Ketika Sinyal Tri Menyala di Tengah Bencana, Indosat Operator Pertama Penghubung Komunikasi di Aceh Tamiang
halomedan.com - Aceh Tamiang
Lima hari pascabanjir bandang yang memporak-porandakan Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, lumpur masih menutup jalanan aspal Kota Kualasimpang. Rumah-rumah hancur, tiang listrik tumbang, mobil terseret dan saling menimpa, sementara bangkai hewan berserakan dengan bau menyengat.Rabu, 3 Desember 2025, ketibaan Dewi Purnama (39) di Kualasimpang, Aceh Tamiang dari Medan bukan tanpa alasan. Awalnya perjalanan ini untuk mencari informasi dan keberadaan abang kandung yang komunikasi dengan keluarga terputus sejak, Kamis, 27 November 2025, akibat banjir bandang yang menghantam sejumlah wilayah di Aceh Tamiang.
Perjalanan dimulai pukul 06.00 WIB dari Tol Amplas menuju Tol Pangkalan Brandan dengan membawa sejumlah bahan makanan dan kebutuhan pokok.Sepanjang perjalanan, genangan air berlumpur masih terlihat menguasai kebun-kebun sawit pada saat itu. Memasuki wilayah Pangkalan Brandan dan Besitang, Kabupaten Langkat, jalan utama Medan–Banda Aceh berubah menjadi hamparan lumpur dan reruntuhan.
Kerusakan semakin parah saat memasuki Kecamatan Kejuruan Muda hingga Kota Kualasimpang. Kota itu tampak porak poranda diterjang air bah. Warga berjalan di atas lumpur tebal, memunguti harta benda yang tersisa atau sekadar mencari makanan yang ada dari pengendara datang memberi bantuan.Kondisi darurat saat itu terlihat nyata, bagaimana banjir bandang menghantam setiap sudut kota itu. Saat bencana terjadi, semua informasi terkunci baik karena semua jaringan listrik hingga telekomunikasi putus diterpa bencana.Sinyal Tri Menyala di Tengah Bencana
Sesampai di Desa Kota Lintang, Kualasimpang, saat kondisi serba darurat itu, satu hal yang masih bertahan dan memberi harapan: sinyal internet.Di tengah keterbatasan listrik dan rusaknya infrastruktur, sinyal internet dari Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) melalui operator 3 (Tri) terpantau stabil lima hari pascabanjir, di saat Dewi menjajaki wilayah Aceh Tamiang.Keberadaan sinyal ini menjadi penghubung vital bagi warga dan pendatang untuk mencari informasi, berkomunikasi dengan keluarga, serta menyampaikan kabar keselamatan.
Setibanya di lokasi akhirnya bertemu keluarga yang dicari. Melalui jaringan internet 3 (Tri) yang tetap aktif, kabar keselamatan langsung disampaikan kepada orang tua di Medan.Dewi Purnama langsung melakukan panggilan video call ke Medan, Sambungan komunikasi itu menjadi penenang di tengah kepanikan dan ketidakpastian yang melanda sejak bencana terjadi."Sinyal 3 (Tri) yang ada saat saya tiba di Kualasimpang, kebetulan saya memang pengguna Tri pada 3 Desember kemarin. Saya bertemu dengan abang kandung pas di tengah jalan persimpangan menuju Kota Lintang. Ketika bertemu saya langsung video call keluarga di Medan, dan Alhamdulillah ibu saya bisa tenang karena abang saya selamat," katanya saat bercerita.
IndosatOperator Seluler Pertama Aktifkan Jaringan Internet
EVP–Head of Circle Sumatra Indosat Ooredoo Hutchison, Agus Sulistio, mengatakan di Aceh Tamiang pihaknya menjadi operator pertama yang kembali mengaktifkan jaringan."Di Tamiang, Indosat menjadi yang pertama menyala. Kami memprioritaskan agar masyarakat dan pelanggan setidaknya dapat berkomunikasi terlebih dahulu. Secara bertahap, jaringan akan kembali tercover," ujarnya.
Ia menambahkan, beberapa titik telah ditetapkan sebagai prioritas untuk dimaksimalkan. Indosat, lanjutnya, terus berprogres dalam meningkatkan capaian pemulihan (recovery) jaringan. Salah satu upaya yang dilakukan sehingga Indosat dapat lebih cepat aktif di Tamiang adalah dengan membawa bahan bakar minyak (BBM) menggunakan jerigen pada tengah malam, sehingga site up dapat kembali menyala dan jaringan berfungsi."Progres ini juga telah kami diskusikan dengan Komdigi. Target minimalnya, satu site harus aktif di setiap kecamatan. Itu yang terus kami kejar," pungkasnya.
Ia menambahkan Indosat telah melakukan pembaruan pemulihan jaringan akibat banjir. Pemulihan Jaringan Sumatera Barat dengan Site aktif: 1.101 site (99%). Total site Sumatera Barat: 1.112 site."Per 13 Desember, sisa site yang masih down di Sumatera Barat sebanyak 11 site (1% dari total 1.112 site)," katanya.Di Sumatera Utara, site aktif ada 2.841 site (96%). Per 13 Desember, sisa site yang masih down di Sumatera Utara sebanyak 120 site (4% dari total 2.961 site).Sementara pemulihan jaringan di Aceh, dengan site aktif 419 site (40%) dengan 23 kabupaten terdampak.Per 13 Desember, sisa site yang masih down di Aceh sebanyak 633 site (60% dari total 1.052 site)."Di Aceh hingga saat ini tingkat pemulihan jaringan telah mencapai 40 persen. Proses pemulihan ini akan terus dilakukan melalui berbagai aktivitas. Upaya recovery dilakukan, antara lain, dengan penggunaan BBM serta langkah mitigasi berupa penambahan baterai di setiap site yang terdampak bencana," sebutnya.Pihaknya telah mengerahkan 100 orang lebih tim Indosat untuk memulihkan jaringan dengab menghadapai tantangan infrastruktur yang belum pulih. "Ada tantangan yang kami hadapi, pertama, keterbatasan ketersediaan sumber daya listrik. Kedua, terbatasnya visibilitas dan akses menuju lokasi, karena banyak jalan yang rusak serta terhalang banjir," ungkapnya.Bagi warga terdampak, sinyal internet bukan sekadar akses digital, melainkan jalur harapan. Di tengah lumpur, reruntuhan, dan kesunyian pascabencana, koneksi yang tetap menyala menjadi pengikat solidaritas, membantu warga saling mengabarkan kondisi, mencari bantuan, dan menguatkan satu sama lain.Di Aceh Tamiang, ketika banyak hal terputus oleh banjir bandang, sinyal internet menjadi salah satu yang tetap bertahan, menghubungkan yang terpisah dan menguatkan yang terdampak.Bencana banjir yang memutus semua infrastruktur termasuk jaringan telekomunikasi. Hal ini menjadi jawaban penting ketika ketangguhan jaringan telekomunikasi di masa krisis punya peran strategis.Adanya sinyal internet yang tetap menyala menjadi bukti teknologi menjadi penopang harapan, mempercepat respons darurat, dan menjaga keterhubungan manusia saat bencana melumpuhkan segalanya. (Rin)