Selasa, 26 Mei 2026
Goresan Pena : Parulian Nasution

Di kala senja di ufuk barat mulai menghilang,terlihat indahnya cakrawala di langit berwarna jingga ke emas emasan.Ketika itu seorang ibu menatap jauh dalam khayalan sambil menikmati kopi kesukaannya.Lalu Ibu berdiri sambil menyiram bunga di depan rumahnya.Wajahnya yang dulu halus sudah mulai terlihat kerutan kerutan seiring dengan waktu yang sudah menua.
Langit pun makin gelap, tapi hatinya tetap hangat karena cahaya yang tak pernah padam dalam hidupnya.


Itulah Ibu yang selalu ada dan hadir membayangkan anaknya yang sudah pada jauh diperantauan untuk mengadu nasib demi masa depan yang diimpikannya.
Sambil membayangkan ketika anaknya masih suka main di tengah hujan yang menyejukkan.Teringat seragam sekolahnya yang sudah kotor, namun ibu tersenyum lembut melihatnya.Lalu ibu mencucinya sampai bersih tanpa mengeluh sedikitpun pun. Makin mendalam khayalnya membayangkan ketika anaknya sakit , Ibu rela menjaganya semalaman suntuk tak harus tertidur pulas sambil mengompres keningnya.Lalu menggenggam tangannya erat erat , seolah Ibu siap menanggung beban sakit itu.

Seiring berjalannya waktu anak pun sudah dewasa dan mulai menghadapi rintangan.Ibu tetap menjadi tempat mengadu sambil memberi nasehat untuk menenangkan anaknya. Seperti terasa hangatnya pelukan yang tak tergantikan.Sementara ayah tidak pernah berhenti berusaha demi membiayai kehidupan Rumah tangganya sampai membiayai sekolah anaknya.

Sungguh betapa dalamnya kasih sayang Ibu seiring Perjalanan dunia pun terus berubah.

Boleh saja temannya datang dan pergi bahkan bisa saja melupakan sahabatnya.Namun orang tua itu selalu menyimpan anaknya dalam ingatan dan hatinya.

Cinta Ibu tidak tergantung pada keadaan ataupun kesuksesan, namun terus mengingat anaknya bahkan kadang ada rasa khawatir namun cintanya terus makin dalam.Begitulah tulus dan sejatinya Ibu untuk merawat anak yang dicintainya.


Ibu tidak menuntut anaknya untuk selamanya berada disisinya, ia hanya ingin melihat anaknya menemukan kebahagiaan dalam kehidupannya.
Orang tua itu sadar bahwa anaknya bukan hanya miliknya,karena anak itu adalah titipan kehidupan yang harus di beri kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.

Cinta sejati Ibu tidak terikat pada rasa memiliki.
Melepaskan bukan berarti berhenti mencintai.Kasih Ibu ada dalam doa dan harapan penuh perhatian yang tak mengenal jarak pun dari kejauhan.

Beberapa hari lagi Idul Adha akan tiba,wajah anak pun makin membayang,ingin bersama menuju Sholat Idul Adha sambil bawa cucu menuju Masjid sambil mengumandangkan takbir.
Kemudian ingin bersama menyaksikan Qurban Keluarga yang akan disembelih sebagai bukti kedekatan pada Allah swt.
Selamat Merayakan Idul Adha anak ku dan segenap keluargaku semoga Allah senantiasa menjadi tempat kita bersandar mengharap Ridho dan Taufiqnya.


Tetesan Air mata ibu pun tak terbendung sebagai bukti kecintaan yang tak ada batas dan tepinya.
Kita maknai Idul Adha ini dengan harapan melahirkan Ibu Ibu tangguh bagai Hajar yang penuh keikhlasan dan ketulusan.
Muncul Ismail - Ismail Masa depan yang memiliki Moralitas yang tinggi.***



Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Administrator
Sumber
:
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru