dan mengajar bagi perjuangan Bung Karno khususnya untuk generasi penerus bangsa.

Sebagai tempat bersejarah memang sudah sewajarnya tempat itu dirawat dan dijaga, karena sebagai pembelajaran kepada anak dan cucu agar tidak pernah lupa dengan sejarah.w03