Oleh : H. Syahrir Nasution
Terpilihnya Andar Amin Harahap sebagai Ketua DPD Partai
Golkar Sumatera Utara bukanlah peristiwa biasa dalam dinamika politik daerah. Ini adalah penanda zaman, sebuah pesan politik yang lahir dari kegelisahan kader dan harapan rakyat Sumatera Utara akan perubahan yang lebih mendasar, lebih jujur, dan lebih berpihak.
Saya memandang terpilihnya Andar Amin Harahap sebagai wujud kesadaran kolektif bahwa Sumatera Utara tidak bisa terus dipimpin dengan logika kepentingan pusat. Sumut memiliki karakter, persoalan, dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, Sumut membutuhkan pemimpin politik yang lahir dari rahim daerah, memahami denyut sosial masyarakatnya, dan tahu betul apa yang dibutuhkan rakyatnya—bukan pemimpin yang hanya menjalankan mandat kelompok atau kepentingan tertentu.
Selama ini, kita harus jujur mengakui bahwa arah pembangunan dan politik di Sumatera Utara sering kali tidak sepenuhnya berpihak kepada rakyat. Banyak keputusan strategis yang lahir bukan dari kebutuhan masyarakat, melainkan dari kompromi kepentingan elit. Inilah yang membuat kepercayaan publik terkikis dan jarak antara rakyat dengan partai politik semakin melebar.
Baca Juga:
Perubahan yang diharapkan bukan perubahan kosmetik. Sumatera Utara harus berubah secara menyeluruh, baik dari sudut pandang legislatif, eksekutif, maupun yudikatif. Kita membutuhkan sistem dan kepemimpinan yang berani berdiri di atas kepentingan rakyat, bukan sekadar menjadi perpanjangan tangan kepentingan kelompok, jaringan kekuasaan, atau transaksi politik jangka pendek.
Dalam konteks itu, Andar Amin Harahap dipandang sebagai figur yang mampu membawa semangat baru. Ia bukan hanya kader partai, tetapi bagian dari realitas sosial Sumatera Utara itu sendiri. Ia memahami bahwa persoalan kemiskinan, ketimpangan pembangunan, pengangguran, konflik agraria, hingga akses keadilan tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan seragam dari pusat. Persoalan Sumut harus diselesaikan dengan cara pandang Sumut.
Golkar Sumut ke depan harus menjadi partai yang mandiri dalam sikap, tegas dalam arah, dan jelas keberpihakannya. Mandiri bukan berarti melawan pusat, tetapi berdaulat dalam menyuarakan kepentingan daerah.
Golkar Sumut harus kembali menjadi rumah besar kader, bukan sekadar alat kepentingan segelintir kelompok. Konsolidasi internal harus dibangun di atas prinsip meritokrasi, loyalitas, dan pengabdian, bukan atas dasar kedekatan dan kepentingan sesaat.
Terpilihnya Andar Amin Harahap juga harus dimaknai sebagai penolakan halus terhadap praktik-praktik politik yang menjauhkan rakyat dari kekuasaan. Politik tidak boleh lagi dipahami sebagai alat untuk mengamankan kepentingan kelompok, tetapi sebagai jalan pengabdian untuk kesejahteraan masyarakat.
Baca Juga:
Jika
Golkar ingin kembali menjadi kekuatan politik utama di Sumatera Utara dan benar-benar dicintai rakyat, maka
Golkar harus kembali ke jati dirinya: partai karya dan kekaryaan, partai yang bekerja nyata, partai yang hadir di tengah rakyat. Terpilihnya Andar Amin Harahap adalah langkah awal menuju arah itu—langkah yang harus dijaga, dikawal, dan diwujudkan dengan kerja nyata, bukan sekadar slogan.***