Pondasi Iman
halomedan.co – Dapat kita pahami bersama, bahwa seseorang dikatakan beriman yang benar jika ia menyakini dalam hati, di ikrarkan dengan lisan dan di amalkan dengan perbuaan. Inilah yang harus kita renungkan bersama agar diri ini menjadi orang yang benar-benar beriman. Sebagai manusia yang biasa kita harus menyadari bahwa iman yang kita miliki pasti akan di uji oleh Allah.
Sebagaimana Allah berfirman yang artinya: ”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al- Ankabut : 2-3)
Ayat diatas menjelaskan bahwa jika kita benar-benar beriman kepada Allah maka kita harus sabar dengan ujian yang diberikan Allah kepada kita. Dengan ujian tersebut maka Allah akan mengetahui siapa diantara mereka yang beriman kepada Allah dan siapa yang kafir kepada Allah. Maka orang yang suka mengaku dirinya beriman kepada Allah tetapi dia tidak sabar dengan ujian yang diberikan Allah kepadanya, berarti dia termasuk orang yang suka menduskan keimanan terhadap dirinya sendiri.
Keimanan seseorang akan selalu meningkat dan terjaga jika dia selalu mengerjakan perintah Allah dan menjahui larangan-Nya. Begitu juga sebaliknya keimanan seseorang akan menurun jika dia tidak pernah mengerjakan perintah Allah dan selalu mengerjakan perbuatan yang dilarang Allah. Untuk itu mari kita renungkan, apa yang sudah kita lakukan untuk membuktikan keimanan kita? Cobaan apa yang sudah kita alami untuk mempertahankan keimanan kita? Dan apa yang
sudah kita korbankan untuk memperjuangkan akidah dan keimanan kita?
Iman ibarat sebuah pohon yang menancap kokoh di dalam hati seorang muslim yang akan menghasilkan buah yang bermanfaat disetiap tempat dan waktu. Maka ada bebarapa amal kebaikan yang dapat menguji keimanan kita. Pertama: Bergegas dalam kebaikan. Artinya Orang yang mempunyai keimanan akan seselalu cepat dan berlomba-lomba dalam hal kebaikan. Mereka tidak mau ketinggalan dalam beramal sholeh. Dengan melakukan hal kebaikan maka hati mereka selalu tenang dan akan selalu mendapatkan naungan dari Allah SWT di dunia dan diakhirat.
Kedua: Takut melakukan dosa sekecil apapun. Orang yang benar-benar berimanan kepada Allah serta tetap menjaga keimanan dalam dirinya maka ia akan selalu berusaha untuk menjahui perbuatan dosa sekecil apapun. Karena jika dia terjerumus dalam perbuatan dosa maka sedikit demi sedikit keimanan mereka akan sirna dalam dirinya masing-masing. Jika keimanan mereka sudah hilang, maka mereka tidak akan pernah beribadah kepada Allah, mereka lebih senang terhadap perbuatan dosa yang mereka kerjakan. Maka di akhirat kelak mereka akan merasakan azab dan siksaan Allah. Untuk itu marilah kita tingkatkan kualiatas keimanan kita dengan selalu mengerjakan perbuatan yang dapat mendekatkan diri kita kepada Allah agar kita semua tidak termasuk orang yang merugi.
Ketiga : Zuhud terhadap kehidupan dunia. Ketika keimanan menyelimuti hati seseorang, maka dia tidak akan terlena dengan gemerlapnya kehidupan dunia, merasa cukup dengan apa yang ada dan menjadikan dunia ini sebagai sarana untuk kehidupan akhirat. Jika mereka masih terlana dengan kehidupan dunia yang sementara ini berarti keimanan mereka belum teruji dengan baik. Sebagaimana firman Allah yang artinya:” Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permaianan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertaqwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan dia tidak akan meminta harta-hartamu. ”(QS. Muhammad: 36).
Ima merupakan pondasi diri manusia yang harus dijaga dengan amalan yang baik. Ingatlah tanpa iman, hati ini akan jauh dari Allah dan kita termasuk golongan orang yang merugi. Sebaliknya jika iman kuat, yakinlah hidup ini bahagia dunia dan akhirat. Amin
Pondasi Iman Oleh: Dianto, M.Pd Dosen FAI UMSU