Oleh: H. Syahrir Nasution
Pernyataan seorang akademisi, Prof. UCENG, yang menyebut bahwa suatu bangsa dapat saja "di
miskinkan secara sistematis", memunculkan perdebatan yang cukup menarik untuk dikaji secara lebih mendalam. Pernyataan tersebut tentu memerlukan suatu hipotesis ilmiah yang komprehensif, didukung oleh fakta-fakta empiris yang berkembang di tengah masyarakat.
Indonesia saat ini telah memasuki usia sekitar 80 tahun sejak kemerdekaan. Secara logika pembangunan, kurun waktu tersebut seharusnya cukup panjang untuk membawa bangsa ini mencapai tingkat kesejahteraan yang lebih baik. Dengan sumber daya alam yang melimpah, jumlah penduduk produktif yang besar, serta potensi ekonomi yang luas, seharusnya kemajuan kehidupan masyarakat dapat dirasakan secara merata.
Namun ironisnya, realitas sosial yang terlihat di tengah masyarakat justru menimbulkan pertanyaan logis: apa yang sebenarnya terjadi dengan kehidupan anak bangsa ini? Mengapa sebagian masyarakat merasakan bahwa kehidupan mereka semakin hari justru semakin berat, bahkan seolah-olah merosot menuju titik nadir?
Ungkapan Prof. UCENG bahwa bangsa ini seperti "di
miskinkan secara evolusioner dan sistematis" mungkin terdengar provokatif. Tetapi jika ditelaah secara implisit, ada sejumlah indikator yang memunculkan persepsi tersebut. Salah satu indikator yang paling mudah dilihat adalah dari sisi ekonomi masyarakat, khususnya daya beli atau purchasing power parity.
Daya beli masyarakat yang semakin melemah menjadi fenomena yang terasa nyata di berbagai daerah. Hal ini dapat disaksikan secara langsung di pasar-pasar tradisional maupun pusat-pusat perbelanjaan. Para pedagang, khususnya yang menjual kebutuhan pokok, hampir setiap hari mengeluhkan menurunnya jumlah pembeli.
Pasar yang dahulu ramai dengan aktivitas transaksi kini terasa jauh lebih sepi. Banyak pedagang mengaku bahwa barang dagangan mereka sulit terjual, bahkan untuk kebutuhan pokok sekalipun. Kondisi ini tentu menjadi indikator penting bahwa kemampuan masyarakat untuk berbelanja semakin terbatas.
Fenomena tersebut semakin terasa menjelang hari besar keagamaan seperti Idul Fitri. Biasanya, momen menjelang Lebaran identik dengan meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat. Pusat perbelanjaan, pasar tradisional, hingga toko-toko pakaian biasanya dipadati oleh konsumen yang mempersiapkan kebutuhan hari raya.
Namun dalam beberapa waktu terakhir, gairah belanja tersebut tampak tidak sekuat sebelumnya. Banyak pedagang yang mengaku bahwa perputaran uang menjelang Idul Fitri tidak lagi seramai tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini tentu menjadi sinyal bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi dalam struktur ekonomi masyarakat.
Dalam perspektif teori politik ekonomi, ada pula pandangan yang menyebutkan bahwa dalam sistem tertentu, ke
miskinan dapat menjadi alat kontrol sosial. Beberapa teori, termasuk yang sering dikaitkan dengan praktik negara-negara berhaluan komunis di masa lalu, menyebut bahwa masyarakat yang berada dalam kondisi ekonomi lemah akan lebih mudah dipengaruhi secara politik.
Tentu saja, pandangan seperti ini masih memerlukan kajian yang objektif dan ilmiah. Tidak semua kesulitan ekonomi dapat serta-merta disimpulkan sebagai hasil dari sebuah rekayasa sistematis. Banyak faktor yang mempengaruhi kondisi ekonomi suatu negara, mulai dari kebijakan pemerintah, dinamika global, hingga perubahan struktur pasar.
Namun satu hal yang pasti, kesejahteraan rakyat seharusnya tetap menjadi tujuan utama dalam setiap kebijakan negara.
Negara yang kuat adalah negara yang mampu memastikan rakyatnya hidup dengan layak, memiliki pekerjaan, serta memiliki daya beli yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Oleh karena itu, penting bagi para pemangku kebijakan untuk benar-benar memperhatikan kondisi ekonomi masyarakat di tingkat bawah. Jika daya beli terus melemah dan aktivitas ekonomi masyarakat semakin lesu, maka hal tersebut harus menjadi alarm serius bagi arah kebijakan pembangunan ke depan.
Bangsa yang telah merdeka selama puluhan tahun tentu memiliki harapan besar untuk hidup lebih sejahtera. Pertanyaannya sekarang adalah: apakah kita benar-benar sedang bergerak menuju kesejahteraan itu, atau justru tanpa disadari sedang berjalan ke arah yang sebaliknya?
Pertanyaan inilah yang patut dijawab bersama, demi masa depan bangsa dan generasi yang akan datang.