GAGASAN TERBARU TENTANG PERUBAHAN IKLIM MENANGKAN CLIMATE HACK 2021 PERDANA YANG DIADAKAN OLEH SINGAPORE INTERNATIONAL FOUNDATION
Singapura, Halomedan.co
Hampir 50 prototipe digital dari seluruh Asia menjadi pusat perhatian dalam hackathon virtual yang
bertujuan untuk memanfaatkan kekuatan teknologi untuk mengatasi iklim.
Singapura, 27 Mei 2021 – Empat tim dari Indonesia dan Malaysia muncul sebagai pemenang pada Climate
Hack 2021 perdana yang diadakan oleh Singapore International Foundation (SIF), sebuah hackathon
virtual yang memanfaatkan teknologi dan jaringan internasional untuk berinovasi demi perubahan iklim.
Program diselenggarakan oleh SIF yang bekerja sama dengan perusahaan sosial Code For Asia (CFA) –
menerima 46 prototipe digital dari tim di seluruh Asia yang merancang solusi untuk mengatasi perubahan
iklim.
Sembilan tim dari lima negara berhasil mencapai babak final yang dinamakan Demo Day, Sabtu lalu.
Mereka mempresentasikan ide, solusi, dan prototipe mereka – yang mencakup bidang-bidang seperti
keanekaragaman hayati, energi, ketahanan pangan, limbah, dan kehidupan berkelanjutan – kepada panel
juri yang mengevaluasi dampak dan inovasi. Para tim pemenang diantaranya:
Juara pertama: Not Samsan Tech (Indonesia) untuk e-CO2mmurz, ekstensi browser yang menginformasikan pengguna tentang konsumsi karbon dioksida saat berbelanja di platform ecommerce.
Juara kedua: MarhaEnergy Team (Malaysia) untuk MarhaEnergy, platform yang berisi komunitas
pengumpul sumber daya energi surya.
Juara ketiga: WasteBuster (Malaysia) untuk Raccoonia, aplikasi seluler yang mendorong dan
membantu pengguna untuk mendaur ulang dan mengelola sampah melalui berbagi sumber daya
dan pengembangan komunitas.
Judges’ mention: Gold Digger (Indonesia) untuk Agrow, aplikasi seluler yang memprediksi
permintaan dan harga tanaman.
People Choice: WasteBuster (Malaysia) yang mendapatkan suara terbanyak dari komunitas
online.Tim yang terpilih sebelumnya telah dibimbing oleh pengusaha, desainer, developers, dan pakar iklim
untuk menyempurnakan dan mempertajam ide-ide mereka sebelum membuat presentasi terakhir.
Demo Day adalah puncak dari program peningkatan keterampilan digital selama tiga bulan yang dirancang
untuk menyatukan peserta dari berbagai latar belakang untuk memanfaatkan teknologi, berkolaborasi,
dan menemukan solusi untuk mengatasi perubahan iklim.
Dari Maret hingga Mei 2021, sekitar 500 peserta dari 16 negara di Asia mendaftar untuk mempelajari keterampilan digital, seperti pemikiran desain, UX / UI dan coding, bertukar pikiran, dan mengembangkan solusi untuk meningkatkan ketahanan
iklim. Diskusi panel tentang tantangan iklim saat ini dan potensi teknologi dipisahkan menjadi serangkaian
workshop peningkatan kapasitas interaktif – yang disebut Skills Lab – dipimpin oleh sukarelawan Singapura
dan internasional dari sektor digital.
Ibu Jean Tan, SIF’s Executive Director mengatakan: “Pandemi COVID-19 telah mempercepat adopsi global
teknologi digital, dimana orang-orang mencari jalan di tengah penutupan pembatasan dan kondisi yang
mengharuskan mereka untuk menjaga jarak aman agar tetap terhubung. Pada saat yang sama, perubahan
iklim – serupa dengan pengendalian penyakit menular seperti COVID-19 dan masalah lain yang menyebar
lintas batas dengan konsekuensi global – hanya dapat ditangani secara efektif melalui kerja sama
internasional. Karenanya, kami menyelenggarakan Climate Hack 2021 yang memanfaatkan teknologi dan
jaringan internasional untuk bekerja sama dalam mengatasi iklim.
