Jumat, 02 Januari 2026

"HIJRAH EKONOMI"

Administrator
Selasa, 25 Agustus 2020 05:36 WIB

Oleh : H Syahrir Nasution SE MM

Ekonomi Ummat harus Dibangun Secara Bersyarikat. Pedagang yang jujur dan amanah akan dibangkitkan diakhirat kelak bersama para Nabi, Orang-orang yang jujur dan Para Syuhada Mujahid.

Sebelum Hijrah dan kedatangan Rasul , Kota Madinah memiliki 4 lokasi pasar , sebagai tempat berniaga: 1). Pasar Zabalah 2). Pasar Al Yassar kepunyaan kelompok Yahudi Bani Qainuqa . 3). Pasar Safasir . 4). Pasar Zaqaq.

Dari semua pasar tersebut , Pasar Qainuqa yg dimiliki orang Yahudi merupakan pasar yang paling maju dan lengkap, segala keperluan hidup masyarakat terdapat disana , mulai dari tukang besi , tukang emas , money Changers dll nya. Oleh sebab itu kegiatan pasar dan ekonomi masyarakat Madinah sangat tergantung dng ekonomi yg dikuasai kelompok Yahudi di Kota Madinah ini.

Ummat Islam sudah menjadi pelaku ekonomi , tetapi pasar masih “ dikuasai “ oleh kelompok “ Non Islam”. Oleh karena itu, Nabi Muhammad melihat bahwa kaum Muslimin Madinah harus “ melepaskan diri “ dari ketergantungan ekonomi pada kelompok lain / Non Islam dan perlu mempunyai Pasar Perniagaan sendiri.

Untuk merealisasikan pasar yang dimaksud tersebut, Nabi Muhammad Saw mendatangi Bani Saidah (Kaum Saad Bin Ubadah) dan meminta mereka utk menyerahkan tanah kosong yg semula disediakan untuk Tanah Pekuburan.

Permintaan Nabi tersebut dikabulkan, dan akhirnya dijadikan sebagai tempat perniagaan ummat Islam yang disebut dengan : SANIYATUL WADA’ I Sambil memukulkan tongkat nya ke atas tanah tersebut , Nabi berkata : “ Inilah pasar kalian, semoga pasar ini tidak sempit dan tidak boleh dipungut hasil (tidak ada uang sewa atau Retribusi berniaga) darinya.

Sedangkan orang yg berniaga di pasar Yahudi itu dipungut uang sewa, sementara di pasar yg di buat Nabi tersebut digratiskan. Akhir nya berpindahan lah para pedagang yg di pasar Yahudi ke Pasar Nabi itu. Mengapa demikian?, bukan karena sentimen Agama, akan tetapi lebih utama di pasar Rasulullah, para peniaga harus “ Berakhlak dengan Akhlak Mulia”, sehingga pembeli tidak merasa “ TERTIPU” atau TERDZALIMI.

Disamping itu Rasulullah mendidik ummat Islam untuk berniaga “ dengan penuh KEJUJURAN”, sebab katanya : Peniaga yang jujur sama dengan “ Orang yang Berjihad”, sebaliknya yang tidak jujur adalah pengingkaran kepada perintah Allah. Sejarah menyatakan, bahwa inilah yang dilakukan Rasulullah pd awal Hijrah, yaitu : MEMBANGUN EKONOMI masyarakat muslim yang kokoh , dengan sistem ekonomi yang Berakhlak & Profesional, bukan hanya membangun ekonomi Islam bersifat “ Emosional” dengan mengandalkan sentimen Agama. Pertanyaan nya saat ini , bagaimana konteks nya Ummat Islam hari ini?. Jika pada masa dahulu Islam Madinah dapat mengalahkan perniagaan Yahudi dan penguasaan pasar.

Semangat Pemberdayaan Ekonomi ummat belakangan ini yang dimotori oleh : 212 sangat baik dan perlu di “ APPRECIATE”. Tapi ada satu hal yang tidak boleh lupa , “ Selama Ummat Islam Masih MEROKOK” , selama itu pula Ekonomi Ummat Islam akan “ Tersedot / Terserap dengan mudah kepada Para TAIPAN & Cukong-cukong Rokok. Kenapa demikian?, karena para Taipan-taipan itu dan Cukong-cukong Rokok tersebut menjadi besar saat ini di karenakan “ Sumbangsih” ummat Islam yang masih doyan atau kecanduan merokok.

Perputaran dari hasil penjualan rokok itu sangat fatastis dari Milyaran hingga mereka menjadi Pengusaha Tambang, Property dll. Justru itu mulai saat ini Ummat Islam harus berhenti merokok, alasan nya bukan saja karena Kesehatan akan tetapi untuk Pemberdayaan Ekonomi Ummat seperti yang diinginkan Rasulullah Sisihkan uang pembeli rokok itu secara berjamaah utk membangun perekonomian Ummat.

Ekonomi Ummat harus dibangun secara “ Bersyarikat”, seperti halnya SYARIKAT DAGANG ISLAM , yang di bangun oleh : H. Samanhudi pada tahun 1911 di Surakarta. Ekonomi tidak bisa dibangun secara individu semata. Inilah momentum Hijrah yang hakiki dengan Konteks nya hari ini yang sudah hampir lebih satu abad sudah dipelopori oleh H . Samanhudi , tinggal kita maukah ummat Islam ini terus menjadi “ Objek Penghisapan Ekonomi” bagi Non Islam?

Penulis : Managing Director PECI INDONESIA



Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Administrator
SHARE:
Berita Terkait
Bakopam Sumut Gelar Silaturrahmi Tahun Baru di Kediaman Anggota DPR RI Maruli Siahaan

Bakopam Sumut Gelar Silaturrahmi Tahun Baru di Kediaman Anggota DPR RI Maruli Siahaan

BAKOPAM Sumut Gelar Jum’at Berkah, Santuni Anak Yatim di Awal Tahun 2026

BAKOPAM Sumut Gelar Jum’at Berkah, Santuni Anak Yatim di Awal Tahun 2026

Bakopam Sumut Bertahun Baru di Kediaman Tokoh Masyarakat RE Nainggolan

Bakopam Sumut Bertahun Baru di Kediaman Tokoh Masyarakat RE Nainggolan

DPW Pendawa Sumut Salurkan Bantuan Sembako kepada Anggota Terdampak Banjir di Medan

DPW Pendawa Sumut Salurkan Bantuan Sembako kepada Anggota Terdampak Banjir di Medan

Sambut Tahun 2026, DPAC Pendawa Kecamatan Patumbak Gelar Syukuran dan Doa Bersama

Sambut Tahun 2026, DPAC Pendawa Kecamatan Patumbak Gelar Syukuran dan Doa Bersama

Menyambut Tahun Baru 2026, CEO SUMUT24 GROUP Rayakan Pergantian Tahun di KLCC Kuala Lumpur

Menyambut Tahun Baru 2026, CEO SUMUT24 GROUP Rayakan Pergantian Tahun di KLCC Kuala Lumpur

Komentar
Berita Terbaru