Oleh: H. Sjahrir Nasution
Suara kritis dari kalangan intelektual ekonomi hari ini terasa semakin redup. Di tengah berbagai persoalan ekonomi nasional yang kian kompleks—mulai dari ketimpangan, tata kelola anggaran, hingga praktik vested interest—peran Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia justru dipertanyakan. Apakah organisasi ini masih menjadi penjaga nurani ekonomi bangsa, atau sekadar menjadi penonton yang "ngangguk-ngangguk" mengikuti arus kekuasaan?
Padahal, jika kita menoleh ke belakang, ISEI lahir dari rahim pemikiran besar para pendiri bangsa di bidang ekonomi. Nama-nama seperti Sumitro Djojohadikusumo dan Sarbini Sumawinata bukan sekadar tokoh akademik, tetapi juga intelektual pejuang yang menjadikan ilmu ekonomi sebagai alat perjuangan rakyat. ISEI di masa itu bukan hanya forum diskusi, melainkan kekuatan moral dan intelektual yang berani bersuara lantang terhadap kebijakan yang menyimpang.
ISEI dulu memiliki "taring". Kritiknya tajam, berbasis riset, dan berpihak pada kepentingan publik. Integritas akademik dijunjung tinggi, dan independensi menjadi harga mati. Tidak ada kompromi terhadap kepentingan sempit. Para ekonom tidak takut berbeda pendapat dengan penguasa, karena yang mereka bela adalah kebenaran ilmiah dan kesejahteraan rakyat.
Namun hari ini, warna itu terasa memudar. Yang muncul justru kesan adanya tarik-menarik kepentingan di dalam tubuh organisasi. Suara kritis menjadi langka, digantikan dengan sikap aman dan kompromistis. Dalam banyak isu strategis, ISEI seolah kehilangan keberanian untuk tampil sebagai penyeimbang kebijakan publik.
Pertanyaannya sederhana: ke mana integritas itu pergi?
Dalam situasi ekonomi yang penuh tantangan, bangsa ini justru membutuhkan kehadiran ekonom yang berani. Bukan sekadar analis yang pandai membaca data, tetapi juga intelektual yang memiliki keberpihakan moral. Ketika kebijakan tidak berpihak pada rakyat, ISEI seharusnya menjadi garda terdepan yang mengingatkan, bukan malah larut dalam arus kepentingan.
Sudah saatnya ISEI melakukan refleksi mendalam. Kembali ke khitah sebagai organisasi ilmiah yang independen, berintegritas, dan berpihak pada kepentingan publik. Menghidupkan kembali tradisi kritik yang sehat, membangun diskursus ekonomi yang jujur, dan menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan.
ISEI tidak boleh menjadi organisasi yang hanya ramai dalam forum, tetapi sunyi dalam keberpihakan. Tidak cukup hanya hadir dalam seminar dan seremoni, tetapi absen dalam pergulatan nyata rakyat.
Bangsa ini menunggu suara itu. Suara yang jernih, berani, dan berintegritas.
Jadi, bagaimana ISEI hari ini? Masih mau "ngangguk-ngangguk", atau kembali menunjukkan taringnya?