Medan |halomedan.com -
Memperingati 118 tahun Hari Kebangkitan Nasional, semangat Boedi Oetomo untuk menyatukan pemuda dalam membangun bangsa kembali digaungkan. Namun di Kota
Medan, semangat itu kami nilai belum tercermin, terutama dalam berbagai pengambilan kebijakan.
Karenanya, kami menilai Pemko
Medan gagal menjalankan peran strategisnya dalam merangkul potensi pemuda dan menata pembangunan kota
Medan secara menyeluruh.
Hari Kebangkitan Nasional mengingatkan kita bahwa kemajuan bangsa dimulai dari kesadaran pemuda. Sayangnya, di
Medan hari ini pemuda justru merasa diabaikan. Ruang partisipasi minim, program kepemudaan jalan di tempat, dan komunikasi antara Pemko
Medan dengan komunitas pemuda putus.
1. Kegagalan Merangkul
Pemuda Pemko
Medan belum menghadirkan ekosistem yang memberi ruang nyata bagi pemuda untuk berkontribusi. Banyak program hanya bersifat seremonial, tanpa keberlanjutan dan tanpa keterlibatan aktif komunitas, organisasi kepemudaan, dan wirausahawan muda lokal. Akibatnya, energi pemuda
Medan tidak tersalurkan untuk pembangunan kota medan.
Baca Juga:
2. Kegagalan Menata Pembangunan Kota
Medan di Setiap Sektor
Dari tata ruang, infrastruktur, pendidikan vokasi, hingga ekonomi kreatif, perencanaan pembangunan kota medan dinilai tidak terintegrasi dan tidak berpihak pada kebutuhan generasi muda. Kemacetan, minimnya ruang publik produktif, Tingginya tingkat Kriminalitas dan rendahnya dukungan terhadap inovasi pemuda menjadi bukti nyata lemahnya arah kebijakan.
Kota yang besar bukan hanya yang banyak proyek fisiknya, tapi yang mampu menjadikan pemudanya sebagai subjek pembangunan. Jika Pemko terus gagal melihat ini, maka
Medan akan terus kehilangan generasi terbaiknya.
Momentum Hari Kebangkitan Nasional 2026 harus dijadikan titik evaluasi serius. Pemko
Medan perlu membuka dialog terbuka dengan pemuda, menyusun peta jalan pembangunan yang melibatkan
Pemuda itu sendiri, dan menghentikan pendekatan top-down yang tidak lagi relevan.
Baca Juga:
Bangkitnya
Medan tergantung pada seberapa serius kita menaruh pemuda di pusat kebijakan. Tanpa itu, peringatan 20 Mei hanya akan jadi seremoni tahunan tanpa makna.(W02)