Medan — Kenaziran Masjid Agung Medan bersyukur; jamaah berbuka puasa pada hari kedua Ramadan 1447 H di masjid yang terletak di Jalan Pangeran Diponegoro, Jumat (20/2/2026), meningkat lebih dari 50 persen dibanding hari pertama. Jika pada pembukaan tercatat sekitar 300-an jamaah, maka pada hari kedua jumlahnya melonjak menjadi sekitar 450 orang, bahkan diperkirakan mendekati 500 jamaah.
Sekretaris Badan Kenaziran Masjid Agung Medan, H. Yuslin Siregar, didampingi H. Indra Utama, Imam Ustadz Dr (C) Syu'aib Daulay, serta muazin Ustadz Nasri Harahap, menyampaikan rasa syukur atas antusiasme masyarakat.
"Kami bersyukur atas kepercayaan dan keinginan masyarakat untuk datang berbuka puasa bersama di Masjid Agung Medan. Ini kebahagiaan bagi kami dan juga bagi para donatur yang dengan ikhlas berbagi," ujar Yuslin.
Menurutnya, meningkatnya jumlah jamaah menunjukkan bahwa masyarakat benar-benar merasa memiliki Masjid Agung Medan. Pada hakikatnya, kata dia, masjid adalah rumah Allah dan menjadi kebanggaan bersama warga Sumatera Utara.
Salah seorang donatur, H. Indra Utama, yang hadir saat itu juga menyatakan syukur atas kebersamaan dan silaturahmi jamaah di masjid ini.
Baca Juga:
Para donatur antara lain H. Musa Idishh atau Dodi (Bendahara Kenaziran), H. Yuslin Siregar (Sekretaris), H. Indra Utama, H.T. Soelaiman, H.T. Dzulmi Eldin (Ketua Kenaziran), H. Chandra Lubis ALS, H. Suhardi SE Aroma, dan Azis Balatif.
Pada kegiatan berbuka yang juga dihadiri H. Abdullah Matondang tersebut, peningkatan jumlah jamaah menghadirkan suasana religius yang kian hangat dan penuh rasa syukur.
Sejak pukul 17.00 WIB, jamaah mulai berdatangan. Lantai dasar masjid yang megah itu perlahan dipenuhi keluarga-keluarga yang duduk lesehan berbaris rapi. Ada yang datang bersama anak dan kerabat, ada pula yang sengaja menempuh perjalanan dari luar Kota Medan demi merasakan berbuka puasa dalam suasana kebersamaan di rumah ibadah kebanggaan masyarakat Sumatera Utara tersebut.
Suasana menjelang azan Magrib terasa khidmat. Sebagian jamaah membawa bekal tambahan dari rumah yang disantap setelah berbuka dengan takjil yang disediakan panitia. Untuk menu pembuka, Badan Kenaziran menyiapkan bubur serta air mineral bagi seluruh jamaah.
Baca Juga:
Yuslin menegaskan, kegiatan berbuka puasa bersama ini sepenuhnya merupakan sumbangan para donatur dan tidak menggunakan dana infak maupun tabung masjid. "Semua ini murni partisipasi donatur yang ingin berbagi keberkahan Ramadan," katanya.
Tradisi berbuka bersama yang digelar rutin setiap tahun itu tidak hanya menghadirkan hidangan, tetapi juga ruang silaturahmi lintas kalangan. Para jamaah saling menyapa dan berbagi cerita serta mempererat ukhuwah sebelum melanjutkan salat Magrib dan Tarawih berjamaah.
Lonjakan jumlah jamaah pada hari kedua menjadi penanda bahwa Masjid Agung Medan semakin hidup sebagai pusat ibadah dan kebersamaan. Di tengah hiruk-pikuk kota, Ramadan menghadirkan ruang hening yang mempersatukan—di mana rasa syukur, kepedulian, dan silaturahmi tumbuh dalam suasana yang religius dan penuh makna.r