MEDAN — Suasana berbuka puasa bersama di Masjid Agung Medan pada hari ke-17 Ramadan 1447 H, Sabtu (7/3/2026), terasa berbeda. Sejak sore, lebih dari seribu jamaah telah memadati lantai dasar masjid kebanggaan masyarakat Sumatera Utara itu untuk menanti waktu berbuka dalam suasana religius yang khusyuk.
Kegiatan diawali dengan sambutan dari Sekretaris Badan Kenaziran dan Wakaf Masjid Agung Medan, H. Yuslin Siregar, yang kemudian dilanjutkan dengan doa yang dipimpin Imam Ustadz Dr (C) Syu'aib Daulay.
Namun suasana mendadak berubah hangat ketika seorang tokoh dermawan Sumatera Utara, H. Musa Idishah—yang akrab disapa Dodi Haji Anif—memasuki ruangan. Kedatangannya segera disambut oleh Yuslin Siregar yang kemudian memperkenalkan dirinya kepada para jamaah sebagai putra dari tokoh legendaris Sumatera Utara, almarhum H. Anif.
Spontan, ribuan jamaah yang hadir menyambut dengan penuh semangat. Salam yang disampaikan Musa Idishah disahut gema suara jamaah yang memenuhi ruangan luas masjid, menghadirkan suasana haru sekaligus kebersamaan yang terasa kuat menjelang azan Magrib.
Kehadiran Musa Idishah menambah nuansa istimewa dalam kegiatan berbuka puasa bersama tersebut. Sejumlah donatur yang selama ini mendukung kegiatan Ramadan di Masjid Agung Medan juga tampak hadir, di antaranya H. Indra Utama, H. Yuslin Siregar, H. Chandra Lubis, dan H. Azis Balatif.
Donatur lainnya yang turut berkontribusi antara lain H. Teuku Soelaiman, H. Suhardi SE (Aroma), H. Tengku Dzulmi Eldin, serta H. Aldi Subartono. Sementara itu, keluarga almarhum H. Raja Inal Siregar juga memberikan dukungan berupa donasi air mineral dalam jumlah signifikan bagi jamaah yang berbuka.
Pada kesempatan tersebut, doa yang dipimpin Ustadz Syu'aib Daulay turut memanjatkan harapan agar almarhum H. Anif—yang dikenal sebagai salah satu dermawan besar dalam pembangunan Masjid Agung Medan—ditempatkan oleh Allah SWT di sisi-Nya dengan sebaik-baiknya.
Saat ditemui wartawan, Musa Idishah mengaku terharu atas sambutan jamaah. Ia merasa bersyukur dan berbesar hati, terlebih ketika mengetahui bahwa sejak awal Ramadan nama dirinya dan almarhum ayahandanya kerap disebut dalam doa para imam dan jamaah di masjid tersebut.
"Saya sangat terharu. Terima kasih kepada jamaah yang telah mendoakan ayahanda kami. Semoga semua ini menjadi kebaikan bagi beliau di sisi Allah SWT," ujarnya.
Di hadapan jamaah, Yuslin Siregar kembali menegaskan komitmen kenaziran untuk terus menyelenggarakan kegiatan berbuka puasa bersama hingga akhir Ramadan.
Ia juga mengingatkan bahwa Masjid Agung Medan akan melaksanakan iktikaf pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan, yakni malam ke-21, 23, 25, dan 27. Pada kegiatan tersebut, panitia juga menyiapkan nasi bungkus untuk sahur bagi para jamaah yang mengikuti iktikaf.
Menjelang azan Magrib, suasana masjid kembali hening.
Ribuan jamaah bersiap berbuka dalam kebersamaan yang terasa semakin hangat—sebuah momen yang menunjukkan bahwa Ramadan di Masjid Agung Medan tidak hanya menghadirkan ibadah, tetapi juga mempererat ukhuwah serta semangat berbagi di tengah masyarakat.ist