BABAD BANJARMANGU
A. Jaman Kencana Rukmi.
Masa lampau memuat jaman keemasan. Abdi dalem sebagai pelestari budaya dihayati oleh orang Banjarmangu. Rasa bangga pada masa silam sungguh bikin decak kagum. Ngerti sakdurunge winarah. Berarti pandangan menatap masa depan.
Banjarmangu sadar historis. Pelantikan abdi dalem karaton Surakarta Hadiningrat berlangsung di berbagai tempat. Kali dilakukan di gedung Balai Budaya Kabupaten Banjarnegara. Selaku ketua panitia yaitu KRT Bambang Hadipuro. Dengan semangat pelestarian budaya maka upacara wisuda itu dilakukan pada hari Sabtu tanggal 12 Desember 2020.
Untuk itu perlu ditinjau dari perspektif historis. Sejak berdirinya Kerajaan Pajang tahun 1546, wilayah Banjarnegara mendapat perhatian utama. Beliau mengutus Sunan Giri Pit untuk melakukan pembinaan masyarakat.
Sejenak perlu diingat tokoh kenamaan dalam sejarah Kabupaten Banjarnegara. Sunan Giri Pit putra Sunan Giri Merape. Dua saudaranya yaitu Sunan Wasiat dan Nyi Sekati. Dalam sejarahnya Nyi Ageng menikah Ki Karang Kobar. Beliau juga bergelar Syekh Karang Kobar.
Peringatan buat segenap generasi muda yang sadar jatidiri bangsa. Peristiwa historis telah berukir indah. Sebanyak 150 abdi dalem karaton Surakarta Hadiningrat diwisuda oleh GKR Dra Wandansari Koes Moertiyah M.Pd. Ketua Lembaga Dewan Adat dan Pangageng Sasana Wilapa ini datang di Balai Budaya Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Kegiatannya meliputi penyerahan sesebetan pangkat kehormatan.
Pengurus Paguyuban Abdi Dalem karaton Surakarta Hadiningrat atau PAKASA Cabang Banjarnegara dipimpin KRAT Eko Budiarto Tirto Rumekso. Dengan alamat Jl Garuda no 61 Rt 02 Rw 03 kel parakancanggah Banjarnegara. Sebelah utara terdapat Gunung Lawe atau Gunung Pawinihan. Jaman Kraton Pajang tahun 1547 Ki Ageng Pawinihan diutus untuk membina sekitar Gunung Dieng. Kota Banjarnegara dikelilingi perbukitan dan pegunungan.
Pelantikan pamong PAKASA Cabang Banjarnegara dilakukan KPH Dr Wirobhumi SH. Ketua PAKASA Punjer ini beralamat di kantor Badan Pengelola Kori Kamandungan Baluwarti Karaton Surakarta. Pakasa yang berdiri di bermacam macam tempat, selalu berkoordinasi. Demi kelancaran Paguyuban.
Organisasi PAKASA berdiri tahun 1931, saat Sinuwun Paku Buwana X memeribtah. Ketua PAKASA pertama dijabat KGPH Suryo Hamijoyo. Kelak beliau aktif sebagai anggota BPUPKI atau Badan Penyelidikan Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia.
Perwakilan PAKASA menduduki posisi penting di berbagai organisasi kemasyarakatan. Wuryaningrat memimpin Budi Utomo, Parindra atau Partai Indonesia Raya. Sosrodiningrat anggota PAKASA yang menjabat eksekutif kepatihan. Dr Radjiman Wedyadiningrat mewakili PAKASA dalam pergerakan. Nanti juga sebagai anggota dan ketua BPUPKI.
Pada masa pemerintahan Republik Indonesia, Prof Dr Notonagoro adalah warga PAKASA yang menjadi penafsir Dasar Negara Pancasila. Juga Jenderal KGPH Jatikusumo merupakan warga PAKASA yang pernah menjabat sebagai KSAD dan Menteri Pariwisata. Begitulah warga Pakasa dalam berbagai kegiatan. Tenaga dan pikiran demi kemajuan bangsa.
Sumbangan ini terus berlanjut. Dari Kabupaten Banjarnegara PAKASA bersemi di sebelah Gunung Sindoro, gunung Sumbing, Gunung Dieng dan Gunung Slamet. Deretan gunung ini memberi rerenggan Kabupaten Banjarnegara. Di tengah kota mengalir Kali Serayu. Lantas ingat lelagon Serayu yang dikarang oleh Ki Nartosabdo.
Lagu Serayu
Adhuh segere banyune ing sendang, ilang kesele wis mari le mriyang, banyune Bening nyegerake ati, kudu sing eling mring tindak kang suci.
Sejak hari kamis 10 Desember 2020 warga Pakasa tampak sibuk. Spanduk sudah dipasang. Gladhi resik prosesi wisudan. Perizinan dari polri telah beres. Koordinasi dilakukan begitu teliti rapi.
Persiapan acara dengan semangat gotong royong. Makan siang pakai suguhan bakso kupat. Opak tela, rengginang, kerupuk bunder. Tak lupa teh anget manda manda. Kota Banjarnegara memang terkenal dengan makanan tradisional yang edi mirasa. Di mana mana orang mengenal dawet ayu. Sawab spiritual guru spiritual menyebabkan bisnis kuliner laris manis. Pelaksanaan kegiatan budaya ini sangat berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi rakyat.
B. Balai Budaya
Persembahan buat kejayaan bangsa diberikan oleh warga Banjarmangu. Masyarakat Banjarnegara boleh berbangga. Gedung Balai Budaya dibangun dengan megah mewah indah gagah. Tempatnya di tepi Kali Serayu. Air mengalir terdengar gemericik.
