MEDAN, - Perkumpulan Suluh Muda Inspirasi (SMI) bersama Jaringan Relawan Kemanusiaan (JRK) Indonesia terus memperkuat operasi kemanusiaan di wilayah terdampak
banjir dan longsor besar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di tengah keterbatasan respon pemerintah, SMI memilih fokus pada penyaluran
bantuan cepat ke daerah-daerah yang sebelumnya terisolasi dan belum tersentuh distribusi resmi.Direktur Eksekutif SMI, Kristian Redison Simarmata, menyebut bahwa skala kerusakan di lapangan menuntut kehadiran gerak cepat dan solidaritas nyata."Warga tidak boleh dibiarkan berjuang sendiri. Ketika akses pemerintah lambat masuk, relawan dan masyarakat harus bergerak lebih dulu," tegas Kristian di Medan, Kamis (11/12). Hingga 10 Desember 2025, gerakan Warga Bantu Warga yang digagas SMI-JRK telah menghimpun Rp 69 juta donasi publik. Dari jumlah itu, Rp 34 juta telah disalurkan pada 6-7 Desember ke berbagai titik dengan kebutuhan paling mendesak.Bantuan yang diberikan meliputi, Beras, Sarden, Telur dan Air mineral. Selain itu, SMI juga menyalurkan
bantuan barang berupa sekitar 1.000 lembar pakaian anak baru, enam plastik besar pakaian layak pakai, serta pakaian dewasa untuk keluarga yang kehilangan seluruh harta benda akibat
banjir bandang."Banyak keluarga kehilangan rumah dan pakaian. Kita tidak bisa menunggu prosedur panjang. Bantuan harus sampai saat itu juga," ujar Kristian.Gelombang
bantuan berikutnya dijadwalkan berangkat pada 14 Desember, dengan nilai logistik sekitar Rp 35 juta yang tengah dipersiapkan oleh tim SMI dan Posko Tapteng Bangkit- Pandan.SMI memastikan seluruh proses penggalangan dan penggunaan dana dilakukan secara terbuka melalui situs resmi www.suluhmuda.org dan media sosial organisasi."Transparansi itu penting. Setiap rupiah yang dititipkan warga adalah amanah, dan kami pastikan sampai kepada mereka yang paling membutuhkan," kata Kristian.Dalam bencana kali ini, banyak wilayah tertutup endapan lumpur pekat setinggi pinggang orang dewasa yang telah mengeras, memutus akses jalan, merusak jembatan, dan melumpuhkan ekonomi warga."Kita terjun ke titik-titik yang sulit dijangkau, karena di situlah warga paling rentan berada. Kadang
bantuan pemerintah belum bisa masuk, tapi warga tidak boleh menunggu," ungkap Kristian.Kristian menekankan bahwa gerakan ini lahir dari kesadaran bahwa solidaritas warga dapat menjadi penopang utama ketika negara tersendat."Tidak ada
bantuan yang terlalu kecil. Semua yang disumbangkan uang, pakaian, makanan, maupun tenaga adalah bagian dari jembatan menuju pemulihan. Ini bukan sekadar
bantuan, ini penyelamatan martabat manusia," ujarnya.SMI juga berterima kasih kepada seluruh donatur, relawan, komunitas dan individu yang terus mendukung gerakan ini. SMI memastikan akan terus memantau situasi, memperkuat jaringan
bantuan kemanusiaan, dan memastikan logistik tiba tepat sasaran, terutama kepada kelompok paling rentan."Selama warga masih bersedia menanggung beban bersama, bencana tidak akan pernah mengalahkan solidaritas manusia," tutupnya.