Ini juga menandai langkah pertama SIF ke dalam e-volunteering saat kami menavigasi new normal dalam kerjasama internasional untuk pembangunan. Kami berharap dapat mengadakan lebih banyak program serupa dalam waktu dekat.”
Ibu Enjiao Chen, salah satu pendiri CFA berkata: “CFA percaya bahwa individu dapat mendorong
perubahan melalui inovasi digital yang mempromosikan pembangunan berkelanjutan dan membangun
masa depan yang lebih baik. Keberhasilan program ini menunjukkan minat terhadap keterampilan digital
untuk mengatasi tantangan global.
Saya yakin solusi yang disampaikan hari ini memiliki potensi besar
untuk memberikan dampak positif di wilayah ini dan saya berharap dapat melihat hasilnya. ”
Bapak Dharmawan Santosa dari Not Samsan Tech (Indonesia) mengatakan: “Kami bangga menjadi salah
satu pemenang Climate Hack 2021. Program ini benar-benar memberikan pengalaman yang berharga bagi
tim kami. Peralatan digital serta bimbingan pelatih dan mentor memungkinkan kami untuk melihat
kebutuhan yang ingin kami penuhi dalam sudut pandang yang baru dan berbeda. ”
Bapak Muhammad Dzaki Razaan Faza dari Gold Digger (Indonesia) juga mengatakan: “Kami telah
memperoleh keterampilan dan wawasan digital yang tak ternilai melalui workshop dan bimbingan dari
mentor kami. Kami juga senang mendengar dari tim lain tentang bagaimana mereka menangani berbagai
masalah lingkungan di berbagai negara. Hal tersebut memberi kami perspektif baru.”
Tentang Singapore International Foundation
Singapore International Foundation menjalin hubungan untuk dunia yang lebih baik. Kami membangun
hubungan yang berkelanjutan antara warga Singapura dan komunitas dunia, dan memanfaatkan
persahabatan ini untuk memperkaya kehidupan serta melakukan perubahan positif. Pekerjaan kami
didasarkan pada keyakinan bahwa interaksi lintas budaya memberikan wawasan yang memperkuat
pemahaman. Pertukaran ini menginspirasi tindakan dan memungkinkan kolaborasi untuk kebaikan.
Program kami menyatukan orang untuk berbagi ide, keterampilan dan pengalaman di berbagai bidang
seperti perawatan kesehatan, pendidikan, seni dan budaya, serta mata pencaharian dan bisnis. Kami
melakukan ini karena kita semua dapat, dan harus melakukan bagian kita untuk membangun dunia yang
lebih baik, dan sesuai dengan yang kita bayangkan; damai, inklusif, dan menawarkan peluang bagi semua.
Cari tahu lebih lanjut di www.sif.org.sg
Tentang Code For Asia
Code for Asia mengutamakan inovasi digital yang inklusif dengan membangun komunitas pembelajaran
dan perangkat lunak untuk meningkatkan pendidikan berkualitas sejak 2017. Sebuah perusahaan sosial
yang berkantor pusat di Singapura, kami telah membangun komunitas pembelajaran melalui kursus,
workshop, dan hackathon sehingga siapa pun dapat belajar membuat coding sebagai cara untuk
memecahkan masalah dan berkembang sejak 2017.
Saat ini kami sedang mengembangkan platform yang disebut EDvengers untuk mendukung pembelajaran mandiri dan juga peer-based di seluruh wilayah. Dengan tim yang tersebar dari jarak jauh yang terdiri dari orang-orang dari berbagai latar belakang
pendidikan sejak hari pertama, tim Code for Asia sangat bersemangat tentang kolaborasi lintas budaya
dan antar disiplin ilmu. Kami percaya bahwa agar perangkat lunak dapat memberikan dampak yangpositif,
empati dan keterikatan dalam komunitas itu penting.
relis