Abdi dalem siap siap untuk diwisuda. Dilanjutkan dengan upacara pelantikan pamong Pakasa. Suasana betul betul hikmad berwibawa.
Pamong Pakasa terlebih dulu menjalankan aktivitas spiritual. Lereng Gunung Lawe menjadi tempat mengasah ketajaman spiritual. Tiap malam jumat, warga Banjarnegara melakukan tapa brata. Mereka manekung ing ngarsanipun Hyang Maha Agung.
Perjalanan budaya spiritual ke arah gunung Lawe. Rute ini sama dengan jalan wisata Gunung Dieng. Kanan kiri bisa tembus Kabupaten Wonosobo, Purbalingga dan Pekalongan. Lereng gunung Lawe dibangun waduk Mrican. Berguna untuk pengairan dan pembangkit tenaga listrik.
Lewat daerah penting, yakni Banjar Petambakan dan Banjar Mangu. Ada tokoh besar, yaitu Ki Ageng Giri Pit dan Ki Ageng Karang Kobar. Beliau tokoh spiritual Kabupaten Banjarnegara. Mereka merupakan guru utama jamab Karaton Pajang yang ditugaskan mengajar di Padepokan sejati tahun 1549.
Peradaban Banjarnegara berhubungan dengan kisah Watu Lembu. Ada peninggalan purbakala berupa batu dan patung lembu. Maka disebut daerah Watu Lembu. Peninggalan sejarah dikelola dinas kebudayaan.
Kali Mrawu bermata air dari Gunung Lawe. Selamanya aliran sungai Mrawu selalu keruh. Jadi perlambang, agar Sunan Giri Pit berjuang terus menerus. Perjuangan tidak boleh berhenti. Begitulah wasiat Kanjeng Sunan Giri. Ajaran Sunan Giri Pit menjadi pelita alam.
Hadirnya Sunan Giri Pit atas restu sesepuh Banjarnegara. Namanya Ki Ageng Sela Manik. Beliau seorang Sakti mandaguna. Dari sambutan yang sangat penting ini kiprah Sunan Giri Pit menjadi gancar lancar.
Generasi muda perlu memahami cikal bakal pelopor berdirinya Kabupaten Banjarnegara. Nilai kearifan lokal warisan Sunan Giri Pit sebagai sarana untuk membangun peradaban besar.
Atas dasar nilai historis Banjarnegara itulah pengageng Sasana Wilapa dan Lembaga Dewan Adat melantik pamong Pakasa. Abdi dalem Karaton Surakarta Hadiningrat punya kewajiban untuk melestarikan budaya bangsa. Rum kuncaraning bangsa, dumunung ing luhuring budaya.
Dukungan Pakasa cabang Jepara dan Pakasa cabang Sidoarjo menjadi daya pikat. Pakasa Jepara membawa cindera mata ukir ukiran. Pakasa Sidoarjo membawa tim kesenian tari.
Acara Tetepan Pamong Pakasa dan wisudan ini disusun dengan rinci. 1 pembukaan oleh MC lokal. 2 pasugatan tari mugi rahayu dan tari batik jenggala. 3 Sambutan panitia oleh KRT Bambang Hadipuro. 4 Sambutan Bupati Banjarnegara. 5 srah tinampen sesebetan pangkat. 6 wejangan ketua Dewan Lembaga Adat GKR Wandansari. 7 sajian tari dan istirahat. 8 pelantikan pamong Pakasa. 9 dhawuh pangandikan Pakasa punjer. 10 penyerahan cindera mata. 11 doa penutup. Susunan acara dibuat singkat padat.
Upacara Pelantikan Abdi dalem karaton Surakarta Hadiningrat dilakukan dengan penuh kesungguhan. Hari sabtu, 12 Desember 2020 pagi. KRT Bambang Hadipuro beserta rombongan datang. Tim dari Kabupaten Jepara Jawa Tengah turut mendukung acara. Warga Pakasa dari Sidoarjo Jawa Timur malah hadir lebih awal. Solidaritas terbentuk demi kemajuan ibu pertiwi.
Liputan JUGA Food Estate Dan Perlawanan Agraria Tuan Manullang Di Pansur Batu Tanah Batak (2020, 1920)
Tepat pukul 8.00 pagi acara dimulai. Among tamu berbusana warna warni. Menyambut rawuhnya GKR Dra Wandansari Koes Moertiyah M.Pd, para putri pager ayu berbaris rapi. Berdiri berjajar jarar.
Tari Mugi Rahayu karya Gusti Mung dipentaskan. Ndoro Lung Ayu lemah gemulai membawakan tari ciptaan sang Ibu. Darah seni mengalir deras. Sebagai sarana pengembangan budaya nasional.
GKR Wandansari dalam sambutan memberi semangat berkarya. Semua abdi dalem diharap setia pada budaya. Harapan ini terwujud. Abdi dalem Gumelem Susukan Banjarnegara memberi cindera mata batik tulis.
Warga abdi dalem dari Jepara memberi kenang kenangan kayu berukir. Cocok dengan daerah Jepara yang menghasilkan kerajinan ukir ukiran. Abdi dalem sebaiknya punya karya bermutu tinggi.
Banjarmangu memiliki memori historis besar. Budaya masa silam selalu tampak gemilang. Cocok dengan semboyan Banjar gilar gilar.
Wiwit bakda subuh kana kene tandang gawe,
Padha rebut resik tangan alus rampung dhisik,
Omah pekarangan mlebu latar gilar gilar,
Dalam aspal alus kiwa tengen ijo mupus,
Lha kae tamane kebak kembang sakwernane,
Sore saya rame bakul jajan pinggir dalan,
Lampu manca warna nambahi asrine kutha,
Ayo dha nyatakna iki lho Banjarnegara.REL