Kapolda Sumut Irjen Pol RZ Panca Putra Ternyata Baik
Medan, Halomedan.co
Selama ini, ternyata saya salah. Salah tafsir. Salah besar. Meleset 180° menilai Kapolda, orang nomor 1 di kepolisian Sumut, itu.
Beliau, Irjen Pol RZ Panca Putra Simanjuntak, termasuk satu polisi baik di NKRI, ternyata. Tak seperti yang saya curi dengar selama ini. Semuanya bernada miring ketika menceritakan sosok IJP Panca.
Beliau dikisahkan sangat selektif. Terlalu memilih dalam berteman. Teramat sulit diajak berkomunikasi. Terutama kepada insan pers. Apalagi menembus akses untuk berjumpa dengannya. Sulit-sulit jambu, istilah kekinian.
“Apa karena bapak itu (IJP Panca) berasal dari KPK?” tanya seorang praktisi. Saya tak berani berandai-andai. Saya hanya tahu Panca pernah Direktur Penyidikan KPK sejak 2018. Dua tahun setelah itu, bergeser menjadi
Widyaiswara Kepolisian Utama Tingkat I Sespim Lemdiklat Polri (2020).
Pun, beliau dikenang sebagai sosok yang tak suka mendengar masukan orang. Eh salah ding, mau mendengar, tapi jarang sekali masukan itu diwujudkan. Dilakukan. Pun dikerjakan. Alias masuk kuping kiri, keluar lagi lewat kuping kanan. Byarbablas.
“Kalau perkara didengar, semua (bisikan/masukan) didengar sama beliau. Tapi belum tentu dikerjakan,”kata seorang perwira Polri, saat disinggung pendapatnya tentang sosok alumni AKPOL angkatan 90 itu.
IJP Panca juga dighiba senang mengudara dengan helikopter. Kurang betah di kantor. Hobi bekerja di lapangan, ke daerah-daerah. Memantau segala situasi. Mulai dari urusan vaksin sampai pres rilis kasus-kasus besar.
Contohnya kasus Marshal. Wartawan Siantar yang tertembak mati karena bikin gerah Sujito, pengusaha hiburan di Kota Roti Ganda itu. Korban meregang setelah pembuluh nadinya seperti meledak tertembus timah panas.
Terakhir, beliau juga muncul di hadapan publik saat memamerkan 5 tersangka perampokan 2 toko emas di Pajak (Pasar) Simpang Limun. Bobby Nasution diundang meramaikan pres rilis tersebut.
Satu tersangka otak kejahatan diganjar eksekusi mati lantaran melawan, ingin melukai petugas.
Beliau muncul (sepertinya) saat kasus-kasus menghebohkan saja. Tapi menyangkut dugaan perjudian, kasus remeh temeh penyakit masyarakat, Panca bergeming.
Diam tanpa mau bertindak. Barangkali beliau mendengar, tahu persis malah, tapi memilih tidak masuk dalam pusaran itu.
Minimal menginstruksikan berantas judi saja pun, ke anak buahnya, Kapolrestabes Medan misalnya, Panca seolah sungkan.
Soal praktik 303 ini (dijiplak dari pasal 303 dalam KUHP tentang larangan praktik perjudian di muka bumi persada) ini, petinggi Poldasu, pun Polrestabes sangat kompak. Kurang mau ambil pusing dan terkesan tutup mata.
Dibiarkan saja beranak pinak. Satu (1) sampelnya ; judi berlabel hitam putih (bukan acara TV nya Deddy Courbuzier itu lho) punya 25 titik. Langgeng buka lapak, sepanjang tak meresahkan. Praktiknya menggurita di wilayah hukum Medan.
Kapolrestabes membisu, meski puluhan media daring memberitakan. Deli 1 (julukan untuk Kapolrestabes Medan) masih saja diam.
Sampai habis kuota internet wartawan memberitakan, tindakan apapun nehi nehi aca babuji (guyonan bahasa India yang artinya; tak ada sama sekali). Itu karena komunikasi KBP Ryko Sunarko ke media, saya duga buruk.
Pun awalnya dulu, dulu sekali, saya mengira IJP Panca, sama dengan KBP Ryko. Kurang respek dengan awak media.
Apalagi saat akan dikenalkan di acara Kenal Pamit Kapolda lama ke Kapolda Baru, ada kesan kurang sreg. Saat akan dikenalkan (polisi menyebutnya titip diri), Panca melenggang mssuk aula. Jeritan IJP (Purn) Martuani Sormin Siregar, ndak digubrisnya.
Baik Panca maupun Ryko, juga saya kira mengalami kesulitan membangun kultur komunikasi. Indikatornya, beliau seperti menganggap media itu tak ada. Kalau pun ada sekadar saja. Tak akan berpengaruh pada jabatan dan jenjang karirnya.
Jarangnya membalas pesan WA, bak sulit, juga kaku, menempelkan jari dituts hape untuk sekadar membalas singkat, bisa jadi satu faktornya.
Tak sedikit awak media membandingkan Panca dengan dua Kapolda sebelumnya. Dalam hal, minimal, membalas WA. 2 Kapolda sebelumnya masih quick respon, hingga kini. Meski sebatas balasan singkat, lagi padat.
Ternyata oh ternyata tuduhan saya itu meleset semuanya. Tak seperti dighibahkan selama ini. Sebelumnya, saya memohon maaf sebesar-besarnya, karena salah menafsirkan sikap IJP Panca.
Terbukti, Sabtu kemarin, Panca mengundang pemimpin media ke kantornya. Berbincang banyak hal tentang peran media dan kemitraan.
Beliau masih menyempatkan waktu, meski harus peras otak dan fokus ikut menekan paparan Covid. Membantu warga yang terdampak dipenjuru Sumut. Makanya sering terdengar IJP Panca memantau hingga ke daerah-daerah untuk sebaran vaksinasi.
“Jangan menilai orang dari kulitnya saja. Buktinya, sesibuk-sibuknya beliau, masih sempat mengundang awak media untuk bersilaturahim,”kata Amrizal SH MH, wartawan sekaligus advokat.
Sempatkan juga undang jurnalis gowes, ya bang. Eheheeeeheee!!! ( rel/wk/ch)