Selasa, 24 Maret 2026

Bank Indonesia Ingatkan Masyarakat Hati-hati Peredaran Uang Palsu

Administrator
Kamis, 09 Juli 2020 06:36 WIB
Bank Indonesia Ingatkan Masyarakat Hati-hati Peredaran Uang Palsu

MEDAN, Halomedan.co

Kepala Perwakilan Bank Indonesia wilayah Provinsi Sumatera Utara, Wiwiek Sisto Widayat mengaku kasus peredaran uang palsu atau upal selalu ada. Untuk mencegah itu, perlu kewaspadaan dari masyarakat, agar melakukan kegiatan seleksi atau kenali ciri-ciri keaslian uang rupiah.

Selama tahun 2019, upal yang diterima oleh Bank Indonesia dari perbankan di Provinsi Sumatera Utara mencapai 7.138 lembar dengan beberapa pecahan. Upal paling banyak didominasi pecahan Rp 100 ribu. Sedangkan untuk periode 2020, sampai dengan Juni berkisar 3.347 lembar.

“Dari temuan perbankan atau klarifikasi dari bank, seluruh uang dari masyarakat. Yang perbankan juga dari masyarakat, yang masuk dari warung, warung masuk ke supermarket dan disetor ke bank, dan oleh bank disetor ke Bank Indonesia,” ujar Wiwiek Sisto Widayat kepada wartawan di Medan, Selasa (7/7).

Menurutnya, Bank Indonesia selalu melihat terlebih dulu sebelum uang disetor ke kas. Jika ada indikasi palsu langsung dipisahkan dan dilaporkan. Kemudian, dikembalikan ke perbankan yang menyetorkan sehingga kerugian tanggung jawab perbankan.

“Jadi harusnya masyarakat selalu waspada dan hati-hati, terus lakukan kegiatan cukur, yaitu kenali ciri-ciri keaslian uang rupiah,” kata Wiwiek.

Kemudian peredaran uang juga berkurang karena Covid-19 maupun adanya kegiatan sistem kerja work from home

Dia katakan, banyaknya upal yang diterima karena adanya mesin anjungan tunai mandiri dengan cara setor tunai tanpa kontrol dari petugas perbankan.

“Beda jika nasabah setor melalui teller, ada petugas yang mengecek keasliannya. Kalau kami ada aturannya, jika perbankan setor upal, maka akan ditegur bank tersebut. Kami harapkan perbankan memberlakukan itu kepada nasabahnya,” ungkap Wiwiek.

Bank Indonesia, ujar Wiwiek, selalu melakukan sosialisasi agar masyarakat berhati-hati. Bank Indonesia tidak bisa melarang mesin fotokopi berwarna untuk mencetak uang palsu.

“Setiap tahunnya semakin bertambah, kami terus sosialisasi, itu senjata utama yang kami lakukan. Kami tidak bisa melarang mesin fotokopi berwarna untuk mencetak uang palsu. Pencegahan itu ada pada masyarakat,” ungkapnya.

Dia juga menyebut peredaran upal cenderung menurun pada Mei dan Juni 2020. Itu disebabkan Covid-19 dan Bank Indonesia tidak menerima klarifikasi atau setoran dari perbankan.

“Kenapa Mei hanya 10 lembar dan Juni 23 lembar dan menurun drastis, karena kami menutup dan tidak menerima klarifikasi atau tidak menerima setoran dari perbankan. Kemudian peredaran uang juga berkurang karena Covid-19 maupun adanya kegiatan sistem kerja work from home,” katanya seraya menegaskan dukungan terhadap penegak hukum untuk menangkap pelaku peredaran uang palsu. (R03)
—-



Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Administrator
SHARE:
Berita Terkait
Zakiyuddin Harahap Sambut Hangat Tamu Halalbihalal, Pererat Silaturahmi di Kota Medan

Zakiyuddin Harahap Sambut Hangat Tamu Halalbihalal, Pererat Silaturahmi di Kota Medan

Sosok Edy Suranta Sitepu, dari Reserse hingga Brigjen Pol: Ini Profil, Karier, dan Prestasinya

Sosok Edy Suranta Sitepu, dari Reserse hingga Brigjen Pol: Ini Profil, Karier, dan Prestasinya

Puan Maharani dan Megawati Soekarnoputri Rayakan Idul Fitri dengan Suasana Hangat Kebersamaan Keluarga

Puan Maharani dan Megawati Soekarnoputri Rayakan Idul Fitri dengan Suasana Hangat Kebersamaan Keluarga

Makkah, Arab Saudi — Suasana Khidmat Idul Fitri di Masjid Agung

Makkah, Arab Saudi — Suasana Khidmat Idul Fitri di Masjid Agung

Presiden Prabowo Salat Idulfitri dan Gelar Halalbihalal Bersama Warga Aceh Tamiang

Presiden Prabowo Salat Idulfitri dan Gelar Halalbihalal Bersama Warga Aceh Tamiang

Lebaran di New York, Sandiaga Salahuddin Uno Dampingi Anak yang Segera Melahirkan

Lebaran di New York, Sandiaga Salahuddin Uno Dampingi Anak yang Segera Melahirkan

Komentar
Berita Terbaru