Jumat, 30 Januari 2026
Oleh: H Syahrir Nasution

Integritas sering disebut sebagai kualitas tertinggi dalam kepemimpinan. Namun, justru pada titik inilah kepemimpinan paling kerap diuji. Bukan dalam situasi gemerlap dan penuh pujian, melainkan dalam ruang-ruang keputusan yang sunyi, ketika seorang pemimpin harus memilih antara kepentingan nilai dan kepentingan sesaat.

Ujian integritas berlaku lintas sektor. Dalam pemerintahan, dunia usaha, maupun pendidikan, kepemimpinan pada hakikatnya bukan hanya persoalan kewenangan, tetapi juga tanggung jawab moral. Seorang pemimpin tidak semata-mata dinilai dari apa yang ia capai, melainkan dari cara ia mencapai tujuan tersebut.

Dalam konteks pemerintahan, integritas menjadi fondasi legitimasi kekuasaan. Gubernur, bupati, dan wali kota memikul mandat publik yang menuntut konsistensi antara ucapan, kebijakan, dan tindakan. Ketika integritas terabaikan, kepercayaan publik pun perlahan terkikis, dan kebijakan kehilangan daya moralnya.

Baca Juga:
Dunia pendidikan menghadirkan dimensi yang lebih kompleks. Pemimpin pendidikan—rektor, guru besar, dan pimpinan perguruan tinggi—tidak hanya mengelola institusi, tetapi juga menjaga marwah keilmuan. Pendidikan adalah ruang pembentukan karakter dan nilai. Karena itu, integritas pemimpinnya menjadi penopang utama kredibilitas institusi. Tanpa integritas, keunggulan akademik berisiko menjadi formalitas belaka.

Hal serupa berlaku di sektor swasta. Profesionalisme yang tidak ditopang oleh integritas akan kehilangan orientasi etik. Keputusan bisnis mungkin tampak rasional, tetapi tanpa nilai, ia dapat berujung pada praktik yang merugikan banyak pihak. Di sinilah integritas berfungsi sebagai kompas moral dalam kepemimpinan.

Pada akhirnya, kepemimpinan selalu kembali pada sosok manusia yang menjalaninya. Jabatan dan gelar hanyalah instrumen. Yang menentukan adalah nilai yang dihidupi dalam setiap keputusan. Apakah kepemimpinan dijalankan sebagai amanah, atau sekadar sebagai sarana kekuasaan.

Integritas tidak lahir dari retorika. Ia tumbuh dari konsistensi, keberanian, dan kesediaan untuk memikul konsekuensi moral. Dalam konteks inilah integritas layak disebut sebagai kualitas tertinggi kepemimpinan—karena tanpanya, kepemimpinan kehilangan makna.

Baca Juga:
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Administrator
Sumber
:
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Indonesia Butuh Pemimpin Berilmu dan Berakhlak

Indonesia Butuh Pemimpin Berilmu dan Berakhlak

Mencari Pemimpin Yang Ideal Menurut Islam

Mencari Pemimpin Yang Ideal Menurut Islam

Wartawan Harus Junjung Integritas, Bukan Jadi Penjilat Kekuasaan

Wartawan Harus Junjung Integritas, Bukan Jadi Penjilat Kekuasaan

Pendidik Itu Pemimpin, Pemimpin Itu Pendidik

Pendidik Itu Pemimpin, Pemimpin Itu Pendidik

Dibawah Kepemimpinan Kompol Gunarti Hutabarat, Polsek Sunggal Ungkap Kasus Specialis Pencurian Rumah, 2 Tersagka di Dor

Dibawah Kepemimpinan Kompol Gunarti Hutabarat, Polsek Sunggal Ungkap Kasus Specialis Pencurian Rumah, 2 Tersagka di Dor

Pemimpin Sumut, Agus Fatoni, Bobby Nasution dan Surya Bertemu di Retret Magelang

Pemimpin Sumut, Agus Fatoni, Bobby Nasution dan Surya Bertemu di Retret Magelang

Komentar
Berita Terbaru