Inilah Sejarah Hari Santri 22 Oktober, Resolusi Jihad Embrio Hari Santri Nusantara
Oleh : Ketua PKB Sumut Drs Ance
Belum genap satu bulàn kemerdekaan Repulik Indonesia , dàtang ujiàn pertama pada tanggal 15 september 1945. Tentara inggris yang tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Nederland East Indies) mendarat di Jakarta dan membonceng Tentra Belanda NICA (Nederlans Indies civil Administrasi). Yang bertujuan untuk melucuti tentra jepang yang sudah kalah perang dan ingin melepaskan tawanan jepang. Namun di balik itu niat buruk sekutu ingin mengambil alih pemerintahan Indonesia untuk kembali di tangan sekutu. Melihat keadaan itu bung karno melakukàn pendekatan dan perundingan, namum menempuh jalàn buntu. Sebagai negara yang baru merdeka tidak mungkin melakukan perlawànan perang dengan penjajah yang memiliki alat perang yang lengkap.
Ditengah kebingungan itu bung karno atas saran Jenderal Sudirman mengirim utusan menemui KH Hasyim Ashari ke Tebuireng Jombang. Meminta KH Hasym Ashari mengkaji hukumnya membela Negara. Yang menurut bung karno hanya memàhami hukum membela Agama.
Atas permintaan bung karno KH Hasyim Ashari memanggil KH Wahab Hasbullah dari psantren tambak beras untuk mengumpulkan ketua- ketua NU se jawa timur dan madura, dan KH Hasyim Ashari meminta ulama-ulama untuk istikhoroh terkait hukum melawan penjajah. Termasuk KH Abbas dari pesantren buntet cirebon jawa barat.
Ditengah KH Wahab mengumpulkàn para ketua NU dan kyai se jawa dan madura, stuasi politik makin memanas, maklumat pemerintah RI
Pada tanggal 18 oktober 45 mengibarkam bendera merah putih di seluruh tanàh air menimbulkan ketegangan dengan tentara Jepang dan belanda di sejumlah titik.
Pada tanggal 19 oktober 1945 belanda mengibarkan bendera merah putih biru di hotel Yamato. Dàn bendera belànda ďi koyàk pemuda indonesia yang bernama Koesno wibowo dan mengibarkan meràh putih.
Kemudian, Pada tanggal 21 Oktober 1945 para ketua-ketua NU berkumpul di Surabaya di kantor PP Ansor Jalan bBubutan (sekarang kantor PCNU surabaya) untuk rapat membahas tentang hukum melawan penjajah yang dipimpin langsung KH Hasyim Ashari dan dalam pidatonya menyampaikan sikap pandangannya.
Selanjutnya, Pada tanggal 22 oktober 1945 dengan melalui perdebatan sengit para delegasi NU memutuskàn tiga poin rekomendasi NU terkait berperang membela negara.
Adapun rekomendasi itu sebagai berikut,
1. Setiap muslim tua muda dan miskin sekalipun wajib memerangi orang kafir yang merintangi kemerdekaan indonesia.
2. Pejuang yang mati dalam membela kemerdekaan Indonesia layak dianggap syuhada.
3. Warga yang memihak kepada belanda dianggap memecah belah persatuan dan oleh karena itu dia dihukum mati.
Rekomendasi ini lantas disebut dengan Resolusi Jihad NU 1945 yang ditanda tangani oleh KH Hasyim Ashari. Dan di sebarluaskan ke seluruh penjuru dan juga di bagikan kepada komandan Laskar Hisbullah, Laskar Sabilillah, Laskar Santri dan komandan pasukan PETA.
Dokumen resolusi jihad NU ini semakin memompa semangat juang rakyat melawan tentara sekutu. Dan rakyak tidak takut lagi mati karena meraka telah di yakini akan menjadi syuhada.
Kemudian pada 25 Oktober 1945, sèkutu mendarat di Surabaya, awalnya di sambut baik tetapi langkah-langkah mencurigai setelah tiga hari , kemudian melihat keadaan ini pemuda surabayà memutuskan, daripada di dahului lebih baik mendahului perlawanan di mulai.
Dan pada akhirnya 27 -29 Oktober terjadi perang di surabaya dan secara spontan seluruh rakyat surabaya turun ke medàn pertempuran dengan membawa senjata apa adanya seperti parang , golok, pedang, kayu, dan bahkan ada tangan kosong. Menurut peneliti dari Universitas brawijaya malang Agus sunyoto , selama tiga hari berlangsung perang massal , spradis tidak terkendali. Agus berpendapat memilih istilah tauran karena rakyat tidak menggunakan alat perang dan tidak ada yang mengkomandoi.
Mereka bergerak karena terbakar semangat dengan isi patwa resolusi jihad NU yang ditanda tangani oleh KH Hasyim Ashari. Kemudian 30 Oktober Jenderal mallaby tewas dalam pertempuran yang dalam catatan sejarah di granat oleh seorang santri yang bernama Harun. Dan harun juga dalam peristiwa itu ikut gugur akibat kematian jenderal mallaby inggris marah besar dan menggantikànnya dengan Jenderal Eric cardend robert. Kemudian Inggris memberikan ultimatum untuk menghentikan perang pada 1 sampai 9 Nopember,
dan pada waktu itu bung tomo menjumpai KH Ashari minta izin utk menyiarkan fatwa Resolusi jihad NU melalui Radio untuk di dengar seluruh penjuru.
Dan akhirnya 10 Nopember perang meledak dan pertempuran itu menewaskan jenderal Eric carden robert. Dan kemudiàn inggris mengirim pasukan India dàn pakistan (Gurkha) yang di komandoi Zia ul hàq notabene nya beragama islam.
Dan akhirnya membelot dengan alasan tidak sampai hati menembaki rakyat indonesi yang dari mulutnya suara takbir bergema. Dan Zia ul haq kembali ke negaranya.
Dalam peristiwa yang sangat dahsat ini internasional menilai keberadaan indonesia sudah mampu mempertahankan kedaulatan negaranya. dan itulah salah satu pengakuan dunia indonesia berhak dengan kemerdekaàn yang telah di proklamirkan 17 agustus 1945. Puluhàn tahun sejarah ini terlupakan, di bawàh kepemimpinan PB NU KH Said Aqil Siràj dan Ketua DPP PKB A Muhaimin iskandar mendesak pemerintah untuk mengakui perjuangan para ulama , santri dan rakyat indonesia. Salah satu upaya melakukan Kiraf Resolusi jihad dari surabaya menuju jakarta di bawah komando A. Muhaimin Iskandar , memohon pada presiden agar sejarah ini tercatat menjadi peristiwa nasional dan juga turut bergerak di daerah daerah termasuk Sumatera Utara PW NU sumut dan PKB sumut kiraf resolusi jihad mengelilingi sumut dgn menjeput rekomendasi pondok pesanten di komandoi Ance SAg yang dilepas ole H Afifuddin Lubis Ketua PW NU Sumut dari kantor PW NU jalan Sei Batang Hari.
Harapàn seuruh pesantren se indonesi dituangkan daĺam rekomendasi. Dan akhirnya Presiden Joko Widodo memutuskan 22 Oktobèr menjadi hari Santri Nasional.
Semoga perjuangan para santri dan Ulama tetap di kenàng sepanjang masa. Dan konsekuensinya agar pesantren juga ikut bersama sama mengisi pembangunan nasional.***